4 Golongan yang Dirindukan Surga: Apakah Anda Termasuk? - Masjid Ismuhu Yahya

4 Golongan yang Dirindukan Surga: Apakah Anda Termasuk?

Masjid Ismuhu yahya – 4 Golongan yang Dirindukan Surga – Setiap Muslim tentu mendambakan bisa masuk ke dalam surga. Namun tahukah kita bahwa ada 4 golongan manusia istimewa yang sampai dirindukan oleh surga? Hal ini disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Surga merindukan empat golongan: orang yang gemar membaca Al-Qur’an, orang yang menjaga lisannya, orang yang memberi makan orang kelaparan, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Hadis ini memberi gambaran betapa mulianya amalan empat golongan tersebut hingga surga pun “menantikan” kehadiran mereka. Siapa saja mereka dan apa keistimewaan amalannya? Berikut penjelasan masing-masing golongan lengkap dengan dalil Al-Qur’an serta hadis shahih yang relevan.

4 Golongan yang Dirindukan Surga

  1. Gemar Membaca Al-Qur’an dengan Tekun (Tāli al-Qur’ān)

    Golongan pertama yang dirindukan surga adalah orang-orang yang gemar membaca Al-Qur’an dengan tekun. Mereka senantiasa meluangkan waktu setiap hari untuk tilawah (membaca) kalamullah, bukan sekadar di bulan Ramadan saja tetapi sepanjang tahun. Tāli al-Qur’ān dalam hadis di atas berarti bukan hanya pembaca biasa, melainkan mereka yang membaca dengan tekun sambil menghayati, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Orang seperti ini menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, sehingga hatinya terpaut pada kitab suci tersebut. Tak heran jika ia menjadi golongan istimewa yang sampai dirindukan oleh surga.
    Membaca Al-Qur’an adalah amalan mulia yang membawa banyak keutamaan. Allah ﷻ berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an) dan melaksanakan salat serta menginfakkan rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka secara diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fāṭir: 29)

    Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tekun membaca kitab Allah dijanjikan pahala yang besar sebagai “perniagaan” akhirat yang takkan rugi. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada Hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at (pertolongan) bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)

    Hadis shahih ini menegaskan bahwa Al-Qur’an kelak akan membela orang yang rajin membacanya, sehingga menjadi penolong untuk masuk surga.
    Selain itu, orang yang cinta membaca Al-Qur’an mendapat predikat istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda,

    “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

    Bayangkan, predikat “yang terbaik” diberikan kepada ahli Qur’an. Hati para pembaca Al-Qur’an pun akan ditenangkan oleh Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah (dzikir) hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d: 28).

    Membaca Al-Qur’an termasuk dzikir yang paling agung. Maka tak hanya pahala akhirat, di dunia pun hati menjadi damai dan tentram berkat rutin membaca kitab suci. Dengan berbagai keutamaan ini, pantaslah orang yang tekun membaca Al-Qur’an menjadi golongan pertama yang dirindukan surga.

  2. Menjaga Lisan dan Ucapan (Hāfiẓul Lisān)

    Golongan kedua yang dirindukan surga adalah orang-orang yang mampu menjaga lisan mereka dari ucapan yang buruk. Lisan atau lidah merupakan nikmat dari Allah yang sangat berharga, tetapi juga bisa menjadi sumber petaka jika tidak dijaga. Orang yang termasuk ḥāfiẓul lisān selalu berhati-hati dalam berbicara. Ia tidak berkata kasar, tidak mencaci atau menghina orang lain, serta menghindari gibah (menggunjing), namimah (adu domba), dan dusta. Setiap kata yang keluar dipilih yang baik-baik saja atau ia lebih memilih diam jika tidak ada kebaikan untuk diucapkan. Sikap inilah yang membuatnya istimewa, karena banyak manusia terjerumus dosa akibat lidahnya. Mengontrol ucapan memang tidak mudah, tetapi inilah salah satu kunci meraih ridha Allah dan surga-Nya.
    Allah ﷻ memuji orang yang menjauhi perkataan sia-sia. Dalam Al-Qur’an, salah satu ciri hamba beriman yang akan mewarisi Surga Firdaus adalah:

    “orang-orang yang menjauhkan diri dari (perkataan) yang tidak berguna.” (QS. al-Mu’minūn: 3)

