Bacaan Istighosah Arab dan Latin Lengkap Beserta Dalilnya - Masjid Ismuhu Yahya

Bacaan Istighosah Arab dan Latin Lengkap Beserta Dalilnya

Masjid Ismuhu Yahya – Istighosah merupakan doa bersama yang dilakukan untuk memohon pertolongan Allah SWT saat menghadapi situasi sulit atau musibah besar. Dalam kegiatan ini, umat Islam membaca rangkaian doa dan dzikir tertentu secara berjamaah dengan penuh khusyuk. Artikel ini akan menyajikan bacaan istighosah Arab dan Latin lengkap, sehingga pembaca dapat mengikuti setiap lantunan doa dengan mudah. Susunan bacaan istighosah meliputi ayat-ayat pilihan dari Al-Qur’an, istighfar, shalawat, dan Asmaul Husna (nama-nama Allah yang mulia) yang dibaca berulang. Selain menyajikan teks doanya, kami juga menyertakan dalil dari Al-Qur’an dan Hadis serta penjelasan ulama klasik terkait istighosah. Harapannya, pembaca dapat memahami makna dan dalil istighosah sehingga lebih mantap dalam mengamalkannya.

Pengertian Istighosah dan Anjurannya

Secara bahasa, istighosah berasal dari kata Arab al-ghauts (الغَوْث) yang berarti “pertolongan”. Pola katanya mengikuti wazan istif‘aal (اِسْتِفْعَال) yang memberi makna permintaan atau memohon. Dengan demikian, istighosah berarti thalab al-ghauts (طَلَبُ الغَوْثِ) yaitu meminta pertolongan. Istighosah pada umumnya dilaksanakan ketika seseorang atau suatu komunitas menghadapi kesulitan besar dan membutuhkan pertolongan Allah. Contohnya saat terjadi wabah penyakit, bencana alam, kekeringan, atau menjelang hajat penting seperti ujian dan lain-lain, umat Islam sering menggelar doa istighosah agar diberi kemudahan oleh Allah.

Dalam syariat Islam, berdoa memohon pertolongan Allah sangat dianjurkan. Allah SWT berfirman:

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkan permohonanmu.” (QS. Al-Anfal: 9)

Ayat tersebut mengingatkan peristiwa perang Badar, di mana Rasulullah dan para sahabat bermunajat memohon bantuan Allah, dan doa mereka pun dikabulkan. Ayat lain menegaskan, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…” (QS. Al-Baqarah: 152)– mengajarkan agar kita senantiasa mengingat Allah dan bergantung kepada-Nya dalam setiap keadaan.

Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW juga menegaskan agar kita hanya berharap dan meminta tolong kepada Allah. Rasulullah bersabda:

“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Dan jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Doa sendiri merupakan inti dari ibadah seorang hamba kepada Allah. Dengan berdoa, kita menunjukkan penghambaan dan pengakuan bahwa manusia lemah serta membutuhkan kekuatan dari Zat Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu, ketika menghadapi kesulitan apapun, umat Islam dianjurkan bertawakal dan memanjatkan doa, termasuk melalui istighosah, sebagai wujud ketergantungan penuh kepada Allah SWT.

Istighosah ditujukan hanya kepada Allah semata. Hukum istighosah yang diperbolehkan adalah memohon pertolongan kepada Allah, atau meminta bantuan kepada makhluk yang masih hidup, hadir, dan mampu secara lahir (misalnya meminta tolong kepada sesama manusia dalam hal yang manusia bisa bantu). Sebaliknya, memohon pertolongan kepada selain Allah dalam perkara gaib atau kepada makhluk yang sudah tiada tidak dibenarkan karena hal itu bisa mengandung kesyirikan. Intinya, istighosah hanya ditujukan kepada Allah dan pada hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah semata. Kalaupun dalam praktiknya terdapat redaksi seperti menyebut nama Nabi atau wali, maksudnya adalah menjadikan mereka wasilah (perantara) agar doa lebih mustajab, sedangkan yang dimintai dan yang memberi pertolongan tetaplah Allah SWT.

