Sholat Rawatib Apa Saja? Panduan Lengkap Jumlah Rakaat & Waktu Pelaksanaannya - Masjid Ismuhu Yahya

Sholat Rawatib Apa Saja? Panduan Lengkap Jumlah Rakaat & Waktu Pelaksanaannya

Masjid Ismuhu Yahya – Sholat rawatib apa saja yang perlu diketahui oleh umat Muslim? Pertanyaan sholat rawatib apa saja ini sering muncul ketika kita membahas ibadah sunnah harian. Sholat sunnah rawatib adalah sholat sunnah yang rutin mengiringi sholat fardhu lima waktu, dikerjakan sebelum atau sesudah sholat wajib tersebut. Dalam artikel santai ini, kita akan membahas sholat rawatib apa saja, lengkap dengan jumlah rakaat, waktu pelaksanaannya, pembagian antara sholat rawatib qabliyah dan ba’diyah, dalil hadits shahih yang mendasarinya, keutamaannya, hingga tips agar kita bisa istiqamah (konsisten) mengerjakannya setiap hari.

Pengertian Sholat Rawatib

Sholat rawatib secara bahasa berasal dari kata raatib yang berarti teratur atau berkesinambungan. Secara istilah, sholat rawatib adalah sholat sunnah yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat fardhu (shalat lima waktu). Itulah mengapa sholat ini terbagi menjadi dua jenis: shalat rawatib qabliyah (dikerjakan sebelum sholat fardhu) dan shalat rawatib ba’diyah (dikerjakan setelah sholat fardhu). Sholat rawatib dilaksanakan dengan tujuan menyambung atau melengkapi sholat wajib, sehingga ia menjadi pengiring rutin setiap sholat fardhu lima waktu.

Perlu dicatat bahwa sholat sunnah rawatib umumnya dikerjakan dua rakaat (atau empat rakaat dalam beberapa kasus) namun tetap dengan pelaksanaan dua rakaat satu salam setiap kali selesai dua rakaat. Sholat ini dilaksanakan secara munfarid (sendiri, tidak berjamaah) dan tata caranya sama seperti sholat dua rakaat pada umumnya. Jadi, pengertian mudahnya: sholat rawatib adalah sholat sunnah rutin sebelum atau sesudah sholat wajib lima waktu, yang dikerjakan sendiri, sebagai penyempurna dan pendamping sholat fardhu sehari-hari.

Dalil Tentang Sholat Rawatib

Amalan sholat sunnah rawatib didasarkan pada beberapa dalil hadits shahih. Salah satunya adalah hadits dari Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, di mana Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang hamba Allah SWT shalat 12 rakaat (sunnah) setiap hari, sebelum dan setelah shalat wajib, maka Allah SWT akan membangunkannya sebuah rumah di surga,” (H.R. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa ada 12 rakaat sholat sunnah rawatib dalam sehari semalam yang pahalanya sangat besar hingga dijanjikan dibangunkan rumah di surga. Kemudian dalam riwayat lain hadits tersebut dijelaskan rincian sholat rawatib yang dimaksud. Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh,” (H.R. At-Tirmidzi)

Hadits di atas secara eksplisit menyebut shalat rawatib apa saja yang termasuk 12 rakaat tersebut, lengkap dengan pembagiannya (sebelum atau sesudah sholat fardhu). Dengan dalil ini, para ulama sepakat bahwa sholat rawatib adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang rutin dilakukan Nabi Muhammad SAW setiap hari ketika beliau tidak sedang bepergian. Rasulullah selalu menjaga 12 rakaat rawatib ini saat di rumah (tidak safar) sebagai bagian dari ibadah beliau.

Selain dalil di atas, terdapat pula hadits shahih dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhuma yang menyebutkan 10 rakaat sholat rawatib. Ibn Umar berkata:

“Aku menghafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat sunnat sepuluh rakaat, yaitu: dua rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat sesudah Zuhur, dua rakaat sesudah Maghrib, dua rakaat sesudah Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Perbedaan dengan hadits sebelumnya terletak pada jumlah rakaat sebelum Zuhur: apakah dikerjakan 4 rakaat atau 2 rakaat. Kedua hadits ini sama-sama shahih, sehingga ada dua versi jumlah rawatib (10 atau 12 rakaat). Para ulama menjelaskan bahwa Nabi SAW kadang melaksanakan 4 rakaat sebelum Zuhur (sebagaimana dikabarkan oleh Aisyah RA dan Ummu Habibah RA) dan kadang hanya 2 rakaat (sebagaimana dikabarkan oleh Ibn Umar RA). Meski demikian, ulama menyimpulkan bahwa melaksanakan 12 rakaat lebih utama, karena mencakup tambahan kebaikan sesuai hadits Aisyah/Ummu Habibah. Kaidahnya, riwayat yang menyebut informasi lebih detail diutamakan atas riwayat yang lebih ringkas. Dengan kata lain, shalat rawatib 12 rakaat dianjurkan sebagai amalan yang lengkap dan lebih afdal.

Sholat Rawatib Apa Saja: Rincian Lengkap

Lantas, shalat rawatib apa saja yang termasuk dalam rincian 12 rakaat tersebut? Secara umum, sholat rawatib terkait dengan setiap waktu sholat fardhu, kecuali tidak ada sholat rawatib ba’diyah untuk Subuh dan Asar (karena setelah Subuh dan Asar merupakan waktu terlarang untuk shalat sunnah rutin). Berikut rincian lengkap sholat rawatib beserta jumlah rakaat dan waktunya:

  • Sholat Rawatib Subuh (Qabliyah Subuh) – 2 rakaat sebelum sholat Subuh. Inilah sholat sunnah rawatib yang paling ditekankan. Dua rakaat qabliyah Subuh ini dilaksanakan setelah adzan Subuh dan sebelum sholat fardhu Subuh. Keutamaannya sangat besar; Rasulullah SAW bersabda bahwa
    “dua rakaat sebelum fajar (Subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya”
    Tidak ada sholat rawatib ba’diyah (setelah) Subuh, karena setelah menunaikan sholat Subuh tidak diperbolehkan sholat sunnah hingga terbit matahari.
  •  

    Sholat Rawatib Zuhur – Terdiri dari shalat qabliyah Zuhur dan ba’diyah Zuhur. Sebelum Zuhur, disunnahkan 2 rakaat atau 4 rakaat (dengan dua salam). Nabi Muhammad SAW sering melaksanakan 4 rakaat sebelum Zuhurdan sangat menjaga sholat tersebut (dalam hadits Aisyah disebut “Nabi tidak pernah meninggalkan shalat sunnah 4 rakaat sebelum Zuhur”). Namun jika sempit waktunya, minimal bisa dikerjakan 2 rakaat sebelum Zuhur sebagai sholat rawatib qabliyah. Sesudah Zuhur, disunnahkan 2 rakaat (ba’diyah Zuhur) sebagai rawatib muakkad. Apabila mampu, boleh ditambah 2 rakaat lagi (sehingga total 4 rakaat setelah Zuhur), karena terdapat hadits: “Barangsiapa shalat 4 rakaat sebelum dan 4 rakaat sesudah Zuhur, maka Allah haramkan ia dari api neraka” (H.R. Tirmidzi). Tambahan 2 rakaat kedua setelah Zuhur ini bukan bagian dari rawatib muakkad, melainkan sunnah tambahan (ghairu muakkad) untuk meraih keutamaan ekstra. Jadi, rawatib Zuhur yang utama adalah 2-4 rakaat sebelum Zuhur dan 2 rakaat sesudah Zuhur.

  •  

    Sholat Rawatib Asar (Qabliyah Asar) – 4 rakaat sebelum Asar (dengan dua salam). Sholat ini tergolong sunnah ghairu muakkad (tidak sekuat anjuran rawatib lain), namun Nabi SAW menganjurkannya. Beliau bersabda: “Allah merahmati orang yang shalat 4 rakaat sebelum Asar” (H.R. Ahmad, Tirmidzi). Sholat sunnah sebelum Asar ini dikerjakan setelah masuk waktu Asar sebelum sholat fardhu Asar. Tidak ada sholat rawatib ba’diyah Asar, karena setelah shalat Asar hingga Maghrib merupakan waktu makruh untuk shalat sunnah rutin. Jadi bagi waktu Asar, hanya ada rawatib qabliyah (sebelum Asar) dan itupun sifatnya ghairu muakkad (anjuran biasa).

