Surat Ali Imran Ayat 64 – Tafsir, Asbabun Nuzul dan Pesan

Surat Ali Imran Ayat 64 – Tafsir, Asbabun Nuzul dan Pesan

Masjid Ismuhu Yahya – Surat Ali Imran ayat 64 dikenal sebagai ayat yang mengandung ajakan persatuan dalam tauhid kepada Ahli Kitab (pemeluk Yahudi dan Nasrani). Ayat ini menampilkan pendekatan dialogis, di mana Al-Qur’an mengundang para Ahli Kitab untuk berpegang pada “kalimatun sawa” (kata sepakat atau titik temu) berupa mengesakan Allah saja dalam ibadah. Dengan kata lain, ayat ini menyeru agar Muslim dan Ahli Kitab sama-sama hanya menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Ayat ini juga menegaskan sikap umat Islam: jika ajakan tersebut ditolak, kaum beriman diminta menyatakan, “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang muslim (berserah diri kepada Allah)”.

Dalam artikel ini, kita akan membahas teks Arab dan terjemahan surat Ali Imran ayat 64, mengupas tafsir para ulama – termasuk Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Jalalain – serta mengurai konteks sejarah turunnya ayat (asbābun nuzūl). Tak lupa, kita akan membahas pesan dan relevansi ayat ini dalam kehidupan modern, khususnya terkait toleransi beragama dan dialog antar umat beragama.

Teks Arab dan Terjemahan Surat Ali Imran Ayat 64

Berikut adalah teks Arab dari QS. Ali ‘Imran ayat 64 beserta terjemahan bahasa Indonesianya:

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِۦ شَيْـًٔا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُونِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ

Katakanlah (Muhammad): “Wahai Ahli Kitab, marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (ketetapan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa tidaklah kita menyembah selain Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan apa pun, dan tidak (pula) sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka): “Saksikanlah, bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).”

Pada ayat di atas, kalimatun sawā’ (kata yang sama/sepakat) merujuk pada kesepakatan dasar ajaran tauhid, yaitu hanya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan apa pun. Juga ditekankan agar manusia tidak mengangkat sesama manusia sebagai “tuhan” selain Allah – maksudnya, tidak menuruti atau menaati makhluk dalam hal yang bertentangan dengan perintah Allah. Di akhir ayat, umat Islam diajarkan untuk menegaskan identitas keislaman mereka (“kami adalah orang-orang muslim”), menandakan sikap konsisten berserah diri kepada Allah meskipun ajakan ini ditolak pihak lain.

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 64

Beragam tafsir ulama klasik dan kontemporer memberikan penjelasan mendalam tentang maksud ayat ini. Berikut beberapa penjelasan tafsir dari para ulama, khususnya Tafsir Jalalain dan Tafsir Ibnu Katsir, yang banyak dirujuk:

  • Tafsir Jalalain

    Tafsir Jalalain – sebuah tafsir klasik ringkas karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti – menjelaskan ayat 64 dengan cukup langsung. Menurut Tafsir Jalalain, seruan “Hai Ahli Kitab” ditujukan kepada kaum Yahudi dan Nasrani. Ungkapan “marilah kita menuju suatu kalimat yang sama” ditafsirkan sebagai ajakan kepada suatu kata sepakat yang adil (kalimatun sawā’) di antara Muslim dan Ahli Kitab. Yang dimaksud “kalimat yang sama” ini tidak lain adalah tauhid:

    “Bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun juga”. Ini berarti kedua pihak diajak untuk hanya mengesakan Allah dalam ibadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan makhluk apa pun. Jalalain bahkan memberi contoh penyimpangan tauhid yang terjadi: sebagaimana Ahli Kitab telah menjadikan rahib-rahib (pendeta) mereka sebagai tuhan selain Allah, misalnya dengan menganggap ‘Uzair atau Isa sebagai Tuhan. Padahal tidak boleh ada seorang pun di antara manusia yang dipertuhankan; semua harus tunduk hanya kepada Allah.

