Perjalanan Isra’ Mi’raj: Kisah, Makna, dan Hikmah

Perjalanan Isra’ Mi’raj: Kisah, Makna, dan Hikmah

Masjid Ismuhu Yahya – Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa paling penting dan menakjubkan dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi hanya dalam satu malam sebagai salah satu mukjizat besar dari Allah SWT bagi Nabi Muhammad SAW. Pada peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah berangkat dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem (fase Isra’). Setelah perjalanan Isra’ tersebut, beliau naik melintasi tujuh lapis langit hingga mencapai Sidratul Muntaha (fase Mi’raj).

Kisah ini menjadi asal mula diwajibkannya shalat lima waktu bagi umat Islam. Selain itu, banyak pelajaran berharga yang terkandung di dalamnya. Artikel ini akan mengulas kisah perjalanan Isra’ Mi’raj dengan bahasa yang mudah dipahami. Ulasan ini dilengkapi dalil Al-Qur’an dan Hadis, pandangan ulama, serta hikmah di balik peristiwa agung ini.

Pengertian dan Latar Belakang Perjalanan Isra’ Mi’raj

Istilah Isra’ secara bahasa bermakna “perjalanan di malam hari”, sedangkan Mi’raj berarti “tangga” atau kenaikan ke langit. Dalam konteks peristiwa ini, Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestina). Adapun Mi’raj adalah peristiwa naiknya Nabi melewati lapisan-lapisan langit hingga mencapai tempat tertinggi bernama Sidratul Muntaha. Banyak ulama berpendapat bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah (sekitar 620-621 M).

Pendapat populer menyebut peristiwa ini berlangsung pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian. Pada periode tersebut, dakwah Islam berada dalam fase yang berat. Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami masa ‘Amul Huzn (Tahun Kesedihan) setelah wafatnya istri beliau, Khadijah, dan paman beliau, Abu Thalib. Selain itu, Nabi juga menghadapi penolakan keras saat berdakwah di Thaif yang membuat beliau terluka dan berduka. Di tengah ujian berat inilah, Allah SWT menganugerahkan peristiwa Isra’ Mi’raj sebagai mukjizat besar yang menghibur dan menguatkan kembali hati Rasulullah.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis tentang Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Mi’raj secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 1. Allah SWT berfirman:

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al-Isra’: 1)

Berdasarkan ayat tersebut, para ulama sepakat bahwa Isra’ Mi’raj benar-benar terjadi dan merupakan salah satu mukjizat Rasulullah yang wajib diyakini kebenarannya oleh seluruh umat Islam. Selain dalil Al-Qur’an, kisah perjalanan Isra’ Mi’raj juga dijelaskan dalam banyak hadis shahih. Salah satunya, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa beliau didatangi Malaikat Jibril yang membawakan kepadanya seekor Buraq, yaitu hewan tunggangan berwarna putih, lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bagal, dengan langkah sejauh mata memandang. Dengan menaiki Buraq inilah Rasulullah melakukan perjalanan dari Makkah ke Palestina dalam satu malam. Detail lengkap mengenai apa yang dilihat dan dialami Nabi selama Isra’ Mi’raj tercantum dalam hadis-hadis panjang yang diriwayatkan antara lain oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Kisah Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad

Perjalanan Isra’: Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

Kisah Isra’ Mi’raj dimulai pada suatu malam ketika Nabi Muhammad SAW berada di dekat Ka’bah (Masjidil Haram), Makkah. Malaikat Jibril mendatangi beliau dan membawa seekor Buraq sebagai tunggangan. Rasulullah pun berangkat menaiki Buraq ditemani Jibril menuju Baitul Maqdis di tanah Palestina.

