Bacaan Sujud Sahwi dan Artinya Menurut Mazhab Syafi’i

Bacaan Sujud Sahwi dan Artinya Menurut Mazhab Syafi’i

Masjid Ismuhu Yahya – Bacaan sujud sahwi dan artinya adalah salah satu hal penting yang perlu diketahui oleh setiap Muslim. Sujud sahwi merupakan sujud yang dilakukan karena adanya lupa atau kesalahan kecil dalam shalat, sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Dalam mazhab Syafi’i, sujud sahwi dilakukan untuk menutup kekurangan shalat akibat terlupa menjalankan sunnah tertentu atau ragu-ragu, dengan membaca doa khusus beserta artinya. Artikel ini akan menjelaskan apa itu sujud sahwi, kapan dilakukan, penyebabnya, dan pentingnya, lafal bacaan sujud sahwi beserta artinya dalam Bahasa Indonesia, tata cara sujud sahwi menurut mazhab Syafi’i, dalil hadits yang melandasinya, serta beberapa tanya jawab umum dan koreksi kesalahan terkait sujud sahwi. Dengan bahasa yang lugas dan jelas, semoga penjelasan ini membantu pembaca memahami sujud sahwi dengan baik.

Pengertian Sujud Sahwi dan Kepentingannya

Sujud sahwi secara bahasa berasal dari kata sahw yang berarti “lupa”. Secara istilah, sujud sahwi adalah dua kali sujud di akhir shalat yang disunnahkan bagi orang yang lupa atau ragu dalam shalatnya, misalnya ragu jumlah rakaat atau lupa melakukan salah satu sunnah penting dalam shalat. Rasulullah Muhammad SAW bersabda:

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa seperti kalian, aku lupa sebagaimana kalian lupa. Bila salah seorang dari kalian lupa, hendaklah sujud dua kali.” (HR Muslim)

Hadits ini menjadi dasar disyariatkannya sujud sahwi sebagai penutup kekurangan akibat lupa.

Kepentingan melakukan sujud sahwi sangat besar dalam menjaga kesempurnaan shalat. Dengan melakukan sujud sahwi, kekurangan kecil dalam shalat dapat ditambal atau disempurnakan tanpa perlu mengulang shalat secara keseluruhan. Bahkan disebutkan,

“Melakukan sujud sahwi ketika ragu akan jumlah rakaat sama seperti menyempurnakan salat di hadapan Allah SWT.”

Artinya, sujud sahwi adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba yang mengakui kelupaan dan meminta ampun kepada Allah, sehingga shalatnya menjadi lebih sempurna dan diharapkan tetap sah serta diterima oleh Allah SWT. Selain itu, sujud sahwi juga bertujuan untuk mengusir gangguan setan yang mengacaukan konsentrasi shalat. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila seseorang ragu dalam shalat antara tiga atau empat rakaat, ia harus mengambil yang yakin (tiga rakaat) lalu sujud sahwi sebelum salam.

“Jika ternyata salatnya lima rakaat, sujud sahwi itu akan melengkapi salatnya. Namun, jika salatnya sudah empat rakaat, sujud sahwi tersebut membuat setan marah.” (HR Muslim dan Ahmad)

Hal ini menunjukkan bahwa sujud sahwi berfungsi baik untuk menutupi kelebihan maupun kekurangan rakaat akibat lupa, serta sebagai penghinaan bagi setan yang mencoba mengganggu kekhusyukan shalat.

Kapan Sujud Sahwi Dilakukan dan Apa Penyebabnya?

Kapan dilakukan? Dalam mazhab Syafi’i, sujud sahwi dilaksanakan sebanyak dua kali sujud sebelum salam (sebelum mengakhiri shalat). Sujud sahwi dilakukan menjelang akhir shalat, tepatnya setelah selesai membaca tasyahhud akhir dan shalawat, sebelum mengucapkan salam penutup. Ini berarti pada rakaat terakhir, setelah kita membaca tahiyat akhir beserta shalawat nabi, kita menyempurnakan shalat dengan dua sujud sahwi terlebih dahulu, baru kemudian salam.

Penyebab sujud sahwi umumnya adalah kelupaan (sahw) dalam shalat yang mengakibatkan tertinggalnya sunnah-sunnah ab’adh atau munculnya keraguan dalam shalat. Mazhab Syafi’i menjelaskan bahwa sujud sahwi dianjurkan bagi orang yang shalat karena meninggalkan sunnah ab‘adh shalat atau karena ragu apakah telah melaksanakannya. Sunnah ab’adh adalah komponen sunnah dalam shalat yang cukup penting, dan jika terlupakan disunnahkan menutupinya dengan sujud sahwi. Menurut para ulama Syafi’iyah, terdapat delapan sunnah ab’adh dalam shalat, di antaranya:

  • Membaca tasyahhud awal (tahiyat awal) dan duduk iftirasy pada tasyahud awal.
  •  

    Membaca doa qunut pada shalat Subuh serta qunut Witir di separuh akhir bulan Ramadhan (tidak termasuk qunut nazilah), beserta berdiri saat membaca qunut.

  •  

    Membaca shalawat Nabi setelah tasyahhud awal dan setelah qunut.

