Hukum Tajwid Surah Ar Rahman Ayat 33 Lengkap dan Rinciannya

Hukum Tajwid Surah Ar Rahman Ayat 33 Lengkap dan Rinciannya

Masjid Ismuhu Yahya – Mempelajari hukum tajwid Surah Ar Rahman ayat 33 sangat penting agar bacaan Al-Qur’an kita sesuai kaidah yang benar. Surah Ar-Rahman ayat 33 mengandung berbagai contoh hukum tajwid seperti ikhfa, izhar, ghunnah, mad, dan qalqalah, yang semuanya perlu dipahami dengan baik. Artikel ini akan mengulas ayat 33 Surah Ar-Rahman secara lengkap, mulai dari teks Arab, terjemahannya, identifikasi setiap hukum tajwid pada setiap kata, hingga penjelasan mudah dan lugas tentang aturan-aturan tajwid tersebut. Di akhir, disertakan pula manfaat memahami ilmu tajwid dalam membaca Al-Qur’an.

Surah Ar Rahman Ayat 33 – Teks Arab dan Terjemahannya

Surah Ar-Rahman (QS. 55) ayat 33 berbunyi sebagai berikut:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ

Artinya: “Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).” (QS. Ar-Rahman: 33)

Ayat di atas selain mengandung pesan yang mendalam, juga mengandung banyak kaidah tajwid yang perlu diperhatikan saat membaca. Beberapa hukum tajwid yang terdapat dalam Surah Ar-Rahman ayat 33 antara lain: Mad Thabi’i, Alif Lam Qamariyah, Ghunnah, Ikhfa, Qalqalah Sughra, Izhar, hingga Mad Arid Lissukun. Berikut ini kita identifikasi setiap kata/lafaz dalam ayat tersebut beserta hukum tajwid yang berlaku.

Identifikasi Hukum Tajwid pada Setiap Kata di Ayat 33

Untuk memudahkan, berikut disajikan tabel kata per kata dari ayat 33 Surah Ar-Rahman beserta hukum tajwid yang terdapat di dalamnya:

Kata (Arab & Latin) Hukum Tajwid yang Berlaku
يٰمَعْشَرَ (Yā ma’syara) Mad Thabi’i – Huruf يٰ (Ya) berharakat fathah tegak (fathah diikuti alif) sehingga dibaca panjang 2 harakat.
الْجِنِّ (al-jinni) Alif Lam Qamariyah – Huruf لام pada “ال” bertemu huruf ج (Jim), sehingga lam dibaca terang (jelas). Ghunnah – Terdapat نّ (Nun bertasydid) pada “jnni”, dibaca mendengung (dengungan ditahan).
وَالْاِنْسِ (wal-insi) Alif Lam Qamariyah – Huruf لام bertemu huruf ا (Hamzah/Alif), lam dibaca jelas. Ikhfa Haqiqi – Nun mati (نْ) bertemu huruf س (Sin), dibaca samar disertai dengung.
اِنِ اسْتَطَعْتُمْ (in istatha’tum) (Tidak ada hukum tajwid khusus selain bacaan biasa) – Lafaz “in” berakhiran nun berharakat kasrah (bukan sukun), sehingga tidak termasuk hukum nun mati/tanwin. Tidak ada idgham atau ikhfa di pertemuan “in” dengan “istata’tum” karena huruf setelah نِ adalah ا (hamzah washal) yang tidak menyebabkan assimilasi khusus. Bacalah sesuai teks aslinya.
اَنْ تَنْفُذُوْا (an tanfudzū) Ikhfa Haqiqi – Nun mati pada “an” bertemu ت (Ta) di kata “tanfudzū”, sehingga “n” dibaca samar mendengung. Mad Thabi’i – Pada “tanfudzū” huruf ذ (dzal) berharakat dhammah bertemu وْ (Wau sukun) yang menghasilkan bunyi “dzū” panjang (mad u) 2 harakat.
مِنْ أَقْطَارِ (min aqtāri) Izhar Halki – Nun mati (نْ pada “min”) bertemu huruf أ (Alif/Hamzah) yang merupakan huruf halki (tenggorokan), sehingga “n” dibaca terang jelas tanpa dengung. Qalqalah Sughra – Huruf قْ (Qaf sukun) pada kata “aqṭāri” dibaca memantul (terpantul ringan karena berada di tengah kata). Mad Thabi’i – Huruf طٰ (Tha berfathah diikuti tanda alif) pada “ṭāri” dibaca panjang “ṭā” 2 harakat.
السَّمٰوٰتِ (as-samāwāti) Alif Lam Syamsiyah – Huruf لام pada “ال” bertemu س (Sin) yang termasuk huruf syamsiyah, sehingga lam tidak dibaca (melebur) dan huruf س diberi tasydid (dalam teks tertulis “سَّ”). Cara membacanya langsung “as-s…”. Mad Thabi’i – Terdapat dua mad thabi’i dalam lafaz ini: (1) huruf مٰ (Mim berfathah tegak) dibaca “” panjang 2 harakat, dan (2) huruf وٰ (Waw berfathah tegak) dibaca “” panjang 2 harakat.
وَالْأَرْضِ (wal-arḍi) Alif Lam Qamariyah – Huruf لام bertemu أ (Alif/hamzah) pada “al-ardhi”, sehingga lam dibaca jelas (terdengar). Tafkhim (huruf tebal) – Huruf ر pada “arḍ” berharakat fathah (َ) dan didahului alif, maka ر dibaca tebal (suara “r” penuh) sesuai kaidah tafkhim dalam tajwid.
فَانْفُذُوْاۗ (fanfudzū) Ikhfa Haqiqi – Terdapat nun mati pada “fan” (gabungan “fa” + “an”) yang bertemu huruf ف (Fa) di “fudzū”, sehingga dibaca samar berdengung. Mad Thabi’i – Huruf ذُ (dzal ber-dhommah) diikuti وْ (wau sukun) dalam “fudzū”, menghasilkan bunyi panjang “dzū” 2 harakat (mad u).
لَا تَنْفُذُوْنَ (lā tanfudzūna) Mad Thabi’iلا (lā) terdiri dari huruf ل berfathah diikuti ا (alif), dibaca “lā” panjang 2 harakat. Ikhfa Haqiqi – Pada “tanfudzūna”, nun sukun muncul lagi (pada suku kata “tan-”) bertemu huruf ف (Fa), sehingga “n” dibaca samar dengung. (Catatan: Lafaz “tanfudzūna” juga mengandung mad thabi’i pada ذُو + وْ = “dzū” 2 harakat, mirip dengan kata-kata sebelumnya.)
إِلَّا (illā) Mad Thabi’i – Terdapat لَّا (Lam bertasydid berfathah diikuti alif) sehingga menghasilkan bunyi “” yang panjang 2 harakat. (Kata “illā” berarti “kecuali” dan dieja dengan double ل atau tasydid, namun secara tajwid yang penting adalah mad pada “lā”.)
بِسُلْطٰنٍۚ (bi-sulṭānin) Mad Thabi’i – Huruf طٰ (Tha berfathah tegak) dalam “sulṭān” dibaca “ṭā” panjang 2 harakat. Mad ‘Aridh Lissukun – Pada akhir kata “-nin” terdapat ٍ (tanwin kasrah). Jika waqaf (berhenti) di akhir ayat, bunyi tanwin “-in” ini berubah menjadi suara mati (sukun), sehingga mad sebelum tanwin (yaitu “ṭā” yang sudah mad thabi’i) boleh dipanjangkan lebih dari 2 harakat, umumnya 2–4 harakat. Ini adalah mad aridh lissukun (mad karena berhenti). Qalqalah – Selain itu, huruf بِ (bi- di awal kata) memiliki ب (Ba) mati jika dihentikan? (Namun dalam konteks bersambung, “bi-” tidak waqaf). Jika kata ini dihentikan di akhir ayat, huruf ن mati, tidak menambah qalqalah pada ب. (Huruf ب bukan qalqalah kecuali mati dengan waqaf, jadi cukup fokus pada mad aridh lissukun saat berhenti di akhir).

