Doa Setelah Mimpi Buruk yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW

Doa Setelah Mimpi Buruk yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW

Masjid Ismuhu Yahya – Mimpi buruk (nightmare) dapat membuat seseorang terbangun di tengah malam dengan keringat dingin, hati cemas, dan pikiran kalut. Tak jarang orang khawatir mimpi menyeramkan tersebut akan menjadi kenyataan. Doa setelah mimpi buruk adalah salah satu tuntunan Islam agar kita terhindar dari rasa takut berlebihan dan gangguan setan setelah mengalami mimpi yang menakutkan. Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan umatnya adab dan doa khusus usai terbangun dari mimpi buruk, sehingga mimpi itu tidak membahayakan serta hati menjadi tenang dalam lindungan Allah. Di bawah ini akan dijelaskan konteks mimpi dalam Islam, perbedaan mimpi baik, mimpi buruk (mimpi dari setan), serta doa dan nasihat ulama dalam menyikapi mimpi buruk.

Anjuran Nabi ﷺ dalam Menyikapi Mimpi Buruk

Rasulullah SAW telah memberikan tuntunan yang jelas tentang cara menyikapi mimpi buruk agar kita terlindung dari keburukannya. Dalam hadits shahih yang diriwayatkan Abu Qatadah ra., Nabi bersabda:

“Mimpi yang baik itu dari Allah, sedangkan mimpi yang buruk itu dari setan. Maka jika salah seorang di antara kalian bermimpi buruk (mimpi yang tidak disukai), hendaknya ia meniup ke sebelah kirinya tiga kali dan membaca ta’awwudz (memohon perlindungan kepada Allah) sebanyak tiga kali. Kemudian setelah itu hendaklah ia membalikkan tubuh ke sisi yang lain. Dengan demikian, mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya, dan jangan ceritakan mimpi tersebut kepada seorang pun.” (HR. Bukhari no. 6995, Muslim no. 2261)

Dari hadits di atas, terdapat beberapa langkah sunnah yang dianjurkan Nabi SAW setiap kali kita terbangun dari mimpi buruk. Langkah-langkah ini bertujuan untuk menghilangkan efek buruk mimpi tersebut dan menenangkan hati:

  • Meludah atau meniup ringan ke arah kiri sebanyak tiga kali. Hal ini dilakukan segera setelah terbangun dari mimpi buruk. Meludah ringan (tanpa benar-benar mengeluarkan air liur) ke kiri tiga kali berfungsi untuk mengusir gangguan setan yang hadir dalam mimpi tersebut. Arah kiri dipilih karena sisi kiri dianggap tempat yang kotor, sehingga hembusan itu seolah menghinakan dan menjauhkan setan. Dilakukannya tiga kali adalah untuk penekanan dan memastikan gangguan itu benar-benar hilang.
  • Membaca ta’awwudz (memohon perlindungan kepada Allah) sebanyak tiga kali. Ucapkanlah “A’ūdzu billāhi minasy-syaitānir rajīm” yang artinya “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.” Kalimat ini bisa diulang tiga kali. Dalam hadits di atas disebutkan hendaknya berlindung kepada Allah “dari setan dan dari keburukan mimpi yang dilihat”. Jadi sambil membaca ta’awwudz, kita berniat memohon perlindungan Allah dari gangguan setan dan dari efek buruk mimpi tersebut. Menurut Imam An-Nawawi, perintah istiadzah (meminta perlindungan Allah) ini disunnahkan karena mimpi buruk tidak akan berdampak apa-apa kecuali jika kita takut dan membicarakannya. Dengan ber-ta’awwudz, gangguan itu pun sirna oleh perlindungan Allah.
  • Mengubah posisi tidur ke sisi lainnya. Jika tadinya terbangun dalam posisi miring ke kanan, maka berpindahlah miring ke kiri, atau sebaliknya. Anjuran ini juga berasal dari hadits Nabi di atas (“hendaklah ia membalik tubuhnya ke sisi yang lain”). Tujuannya untuk tafā’ul atau mengharap perubahan keadaan menuju yang lebih baik. Berpindah posisi juga membantu menghilangkan ingatan akan mimpi buruk tadi dan memberi sugesti bahwa kondisi telah berubah.
  • Tidak menceritakan mimpi buruk kepada siapa pun. Sangat ditekankan oleh Nabi SAW untuk merahasiakan mimpi buruk dan tidak mengisahkannya kepada orang lain. Menceritakan mimpi buruk hanya akan membuat kita terus mengingat dan merasa takut, bahkan bisa membuka celah bagi setan untuk menakut-nakuti kita melalui penafsiran yang keliru. Sebaliknya, dengan tidak menceritakannya, mimpi itu akan terlupakan dan “tidak membahayakan” sebagaimana janji Rasulullah SAW dalam hadits. Ini berbeda dengan mimpi baik yang justru boleh diceritakan kepada orang yang mencintai kita, sedangkan mimpi buruk sebaiknya dilupakan saja.
  • Bangun dan melaksanakan shalat sunnah bila masih merasa takut. Dalam hadits lain dijelaskan, “Barangsiapa yang bermimpi sesuatu yang tak disukai, maka jangan ceritakan pada siapa pun, hendaklah ia bangun lalu shalat!” (HR. Bukhari). Shalat sunnah sangat dianjurkan terutama jika hati masih gelisah setelah terbangun dari mimpi buruk. Kita bisa berwudhu dan menunaikan shalat malam (seperti shalat Tahajud atau shalat dua rakaat) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut para ulama, shalat akan memupuk ketenangan batin karena di dalamnya kita berdzikir, berdoa, dan bersujud mendekat kepada Allah. Dalam keadaan sujud, seorang hamba sangat dekat dengan Tuhannya, sehingga hati akan lebih tentram dan dilindungi dari gangguan buruk.

