Rukun Iman Ada 6: Penjelasan Lengkap Keenam Pilar Keimanan Islam - Masjid Ismuhu Yahya

Rukun Iman Ada 6: Penjelasan Lengkap Keenam Pilar Keimanan Islam

Masjid Ismuhu Yahya – Ketika berbicara tentang keimanan dalam Islam, kita mengenal istilah rukun iman. Sesuai ajaran Islam, rukun iman ada 6 dan setiap muslim wajib mengimani keenam hal ini sebagai dasar akidahnya. Rukun berarti “dasar” atau “fondasi”, sedangkan iman artinya “keyakinan” atau “kepercayaan”. Jadi, rukun iman yang ada enam merupakan enam keyakinan pokok yang menjadi pilar keimanan seorang muslim.
Keenam rukun iman tersebut mencakup: iman kepada Allah, iman kepada malaikat-malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab suci yang diturunkan Allah, iman kepada para rasul utusan Allah, iman kepada hari akhir (hari kiamat), serta iman kepada qada dan qadar (takdir baik maupun buruk yang ditetapkan Allah).
Semua 6 rukun iman ini saling melengkapi dan wajib diyakini secara utuh; dengan memahami rukun iman, seorang muslim memiliki pondasi kepercayaan yang kokoh dalam menjalankan kehidupannya.

Dalam sebuah hadits shahih yang masyhur, Rasulullah Muhammad SAW menjelaskan bahwa rukun iman ada enam perkara. Ketika ditanya tentang apa itu iman, beliau menjawab:

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim No. 8)

Berdasarkan hadits tersebut, jelas bahwa terdapat enam aspek keimanan yang harus diyakini. Berikut ini penjelasan runtut dan informatif mengenai masing-masing rukun iman beserta dalil dari Al-Qur’an dan hadits shahih yang relevan:

Rukun Iman Ada 6

  1. Iman kepada Allah SWT

    rukun iman pertama
    Iman kepada allah termasuk rukun iman yang ke satu atau rukun iman pertama. Iman kepada Allah SWT berarti mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah Ta’ala itu ada, Maha Esa, dan Maha Sempurna. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Seorang muslim meyakini bahwa Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan seisinya, mengatur seluruh makhluk, dan memiliki nama-nama serta sifat-sifat yang agung.
    Beriman kepada Allah mencakup keyakinan terhadap sifat keesaan-Nya (tauhid), yaitu meyakini Allah sebagai Rabb (Pencipta dan Pemelihara alam semesta) dan Ilah (satu-satunya yang berhak diibadahi). Keyakinan ini tertuang dalam kalimat syahadat “La ilaha illallah” (Tidak ada Tuhan selain Allah) yang menjadi inti ajaran Islam.
    Orang yang benar-benar beriman kepada Allah akan menyerahkan ibadah hanya kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, serta senantiasa merasa diawasi oleh Allah dalam setiap perbuatan. Al-Qur’an berulang kali menegaskan keesaan dan kebesaran Allah sebagai dasar keimanan.
    “Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

  2. Iman kepada Malaikat-Malaikat Allah

    Beriman kepada malaikat merupakan rukun iman yang kedua. Iman kepada malaikat artinya mempercayai bahwa Allah SWT menciptakan makhluk-makhluk ghaib bernama malaikat dari cahaya, yang tugasnya senantiasa taat menjalankan perintah-Nya. Seorang muslim wajib yakin bahwa malaikat itu ada, meskipun mereka tak terlihat oleh mata. Malaikat bukanlah seperti manusia – mereka tidak memiliki nafsu, tidak makan dan minum, serta selalu bertasbih menyucikan Allah siang dan malam tanpa merasa lelah. Rasulullah SAW bersabda mengenai asal usul penciptaan para malaikat:
    “Malaikat diciptakan dari cahaya. Jin diciptakan dari nyala api. Adam diciptakan dari apa yang telah disebutkan (tanah).” (HR. Muslim No. 2996)Hadits ini menunjukkan bahwa malaikat adalah makhluk nurani (cahaya) yang suci, berbeda dari manusia dan jin.

  3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah

    Iman kepada kitab-kitab Allah berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah menurunkan wahyu dan kitab suci kepada para rasul sebagai petunjuk bagi umat manusia. Ada empat kitab suci yang disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an, yaitu: Taurat (diturunkan kepada Nabi Musa AS), Zabur (diturunkan kepada Nabi Dawud AS), Injil (diturunkan kepada Nabi Isa AS), dan Al-Qur’an (diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW).
    Selain itu, Allah juga menurunkan suhuf (lembaran-lembaran wahyu) kepada nabi-nabi terdahulu seperti Nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS sebelum Taurat. Setiap kitab tersebut membawa ajaran tauhid dan tuntunan sesuai zamannya. Namun, sebagai muslim kita meyakini bahwa kitab-kitab sebelum Al-Qur’an kini tidak lagi menjadi pedoman hukum, karena ajaran-ajaran terdahulu telah disempurnakan dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir yang lengkap dan berlaku hingga akhir zaman. Al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diturunkan Allah, dan terjaga keasliannya hingga akhir zaman sebagai pedoman hidup umat manusia.

    “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat jauh.” (QS. An-Nisa: 136)

    Ayat ini secara tegas memerintahkan kita beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab suci terdahulu yang diturunkan Allah.

