Doa Naik Kendaraan Darat dan Laut: Bacaan, Makna, dan Adab Safar - Masjid Ismuhu Yahya

Doa Naik Kendaraan Darat dan Laut: Bacaan, Makna, dan Adab Safar

Masjid Ismuhu Yahya – Sebagai umat Muslim, kita dianjurkan memulai perjalanan dengan doa naik kendaraan darat dan laut. Membaca doa sebelum bepergian bukan sekadar rutinitas, tetapi wujud permohonan perlindungan dan keberkahan kepada Allah SWT. Islam mengajarkan agar kita selalu ingat kepada Allah dalam setiap kondisi, termasuk saat bepergian menggunakan kendaraan di darat maupun di laut. Dengan doa ini, kita memohon keselamatan dan mengakui kelemahan diri di hadapan Allah SWT, Dzat yang Maha Melindungi. Pentingnya membaca doa sebelum perjalanan ditekankan karena di jalan selalu ada risiko dan hal tak terduga. Meski kita sudah berhati-hati, kecelakaan atau gangguan bisa datang dari faktor luar. Maka, berdoa sebelum berangkat menjadi ikhtiar rohani agar perjalanan diridhai dan dilindungi Allah sejak berangkat hingga kembali pulang.

Doa Naik Kendaraan Darat (Arab, Latin, dan Terjemah)

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengisyaratkan doa yang dibaca ketika menaiki kendaraan. Doa ini diajarkan Nabi Muhammad SAW saat beliau naik punggung hewan tunggangannya. Lafaz lengkap doa naik kendaraan darat adalah sebagai berikut:

سُبْحٰنَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هٰذَا وَمَا كُنَّا لَهٗ مُقْرِنِيْنَ وَاِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

Subhaanalladzii sakhkhara lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniina wa innaa ilaa Rabbinaa lamunqalibuun

“Mahasuci Allah yang telah menundukkan (kendaraan) ini untuk kami, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya hanya kepada Tuhan kamilah kami akan kembali.”

Doa di atas bersumber dari Al-Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 13-14. Ayat tersebut mengajarkan kita untuk mengingat nikmat Allah yang telah memudahkan kendaraan bagi manusia, dan mengakui bahwa pada akhirnya kita semua akan kembali kepada-Nya. Dengan mengucapkan doa ini, kita menyadari bahwa kemampuan kita mengendarai atau mengendalikan kendaraan semata-mata karena izin Allah. Sikap tawadhu (rendah hati) ini penting agar kita tidak angkuh ketika menguasai kendaraan di jalan.

Doa Naik Kendaraan Laut (Arab, Latin, dan Terjemah)

Selain di darat, Islam juga mengajarkan doa ketika menaiki kendaraan laut seperti perahu, kapal, atau saat berlayar. Doa ini dicontohkan Nabi Nuh AS ketika menaiki bahteranya dan diabadikan dalam Al-Qur’an surah Hūd ayat 41. Lafaz doa naik kendaraan laut yaitu:

بِسْمِ اللهِ مَجْرَهَا وَمُرْسَهَآاِنَّ رَبِّىْ لَغَفُوْرٌرَّحِيْمٌ

Bismillaahi majrahaa wa mursaahaa, inna Rabbii laghafuurur rahiim

“Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh; sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Doa ini diawali dengan bismillah sebagai bentuk memohon keberkahan Allah dalam perjalanan laut. Kita mengakui bahwa hanya dengan izin Allah lah kapal dapat berlayar dan berlabuh dengan selamat. Kalimat tersebut persis sebagaimana doa Nabi Nuh ketika memulai pelayaran dengan kapalnya. Maka, membaca doa ini mengingatkan kita pada kisah Nabi Nuh AS dan keyakinannya bahwa Allah-lah yang mengendalikan lautan dan menjaga keselamatan pelayarannya. Sebagian ulama menganjurkan doa ini khusus saat naik kapal atau perjalanan laut, meneladani Nabi Nuh. Meskipun begitu, tak ada larangan untuk membacanya dalam perjalanan apa pun, karena maknanya memohon keselamatan kepada Allah Yang Maha Penyayang.

Adab dan Etika Perjalanan dalam Ajaran Islam

Selain membaca doa, Islam mengatur adab (etiket) saat bepergian agar perjalanan kita bernilai ibadah dan dilindungi Allah. Berikut beberapa adab safar yang diajarkan dalam Al-Qur’an dan hadits:

  1. Memantapkan niat dan berpamitan dengan baik
    Sebelum berangkat, luruskan niat bahwa perjalanan ini untuk tujuan yang baik dan dalam rangka ketaatan (misalnya silaturahmi, menuntut ilmu, mencari nafkah halal, dll). Disunnahkan berpamitan kepada keluarga dan kerabat, meminta doa restu orang tua dan menitipkan pesan jika perlu. Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menganjurkan seorang muslim menyelesaikan urusan dengan orang lain, meminta maaf dan ridha, serta berwasiat sebelum safar jika perjalanannya jauh. Berpamitan dan mohon doa dari orang-orang shalih di rumah juga bagian dari sunnah sebelum berangkat.
  2. Memilih waktu yang tepat untuk berangkat
    Nabi Muhammad SAW mencontohkan untuk memulai perjalanan pada waktu pagi dan dianjurkan pada hari Kamis. Dalam sebuah hadits riwayat Ka’ab bin Malik, disebutkan Rasulullah berangkat perang Tabuk pada hari Kamis, dan beliau menyukai berangkat pada hari Kamis. Beliau juga mendoakan umatnya agar mendapat keberkahan di pagi hari: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR Abu Dawud & Tirmidzi). Oleh karena itu, jika memungkinkan, mulailah perjalanan di pagi hari ketika tubuh masih segar dan waktu masih panjang, serta menghindari bepergian jauh sendirian di malam hari kecuali darurat.
  3. Shalat sunnah dua rakaat sebelum berangkat.
    Disunnahkan mengerjakan shalat sunnah (shalat safar) dua rakaat sebelum meninggalkan rumah. Hal ini berdasarkan hadits: “Tidaklah seseorang meninggalkan sesuatu yang lebih baik bagi keluarganya daripada shalat dua rakaat ketika hendak safar.” (HR Thabrani). Shalat ini memohon kepada Allah agar perjalanan diberkahi dan sebagai ibadah perpisahan sebelum meninggalkan kampung halaman.
  4. Membaca doa ketika keluar rumah
    Saat melangkah keluar rumah, ajarkan diri membaca doa keluar rumah: “Bismillāh, tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh…” yang artinya “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.”. Dalam doa ini juga terdapat permohonan agar tidak tersesat atau diganggu di perjalanan. Membaca doa ini menanamkan sikap pasrah diri sepenuhnya kepada Allah sebelum menaiki kendaraan.
  5. Tidak bepergian sendirian (khususnya perjalanan jauh)
    Islam menganjurkan bepergian bersama teman atau rombongan, terutama untuk perjalanan panjang. Rasulullah SAW bersabda: “Jika manusia tahu bahaya bepergian sendirian sebagaimana yang aku ketahui, niscaya tak seorang pun akan melakukan perjalanan malam sendirian.” (HR Bukhari). Dalam hadits lain beliau juga menyarankan bila bepergian dalam kelompok yang terdiri dari tiga orang atau lebih, hendaknya menunjuk salah satu sebagai pemimpin rombongan untuk mengatur urusan perjalanan. Kebersamaan dalam safar akan membuat perjalanan lebih aman, saling membantu, dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Bagi muslimah, ada aturan khusus: Rasulullah SAW melarang wanita melakukan perjalanan jauh (jarak sehari semalam atau lebih) tanpa didampingi mahram (HR Bukhari & Muslim). Ini demi menjaga keamanan dan kehormatan wanita di perjalanan.
  6. Membawa bekal dan persiapan secukupnya
    Tawakal kepada Allah bukan berarti nekat berangkat tanpa persiapan. Justru Islam mengajarkan ikhtiar maksimal sebelum tawakal. Pastikan membawa bekal yang cukup, kondisi kendaraan laik jalan, dan perlengkapan darurat. Menitipkan keamanan rumah kepada tetangga atau kerabat juga bagian dari persiapan. Ulama menegur siapa yang berkata “Aku akan safar tanpa bekal, cukup tawakal”, karena itu ucapan yang keliru – tawakal yang benar tetap harus disertai usaha. Jadi, patuhi aturan keselamatan seperti memakai helm atau sabuk pengaman, servis kendaraan sebelum berangkat, dan siapkan peta atau GPS agar tidak tersesat. Semua ini sejalan dengan konsep ikhtiar dalam Islam.
  7. Berdoa dan berdzikir sepanjang perjalanan
    Jangan bosan untuk terus berdoa selama di perjalanan. Perlu diingat bahwa doa musafir (orang yang bepergian) termasuk doa yang mustajab, dikabulkan oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Tiga doa yang pasti dikabulkan: doa orang yang terzalimi, doa musafir, dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR Ahmad). Maka perbanyaklah berdoa memohon keselamatan, kemudahan, cuaca yang baik, dan hal-hal baik lainnya. Selain doa khusus, kita juga dianjurkan berdzikir mengingat Allah. Misalnya, membaca takbir (Allahu Akbar) ketika melewati jalan menanjak atau tanjakan, dan membaca tasbih (Subhanallah) ketika jalan menurun. Ini adalah sunnah yang dilakukan para sahabat saat safar bersama Nabi SAW: “Kami bertakbir saat melalui tempat tinggi, dan bertasbih saat melewati jalan menurun.” (HR Bukhari). Di era sekarang, dzikir ini bisa diterapkan setiap kali pesawat lepas landas (kita bertakbir) dan saat pesawat mendarat atau turun altitude (bertasbih), atau saat mobil naik gunung dan turun gunung. Intinya, hati kita tetap terhubung dengan Allah dalam setiap kondisi medan perjalanan. Kita juga bisa membaca surat-surat pendek, istighfar, atau shalawat selama menyetir (dengan catatan tetap fokus dan tidak terlena).
