Doa Bulan Safar Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya - Masjid Ismuhu Yahya

Doa Bulan Safar Lengkap: Arab, Latin, dan Artinya

Masjid Ismuhu Yahya – Doa Bulan Safar sering dicari umat Islam sebagai bentuk ikhtiar memohon perlindungan dan keberkahan kepada Allah SWT di bulan Safar. Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriah yang kerap dikaitkan dengan berbagai mitos kesialan. Padahal, agama Islam mengajarkan bahwa setiap waktu dan bulan adalah ketetapan Allah yang tidak membawa sial atau keberuntungan dengan sendirinya.

Salah satu amalan yang populer adalah membaca doa awal bulan Safar untuk memohon keselamatan (tolak bala) di sepanjang bulan tersebut. Melalui artikel ini, kita akan membahas seputar bulan Safar, meluruskan anggapan keliru tentangnya sesuai sunnah, serta menyajikan bacaan doa bulan Safar lengkap beserta artinya dalam bahasa Indonesia.

Sekilas Tentang Bulan Safar

Bulan Safar adalah bulan kedua dalam penanggalan Hijriah, terletak setelah bulan Muharram. Secara bahasa, kata Safar berarti “kosong” atau “sunyi”. Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir, bulan Safar dinamakan demikian karena pada bulan ini rumah-rumah orang Arab di masa lampau menjadi sepi (kosong) ketika para penghuninya keluar untuk berperang atau bepergian. Dengan demikian, nama Safar berakar dari kondisi masyarakat Arab dahulu dan tidak berkaitan dengan nasib sial atau muatan mistis apa pun.

Banyak peristiwa penting justru terjadi di bulan Safar. Misalnya, Nabi Muhammad SAW menikahi Sayidah Khadijah RA pada bulan Safar, dan di bulan ini pula Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA menikah dengan Fatimah az-Zahra RA. Selain itu, kemenangan kaum muslimin dalam Perang Khaibar juga terjadi pada bulan Safar. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa awal peristiwa Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah dimulai pada akhir bulan Safar. Hal-hal baik tersebut menunjukkan bahwa Safar bukanlah waktu yang membawa kesialan – justru ada banyak kejadian mulia dan bersejarah di bulan ini. Safar juga bukan termasuk bulan Haram (bulan suci yang dimuliakan) dalam Islam, sehingga statusnya sama seperti bulan-bulan hijriah lainnya dalam hal ibadah dan amalan.

Bacaan Doa Bulan Safar Lengkap (Arab dan Artinya)

Ketika memasuki awal bulan Safar, tidak ada doa khusus yang wajib menurut syariat. Namun, para ulama telah menyusun beberapa doa yang baik diamalkan untuk memohon perlindungan Allah selama bulan Safar. Salah satu doa bulan Safar yang cukup populer di kalangan kaum Muslimin Indonesia akan disajikan berikut ini. Doa ini sering dikaitkan sebagai doa tolak bala di bulan Safar, terutama dibaca pada tradisi Rebo Wekasan (hari Rabu terakhir bulan Safar) maupun saat awal bulan Safar tiba.

Perlu ditekankan, membaca doa ini tidaklah wajib – umat Islam boleh membacanya sebagai ikhtiar memohon keselamatan, atau berdoa dengan kalimat apapun yang sesuai sunnah. Yang penting adalah niat memohon perlindungan dan keberkahan dari Allah SWT, serta meyakini bahwa hanya Allah-lah yang dapat melindungi kita dari mara bahaya.

