5 Hadits tentang Sedekah: Makna dan Keutamaannya - Masjid Ismuhu Yahya

5 Hadits tentang Sedekah: Makna dan Keutamaannya

Masjid Ismuhu Yahya – Sedekah (amal berbagi atau derma) menempati posisi istimewa dalam ajaran Islam. Banyak sekali dalil yang menganjurkan umat Islam untuk gemar bersedekah, termasuk berbagai ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Kali ini, kita akan membahas 5 hadits tentang sedekah beserta penjelasan maknanya menurut para ulama. Melalui lima hadits ini, kita dapat memahami keutamaan sedekah dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Semoga dengan memahami hadits-hadits berikut, kita semakin termotivasi untuk bersedekah dengan ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.

5 Hadits tentang Sedekah

  1. Memberi Lebih Baik Daripada Menerima (Tangan di Atas vs Tangan di Bawah)

    Salah satu hadits terkenal tentang sedekah berbunyi:
    “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah (memberi nafkah) dari orang yang menjadi tanggunganmu. Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan ketika (pelakunya) berkecukupan.” (HR. Bukhari & Muslim)“Tangan di atas” maksudnya pihak yang memberi, sedangkan “tangan di bawah” maksudnya pihak yang menerima sedekah. Para ulama menjelaskan bahwa “tangan di bawah” terutama merujuk pada orang yang meminta-minta. Dengan kata lain, orang yang gemar memberi itu lebih mulia daripada orang yang suka meminta. Hadits ini menganjurkan kita untuk menjadi pribadi dermawan yang suka membantu, dan melarang perilaku mengemis tanpa kebutuhan yang mendesak.
    Selain itu, Rasulullah SAW berpesan “mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu”. Artinya, dalam bersedekah kita harus mengutamakan keluarga atau orang-orang terdekat yang menjadi tanggungan kita. Memenuhi kebutuhan istri, anak, orang tua, atau kerabat dekat adalah prioritas sebelum bersedekah kepada orang lain. Sedekah yang utama adalah sedekah yang diberikan saat kita sendiri dalam kondisi cukup atau berkecukupan (tidak membutuhkan harta tersebut untuk diri sendiri).
    Ulama mengartikan frasa “khairu al-shadaqah ‘an zhahri ghina” sebagai sedekah dari harta surplus yang lebih dari keperluan pokok. Dengan demikian, Islam menganjurkan kita memberi sedekah tanpa mengabaikan kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Hadits ini juga mengandung hikmah agar kita berusaha menjaga kehormatan dengan tidak meminta-minta.
    Bahkan disebutkan di akhir hadits, “Barangsiapa yang menahan diri (dari meminta-minta), Allah akan menjaganya; dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkannya.”. Inti pelajaran: jadilah tangan di atas yang gemar memberi, mulai dari keluarga terdekat, dan berikanlah sedekah dari harta yang halal lagi cukup, sehingga sedekah kita menjadi berkah.

