10 Keistimewaan Bulan Muharram, Bulan Suci Penuh Berkah - Masjid Ismuhu Yahya

10 Keistimewaan Bulan Muharram, Bulan Suci Penuh Berkah

Masjid Ismuhu Yahya – Bulan Muharram dikenal sebagai salah satu bulan istimewa bagi umat Islam. Sebagai bulan pertama dalam kalender Hijriah, bulan ini menyimpan berbagai keutamaan dan keberkahan. Bahkan, terdapat 10 keistimewaan bulan Muharram yang menjadikannya dimuliakan dalam ajaran Islam. Artikel ini akan mengulas kesepuluh keistimewaan tersebut dengan bahasa yang lugas dan populer, lengkap dengan dalil dari Al-Qur’an dan hadits. Diharapkan pembaca dapat memahami kemuliaan bulan Muharram dan termotivasi untuk menghidupkan amalan-amalan sunnah di dalamnya.

10 Keistimewaan Bulan Muharram

  1. Bulan yang Suci (Termasuk Bulan Haram)

    Keistimewaan pertama bulan Muharram adalah statusnya sebagai salah satu bulan haram atau bulan suci dalam Islam. Allah SWT menyebut secara khusus bahwa dalam setahun terdapat empat bulan yang dimuliakan (disebut asyhurul hurum). Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an:

    “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (QS. At-Taubah: 36)

    Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Disebut “haram” karena pada bulan-bulan ini umat Islam dilarang menganiaya diri dengan melakukan dosa dan kemaksiatan, bahkan di masa lampau perang pun diharamkan. Bulan-bulan ini dimuliakan oleh Allah, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah dan menjauhi maksiat pada bulan-bulan tersebut.

  2. Disebut Sebagai Bulan Allah (Syahrullah)

    Keistimewaan lain dari bulan Muharram adalah ia disebut Syahrullah yang berarti “bulan Allah”. Penamaan istimewa ini menunjukkan kemuliaan Muharram dibanding bulan-bulan lainnya. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram), dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

    Hadits di atas menyebut Muharram dengan ungkapan “Syahrullah”, menunjukkan bahwa bulan ini memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Menurut para ulama, pemberian nama “bulan Allah” menandakan kemuliaan yang khusus. Imam As-Suyuthi mencatat bahwa sebelum Islam, Muharram sempat dikenal sebagai Safar Awal pada masa jahiliyyah. Kemudian Islam datang dan mengubah namanya menjadi Muharram, menegaskan statusnya sebagai bulan yang dihormati (ditinggalkan peperangan di dalamnya). Dengan sandangan nama dari Allah SWT tersebut, jelaslah bahwa Muharram memiliki keistimewaan yang tinggi dalam Islam.

  3. Terdapat Hari Asyura yang Dimuliakan

    Di bulan Muharram terdapat satu hari istimewa yang sangat dimuliakan, yaitu tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai Hari Asyura. Hari Asyura memiliki sejarah penting dalam tradisi para nabi. Disebutkan bahwa pada tanggal 10 Muharram inilah Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun. Sebagai ungkapan syukur, Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut.
    Rasulullah ﷺ pun mengagungkan hari Asyura dengan menganjurkan umatnya berpuasa. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram. Rasulullah ﷺ lantas bersabda,

    “Kami (umat Islam) lebih berhak menghormati Musa daripada kalian,”

    kemudian beliau berpuasa Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa pada hari itu. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas RA dalam Shahih Muslim.
    Puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yaitu menghapus dosa-dosa kecil selama setahun sebelumnya. Dalam hadits lain disebutkan:

    “Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

    Bahkan disunnahkan pula berpuasa pada 9 Muharram sehari sebelum Asyura (disebut puasa Tasu’a) sebagai bentuk kehati-hatian dan menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya puasa pada tanggal 10. Dengan demikian, Hari Asyura di bulan Muharram merupakan salah satu momentum ibadah puasa sunnah yang sangat ditekankan oleh Nabi ﷺ.