    “Dan bahwa sebagian kita tidak mengambil sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah”. Tafsir Jalalain menekankan bahwa tak boleh ada di antara kita yang saling menuhankan satu sama lain. Ini mencakup larangan mengikuti perintah tokoh agama atau pemimpin jika perintah tersebut membuat kita meninggalkan ketentuan Allah. Ahli Kitab kala itu, misalnya, ada yang mengangkat pendeta atau rahib mereka ke status yang berlebihan, sampai mengikuti mereka dalam menghalalkan atau mengharamkan sesuatu tanpa dasar dari Allah. Praktik semacam inilah yang dikritik, karena pada hakikatnya ketaatan mutlak hanya milik Allah.

    Selanjutnya, Tafsir Jalalain menyebutkan sikap jika ajakan ini ditolak: “Jika mereka berpaling (menolak ajakan tauhid ini), maka katakanlah: ‘Saksikanlah bahwa kami ini beragama Islam’.” Maksudnya, jika dialog tidak berhasil, kaum muslimin diminta menegaskan bahwa mereka akan tetap bertauhid dan berserah diri kepada Allah. Dengan demikian, tugas menyampaikan ajakan sudah dilakukan; selanjutnya minimal umat Islam menyatakan posisi mereka dengan jelas sebagai muslim yang tidak akan menyekutukan Allah.

  • Tafsir Ibnu Katsir

    Tafsir Ibnu Katsir memberikan ulasan yang lebih panjang lebar mengenai ayat ini. Imam Ibnu Katsir menegaskan bahwa firman “Hai Ahli Kitab” di sini mencakup seluruh kalangan Yahudi dan Nasrani, serta siapa pun yang mengikuti jejak mereka. Artinya, ajakan dalam ayat ini bersifat umum kepada semua pemeluk agama samawi sebelum Islam, untuk kembali kepada kemurnian ajaran tauhid.

    Beberapa poin penting dari Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat 64 antara lain:

    Makna “kalimatun sawā’”: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kalimat yang dimaksud adalah sebuah jumlah mufīdah, yakni pernyataan yang utuh maknanya. Kalimat ini disebut “yang sama (adil) antara kami dan kamu” karena memang merupakan pokok kebenaran yang seharusnya disetujui kedua belah pihak – tidak berat sebelah. Beliau mengutip bahwa kalimat ini diperjelas langsung oleh Allah dalam ayat itu sendiri, yaitu: “bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah dan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun.” Inilah inti dari kalimat tauhid yang menjadi landasan persamaan.

    Seruan Tauhid Universal: Ibnu Katsir menekankan bahwa mengajak hanya menyembah Allah tanpa sekutu bukanlah hal baru, melainkan dakwah semua rasul sepanjang sejarah. Beliau mengutip ayat-ayat Al-Qur’an seperti QS. Al-Anbiyā’: 25 *“Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tiada tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.’**, dan QS. An-Naḥl: 36 “Sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah ṭāghūt (sesembahan palsu)’.”. Dengan mengutip ayat-ayat tersebut, Ibnu Katsir menunjukkan kesinambungan ajaran tauhid dari nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad ﷺ.

    Tidak Menjadikan Manusia Sebagai Tuhan: Bagian “dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah” ditafsirkan Ibnu Katsir dengan mengutip pendapat Ibnu Juraij. Maksudnya adalah tidak saling menaati dalam maksiat kepada Allah. Dalam konteks Ahli Kitab, ini merujuk pada praktik mereka yang kadang lebih menaati pemuka agama dalam hal-hal menyimpang (misalnya mengubah hukum Allah), seolah-olah memberikan otoritas ketuhanan kepada mereka. Islam melarang hal ini – tak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Khaliq.

    Sikap Bila Ditolak: Ibnu Katsir juga menggarisbawahi instruksi di akhir ayat. Jika Ahli Kitab berpaling (menolak) dari ajakan tauhid ini, maka Nabi dan kaum muslimin harus mengatakan: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (muslim).” Artinya, jika dialog ditolak, kaum muslim tetap teguh dalam Islam yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Pernyataan ini bukan hanya penegasan identitas, tetapi juga persaksian di hadapan mereka bahwa umat Islam sudah menyampaikan kebenaran dan akan konsisten di atasnya, walaupun pihak lain tidak mau menerima.