Perhatikan bahwa beberapa lafaz di atas mengandung lebih dari satu hukum tajwid. Misalnya, pada kata “al-jinni” terdapat Alif Lam Qamariyah sekaligus Ghunnah, dan pada “wal-insi” terdapat Alif Lam Qamariyah serta Ikhfa Haqiqi. Sementara itu, tidak semua hukum tajwid muncul dalam ayat ini. Hukum Idgham (penggabungan) dan Iqlab (perubahan nun mati/tanwin menjadi mim) tidak terdapat pada ayat 33, karena tidak ada pertemuan nun mati/tanwin dengan huruf yang menyebabkan idgham (seperti Ya, Ra, Mim, Lam, Wau, Nun) maupun dengan huruf Ba (yang menyebabkan iqlab). Jadi, fokus kita pada ayat ini adalah memahami aturan tajwid yang memang muncul sebagaimana teridentifikasi di atas.

Memahami hukum tajwid dalam membaca Al-Qur’an memiliki banyak manfaat bagi setiap muslim. Dengan tajwid, kita dapat membaca Al-Qur’an dengan lebih mudah dan benar, sesuai yang diajarkan Rasulullah. Tajwid membantu menghindari kesalahan pelafalan yang bisa mengubah arti ayat, sehingga pesan ayat suci tetap terjaga. Selain itu, bacaan yang ber-tajwid terdengar lebih indah dan merdu, meningkatkan kekhusyukan dan kualitas ibadah. Mempelajari tajwid juga merupakan bagian dari upaya menjalankan perintah Allah untuk membaca Al-Qur’an secara tartil (tertib dan perlahan). Dengan menguasai tajwid, seorang muslim memuliakan Al-Qur’an: menjaga makna kandungan ayat, melatih lisan mengucapkan huruf Arab dengan tepat, dan tentu mendapatkan pahala karena membaca Al-Qur’an dengan benar adalah kewajiban (fardhu ‘ain) bagi kita. Singkatnya, memahami hukum tajwid akan membuat kita lebih yakin, lancar, dan khusyuk dalam membaca Al-Qur’an, sehingga ibadah tilawah menjadi sempurna dan hati kita semakin dekat dengan kalam Allah.

You might also like