  2. Sedekah Jariyah: Amal yang Pahalanya Terus Mengalir

    Hadits kedua menjelaskan konsep sedekah jariyah, yaitu sedekah yang pahalanya tidak terputus. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)Sedekah jariyah adalah amal sedekah yang manfaatnya terus berlangsung dalam jangka panjang, sehingga pahalanya terus mengalir meskipun pemberinya telah wafat. Para ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud sedekah jariyah dalam hadits ini utamanya adalah wakaf atau bentuk sedekah permanen lainnya.
    Wakaf merupakan sedekah berupa harta yang ditahan pokoknya untuk kepentingan umum, seperti mewakafkan tanah atau bangunan untuk masjid, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, sumur air, perpustakaan, dan fasilitas bermanfaat lainnya. Selama harta wakaf tersebut dimanfaatkan oleh orang banyak, pahala bagi orang yang mewakafkannya akan terus mengalir tanpa putus.
    Contoh sedekah jariyah sederhana dalam kehidupan sehari-hari antara lain: menyumbangkan Al-Qur’an atau buku ke masjid yang akan dibaca oleh banyak jamaah, membangun sumur atau sumber air bersih yang bisa digunakan masyarakat, mendirikan lembaga pendidikan atau membantu biaya pembangunan fasilitas umum. Semua itu merupakan sedekah yang efek kebaikannya bersifat jangka panjang.
    Para ulama seperti Imam al-Rafi’i dan Syekh Khatib al-Syarbini menjelaskan, sedekah jariyah diarahkan pada makna wakaf karena wakaf adalah satu-satunya bentuk sedekah yang manfaatnya dapat dimanfaatkan secara permanen oleh penerimanya. Adapun sedekah biasa atau hadiah, terkadang manfaatnya habis dipakai atau berpindah tangan, sehingga pahalanya tidak terus-menerus seperti wakaf. Oleh sebab itu, hadits ini mendorong kita untuk melakukan amal-amal sedekah yang berkelanjutan dampaknya. Dengan bersedekah jariyah, kita menanam investasi pahala yang akan terus berbuah bahkan setelah kita meninggal dunia. Inilah salah satu cara umat Islam meraih pahala abadi dan meninggalkan warisan kebaikan bagi generasi berikutnya.

  3. Sedekah Sebagai Penghapus Dosa

    Islam mengajarkan berbagai amalan yang bisa menjadi penebus dan penghapus dosa, salah satunya adalah sedekah. Nabi Muhammad SAW bersabda:
    “Sedekah itu memadamkan kesalahan (dosa) sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan sahih)Perumpamaan yang kuat ini menggambarkan bahwa dosa-dosa kita bisa dihapuskan oleh Allah SWT melalui amalan sedekah yang ikhlas. Sedekah dapat menjadi sarana penghapusan dosa berkat rahmat dan ampunan Allah kepada hamba-Nya yang berbuat kebajikan. Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa kewajiban zakat dan anjuran sedekah memiliki hikmah untuk menyucikan dan membersihkan jiwa dari dosa-dosa.
    Hal ini sejalan dengan hadits di atas, di mana bersedekah diibaratkan seperti air yang memadamkan api – artinya sedekah dapat memadamkan api dosa yang membakar pahala kita. Tentu, penting digarisbawahi bahwa sedekah sebagai penghapus dosa bukan berarti kita boleh berbuat dosa dengan sengaja lalu bermudah-mudahan menebusnya dengan sedekah.Para ulama mengingatkan bahwa niat bertobat dan meninggalkan maksiat tetaplah yang utama.
    Sedekah akan bernilai penghapus dosa jika dilakukan dengan ikhlas dan diiringi taubat nasuha atas kesalahan yang diperbuat. Hadits ini menunjukkan betapa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Dia memberikan banyak jalan bagi hamba-Nya untuk mendapatkan ampunan. Selain istighfar dan taubat, berbuat kebajikan seperti sedekah adalah salah satu jalan memperoleh maghfirah Allah. Sebagai contoh, seseorang yang merasa telah melakukan kesalahan hendaknya segera memperbanyak sedekah dan amal shalih lainnya sebagai bentuk penyesalan dan upaya membersihkan diri.
    Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah bahkan menyebut bahwa sedekah memiliki pengaruh luar biasa dalam menghapus dosa dan menolak murka Allah. Beliau mengatakan sedekah dapat menghapus berbagai dosa dan mendatangkan keridhaan Allah, bahkan terhadap pelaku maksiat sekali pun Allah bisa memberikan pengampunan melalui sedekah yang mereka lakukan dengan tulus. Demikianlah, sedekah berperan laksana “pemadam dosa” – sebuah amalan yang membantu menyelamatkan kita dari akibat buruk kesalahan di dunia dan akhirat, tentunya atas izin dan rahmat Allah SWT.