    Selain itu, Ibnu Katsir menyebut konteks penggunaan ayat ini oleh Nabi Muhammad ﷺ. Tercatat dalam riwayat bahwa ayat Ali Imran:64 ini dituliskan oleh Nabi dalam surat dakwah beliau kepada para penguasa Ahli Kitab, misalnya kepada Heraklius, Kaisar Romawi. Dalam surat yang dikirimkan ke Heraklius, Nabi mengajak sang raja masuk Islam agar selamat dan mendapat pahala, lalu menuliskan firman Allah: “Wahai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu…” hingga akhir ayat. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi benar-benar menerapkan perintah ayat ini secara langsung dalam berdakwah kepada non-Muslim, mengajak dengan damai kepada keesaan Tuhan sebagai titik temu.

Tafsir-tafsir lain juga sejalan dengan penjelasan di atas. Misalnya, tafsir Kementerian Agama (Tafsir Al-Muyassar) menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan Nabi mengajak Yahudi dan Nasrani kepada ajaran tauhid yang adil dan benar, dan jika mereka menolak, umat Islam cukup menyatakan kepasrahan mereka kepada Allah. Tafsir as-Sa’di juga menekankan bahwa ayat ini mengandung dakwah kepada agama tauhid yang disepakati para nabi, serta mengajarkan tidak ada pemaksaan: jika tetap ditolak, berlaku prinsip “untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS. Al-Kafirun).

Asbābun Nuzūl (Konteks Sejarah Turunnya Ayat)

Untuk memahami lebih dalam, penting melihat konteks sejarah turunnya Ali Imran ayat 64. Para ulama tafsir mengaitkan ayat ini dengan peristiwa dialog Nabi Muhammad ﷺ dengan delegasi Kristen Najran yang terjadi di Madinah. Delegasi Najran (wilayah di selatan Jazirah Arab) datang untuk berdiskusi tentang perbedaan keyakinan, terutama mengenai status Nabi Isa ‘alaihis-salām.

Dalam diskusi tersebut, kaum Nasrani Najran bersikukuh dengan keyakinan bahwa Isa adalah putra Tuhan, sementara Nabi ﷺ menjelaskan kedudukan Isa sebagai hamba dan utusan Allah. Dialog memuncak hingga Allah menurunkan ayat sebelumnya (QS. Ali Imran:61) yang mengajukan tantangan mubāhalah – yaitu kedua pihak berdoa kepada Allah agar pihak yang berdusta dikutuk. Delegasi Najran gentar menghadapi ajakan mubāhalah tersebut dan menolak melakukannya setelah menyadari kebenaran berada di pihak Nabi ﷺ. Mereka akhirnya memilih berdamai dan membayar jizyah (upeti) ketimbang melanjutkan konfrontasi teologis.

Ali Imran ayat 64 turun setelah peristiwa mubāhalah yang tidak jadi dilaksanakan itu. Menurut penjelasan tafsir, setelah para pendeta Najran tak berani bermubāhalah dan tampak kelemahan argumen mereka, Allah mengajarkan Nabi agar mengajak mereka kepada tauhid dengan cara lebih lembut dan diplomatis. Inilah mengapa ayat 64 dimulai dengan “Katakanlah, Wahai Ahli Kitab…” yang berisi seruan persuasif. Nabi ﷺ diperintahkan menyampaikan: jika kalian menolak kebenaran tentang Isa padahal kalian mengetahuinya (dari dalil-dalil), maka mari kita berpegang pada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian.

Kalimat sama itu tak lain adalah ajaran yang juga tertulis dalam kitab-kitab suci terdahulu (Taurat dan Injil) bahwa tidak boleh menyembah selain Allah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Dengan kata lain, Rasulullah mengajak mereka bersepakat pada ajaran tauhid yang sebenarnya sudah ada dalam kitab mereka sendiri.

