Dalil Shalat Dhuha: Ayat & Hadis, Keutamaan, Waktu Terbaik - Masjid Ismuhu Yahya

Dalil Shalat Dhuha: Ayat & Hadis, Keutamaan, Waktu Terbaik

Masjid Ismuhu Yahya – Shalat Dhuha adalah salah satu ibadah sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha (pagi hari setelah matahari terbit). Artikel ini akan mengulas dalil shalat dhuha berdasarkan Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW lengkap dengan teks Arab dan terjemahannya. Pembahasan mencakup pengertian shalat dhuha, dalil-dalil dari Qur’an dan hadits, makna serta keutamaan shalat dhuha menurut ulama (baik ulama salaf maupun kontemporer), hingga contoh tata cara pelaksanaannya dan waktu terbaik untuk melakukannya. Bahasa yang digunakan sengaja dibuat mudah dan lugas agar dapat dipahami oleh masyarakat awam.

Pengertian dan Hukum Shalat Dhuha

Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu matahari mulai naik (sekitar pagi hari setelah waktu Syuruq hingga sebelum waktu Zuhur). Kata dhuha sendiri berarti waktu pagi hari atau waktu matahari sedang naik sepenggalah. Shalat ini dikenal pula dengan sebutan “shalat al-awwabin”, yang artinya shalatnya orang-orang yang kembali taat kepada Allah SWT. Secara hukum, mayoritas ulama menyepakati bahwa shalat dhuha termasuk sunnah mu’akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).

Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa menurut jumhur ulama (termasuk ulama Mazhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hanbali), hukum shalat dhuha adalah sunnah mu’akkadah, sebanding dengan anjuran shalat Tahajud. Artinya, ibadah ini bukan wajib, tetapi sangat dianjurkan karena Nabi Muhammad SAW rutin mengerjakannya dan mendorong para sahabat untuk menjaganya.

Nabi Muhammad SAW sendiri telah memberi contoh dengan mengerjakan shalat dhuha. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha diriwayatkan:

“Kanâ Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam yushallî al-dhuha arbaa’an, wa yazîdu mâ syâ’ Allâh.”

Artinya: “Rasulullah SAW biasa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat, dan beliau kadang menambah sebanyak yang Allah kehendaki.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW konsisten melaksanakan shalat dhuha, bahkan terkadang menambah jumlah rakaatnya. Para ulama menjadikannya dalil bahwa shalat dhuha adalah sunnah yang memiliki dasar kuat dari perbuatan Nabi sendiri. Bahkan, menurut penjelasan Syaikh Ibnu Baz, shalat dhuha termasuk sunnah muakkadah yang selain dilakukan Nabi, juga diperintahkan kepada para sahabatnya. Dengan demikian, umat Islam dianjurkan meneladani Nabi dan para sahabat dalam menjaga amalan shalat dhuha.

Dalil Shalat Dhuha dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi

Tidak terdapat ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit memerintahkan shalat dhuha sebagai ibadah tersendiri. Meskipun begitu, Al-Qur’an mengisyaratkan keutamaan waktu dhuha. Allah SWT bahkan bersumpah dengan menyebut waktu dhuha dalam firman-Nya:

“وَٱلضُّحَىٰ”

Artinya:

“Demi waktu matahari sepenggalahan naik (waktu dhuha),”
(QS. Ad-Dhuha [93]: 1).

Penyebutan waktu dhuha dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa waktu tersebut istimewa. Waktu dhuha adalah saat di mana matahari mulai meninggi dan sinarnya terang benderang. Pada surah lain, Allah juga berfirman agar kita bertasbih memuji-Nya di waktu pagi dan petang (misalnya QS. An-Nur 24:36-37 dan QS. Sad 38:18), yang oleh beberapa ulama diartikan mencakup ibadah di waktu dhuha. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan bahwa yang dimaksud “waktu pagi” (isyraq) dalam ayat adalah shalat dhuha. Walaupun bukan perintah langsung, ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa dhuha adalah waktu yang mulia untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kaum muslimin mengkhususkan shalat sunnah pada waktu tersebut berdasarkan petunjuk Sunnah Nabi.

Ada banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang menjadi dalil dan landasan disyariatkannya shalat dhuha. Berikut beberapa hadits shahih yang berkaitan dengan shalat dhuha, lengkap dengan teks Arab dan terjemahannya:

“أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ: لا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ: صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، وَصَلاَةِ الضُّحَى، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ.”