  8. Menjaga etika dan keselamatan berkendara
    Adab bepergian dalam Islam mencakup mematuhi aturan dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Tidak ngebut atau ugal-ugalan di jalan merupakan bagian dari akhlak terpuji. Sikap ugal-ugalan mencerminkan kesombongan dan ketergesaan yang dilarang. Para ulama mengingatkan bahwa kecepatan tinggi adalah penyebab utama kecelakaan, maka setiap muslim dituntut untuk berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam berkendara. Rasulullah SAW bersabda, “Ketelitian (tenang-hati-hati) datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan.”. Oleh karena itu, kita harus sabar dan disiplin di jalan. Patuhi rambu lalu lintas, kecepatan yang ditentukan, serta beri penghormatan kepada pengguna jalan lain. Jangan menyerobot hak jalan orang, dan hindari membunyikan klakson berlebihan atau hal yang mengganggu. Mengutamakan keselamatan adalah prinsip penting: memakai peralatan keamanan, tidak memainkan ponsel saat mengemudi, dan istirahat jika lelah. Ingatlah bahwa melanggar aturan lalu lintas bukan hanya pelanggaran hukum negara, tapi juga melanggar etika Islam karena berarti tidak taat kepada ulil amri (pemerintah) yang memerintahkan kebaikan. Bahkan hal sepele seperti membuang sampah sembarangan dari kendaraan pun harus dihindari, karena dapat membahayakan orang lain dan itu dilarang dalam Islam (setiap perbuatan yang mencelakakan orang lain tergolong dosa). Jadi, adab safar mencakup akhlak mulia di jalan: sabar, waspada, rendah hati, dan santun terhadap sesama.
  9. Menjaga ibadah selama perjalanan
    Meskipun dalam kondisi safar, jangan lupakan kewajiban ibadah. Islam memberikan keringanan (rukhṣah) bagi musafir, antara lain bolehnya menjama’ dan mengqasar shalat fardhu (menggabungkan dan memendekkan rakaat shalat) ketika memenuhi syarat. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar musafir tetap bisa shalat tanpa merasa berat. Usahakan tetap shalat tepat waktu sebisa mungkin, mencari tempat yang bersih untuk shalat di perjalanan. Jika perjalanan panjang, atur jadwal berhenti untuk shalat. Selain itu, puasa Ramadan boleh ditinggalkan sementara saat safar berat dan diganti di hari lain. Namun jika mampu, puasa saat safar juga tetap berpahala. Intinya, jangan jadikan safar sebagai alasan meninggalkan ibadah sama sekali – justru perjalanan bisa menjadi lebih berkah dengan tetap mengingat Allah.
    Berdoa ketika tiba di tujuan dan ketika kembali pulang. Setelah menempuh perjalanan dan sampai dengan selamat, ucapkan syukur kepada Allah. Disunnahkan membaca doa seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW ketika kembali dari perjalanan. Anas bin Malik RA meriwayatkan bahwa saat Nabi SAW beserta rombongan pulang mendekati Madinah, beliau mengucapkan: “Āyibūna, tā’ibūna, ‘ābidūna, li-Rabbina ḥāmidūn,” yang artinya “Kami semua adalah orang-orang yang kembali (dengan selamat), yang bertaubat, yang beribadah, dan hanya kepada Tuhan kamilah memuji.” Beliau terus mengucapkannya hingga masuk ke kota. Kalimat tersebut merupakan ungkapan syukur karena diberi keselamatan dan kesempatan kembali untuk beribadah. Kita pun bisa mencontohnya, minimal dengan mengucapkan “Alhamdulillah” ketika sampai tujuan atau kembali ke rumah. Ada baiknya juga shalat sunnah dua rakaat setelah sampai di rumah sebagai tanda syukur. Selain itu, ucapkan salam dan kabar gembira kepada keluarga bahwa kita kembali dengan selamat, sebagaimana sunnahnya para sahabat menyambut dan mendoakan satu sama lain.

Dengan menerapkan adab-adab di atas, insya Allah perjalanan kita tidak hanya aman dan nyaman, tapi juga berpahala serta membawa berkah. Setiap langkah perjalanan yang dibarengi niat ibadah dan akhlak mulia akan dicatat sebagai kebaikan oleh Allah SWT.
Sebagai penutup, marilah kita selalu mengamalkan doa dan adab-adab safar di atas dalam setiap perjalanan. Dengan doa naik kendaraan darat dan laut, kita mengawalinya dengan mengingat Allah. Dengan mematuhi adab perjalanan, kita berusaha menghindari bahaya lahir batin. Dan dengan memahami dalil-dalil keselamatan, kita semakin yakin bahwa Allah-lah sebaik-baik Pelindung di perjalanan. Semoga setiap perjalanan kita diberi kelancaran, keselamatan sampai tujuan, dan menjadi bagian dari ibadah yang diridhai Allah SWT. Safar mubarak – perjalanan yang diberkahi – untuk kita semua, aamiin.

You might also like