  4. Momen Introspeksi dan Muhasabah Tahun Baru Hijriyah

    Muharram sebagai bulan pertama penanggalan Hijriyah juga menjadi momen yang tepat untuk introspeksi (muhasabah) dan memperbaiki diri. Ibarat lembaran baru di awal tahun, bulan ini memberikan kesempatan bagi setiap Muslim untuk merenungi perjalanan hidup di tahun yang telah lewat dan merancang tekad serta amalan yang lebih baik di tahun yang akan datang.
    Hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Mekkah ke Madinah – yang menjadi dasar penetapan kalender Hijriyah – terjadi bukan di bulan Muharram, namun tahun Hijriyah memang dimulai dari Muharram sebagai simbol hijrah menuju kebaikan. Umat Islam bisa memanfaatkan bulan Muharram untuk muhasabah diri, memperbanyak istighfar, serta membuat resolusi ibadah dan kebaikan. Allah SWT berfirman:

    “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18).

    Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu mengevaluasi diri dan bersiap menyongsong hari depan. Dengan semangat tahun baru Islam, Muharram adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki niat dan memperbanyak amal shaleh sebagai bekal di masa mendatang.

  5. Pahala Amal Dilipatgandakan

    Setiap amal kebaikan yang dilakukan pada bulan Muharram akan diganjar pahala berlipat ganda oleh Allah SWT. Karena Muharram termasuk bulan haram yang mulia, nilai ibadah di dalamnya lebih tinggi dibanding bulan biasa. Dalil tentang hal ini dapat dipahami dari hadits Rasulullah ﷺ saat Haji Wada’, di mana beliau mengingatkan tentang mulianya hari, bulan, dan tempat saat itu. Beliau bersabda:

    “Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan kalian semua haram (mulia) atas kalian seperti mulianya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini. Dan sesungguhnya kalian akan menghadap Tuhanmu sekalian dan Dia akan bertanya kepada kalian tentang amal perbuatan kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Hadits di atas diucapkan Nabi ﷺ pada 10 Dzulhijjah di Padang Arafah, namun disebutkan “di bulan ini” yang mencakup pula bulan-bulan suci. Muharram sebagai salah satu bulan haram tentunya termasuk dalam kemuliaan tersebut. Selain itu, para ulama menegaskan keutamaan beramal di bulan haram. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut Muharram sebagai waktu yang baik untuk memperbanyak shalat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan dzikir, karena amal kebaikan di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Dengan demikian, Muharram adalah kesempatan emas untuk meraih pahala besar melalui berbagai amal shaleh.

  6. Dosa Pun Diperberat di Bulan Ini

    Jika pahala kebaikan dilipatgandakan, dosa dan maksiat yang dilakukan pada bulan Muharram pun lebih berat hukumannya. Inilah konsekuensi dari kemuliaan bulan haram: pelanggaran di dalamnya lebih dibenci Allah. Allah SWT sudah mengingatkan,

    “janganlah kamu menzalimi diri (berbuat dosa) dalam bulan yang empat itu” (QS. At-Taubah: 36)

    Oleh sebab itu, seorang Muslim hendaknya ekstra waspada untuk tidak melakukan maksiat pada waktu-waktu mulia ini. Pendapat para ulama mendukung hal tersebut. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan:

    “Allah SWT mengkhususkan empat bulan haram… menjadikannya mulia dan istimewa, juga melipatgandakan perbuatan dosa di samping melipatgandakan perbuatan baik.”.

    Artinya, dosa sekecil apapun yang dilakukan di bulan Muharram akan bernilai lebih besar dibanding ketika dilakukan di luar bulan haram. Maka, kita perlu menahan diri, menjauhi maksiat, dan memperbanyak taubat di bulan ini. Keistimewaan Muharram sebagai waktu mulia seharusnya diisi dengan hal-hal yang diridhai Allah, bukan kemungkaran.

  7. Waktu Terbaik untuk Puasa Sunnah Setelah Ramadhan

    Keutamaan berikutnya, bulan Muharram adalah waktu terbaik untuk melaksanakan puasa sunnah setelah bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah ﷺ dari Abu Hurairah RA:

    “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (Muharram)…” (HR. Muslim)

    Hadits ini dengan jelas menempatkan puasa di bulan Muharram sebagai puasa sunnah paling afdhal dibanding bulan lainnya. Anjuran ini mencakup puasa Asyura (10 Muharram) dan puasa Tasu’a (9 Muharram) yang telah disebutkan, namun juga berlaku untuk memperbanyak puasa sunnah di hari-hari Muharram secara umum.
    Para ulama menjelaskan keutamaan ini menunjukkan cinta Allah kepada hamba-Nya – bahwa setelah menunaikan puasa wajib Ramadhan, kesempatan meraih pahala besar berikutnya adalah di bulan Muharram. Imam Nawawi bahkan menegaskan Muharram adalah bulan terbaik untuk puasa sunnah sepanjang tahun. Maka, sangat dianjurkan mengisi hari-hari Muharram dengan puasa Senin-Kamis, puasa ayyamul bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriyah), serta tentu puasa Tasu’a dan Asyura. Dengan niat ikhlas, puasa di bulan Muharram akan mendatangkan pahala berlimpah dan menghapus dosa-dosa kecil yang telah lalu.