  •  

    Sholat Rawatib Maghrib – 2 rakaat sesudah Maghrib (ba’diyah Maghrib). Ini termasuk rawatib sunnah muakkad yang selalu dikerjakan Rasulullah SAW. Dilaksanakan setelah shalat Maghrib, biasanya sebelum beranjak dari tempat shalat. Adapun sebelum Maghrib, ada anjuran shalat sunnah 2 rakaat ringan setelah adzan Maghrib dan sebelum iqamah (shalat qabliyah Maghrib). Nabi SAW bersabda: “Shalatlah kalian sebelum Maghrib… (beliau mengucapkannya tiga kali) dan pada yang ketiga beliau mengatakan: bagi siapa yang ingin melakukannya” (H.R. Bukhari). Jadi, dua rakaat sebelum Maghrib hukumnya sunnah “bagi yang mau” (ghairu muakkad). Beberapa sahabat tercatat melakukan shalat dua rakaat singkat antara adzan dan iqamah Maghrib, namun Nabi SAW tidak selalu melakukannya dan menyebutnya sebagai pilihan. Intinya, rawatib Maghrib yang utama adalah 2 rakaat setelah shalat Maghrib.

  •  

    Sholat Rawatib Isya – 2 rakaat sesudah Isya (ba’diyah Isya). Ini termasuk rawatib muakkad yang dianjurkan. Dikerjakan setelah shalat Isya, biasanya diakhiri sebelum meninggalkan masjid atau bisa juga dikerjakan di rumah. Sebelum Isya, terdapat sunnah 2 rakaat qabliyah Isya yang statusnya ghairu muakkad (tidak terlalu ditekankan). Waktu pelaksanaannya setelah adzan Isya sebelum shalat fardhu Isya. Anjuran qabliyah Isya ini termasuk dalam sholat sunnah rawatib tambahan sesuai sebagian riwayat, meskipun tidak disebut secara spesifik dalam hadits utama tentang 12 rakaat. Jadi rawatib Isya yang utama adalah 2 rakaat setelah Isya, sementara 2 rakaat sebelum Isya hukumnya sunnah tambahan (boleh dikerjakan untuk ekstra pahala).

Dari rincian di atas, kita bisa simpulkan daftar sholat rawatib harian yang biasa diamalkan Nabi SAW (rawatib muakkad) totalnya 10 sampai 12 rakaat sehari: 2 rakaat sebelum Subuh, 2 atau 4 rakaat sebelum Zuhur, 2 rakaat sesudah Zuhur, 2 rakaat sesudah Maghrib, dan 2 rakaat sesudah Isya. Itulah sholat rawatib apa saja yang pahalanya dijanjikan rumah di surga bagi yang istiqamah mengerjakannya. Adapun sholat-sholat sunnah seperti 4 rakaat sebelum Asar, 2 rakaat sebelum Maghrib, 2 rakaat sebelum Isya, dan tambahan 2 rakaat kedua setelah Zuhur adalah shalat sunnah rawatib ghairu muakkad. Meskipun tidak termasuk hitungan 12 rakaat yang dijaga Nabi setiap hari, sholat-sholat tambahan tersebut tetap disunnahkan dan tentu mendapat pahala jika diamalkan.

Sebagai catatan, seluruh sholat rawatib ini waktunya mengikuti waktu sholat fardhu terkait. Menurut para ulama, waktu pelaksanaan sholat rawatib qabliyah adalah sejak masuk waktu sholat fardhu (setelah adzan) hingga sebelum sholat fardhu dilaksanakan. Sedangkan waktu sholat rawatib ba’diyah adalah setelah selesai sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut. Dengan demikian, sebaiknya sholat rawatib dilakukan segera sebelum atau sesudah sholat wajib. Namun jika tertunda sedikit, misalnya ba’diyah Zuhur dilaksanakan beberapa menit setelah sholat Zuhur, hal itu masih dianggap dalam rentang waktu selama masih di waktu Zuhur.

Marilah kita amalkan sholat rawatib sebagai wujud kecintaan kita kepada sunnah Nabi Muhammad SAW. Meskipun ringan dan singkat, ibadah ini insya Allah mendatangkan ganjaran yang berat di timbangan akhirat. Semoga Allah SWT memudahkan kita semua untuk istiqamah melaksanakan sholat rawatib setiap hari. Aamiin.

You might also like