Artinya: “Kekasihku (Rasulullah SAW) mewasiatkan kepadaku tiga hal yang tidak akan aku tinggalkan hingga aku mati: (yaitu) puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah shalat witir.”
(HR. Bukhari no. 1178 dan Muslim no. 721)

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dan terdapat pula riwayat serupa dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu dengan redaksi hampir sama. Maknanya, Nabi SAW sangat menganjurkan sahabat-sahabatnya untuk rutin melaksanakan shalat dhuha dua rakaat setiap hari.

“Qâlal-Lâhu ‘Azza wa Jalla: Yâ ibna Âdama lâ ta‘jiz ‘an arba‘i raka‘âtin min awwalin-nahâr, akfikâ âkhirah.”

Artinya: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau malas mengerjakan empat rakaat di awal siang (shalat dhuha), niscaya Aku cukupkan kebutuhanmu sampai akhir siang.”(HR. Tirmidzi no. 475, dishahihkan oleh Al-Albani)

Ini adalah hadits qudsi di mana Allah SWT langsung menjanjikan balasan bagi orang yang menjaga shalat dhuha: Barangsiapa mengawal pagi harinya dengan shalat dhuha (empat rakaat di awal waktu dhuha), Allah akan mencukupkan rezeki dan kebutuhannya hingga sore hari. Hadits ini menjadi dalil kuatnya keutamaan shalat dhuha sebagai penopang keberkahan aktivitas sehari-hari.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda:

“Yusbihu ‘alâ kulli sulâmâ min ahadikum shadaqah… (setiap pagi, setiap ruas tulang kalian wajib disedekahi…) wayujzi`u min dzâlika raka‘atâni yarku‘uhumâ min al-dhuha”*

Artinya: “Pada setiap pagi hari, setiap ruas tulang kalian memiliki kewajiban sedekah: setiap tasbih (ucapan Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (La ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) juga sedekah, demikian pula amar ma’ruf dan nahi munkar adalah sedekah. Semua itu dapat digantikan dengan (mengerjakan) dua rakaat shalat dhuha.”(HR. Muslim no. 1181)

Hadits shahih ini menunjukkan bahwa dua rakaat shalat dhuha sudah cukup sebagai bentuk syukur dan sedekah atas seluruh persendian tubuh kita setiap harinya. Dengan kata lain, shalat dhuha seolah menjadi pengganti berbagai amalan sedekah fisik harian karena pahalanya yang besar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Shalâtul awwâbîna hîna tarmadhu al-fishâlu,”

Artinya: “Shalatnya orang-orang yang kembali taat (shalat dhuha) adalah pada saat anak-anak unta merasakan teriknya matahari.”(HR. Muslim no. 748)

Hadits ini menjelaskan waktu yang paling utama untuk melaksanakan shalat dhuha, yaitu ketika matahari sudah cukup tinggi dan mulai terasa panas (sekitar menjelang tengah hari). Oleh sebab itu, shalat dhuha juga dikenal sebagai shalat awwabin karena biasanya dikerjakan di waktu yang agak siang oleh orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Barangsiapa shalat Shubuh berjamaah kemudian ia duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, lalu ia shalat dua rakaat (shalat sunnah dhuha di awal waktu, sering disebut shalat Isyraq), maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna.”(HR. Tirmidzi no. 586, dinilai hasan oleh Al-Albani)

Hadits ini menunjukkan salah satu keutamaan luar biasa shalat dhuha di awal waktu (dikenal sebagai shalat isyraq), meskipun tentu saja hal ini dilakukan setelah mendirikan Shubuh terlebih dahulu. Pahala haji dan umrah sempurna menunjukkan betapa besar ganjaran dua rakaat dhuha yang dilakukan dengan cara demikian.

Hadits-hadits di atas hanya sebagian dari dalil yang shahih tentang shalat dhuha. Semuanya menguatkan bahwa amalan ini memiliki dasar dari sunnah Nabi SAW yang kuat. Intinya, shalat dhuha disyariatkan dalam Islam berdasarkan sabda dan perbuatan Rasulullah SAW, serta anjuran beliau kepada umatnya.

shalat dhuha adalah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, ditopang oleh dalil Qur’an dan hadits yang kuat. Ibadah ini memiliki banyak keutamaan: sebagai ungkapan syukur, pembuka rezeki, penghapus dosa, dan penolong aktivitas harian. Para ulama salaf maupun kontemporer menekankan keutamaan shalat dhuha dan menganjurkan umat Islam untuk tidak meninggalkannya. Dengan tata cara yang mudah (cukup dua rakaat pada waktu pagi), semoga kita dapat membiasakan shalat dhuha dalam keseharian untuk meraih pahala dan ridha Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.

You might also like