Asbābun nuzūl ini menegaskan bahwa ayat 64 merupakan kelanjutan strategi dakwah kepada Ahli Kitab di Madinah. Ayat 61-63 sebelumnya “mengunci” debat teologis dengan tantangan mubāhalah; setelah mereka mundur, ayat 64 menawarkan “jalan tengah” – yaitu mari kembali ke ajaran pokok yang sama-sama diakui, yakni menyembah Tuhan Yang Esa. Ini adalah pendekatan dialog yang sangat bijak: tanpa mengorbankan prinsip tauhid, Islam mengajak pihak lain pada kebenaran dengan menunjukkan common ground (dasar bersama) yang seharusnya disetujui kedua belah pihak.

Perlu dicatat pula bahwa ayat ini berstatus Madaniyah, turun setelah Nabi hijrah ke Madinah. Di Madinah, masyarakatnya majemuk: terdiri dari Muslim (kaum Muhajirin dan Anshar), komunitas Yahudi, Nasrani, serta penyembah berhala. Nabi Muhammad ﷺ membangun Piagam Madinah untuk mengatur keharmonisan di antara berbagai komunitas. Ajakan dalam QS Ali Imran:64 sejalan dengan semangat tersebut – mengajak dialog lintas iman dengan fokus pada tauhid (Ketuhanan Yang Maha Esa) sebagai nilai bersama. Jadi, secara sejarah ayat ini turun di konteks upaya Nabi menyatukan masyarakat Madinah yang plural, terutama dalam menghadapi perbedaan akidah dengan Ahli Kitab.

Pesan dan Relevansi Ayat 64 dalam Kehidupan Modern

Relevansi surat Ali Imran ayat 64 sangatlah besar dalam konteks modern, terutama terkait toleransi beragama dan dialog antarumat beragama. Berikut beberapa poin penting mengenai pesan toleransi dan perdamaian yang bisa digali dari ayat ini dan penerapannya masa kini:

  • Mengedepankan Persamaan, Bukan Perbedaan: Ayat ini mengajarkan metode dakwah dan dialog yang fokus pada titik persamaan (kalimatun sawā’). Dalam masyarakat majemuk, sering kali perbedaan teologis menjadi sumber konflik. QS 3:64 memberi contoh bahwa Islam mendorong mencari titik temu dahulu saat berinteraksi dengan pemeluk agama lain. Dalam kasus Ahli Kitab, titik temunya adalah sama-sama memiliki kitab suci yang mengajarkan monoteisme. Di era modern, kita bisa menerjemahkan prinsip ini sebagai upaya menemukan nilai-nilai bersama antarumat beragama – misalnya sama-sama menekankan cinta kasih, keadilan, kebaikan, dan lain-lain – sebagai landasan dialog. Kalimatun sawā’ dapat dimaknai sebagai kesediaan mencari “common ground” demi kerukunan.
  • Tauhid dan Toleransi Bisa Sejalan: Menariknya, ayat ini menunjukkan keteguhan pada akidah tauhid sekaligus sikap toleran. Tidak ada kompromi dalam hal menyembah Allah saja, namun cara penyampaiannya santun dan tanpa paksaan. Ulama kontemporer menggarisbawahi bahwa Al-Qur’an mengajarkan tauhid bersamaan dengan toleransi, dan mengajarkan umat menghadapi perbedaan secara adil dan beradab. Hal ini tercermin pula dalam kesimpulan Dr. Ibnu Khaldun (pakar tafsir) yang mengatakan bahwa konsep kalimatun sawā’ pada Ali Imran:64 menegaskan ajaran tauhid sekaligus toleransi, serta mengajarkan bahwa keberagaman agama adalah kenyataan yang harus disikapi dengan keadilan. Islam mengakui adanya perbedaan keyakinan (lih. QS. Al-Kafirun) dan menegaskan “tidak ada paksaan dalam beragama” (QS. Al-Baqarah: 256). Ayat 64 ini sejalan dengan prinsip tersebut: mengajak dengan argumen dan kasih sayang, bukan dengan kekerasan.
  • Dialog Antaragama yang Konstruktif: Dalam kehidupan modern, QS Ali Imran:64 menjadi landasan Qur’ani bagi dialog antaragama yang damai. Ayat ini mengajarkan kita mengundang pemeluk agama lain untuk berdialog dengan saling menghormati dan mengakui kebenaran bersama (misalnya sama-sama percaya Tuhan itu Esa dan Maha Kuasa). Pendekatan ini jauh dari debat kusir apalagi kekerasan. Bahkan, ayat ini telah menginspirasi gerakan dialog global. Pada tahun 2007, 138 cendekiawan dan ulama Muslim dunia menerbitkan surat terbuka berjudul “A Common Word Between Us and You” (Kalimatun Sawa’) yang ditujukan kepada para pemimpin Kristiani. Dokumen Kalimatun Sawa’ tersebut secara eksplisit merujuk QS Ali Imran:64 dan mengajak umat Islam-Kristen berpegang pada dua nilai kunci yang sama-sama diajarkan kedua agama, yaitu: cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan cinta kepada sesama manusia. Inisiatif ini mendapat tanggapan positif dari banyak pemimpin Kristen dan melahirkan berbagai dialog lintas iman konstruktif di seluruh dunia. Contoh tersebut menunjukkan ayat 64 benar-benar relevan sebagai pijakan teologis untuk membangun jembatan pemahaman antara Muslim dan non-Muslim di era sekarang.
  • Menjaga Identitas Sambil Menghormati Pihak Lain: Ayat ini juga memberi pelajaran tentang menjaga prinsip agama tanpa fanatik buta. Di satu sisi, umat Islam tegas dengan prinsip tauhid (“kami berserah diri kepada Allah”). Di sisi lain, mereka diajari mengajak dengan kata-kata damai dan rasional, bukan cacian. Bahkan jika ajakan ditolak, responnya bukan kekerasan, melainkan cukup menyatakan “kami tetap muslim” dan membiarkan urusan hidayah kepada Allah. Ini sejalan dengan etika dialog: tegas pada keyakinan sendiri, namun tetap menghormati hak orang lain untuk memilih. Sikap ini sangat penting di tengah dunia modern yang pluralistis – di mana umat beragama ditantang untuk hidup berdampingan secara damai tanpa mencampuradukkan akidah. Toleransi bukan berarti mencabut komitmen terhadap agama, melainkan kesediaan hidup rukun, saling menghormati kebebasan beragama sembari tetap berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.
  • Membangun Kerukunan dan Perdamaian: Inti kalimatun sawā’ adalah kesepakatan pada hal mendasar yang baik. Bagi masyarakat Indonesia misalnya, konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila sejalan dengan semangat ayat ini. Semua agama di Indonesia mengakui prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai kalimatun sawā’ kebangsaan kita. Dengan berpegang pada prinsip itu, kerukunan dapat terwujud tanpa memandang perbedaan agama. Ayat ini mendorong terciptanya titik temu demi perdamaian. Seorang sarjana Muslim Nusantara, Nurcholish Madjid, bahkan menjadikan kalimatun sawā’ sebagai basis teologi inklusif untuk toleransi – bahwa dalam perbedaan agama, ada satu titik persamaan fundamental yaitu sama-sama menganut kepercayaan akan Tuhan Yang Esa. Gagasan seperti ini mengakar dari spirit QS 3:64.

Sebagai penutup, Surat Ali Imran ayat 64 memberikan teladan abadi tentang bagaimana umat Islam seharusnya menyikapi pemeluk agama lain. Ayat ini mengajarkan dialog lintas iman yang berlandaskan ketulusan, kesantunan, dan fokus pada nilai bersama, tanpa menggadaikan prinsip tauhid. Di tengah dunia modern yang rentan konflik sektarian, pesan “marilah menuju pada satu kalimat yang sama” tetap relevan untuk merajut toleransi dan kerja sama. Umat Islam dapat menjadikan ayat ini sebagai rujukan dalam berdakwah secara hikmah (bijaksana) dan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik), sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ. Dengan demikian, nilai-nilai tauhid dan persaudaraan kemanusiaan bisa berjalan seiring, mewujudkan kehidupan yang damai dalam keberagaman.

You might also like