Dalil Istighosah dalam Hadis dan Kitab Klasik

Para ulama klasik telah membahas kebolehan dan dalil istighosah dalam karya-karya mereka. Sebuah hadis dari Anas bin Malik RA mencontohkan amalan Nabi SAW ketika menghadapi kesulitan:

“Jika Rasulullah dilanda suatu kesusahan, beliau berdoa: ‘Yā Ḥayyu yā Qayyūm, bi raḥmatika astaghīth’”

Artinya “Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Berdiri Sendiri (Mengurus segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan”

Istighosah pada hakikatnya merupakan doa memohon pertolongan, sehingga dalil-dalil tentang keutamaan berdoa dan dzikir secara berjamaah juga terkait dengan istighosah. Misalnya, terdapat hadis yang menyebut tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berzikir mengingat Allah kecuali mereka diliputi rahmat dan ketenangan1. Hal ini menunjukkan bolehnya berdoa bersama-sama (berjamaah) sebagaimana praktik istighosah.

Dari sisi isi bacaannya, istighosah biasanya berisi kumpulan doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan sunnah, seperti istighfar (memohon ampun), shalawat, dan menyebut Asmaul Husna. Ulama seperti Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dan ulama pesantren lainnya juga telah menyusun tuntunan istighosah dengan bacaan tertentu. Tidak ada tata cara baku yang kaku, namun umumnya bacaan istighosah mengikuti urutan: pembukaan dengan membaca surat Al-Fatihah, dilanjutkan istighfar, kalimat tahlil atau hauqalah, shalawat Nabi, doa Nabi Yunus, rangkaian Asmaul Husna, dan diakhiri doa penutup. Inti dari semua bacaan tersebut adalah memuji Allah, mengakui kelemahan diri, memohon ampunan, memohon rahmat, serta memohon diturunkannya pertolongan Allah.

Berikut kami paparkan bacaan istighosah lengkap dalam tulisan Arab dan Latin, sesuai tradisi yang umum dibaca di kalangan kaum muslimin (misalnya di lingkungan Nahdlatul Ulama). Bacaan ini bisa diamalkan secara pribadi maupun dalam majelis doa bersama. Harap diperhatikan bahwa setiap bacaan diulang sesuai hitungan yang disebutkan:

Tata Cara dan Bacaan Istighosah Lengkap (Arab-Latin)