  8. Banyak Peristiwa Bersejarah Terjadi di Bulan Muharram

    Bulan Muharram juga dikenal memiliki banyak peristiwa penting dalam sejarah para nabi. Sejumlah riwayat dan kitab klasik mencatat berbagai kejadian bersejarah yang diyakini terjadi bertepatan dengan 10 Muharram (Hari Asyura). Dalam kitab I’anah at-Thalibin misalnya, disebutkan beberapa peristiwa besar berikut :
    – Nabi Adam AS diterima taubatnya oleh Allah setelah diturunkan ke bumi.
    – Nabi Nuh AS diselamatkan Allah dari banjir bandang (bahtera Nabi Nuh berlabuh dengan selamat).
    – Nabi Ibrahim AS diselamatkan dari api Raja Namrud yang hendak membakarnya.
    – Nabi Musa AS dan Bani Israil dibebaskan dari kejaran Fir’aun (Laut Merah terbelah pada hari Asyura).
    – Nabi Yusuf AS dikeluarkan dari penjara setelah diuji dengan fitnah.
    – Nabi Ya’qub AS disembuhkan dari kebutaan matanya setelah mendengar kabar gembira tentang Yusuf.
    – Nabi Ayyub AS disembuhkan dari penyakit kulit yang dideritanya sejak lama.
    – Nabi Yunus AS dikeluarkan dari perut ikan paus (ikan Nun) setelah berhari-hari di dalamnya.
    – Nabi Dawud AS diampuni kesalahannya oleh Allah.
    – Nabi Sulaiman AS dikaruniai kerajaan yang besar dan kekuasaan.
    – Nabi Isa AS diangkat ke langit, diselamatkan dari upaya penyaliban oleh musuh-musuhnya.
    – Bahkan disebutkan Nabi Muhammad ﷺ diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang pada hari Asyura sebagai bentuk kemuliaan beliau.
    Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan bahwa Hari Asyura dalam sejarah para nabi kerap menjadi momen kemenangan, pengampunan, dan pertolongan Allah. Meskipun beberapa riwayat tersebut bersumber dari kisah-kisah yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an atau hadits shahih, tradisi ulama menyebutkannya untuk menunjukkan kemuliaan tanggal 10 Muharram sebagai hari yang dipenuhi rahmat Allah sejak zaman para nabi. Keyakinan ini semakin menambah kesan bahwa bulan Muharram adalah bulan yang penuh berkah dan pertolongan Allah bagi hamba-hamba pilihan-Nya.

  9. Dilapangkannya Rezeki bagi yang Menafkahi Keluarga di Hari Asyura

    Salah satu keistimewaan bulan Muharram yang sering dikutip ulama adalah janji Allah akan melapangkan rezeki bagi siapa saja yang berbuat baik kepada keluarga pada Hari Asyura (10 Muharram). Terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari beberapa sahabat, di antaranya oleh Imam ath-Thabrani dan Al-Baihaqi, sebagai berikut:

    “Orang yang melapangkan (belanja) keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkan hidupnya pada tahun tersebut.” (HR. ath-Thabrani dan al-Baihaqi)

    Maksud “melapangkan keluarga” di sini adalah mencukupi kebutuhan hidup keluarga dengan lebih baik dari biasanya – misalnya menyediakan makanan yang lebih layak, memberikan hadiah, atau keperluan lain. Berdasarkan hadits di atas, para ulama menganjurkan pada tanggal 10 Muharram seorang Muslim menyenangkan hati keluarganya dan meningkatkan nafkah untuk mereka. Harapannya, Allah SWT akan melimpahkan berkah rezeki sepanjang tahun sebagai balasan dari amalan di hari Asyura tersebut.
    Sejumlah ulama mengisahkan bahwa salafush-shalih telah merasakan kebenaran hadits ini. Diceritakan Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama tabi’in, selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya setiap datang hari Asyura. Beliau kemudian mengakui bahwa sepanjang tahun kehidupannya dilapangkan oleh Allah sesuai janji dalam hadits. Meskipun demikian, tentu berbagi rezeki dengan keluarga dan orang-orang terdekat tidak terbatas di hari Asyura saja. Islam mengajarkan kita untuk selalu peduli dan berbuat baik kapanpun. Namun, khusus di hari Asyura amalan ini memiliki keutamaan tambahan sebagai salah satu sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ. Tidak ada salahnya kita memperingati 10 Muharram dengan membuat keluarga gembira dan tercukupi, seraya tetap berbagi pada hari-hari lainnya juga.