  •  

    Membaca shalawat untuk keluarga Nabi (Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad) setelah tasyahhud akhir dan setelah qunut.

Jika salah satu dari sunnah ab’adh di atas terlupakan, sujud sahwi dianjurkan sebagai penutup kelupaan tersebut. Contoh yang sering terjadi dalam praktik: lupa melakukan tasyahhud awal (duduk dan membaca tahiyat awal) atau lupa membaca qunut Subuh. Dalam kasus seperti ini, kita tidak perlu membatalkan shalat, namun cukup menggantinya dengan dua sujud sahwi sebelum salam.

Selain karena meninggalkan sunnah ab’adh, sujud sahwi juga dilakukan ketika kita ragu dalam shalat. Misalnya ragu sudah rakaat ke berapa, atau ragu apakah sudah melakukan suatu bagian shalat. Sesuai hadits Rasulullah SAW: “Jika salah seorang dari kalian bimbang dalam salat dan tidak tahu apakah sudah salat tiga atau empat rakaat, maka buanglah keraguan tersebut dan ambillah yang diyakini (yang lebih sedikit). Kemudian, pada akhir salat, lakukan dua sujud sahwi sebelum salam…”. Jadi, apabila ragu jumlah rakaat, ambillah jumlah yang paling pasti (misal ragu antara 3 atau 4, ambil 3 rakaat sebagai patokan) lalu shalat dilanjutkan hingga tahiyat akhir dan ditutup dengan sujud sahwi dua kali sebelum salam.

Bacaan Sujud Sahwi dan Artinya dalam Bahasa Indonesia

Saat melakukan sujud sahwi, tidak ada bacaan khusus yang diwajibkan berdasarkan hadits Nabi, namun sebagian ulama menganjurkan doa atau tasbih tertentu untuk dibaca ketika sujud sahwi. Menurut ulama mazhab Syafi’i, bacaan sujud sahwi yang masyhur dianjurkan adalah sebagai berikut:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَنَامُ

Latin (transliterasi): Subhāna man lā yashū wa lā yanāmu

Artinya: “Mahasuci Zat (Allah) yang tidak lupa dan tidak tidur.”

Bacaan di atas diajarkan dalam kitab-kitab ulama Syafi’iyah, salah satunya disebutkan oleh Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in. Makna doa sujud sahwi ini mengagungkan Allah yang Maha Sempurna, yang tidak pernah lupa maupun tidur, berbeda dengan manusia yang mudah lalai. Dengan membaca kalimat tasbih tersebut, diharapkan Allah mengampuni kelalaian kita dalam shalat.

Ada pula lafal alternatif bacaan sujud sahwi yang disebutkan oleh ulama lain. Misalnya Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nihayatuz Zain menganjurkan bacaan:

سُبْحَانَ مَنْ لَا يَسْهُو وَلَا يَغْفُلُ

Latin: Subhāna man lā yashū wa lā yaghfulu

Arti: “Mahasuci Zat yang tidak lupa dan tidak lalai.”

Kedua lafal di atas memiliki makna serupa, sama-sama memuji Allah yang tak pernah lalai sedikitpun. Perlu dicatat, membaca doa khusus saat sujud sahwi hukumnya sunnah (anjuran), bukan wajib. Artinya, jika seseorang tidak hafal bacaan di atas, ia boleh cukup membaca bacaan sujud biasa seperti “Subhāna Rabbiyal A’lā” tiga kali sebagaimana dalam sujud shalat. Pendapat sebagian ulama ahli hadits memang menyatakan zikir sujud sahwi sama dengan zikir sujud biasa karena tidak ada dalil shahih yang spesifik tentang bacaan sujud sahwi. Namun, di kalangan mazhab Syafi’i membaca tasbih “Subhāna man lā yashū wa lā yanāmu” tadi dianggap baik dan telah diajarkan oleh para ulama klasik, sehingga banyak dipraktikkan dalam tradisi kita.

Intinya, tidak ada teks doa yang benar-benar wajib dari Nabi untuk sujud sahwi. Mengucapkan tasbih dan doa apapun yang pantas saat sujud juga diperbolehkan. Yang terpenting adalah melakukan dua sujud sahwi tersebut dengan khusyuk, menyadari kekurangan diri, dan memohon ampunan Allah atas ketidaksempurnaan shalat kita.

Sujud sahwi adalah sujud dua kali di akhir shalat yang disyariatkan sebagai penyempurna shalat ketika terjadi lupa atau ragu. Dalam mazhab Syafi’i, sujud sahwi dilakukan sebelum salam dan dianjurkan apabila kita meninggalkan salah satu sunnah ab’adh atau mengalami keraguan dalam shalat. Bacaan sujud sahwi dan artinya telah disampaikan di atas, yang intinya memuji Allah Yang Maha Sempurna dan tidak pernah lupa, sebagai kontras dari sifat manusia yang pelupa. Dengan memahami sujud sahwi, kita diharapkan tidak bingung lagi saat mengalami lupa dalam shalat. Cukup tenang, lanjutkan shalat, dan tutup dengan sujud sahwi sesuai tuntunan. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan shalat kita senantiasa khusyuk serta diterima Allah SWT. Wallahu a’lam bishawab.

You might also like