Menurut beberapa riwayat, dalam perjalanan menuju Yerusalem ini Rasulullah singgah sejenak di beberapa tempat bersejarah. Di setiap tempat tersebut (misalnya Yatsrib/Madinah, Bukit Sinai, Betlehem, hingga makam Nabi Musa), Nabi Muhammad turun dan melaksanakan shalat dua rakaat bersama Malaikat Jibril. Setelah itu, beliau melanjutkan perjalanan hingga tiba di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Di sana, Rasulullah disambut oleh kumpulan arwah para nabi dan rasul sebelum beliau. Jibril lalu memerintahkan Nabi Muhammad untuk menjadi imam shalat bagi seluruh nabi tersebut, dan beliau pun mengimami mereka di Masjid Al-Aqsa. Peristiwa agung ini merupakan tanda kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin para nabi dan rasul terdahulu.

Perjalanan Mi’raj: Nabi Muhammad Naik ke Langit

Setelah selesai memimpin para nabi shalat di Masjid Al-Aqsa, tibalah saatnya Rasulullah mengalami Mi’raj. Malaikat Jibril mengajak Nabi Muhammad SAW naik menembus langit bersama Buraq. Di perjalanan naik ini, beliau bertemu sejumlah nabi terdahulu di setiap lapisan langit. Di langit pertama, Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Adam AS. Di langit kedua, beliau bertemu Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, sedangkan di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS. Selanjutnya, di langit keempat beliau bertemu Nabi Idris AS, di langit kelima bertemu Nabi Harun AS, di langit keenam bertemu Nabi Musa AS. Di langit ketujuh beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim AS. Para nabi tersebut menyambut kedatangan Rasulullah dengan salam penghormatan dan mendoakan kebaikan bagi umat beliau.

Di puncak langit ketujuh, Nabi Muhammad SAW mencapai Sidratul Muntaha, yaitu batas akhir yang bisa dicapai makhluk. Di tempat suci ini, Rasulullah mendapatkan perintah langsung dari Allah SWT untuk menunaikan shalat sebanyak 50 kali sehari semalam. Namun, Nabi Musa AS yang ditemui di langit keenam mengingatkan bahwa umat Muhammad tidak akan sanggup. Oleh karena itu, Nabi Muhammad beberapa kali kembali memohon keringanan kepada Allah. Akhirnya, Allah SWT mengurangi kewajiban tersebut menjadi hanya 5 waktu sehari semalam. Meskipun hanya lima waktu, Allah menjanjikan pahala yang setara dengan menunaikan 50 kali shalat.

Selain menerima perintah shalat, Rasulullah juga diperlihatkan berbagai tanda kebesaran Allah lainnya, termasuk gambaran surga dan neraka. Usai menjalani Mi’raj, Nabi Muhammad SAW turun kembali ke Masjid Al-Aqsa. Dari sana beliau kembali ke Makkah sebelum fajar menyingsing. Dengan demikian, seluruh rangkaian perjalanan Isra’ Mi’raj selesai dalam satu malam saja – sebuah keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Allah SWT.

Pandangan Ulama: Isra’ Mi’raj dengan Jasad atau Hanya Ruh?

Dalam sejarah pemikiran Islam, terdapat perbedaan pendapat tentang bagaimana hakikat terjadinya Isra’ Mi’raj. Sebagian kecil ulama di masa awal (termasuk istri Nabi, Sayyidah Aisyah ra., serta Mu’awiyah bin Abu Sufyan) berpendapat bahwa peristiwa ini hanya dialami oleh ruh Nabi Muhammad, sedangkan jasad beliau tidak ikut. Dengan kata lain, Isra’ Mi’raj dianggap terjadi dalam bentuk visi atau mimpi yang benar dari Allah. Riwayat Sayyidah Aisyah, misalnya, menyebut bahwa “jasad Rasulullah SAW tidak hilang, melainkan Allah hanya memperjalankan ruhnya”. Namun, pendapat yang mengatakan Isra’ Mi’raj hanya dengan ruh (tanpa jasad) ini dipandang lemah dan kurang didukung dalil kuat oleh mayoritas ulama.