  10. Disebut Bulan Anak Yatim, Momentum Menyayangi Yatim Piatu

    Keistimewaan terakhir, bulan Muharram – khususnya tanggal 10 (Hari Asyura) – kerap disebut sebagai “Lebaran Anak Yatim” di kalangan kaum muslimin. Hal ini karena ada anjuran dalam Islam untuk memuliakan dan menyantuni anak-anak yatim, dan pada momen Asyura banyak umat Islam yang mengkhususkan kegiatan berbagi dengan anak yatim. Dalam ajaran Islam, menyayangi anak yatim adalah perbuatan mulia yang pahalanya besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Aku dan orang yang mengasuh anak yatim di surga akan seperti ini,” (beliau mengisyaratkan dengan merapatkan jari telunjuk dan jari tengah). (HR. Bukhari)

    Hadits di atas menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang yang peduli terhadap anak yatim – dekat sekali dengan Rasulullah ﷺ di surga. Menyantuni anak yatim merupakan amal yang dianjurkan kapan saja sepanjang tahun, namun pada bulan Muharram umat Islam di berbagai tempat menjadikannya sebagai momentum khusus. Tanggal 10 Muharram sering dimanfaatkan untuk mengadakan acara santunan yatim, mengusap kepala mereka dengan penuh kasih sayang, dan memberikan bantuan kebutuhan hidup. Tradisi ini didasarkan pada semangat hadits-hadits keutamaan berbuat baik kepada yatim, meskipun tidak ada dalil khusus yang mewajibkan di tanggal 10 Muharram saja.z
    Penyebutan Muharram sebagai “bulan anak yatim” atau peringatan Hari Asyura sebagai hari santunan yatim bertujuan agar masyarakat Muslim tidak melupakan kaum yatim piatu. Dengan memuliakan anak yatim di hari istimewa, diharapkan kita terbiasa menyayangi mereka di hari-hari lainnya. Allah SWT sangat menekankan dalam Al-Qur’an agar kita berbuat baik kepada anak yatim dan tidak menelantarkan mereka (lihat QS. Al-Ma’un: 1-3, QS. Ad-Dhuha: 9). Oleh karenanya, menyantuni anak yatim di bulan Muharram adalah bagian dari memanfaatkan kemuliaan bulan ini untuk meraih ridha Allah melalui amal sosial yang terpuji.

Bulan Muharram adalah bulan yang penuh kemuliaan dan keberkahan dalam Islam. Sepuluh keistimewaan di atas menunjukkan betapa istimewanya bulan pertama tahun Hijriyah ini: mulai dari statusnya sebagai bulan suci (asyhurul hurum), adanya hari Asyura yang sarat sejarah dan keutamaan, anjuran puasa sunnah terbaik, hingga kesempatan meraih pahala berlipat melalui amal kebaikan seperti bersedekah, memperbanyak ibadah, menafkahi keluarga, dan menyantuni anak yatim. Semua itu merupakan nikmat dan rahmat Allah yang diberikan pada bulan Muharram.

Sebagai umat Islam, kita seyogyanya menyambut Muharram dengan penuh syukur dan semangat meningkatkan ketakwaan. Mari jadikan bulan yang mulia ini sebagai momentum hijrah menuju kebaikan – memperbanyak puasa sunnah, shalat, dzikir, sedekah, serta menjauhi dosa dan maksiat. Jangan lupa untuk menghidupkan sunnah puasa Asyura dan Tasu’a, mengajak keluarga beramal bersama, dan peduli kepada kaum dhuafa serta anak yatim. Semoga dengan mengamalkan berbagai kebaikan di bulan Muharram, Allah SWT menghapus dosa-dosa kita, melimpahkan rezeki dan keberkahan sepanjang tahun, serta mengangkat derajat kita di sisi-Nya. Selamat menyambut tahun baru Hijriyah, dan mari berlomba-lomba mengisi bulan Muharram dengan amalan terbaik. Aamiin.

 

You might also like