  4. Sedekah Menolak Bala (Mencegah Musibah)

    Hadits berikutnya mengajarkan bahwa sedekah bisa menjadi pelindung dari marabahaya. Rasulullah SAW berpesan:
    “Bersegeralah bersedekah, karena musibah dan bencana tidak akan mampu mendahului sedekah.” (HR. Ahmad)Ungkapan ini menganjurkan kita untuk tidak menunda-nunda bersedekah, sebab sedekah yang kita keluarkan di jalan Allah dapat menjadi penangkal berbagai bala (bencana) yang mungkin menimpa.
    Dengan kata lain, sedekah ibarat perisai yang melindungi diri dari musibah. Para ulama menyebut konsep ini sebagai tatfiu al-bala bis-shadaqah (menolak bala dengan sedekah). Sejumlah riwayat dan pengalaman ulama mendukung makna hadits ini.
    Dikisahkan, sedekah mampu menolak 70 macam bala dan bahkan dapat menjadi wasilah kesembuhan dari penyakit. Dalam kitab Al-Mustadrak Al-Hakim, misalnya, terdapat anjuran: “Obatilah orang sakit di antara kalian dengan sedekah.” Ini sejalan dengan keyakinan bahwa ketika kita menolong orang lain, Allah akan menolong kita dan menjauhkan kita dari bahaya.
    Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengungkapkan hal senada: “Sesungguhnya sedekah memiliki keajaiban yang menakjubkan dalam menolak berbagai macam bencana, sekalipun pelakunya adalah orang yang fajir (pendosa) atau zalim, bahkan orang kafir sekalipun. Dengan perantara sedekah, Allah akan menolak berbagai bencana tersebut.”.
    Pernyataan Ibnu Qayyim ini menunjukkan bahwa efek perlindungan sedekah begitu besar, hingga orang non-Muslim pun bisa merasakan manfaat duniawi dari sifat murah hati mereka (tentu saja pahala di akhirat hanya bagi mukmin yang ikhlas karena Allah). Maka, tidak heran jika Nabi SAW sangat menganjurkan untuk segera bersedekah sebelum datangnya musibah. Sedekah yang dilakukan secara rutin, sekecil apa pun, dapat menjadi benteng tak kasat mata yang menjaga kita. Misalnya, seseorang yang rajin bersedekah bisa jadi dijauhkan Allah dari kecelakaan, penyakit berat, atau bencana alam, berkat amal sedekahnya itu. Tentu semua terjadi atas izin Allah semata.
    Intinya, hadits ini mengajarkan jangan tunggu esok untuk bersedekah. Jika ada rezeki dan kesempatan berbuat baik hari ini, lakukan segera. Sedekah hari ini mungkin saja menjadi penyelamat kita di masa depan yang penuh ketidakpastian.

  5. Sedekah Membawa Berkah dan Menambah Rezeki
    Secara logika manusia, mengeluarkan harta untuk bersedekah terkesan akan mengurangi jumlah harta yang kita miliki. Namun, Rasulullah SAW menegaskan sebaliknya. Beliau bersabda:

    “Tidaklah berkurang harta karena sedekah…” (HR. Muslim)

    Artinya harta yang disedekahkan tidak akan membuat seseorang miskin, justru akan bertambah dalam keberkahan. Dalam lanjutan hadits tersebut disebutkan pula bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang mau memaafkan dan memuliakan orang yang rendah hati. Fokus kita di sini pada bagian sedekah tidak mengurangi harta. Para ulama memberikan penjelasan yang indah mengenai hal ini.
    Imam Yahya An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dua makna dari sabda Nabi tersebut:

    • Pertama, secara kualitatif harta yang disedekahkan justru diberkahi Allah SWT. Meskipun secara nominal berkurang, namun keberkahan dalam harta tersebut akan bertambah sehingga kekurangan itu tertutupi oleh berbagai kebaikan (misalnya, harta yang tersisa menjadi cukup dan bermanfaat, terhindar dari kerugian atau pengeluaran tak terduga).
    • Kedua, walaupun harta itu benar berkurang jumlahnya di dunia, orang yang bersedekah akan mendapatkan ganti berupa pahala yang dilipatgandakan di sisi Allah. Pahala ini kelak bisa “ditukar” dengan kenikmatan yang jauh lebih besar, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Pendapat ulama lain juga sejalan. Ibnu Baththal, pensyarah Shahih Bukhari, mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan sedekah justru menjadi sebab berkembangnya harta secara spiritual. Allah akan mengembangkan dan menumbuhkan harta orang yang bersedekah dalam hal keberkahannya. Sebaliknya, orang yang enggan bersedekah karena takut rugi justru bisa dicabut keberkahan hartanya; bisa jadi hartanya tampak banyak namun terasa sempit, mudah habis atau mendatangkan masalah.
Banyak orang bisa membuktikan bahwa dengan bersedekah, rezeki mereka justru datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin juga menjelaskan hadits ini dengan sangat baik: Rasulullah SAW tentu tidak bersabda menurut hawa nafsunya semata. Secara zahir, memberi sedekah memang mengurangi jumlah harta secara angka, tetapi hakikatnya Allah akan menambahkannya melalui berbagai cara.
Boleh jadi seseorang bersedekah sejumlah Rp100 ribu, lalu Allah gantikan dengan rezeki Rp1 juta di lain kesempatan – ini sering terjadi dalam kehidupan. Kalaupun tidak diganti dalam bentuk uang, bisa jadi Allah gantikan dengan menjaga hartanya dari kerugian yang tak terlihat. Allah SWT berjanji dalam Al-Qur’an: “Apa saja yang kamu infakkan (di jalan Allah), maka Dialah yang akan menggantinya.” (QS. Saba: 39).
Janji Allah ini menunjukkan bahwa sedekah tidak akan membuatmu miskin. Justru dengan bersedekah, kita membuka pintu-pintu rezeki yang baru dan membersihkan harta kita.
Harta yang disedekahkan ibarat ditanam sebagai benih pahala, yang akan tumbuh berlipat ganda. Bahkan, menurut Syekh Al-‘Utsaimin, balasan Allah bagi orang yang bersedekah akan diberikan segera di dunia maupun disimpan sebagai tabungan akhirat. Maka, kita tidak perlu ragu lagi bahwa setiap rupiah yang disedekahkan di jalan Allah pasti membawa kebaikan. Sedekah menjadikan harta lebih berkah, aman, dan bertambah dalam ridha Allah.

Kelima hadits tentang sedekah di atas menegaskan betapa mulianya amalan sedekah serta berbagai keutamaan yang menyertainya. Dari hadits-hadits tersebut, kita belajar bahwa bersedekah lebih baik daripada meminta-minta, sedekah kepada keluarga terdekat harus diutamakan, sedekah jariyah akan menjadi pahala abadi, sedekah dapat menghapus dosa, menolak bala, dan justru menambah keberkahan rezeki. Semua ini menunjukkan bahwa sedekah memiliki manfaat yang luar biasa, baik secara spiritual maupun sosial. Bagi orang yang menerima, sedekah jelas membantu meringankan beban hidup. Bagi si pemberi, sedekah membersihkan jiwa, mendatangkan ketenangan batin, dan mengundang rahmat Allah.

Umat Islam hendaknya menjadikan ajaran Rasulullah SAW ini sebagai motivasi untuk gemar bersedekah di setiap kesempatan. Sedekah tidak selalu harus dalam jumlah besar; amal kecil namun rutin juga sangat bernilai. Bahkan senyuman, kata Nabi, adalah sedekah. Yang terpenting adalah keikhlasan dan ketulusan hati dalam memberi. Dengan bersedekah secara ikhlas, kita mengharap ridha Allah SWT semata. InsyaAllah, sedekah yang kita lakukan akan membawa berkah bagi diri kita dan orang lain: harta kita bersih dan bertambah manfaatnya, hidup kita dijauhkan dari marabahaya, dosa-dosa kita diampuni, dan di akhirat kelak kita mendapatkan pahala berlipat ganda. Semoga kita semua dimudahkan untuk rutin bersedekah dan meraih keutamaan-keutamaannya, sehingga menjadi hamba Allah yang bermanfaat bagi sesama, amiin. Wallahu a’lam bisshawab.

You might also like