Langkah-langkah di atas merupakan sunnah Nabi SAW yang mustajab (ampuh) mengatasi dampak mimpi buruk. Imam An-Nawawi, dalam syarah (penjelasan) Shahih Muslim, menyatakan bahwa siapa pun yang menjalankan petunjuk Nabi ini “tidak akan terkena bahaya dari mimpi buruk tersebut”. Secara syariat, efek negatif mimpi buruk diputus dengan doa dan perlindungan Allah, sehingga mimpi itu menjadi sekadar bayangan yang berlalu saja. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak perlu cemas berlebihan setelah mengalami mimpi buruk, asalkan ia mengikuti sunnah Nabi dengan berdoa dan berlindung kepada Allah. Sikap tenang dan tawakkal ini justru akan menutup pintu bagi gangguan setan selanjutnya.

Doa Setelah Mimpi Buruk yang Diajarkan Rasulullah SAW

Selain melakukan tindakan di atas, Rasulullah SAW mengajarkan doa-doa khusus yang bisa dibaca untuk memohon perlindungan Allah setelah terbangun dari mimpi buruk. Doa-doa ini membantu menenangkan jiwa dan menghapus rasa takut yang ditimbulkan mimpi. Berikut beberapa doa yang dianjurkan beserta lafal dan artinya:

  1. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ وَسَيِّئَاتِ الْأَحْلَامِ
    Latin: Allāhumma innī a‘ūdzu bika min ‘amali asy-syaithāni wa sayyi’ātil-ahlām.
    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan setan dan dari mimpi-mimpi yang buruk.”

    Doa pendek ini memiliki makna yang mendalam. Dengan mengucapkannya, seorang Muslim menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan memohon dijauhkan dari tipu daya setan serta keburukan mimpi buruk yang baru dialaminya. Lafal doa tersebut terdapat dalam riwayat hadits dan ringkas sehingga mudah dihafal. Membaca doa ini segera setelah terbangun akan memperkuat ikhtiar kita dalam mengharap perlindungan Allah dari gangguan makhluk jahat.

  2. هُوَ اللَّهُ، اللَّهُ رَبِّيْ لَا شَرِيْكَ لَهُ. أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَمِنْ شَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ
    Latin: Huwa-llāhu, Allāhu rabbī, lā syarīka lahū. A‘ūdzu bi kalimātillāhit-tāmmati min ghaḍabihī wa min sharri ‘ibādihī wa min hamazātis-syayāṭīnī wa an yahḍurūnī.
    Artinya: “Dialah Allah. Allah Tuhanku, tiada sekutu bagi-Nya. Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari godaan setan. Aku juga berlindung kepada-Nya agar mereka (setan) tidak mendekatiku.”