  • Membaca Basmalah – dibaca 1x.
    بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
    Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
  • Membaca Surah Al-Fatihah – dibaca 1x (surat Al-Fatihah lengkap 7 ayat).
    الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَۙ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِۙ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّينِۗ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُۗ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَۙ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْۙ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ۟
    Bismillāhir rahmānir rahīm. Al-ḥamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Ar-raḥmānir rahīm. Māliki yaumiddīn. Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn. Ihdināṣ-ṣirāṭal mustaqīm. Ṣirāṭallażīna an‘amta ‘alaihim ġhairil maġḍhūbi ‘alaihim walāḍ-ḍāllīn.
  • Istighfar (memohon ampun kepada Allah) – dibaca 3x.
    أَسْتَغْفِرُ ٱللّٰهَ الْعَظِيْمَ
    Astaghfirullāhal ‘aẓhīm (“Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung”).
  • Hauqalah – membaca kalimat lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh 3x.
    لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
    Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓhīm (“Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”).
  • Shalawat Nabi (pendek) – dibaca 3x.
    اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
    Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammad wa ‘alā āli sayyidinā Muḥammad.
  • Doa Nabi Yunus AS – dibaca 40x.
    لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
    Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn (“Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zalim”).
  • Dzikir Yā Allāh, Yā Qadīm – dibaca 33x.
    يَا اللّٰهُ يَا قَدِيْمُ
    Yā Allāh, yā Qadīm (yang artinya: “Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Awal (tanpa permulaan)”).
  • Dzikir Yā Samī‘, Yā Baṣīr – dibaca 33x.
    يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ
    Yā Samī‘u, yā Baṣīr (“Wahai Yang Maha Mendengar, wahai Yang Maha Melihat”).
  • Dzikir Yā Mubdi‘, Yā Khāliq – dibaca 33x.
    يَا مُبْدِعُ يَا خَالِقُ
    Yā Mubdi‘u, yā Khōliqu.
  • Dzikir Yā Ḥafīẓ, Yā Naṣīr, Yā Wakīl, Yā Allāh – dibaca 33x.
    يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ يَا اللّٰهُ
    Yā Ḥāfiẓu, yā Naṣīru, yā Wakīlu, yā Allāh
  • Dzikir Yā Ḥayy, Yā Qayyūm bi raḥmatika astaghīth – dibaca 33x.
    يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ
    Yā Ḥayyu, yā Qayyūmu, bi raḥmatika astaghīth
  • Dzikir Yā Laṭīf – dibaca 41x.
    يَا لَطِيْفُ
    Yā Laṭīf (“Wahai Yang Maha Lembut/Penyayang”).
  • Istighfar tambahan – dibaca 33x.
    أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ اَلَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ اَلْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
    Astaghfirullāhal ‘aẓhīma allażī lā ilāha illā Huwa, Al-Ḥayyu al-Qayyūmu, wa atūbu ilaihi
  • Shalawat “Adrikinā ya Allāh” – dibaca 1x.
    اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِيْ أَدْرِكْنِيْ يَا اللّٰهُ يَا اللّٰهُ يَا اللّٰهُ
    Allāhumma ṣalli ‘alā sayyidinā Muḥammad, qad ḍāqat ḥīlatī, adrikni… yā Allāh, yā Allāh, yā Allāh.
  • Shalawat Munjiyat (Shalawat Nariyah) – dibaca 1x.
    اللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ
    Latin: Allāhumma ṣalli ṣalātan kāmilatan wa sallim salāman tāmman ‘alā sayyidinā Muḥammadinil lażī tanḥallu bihil ‘uqadu wa tanfariju bihil kurabu wa tuqḍā bihil ḥawā’ij, wa tunālu bihir-raghā’ib, wa ḥusnul khawātim, wa yustasqā al-ghamāmu bi wajhihil karīm, wa ‘alā ālihī wa ṣaḥbihī fī kulli lamḥatin wa nafasin bi ‘adadi kulli ma‘lūmin laka.
  • Dzikir Yā Badī‘ – dibaca 41x.
    يَا بَدِيْعُ
    Latin: Yā Badī‘ (“Wahai Dzat Yang Maha Pencipta yang tiada bandingannya”).
  • Doa Ḥasbunallāh – dibaca 33x.
    سْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ
    Latin: Ḥasbunallāhu wa ni‘mal wakīl (“Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung”).

Setelah seluruh bacaan istighosah lengkap di atas dibaca sesuai urutan, dianjurkan menutupnya dengan doa penutup. Biasanya, pembacaan doa istighosah diakhiri dengan doa kafaratul majelis (doa penutup majelis) atau doa tahlil agar lebih sempurna. Misalnya membaca Subḥānaka Allāhumma wa bi-ḥamdika, ash-hadu allā ilāha illā Anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik sebagai penutup majelis.

Demikianlah panduan bacaan doa istighosah dalam versi Arab dan latin lengkap dengan dalil-dalil pendukungnya. Perlu diingat bahwa kekhusyukan dan keikhlasan hati sangat penting saat melantunkan doa-doa di atas. Istighosah bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengakui kelemahan kita di hadapan-Nya. Dengan memahami maknanya, diharapkan kita bisa menghayati setiap kalimat thayyibah yang diucapkan. Semoga melalui istighosah dan doa-doa lainnya, Allah SWT berkenan mengabulkan permohonan kita, mengangkat kesulitan dan bala bencana, serta memberikan jalan keluar terbaik atas setiap masalah. Aamiin yaa Mujibas-saailiin.

Dalil-dalil yang mendasari istighosah di atas menunjukkan bahwa agama Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa berdoa dan memohon pertolongan hanya kepada Allah. Selama istighosah dilakukan sesuai tuntunan (tidak mengandung hal yang dilarang) dan niatnya lurus karena Allah, maka insyaAllah termasuk amalan yang baik. Semoga uraian ini bermanfaat dan bacaan istighosah tersebut dapat diamalkan oleh para pembaca sekalian. Wallāhu a‘lam bish–shawāb.

You might also like