    Menahan lisan dari hal yang tak bermanfaat ternyata menjadi salah satu syarat meraih surga tertinggi. Rasulullah ﷺ juga sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Beliau bersabda:

    “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim)

    Hadis shahih ini mengingatkan bahwa kualitas iman seseorang tercermin dari ucapannya – jika tak bisa berkata baik, lebih baik diam. Ucapan adalah cerminan hati; lisan yang terjaga menandakan hati yang bersih dan iman yang kuat.
    Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan sahabatnya tentang bahaya lisan. Beliau bersabda bahwa kebanyakan manusia tergelincir ke neraka justru karena hasil ucapan lidahnya sendiri (HR. Tirmidzi). Na’udzubillah! Oleh sebab itu, golongan yang pandai menjaga lidah dari dosa akan dimuliakan oleh Allah. Bahkan ada pepatah bijak mengatakan “diam itu emas”, yang sejalan dengan nasihat Nabi tadi. Orang yang mampu menahan diri dari perkataan buruk berarti menyelamatkan banyak pahala amalnya dari hangus akibat gibah atau fitnah. Ia juga tidak menyakiti hati orang lain dengan kata-katanya. Betapa banyak orang rajin ibadah tapi gagal ke surga gara-gara lisannya tajam menyakiti sesama. Sebaliknya, siapa yang menjaga ucapannya, akan dihormati manusia dan dicintai Allah, sehingga layak menjadi salah satu golongan yang dirindukan surga.

  3. Suka Memberi Makan Orang yang Lapar (Muṭ‘imul Jī‘ān)

    Golongan ketiga yang dirindukan surga adalah orang-orang yang gemar memberi makan kepada mereka yang kelaparan atau membutuhkan. Inilah golongan dermawan yang peduli pada nasib sesama, terutama fakir miskin yang sering kekurangan pangan. Islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling berbagi rezeki. Tindakan memberi makan orang lain, apalagi yang benar-benar lapar, termasuk sedekah paling mulia. Allah ﷻ menjanjikan pahala berlipat ganda bagi orang yang memberi makan dengan ikhlas. Amalan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik orang lain, tapi juga menyelamatkan hidup dan martabat mereka. Orang yang suka memberi makan berarti memiliki empati, belas kasih, dan rasa syukur atas nikmat Allah. Kepedulian seperti ini menjadi salah satu sebab datangnya rahmat Allah dan balasan surga di akhirat.
    Banyak dalil menekankan keutamaan memberi makan kepada orang yang membutuhkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Sebarkanlah salam, berilah makan (orang-orang yang lapar), sambunglah tali silaturahim, dan shalatlah pada malam hari saat orang lain tidur; niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah)

    Hadis ini menunjukkan bahwa memberi makan orang lain merupakan salah satu amalan kunci untuk masuk surga dengan damai. Bahkan, memberi makanan saat berbuka puasa memiliki pahala istimewa. Nabi ﷺ bersabda:

    “Barangsiapa yang memberi makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

    Luar biasa, orang yang membantu sesamanya berbuka puasa diganjar pahala puasa penuh juga! Ini menjadi motivasi besar bagi kita untuk gemar bersedekah makanan, terutama di bulan Ramadan.
    Selain pahala, memberi makan orang lapar juga terkait dengan kesempurnaan iman. Rasulullah ﷺ mengingatkan:

    “Bukanlah termasuk orang beriman (secara sempurna), seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad)

    Teguran ini mengajarkan bahwa seorang Muslim sejati tidak tega melihat saudaranya menderita kelaparan. Ia akan tergerak membantu hingga tetangganya tidak lapar lagi. Allah ﷻ pun menyiapkan balasan indah bagi para dermawan pemberi makan. Dalam sebuah hadis disebutkan:

    “Siapa mukmin yang memberikan makanan kepada mukmin lain yang kelaparan, maka pada Hari Kiamat Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga.” (HR. Tirmidzi)

    Bayangkan, memberi makan di dunia dibalas langsung oleh Allah dengan jamuan makanan surga kelak! Itulah sebabnya orang-orang yang murah hati memberi makan fakir miskin akan mendapatkan tempat istimewa di sisi Allah. Surga “merindukan” kehadiran mereka karena amal kasih sayang dan kedermawanan mereka sangat dicintai Allah.