Di sisi lain, jumhur (mayoritas) ulama ahli hadis, fikih, dan tafsir sepakat bahwa Isra’ Mi’raj terjadi secara nyata melibatkan jasad dan ruh Nabi sekaligus, dalam keadaan sadar (bukan sekadar mimpi). Mereka antara lain berdalil dengan penggunaan kata bi’abdihi (“hamba-Nya”) dalam QS Al-Isra’: 1, yang menunjukkan keutuhan sosok hamba (jiwa dan raga). Selain itu, jika Isra’ Mi’raj hanya sebuah mimpi, tentu kaum Quraisy tidak akan geger menolak cerita Nabi. Faktanya, peristiwa ini membuat banyak orang musyrik menuduh Nabi berdusta.

Bahkan sejumlah Muslim yang imannya lemah sampai murtad karena menganggap kisah ini mustahil. Sementara itu, sahabat Abu Bakar ra. justru langsung membenarkan kabar Isra’ Mi’raj tanpa ragu, hingga Rasulullah memberinya gelar as-Siddiq (yang selalu membenarkan kebenaran). Kesimpulannya, pandangan yang paling kuat menyatakan bahwa perjalanan Isra’ Mi’raj dialami Nabi Muhammad SAW secara utuh dengan jasad dan ruh, sebagai suatu mukjizat nyata dari Allah SWT.

Hikmah dan Pelajaran dari Peristiwa Isra’ Mi’raj

Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi juga mengandung banyak hikmah dan pelajaran bagi umat Islam. Beberapa hikmah penting yang dapat dipetik antara lain:

  • Menegaskan Kewajiban Shalat Lima Waktu. Isra’ Mi’raj menghasilkan perintah langsung untuk menjalankan shalat lima waktu. Ibadah shalat menjadi tiang agama dan wajib ditunaikan oleh setiap Muslim. Kewajiban ini istimewa karena disampaikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara langsung dalam Mi’raj (tidak melalui perantara wahyu biasa). Oleh karena itu, umat Islam hendaknya menjaga dan mendirikan shalat dengan disiplin sebagai bentuk ketaatan utama kepada Allah.
  • Ujian Keimanan bagi Umat. Kisah perjalanan Isra’ Mi’raj menjadi ujian keimanan bagi orang-orang di zaman Nabi. Banyak kaum musyrik yang mendustakan cerita ini karena dianggap mustahil, sehingga iman mereka terungkap jelas. Di sisi lain, sahabat Abu Bakar ra. menunjukkan keteguhan iman dengan segera membenarkan Nabi. Pelajaran bagi kita adalah senantiasa percaya pada kekuasaan Allah dan kebenaran ajaran Rasul, meskipun hal itu di luar jangkauan logika manusia.
  • Tanda Kebesaran dan Kekuasaan Allah. Perjalanan menakjubkan ini menunjukkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mampu menempuh ribuan kilometer dan menembus langit dalam semalam atas kehendak Allah. Hal ini mengingatkan kita bahwa mukjizat dapat terjadi dengan izin-Nya, sehingga kita harus selalu yakin akan kebesaran Allah. Peristiwa ini juga menegaskan kedudukan Masjid Al-Aqsa sebagai tempat suci ketiga dalam Islam yang diberkahi Allah.
  • Harapan Setelah Kesulitan. Isra’ Mi’raj terjadi setelah periode yang berat dalam kehidupan dan dakwah Nabi. Allah menghadiahkan pengalaman spiritual luar biasa ini sebagai penghibur dan penyemangat bagi Rasulullah. Pelajaran bagi umat Islam: setiap kesulitan atau ujian pasti ada kemudahan dan pertolongan dari Allah di akhirnya. Peristiwa ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dalam menghadapi cobaan, karena pertolongan Allah bisa datang dengan cara yang tak terduga.

Kesimpulannya, Isra’ Mi’raj mengandung nilai-nilai spiritual yang mendalam. Umat Islam diingatkan untuk teguh beriman, menjaga shalat, menghormati para nabi, serta meyakini kebesaran Allah SWT yang telah memperjalankan hamba-Nya melampaui batas-batas manusiawi.

You might also like