Teks Doa Bulan Safar (Arab) – berikut lafal doa bulan Safar dalam bahasa Arab yang biasa dibaca untuk memohon perlindungan Allah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّ هٰذَا الزَّمَانِ وَأَهْلِهِ، وَأَسْأَلُكَ بِجَلَالِكَ وَجَلَالِ وَجْهِكَ وَكَمَالِ جَلَالِ قُدْسِكَ أَنْ تُجِيْرَنِيْ وَوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِيْ وَأَهْلِيْ وَأَحْبَابِيْ وَمَا تُحِيْطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِيْ مِنْ شَرِّ هٰذِهِ السَّنَةِ. وَقِنِيْ شَرَّ مَا قَضَيْتَ فِيْهَا, وَاصْرِفْ عَنِّيْ شَرَّ شَهْرِ صَفَرَ, يَا كَرِيْمَ النَّظَرِ. وَاخْتِمْ لِيْ فِيْ هٰذَا الشَّهْرِ وَالدَّهْرِ بِالسَّلَامَةِ وَالْعَافِيَةِ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَأَوْلَادِيْ وَلِأَهْلِيْ وَمَا تَحُوْطُهُ شَفَقَةُ قَلْبِيْ وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هٰذَا الشَّهْرِ، وَمِنْ كُلِّ شِدَّةٍ وَبَلَاءٍ وَبَلِيَّةٍ قَدَّرْتَهَا فِيْهِ يَا دَهْرُ – يَا مَالِكَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ – يَا عَالِمًا بِمَا كَانَ وَمَا يَكُوْنُ – وَمَنْ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا قَالَ لَهُ: كُنْ فَيَكُوْنُ. يَا أَزَلِيُّ يَا أَبَدِيُّ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ – يَا ذَا الْعَرْشِ الْمَجِيْدِ – أَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيْدُ. اَللّٰهُمَّ احْرِسْ بِعَيْنِكَ أَنْفُسَنَا وَأَهْلَنَا وَأَمْوَالَنَا وَوَالِدِيْنَا وَدِيْنَنَا وَدُنْيَانَا الَّتِيْ ابْتَلَيْتَنَا بِصُحْبَتِهَا, بِبَرَكَةِ الْأَبْرَارِ وَالْأَخْيَارِ, وَبِرَحْمَتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا غَفَّارُ – يَا كَرِيْمُ يَا سَتَّارُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَنِ – يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ – اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ. يَا مُحْسِنُ يَا مُجْمِلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُتَكَرِّمُ – يَا مَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ, اِرْحَمْنَا. اللّٰهُمَّ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Bismillāhir rahmānir rahīm. Wa shallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn. A‘ūdzu billāhi min sharri hādzāz zamāni wa ahlihī, wa as-aluka bijalālika wa jalāli wajhika wa kamāli jalāli qudsika an tujīranī wa wālidayya wa aulādī wa ahlī wa aḥbābī wa mā tuḥīṭuhu shaqaqatū qalbī min sharri hādzihis sanah. Wa qinī sharra mā qaḍhaita fīhā, waṣrif ‘annī sharra shahri ṣafar, yā karīman naẓhar. Wākhtim lī fī hādzash shahr waddahri bissalāmati wal ‘āfiyati lī wa liwālidayya wa aulādī wa li-ahliī wa mā taḥūṭuhu shaqaqatū qalbī wa jamī‘il muslimīn. Wa shallallāhu ta‘ālā ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallam.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Aku berlindung kepada Allah dari keburukan zaman ini beserta para penghuninya. Dan aku memohon dengan perantaraan keagungan-Mu, keagungan wajah-Mu, dan kesempurnaan keagungan kesucian-Mu: lindungilah aku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, orang-orang yang aku cintai, serta siapa pun yang dicakup oleh kasih sayang di hatiku, dari keburukan tahun ini. Jauhkanlah dariku keburukan apa pun yang telah Engkau takdirkan pada tahun ini. Palingkanlah dariku keburukan bulan Safar. Wahai Dzat Yang Maha Mulia pandangan-Nya, akhirilah bulan dan masa ini untukku dengan keselamatan dan kesejahteraan; untuk diriku, kedua orang tuaku, anak-anakku, keluargaku, serta siapa pun yang dicakup oleh kasih sayangku seluruhnya.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari keburukan bulan ini, dan dari segala kesulitan, bencana, serta cobaan yang telah Engkau tetapkan di dalamnya. Wahai Ad-Dahr (Zat Yang Maha Mengatur waktu), wahai Pemilik dunia dan akhirat, wahai Zat Yang Maha Mengetahui segala yang telah terjadi dan akan terjadi. Wahai Zat yang apabila menghendaki sesuatu cukup berkata “Kun fayakun” (jadilah! Maka terjadilah). Wahai Zat yang abadi tak terikat waktu, wahai Zat yang awal dan akhir, wahai Zat Pencipta sekaligus Pengembali segala sesuatu, wahai Zat pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Pemilik Arasy yang mulia – Engkaulah yang melakukan segala yang Engkau kehendaki.
Ya Allah, jagalah diri kami dengan pandangan kasih sayang-Mu; jagalah keluarga kami, harta kami, orang tua kami, agama kami, dan dunia kami yang dalam menghadapinya Engkau telah menguji kami; (jagalah) dengan keberkahan para hamba-Mu yang shalih dan pilihan. Dan dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun, Maha Mulia, Maha Menutup aib; wahai Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.
Wahai Allah, wahai Zat yang amat kuat, Zat yang cobaan-Nya sangat berat, wahai Yang Maha Perkasa yang semua makhluk tunduk kepada keperkasaan-Mu – jauhkanlah aku dari kejahatan semua makhluk-Mu. Wahai Yang Maha Memberi kebaikan, Maha Memperindah, Maha Pemberi keutamaan, Maha Pemberi kenikmatan, Maha Pemurah. Wahai Dzat yang tidak ada tuhan selain Engkau, kasihilah kami dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya”

Demikian bacaan doa di bulan Safar yang bisa kita amalkan. Doa di atas diriwayatkan berasal dari karya ulama Habib Abu Bakar Al-‘Adni, dan di Indonesia kerap dibacakan pada ritual Rebo Wekasan (Rabu terakhir Safar) untuk memohon keselamatan. Meskipun begitu, tidak ada larangan untuk membacanya kapan pun di bulan Safar maupun waktu lainnya. Anggaplah doa tersebut sebagai permohonan biasa kepada Allah agar kita, keluarga, serta orang-orang yang kita cintai selalu berada dalam lindungan dan keberkahan Allah SWT.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bulan Safar sebenarnya tidaklah membawa kesialan. Keyakinan tentang Safar sebagai bulan sial hanyalah mitos peninggalan tradisi Jahiliyah yang tidak memiliki dasar dalam Al-Quran maupun Sunnah. Umat Islam seharusnya menyikapi bulan Safar seperti bulan-bulan lainnya, yakni dengan memperbanyak ibadah, doa, dan amal saleh. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di bulan Safar menurut sunnah Rasulullah SAW, namun kita tetap dianjurkan memohon perlindungan kepada Allah kapan saja – termasuk ketika memasuki bulan Safar. Membaca doa bulan Safar seperti yang telah dicontohkan di atas boleh dilakukan sebagai salah satu ikhtiar, selama diyakini sebatas doa permohonan biasa kepada Allah SWT. Yang terpenting, kita tetap bertawakal dan percaya bahwa semua takdir berada di tangan Allah. Dengan menjauhi hal-hal berbau takhayul, serta menggantinya dengan doa serta amal shalih, insyaAllah kita akan melalui bulan Safar (dan bulan-bulan lainnya) dengan keselamatan dan keberkahan. Wallahu a’lam.

You might also like