    Doa di atas diajarkan langsung oleh Rasulullah SAW kepada salah satu sahabat yang mengalami mimpi buruk berulang, yaitu Khalid bin Walid ra. Dalam riwayat Muwaththa’ Imam Malik disebutkan, Khalid mengadu: “Wahai Rasulullah, aku mengalami mimpi-mimpi menakutkan di tidurku.” Lalu Rasulullah menjawab dengan mengajarinya doa tersebut. Doa ini diriwayatkan pula dalam hadits Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan dicantumkan Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar sebagai bacaan ketika mengalami mimpi buruk.
    Dengan membaca doa ini, kita memohon perlindungan sangat lengkap: perlindungan Allah dari murka dan hukuman-Nya, dari kejahatan makhluk (termasuk jin dan manusia yang jahat), serta dari segala gangguan dan kehadiran setan. Dianjurkan membaca doa ini ketika terbangun dengan terkejut karena mimpi buruk, agar hati kembali tenang. InsyaAllah dengan izin-Nya, tidur kita selanjutnya akan lebih nyenyak dan dijauhkan dari gangguan buruk tersebut.

  3. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا
    Latin: Allāhumma innī a‘ūdzu bika min syarrihā wa syarri mā fīhā.
    Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya (mimpi itu) dan dari segala keburukan yang terkandung di dalamnya.”

    Doa singkat ini bersumber dari hadits shahih tentang adab mimpi buruk. Kalimat tersebut intinya adalah memohon perlindungan Allah dari keburukan mimpi buruk beserta segala akibatnya. Dalam riwayat Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian melihat mimpi yang tidak disukai, hendaklah ia meludah kecil ke kiri tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR. Muslim no. 2261). Dari hadits ini dipahami bahwa kita diperintahkan meminta perlindungan min sharrihā (dari kejelekannya mimpi tersebut).
    Maka doa nomor 3 di atas adalah redaksi lain untuk memenuhi perintah itu. Membaca “Allāhumma innī a‘ūdzu bika min sharrihā…” merupakan bentuk ketaatan pada anjuran Nabi agar mimpi buruk tak berpengaruh apa-apa. Imam An-Nawawi menjelaskan, mimpi buruk tidak memiliki pengaruh nyata kecuali jika ditakuti dan dibesar-besarkan, sehingga syariat mengajarkan kita untuk segera berlindung pada Allah agar hilang segala dampaknya. Dengan doa perlindungan ini, kita menunjukkan iman bahwa hanya Allah-lah yang dapat melindungi dari segala mara bahaya, termasuk dari mimpi yang menakutkan.

Semua doa di atas dapat dibaca sesuai situasi. Doa pertama cukup pendek dan mudah diingat, cocok diamalkan setiap kali terbangun dari mimpi buruk. Doa kedua dianjurkan khususnya ketika kita terbangun dengan rasa sangat terkejut atau ketakutan, seperti yang dialami Khalid bin Walid ra., karena kandungan doanya sangat lengkap melindungi lahir batin. Sedangkan doa ketiga bisa dijadikan pelengkap saat membaca ta’awwudz, karena maknanya memohon perlindungan dari keburukan mimpi itu sendiri, sebagaimana dicontohkan dalam hadits riwayat Muslim. Mengamalkan salah satu atau semua doa tersebut insyaAllah akan menenangkan jiwa dan menghilangkan sisa-sisa ketakutan setelah mengalami mimpi buruk.

Kesimpulannya, mimpi buruk adalah hal lumrah yang pernah dialami hampir setiap orang. Islam mengajarkan kita untuk tidak takut berlebihan apalagi putus asa karenanya. Doa setelah mimpi buruk dan adab-adab yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya terlindungi dari gangguan makhluk tak terlihat. Dengan mengikuti tuntunan tersebut, kita meyakini bahwa tak ada satu mimpi buruk pun yang bisa mencelakakan tanpa izin Allah. Justru melalui peristiwa mimpi buruk, kita diingatkan untuk semakin dekat kepada Allah, memperbanyak doa dan dzikir, serta memperkuat iman bahwa hanya Allah-lah sebaik-baik Pelindung. Semoga kita semua terjaga dalam rahmat Allah Ta’ala dan dijauhkan dari gangguan setan, baik dalam mimpi maupun di kehidupan nyata. Wallahu a’lam bish-shawab.

You might also like