  4. Iman kepada Rasul-Rasul Allah

    Iman kepada rasul-rasul Allah artinya mempercayai dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT telah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan risalah (ajaran) kepada umat manusia, dan kita wajib meyakini semua nabi dan rasul tersebut. Seorang muslim mengimani bahwa mulai dari Nabi Adam AS sebagai nabi pertama hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, Allah telah mengutus 25 nabi dan rasul yang namanya disebut dalam Al-Qur’an, di antaranya Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya, dengan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul terakhir.
    Beriman kepada rasul berarti meyakini bahwa mereka adalah manusia pilihan yang menerima wahyu, menyampaikan kabar gembira dan peringatan, serta menjadi teladan bagi umatnya. Para rasul ma’shum (terjaga dari dosa besar) dalam menyampaikan wahyu, sehingga ajaran yang mereka bawa murni berasal dari Allah. Kita tidak boleh membeda-bedakan keimanan kepada para nabi; tidak boleh hanya beriman kepada sebagian rasul dan mengingkari yang lain. Al-Qur’an menyebutkan sikap orang beriman:

    “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara rasul-rasul-Nya (Allah).” (QS. Al-Baqarah: 285).

    Meyakini kerasulan Nabi Muhammad SAW secara khusus juga merupakan bagian terpenting dalam rukun iman ini, karena beliau adalah nabi terakhir yang membawa syariat Islam penyempurna ajaran sebelumnya. Seseorang belum dianggap beriman jika ia tidak mengakui kenabian Muhammad SAW. Allah SWT memperingatkan dalam firman-Nya:

    “Dan barangsiapa tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Fath: 13)

    Ayat tersebut menegaskan ancaman bagi siapa saja yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya. Maka, iman kepada rasul-rasul Allah mencakup ketaatan mengikuti ajaran yang mereka bawa. Umat Islam menunjukkan iman kepada Nabi Muhammad SAW dengan meneladani sunnahnya, mencintai dan menghormatinya, serta menyebarkan dakwah beliau. Dengan mengimani seluruh nabi dan rasul, kita memahami bahwa Allah telah memberikan bimbingan kepada manusia sepanjang sejarah melalui utusan-utusan-Nya, dan puncaknya adalah risalah Nabi Muhammad SAW yang berlaku hingga hari kiamat.

  5. Iman kepada Hari Akhir
    Iman kepada hari akhir (hari kiamat) berarti meyakini bahwa akan datang sebuah hari di mana seluruh alam semesta dihancurkan dan semua manusia dibangkitkan kembali dari kematian untuk menerima pengadilan Allah SWT. Hari akhir disebut juga yaumul qiyamah (hari kebangkitan) atau yaumul hisab (hari perhitungan). Beriman kepada hari akhir mencakup keyakinan terhadap seluruh peristiwa setelah kematian, seperti siksa dan nikmat kubur, kebangkitan, padang mahsyar, hisab (perhitungan amal), mizan (timbangan amal), shirath (jembatan), syafaat, surga, dan neraka. Seorang muslim percaya bahwa kehidupan dunia ini sementara, sedangkan kehidupan akhirat itu kekal. Kepercayaan akan datangnya hari kiamat mendorong kita untuk selalu berbuat kebajikan dan menjauhi maksiat, karena menyadari bahwa semua perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
    Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat. Tidak ada seorang pun makhluk yang tahu waktu pastinya. Allah berfirman:

    “Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, ‘Kapan terjadinya?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu hanya di sisi Tuhanku; tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.’” (QS. Al-A’raf: 187).

  6. Iman kepada Qada dan Qadar
    Iman kepada qada dan qadar artinya meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini telah ditetapkan dan diketahui oleh Allah SWT dengan ilmu dan kehendak-Nya yang Maha Sempurna. Istilah qada dan qadar sering diartikan sebagai “takdir” atau ketetapan Allah. Secara sederhana, qada dapat dimaknai sebagai ketetapan Allah secara umum sejak zaman azali, sedangkan qadar adalah perwujudan ketetapan tersebut dalam setiap kejadian atau kadar tertentu. Keyakinan ini mencakup empat unsur, yaitu: Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan terjadi; Allah telah mencatat takdir setiap makhluk di Lauh Mahfuzh (catatan takdir di sisi Allah); segala yang terjadi pasti dengan kehendak Allah (tidak ada yang terjadi di luar izin-Nya); dan Allah lah Sang Pencipta atas segala sesuatu dan skenario kejadian di alam ini. Beriman kepada takdir, baik yang terasa menyenangkan maupun yang terasa pahit, merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Seorang muslim harus percaya bahwa musibah ataupun nikmat semuanya terjadi atas izin Allah sebagai ujian kehidupan. Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (yang telah ditetapkan).” (QS. Al-Qamar: 49).

    Maksudnya, tidak ada satu pun peristiwa di dunia yang luput dari rencana dan takdir Allah.

Demikianlah penjelasan 6 rukun iman dalam Islam yang terdiri dari iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Keenam pilar keimanan ini wajib ditanamkan dalam hati setiap muslim. Memahami rukun iman secara utuh akan memperkokoh akidah dan mendorong kita untuk menjalani ajaran Islam dengan lebih ikhlas dan istiqamah. Semoga dengan mengimani enam rukun iman tersebut, kita termasuk orang-orang yang teguh di atas jalan Allah dan mendapat ridha-Nya.

You might also like