  4. Tekun Berpuasa di Bulan Ramadan dengan Iman (Aṣ-Ṣā’imūna fī Syahri Ramaḍān)

    Golongan keempat yang dirindukan surga adalah orang-orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Puasa di bulan Ramadan adalah rukun Islam yang wajib bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Ibadah ini tidak hanya sekadar kewajiban tahunan, tetapi sarana untuk meraih ketakwaan dan ampunan Allah. Orang yang benar-benar tekun berpuasa Ramadan karena iman (percaya pada perintah Allah) dan ihtisab (ikhlas mengharap pahala) akan meraih kedudukan istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala (dari Allah), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)

    Janji pengampunan ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan puasa Ramadan bagi yang menjalaninya dengan sungguh-sungguh.
    Bulan Ramadan sendiri adalah bulan yang sangat mulia. Di dalamnya terdapat limpahan rahmat, doa-doa dikabulkan, pahala dilipatgandakan, serta malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan. Orang yang merindukan surga pasti akan memanfaatkan Ramadan sebaik mungkin. Ketaatan dan kesabaran dalam puasa menjadikan dirinya dicintai Allah. Bahkan, Allah ﷻ menyediakan bonus khusus bagi ahli puasa berupa pintu surga istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang disebut Ar-Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada Hari Kiamat, tidak ada seorang pun masuk melaluinya selain mereka…” (HR. Bukhari & Muslim)

    Hadis shahih ini menggambarkan kemuliaan orang yang tekun berpuasa – sampai-sampai surga punya pintu spesial yang hanya boleh dimasuki oleh mereka. Ar-Rayyan akan memanggil para shaimin (orang yang berpuasa), dan setelah mereka masuk, pintu itu tertutup sehingga tak ada lagi yang bisa masuk selain golongan tersebut. Sungguh merupakan kehormatan luar biasa bagi ahli puasa.
    Selain itu, pahala puasa sangatlah istimewa. Dalam hadis qudsi Allah berfirman,

    “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya.” (HR. Bukhari)

    Berbeda dari amal lain yang dicatat pahalanya oleh malaikat, ibadah puasa diganjar langsung oleh Allah tanpa batas. Ini karena puasa adalah bentuk ketaatan yang hanya Allah yang tahu hakikat kesungguhan hamba-Nya menahan diri. Orang-orang yang ikhlas berpuasa mendapat kedudukan khusus di sisi Allah, sehingga pantas jika surga merindukan kehadiran mereka. Di akhirat kelak, ahli puasa akan bergembira menyambut ganjaran dari Allah, memasuki Ar-Rayyan dan menikmati kenikmatan abadi yang dijanjikan.

Demikianlah empat golongan yang dirindukan surga beserta amalan-amalan utamanya. Empat golongan ini mencakup aspek hubungan dengan Allah (melalui Qur’an dan puasa) serta hubungan dengan sesama manusia (melalui lisan dan memberi makan). Mereka dicintai Allah karena keistimewaan ibadah dan akhlaknya, sehingga layak mendapat kerinduan dari surga sebagai balasan. Tentu, setiap Muslim bisa berusaha masuk ke dalam golongan-golongan tersebut.

Mari bercermin, apakah kita sudah tekun membaca Al-Qur’an setiap hari? Sudahkah kita menjaga lisan dari keburukan? Seberapa peduli kita memberi makan fakir miskin? Dan apakah kita menjalani puasa Ramadan dengan sepenuh iman? Jika ada yang masih kurang, masih ada waktu untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal mulia tersebut.

Pada akhirnya, surga Allah hanya untuk hamba-hamba pilihan yang beriman dan beramal saleh. Empat golongan di atas adalah contoh hamba pilihan dengan amal unggulan. Semoga kita semua dimudahkan untuk meneladani mereka. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat harian, jaga lisan agar selalu bersih, latih diri untuk dermawan membantu sesama, dan tunaikan puasa Ramadan dengan penuh keikhlasan. Dengan begitu, insyaAllah kita termasuk golongan yang dirindukan surga.

Wallahu a’lam bish-shawab. Semoga Allah ﷻ memasukkan kita ke dalam surga-Nya yang penuh kenikmatan. Amin ya Rabbal ‘alamin.

 

You might also like