MASJID KEHILANGAN ANAK MUDANYA, SIAPA YANG SALAH? - Masjid Ismuhu Yahya

MASJID KEHILANGAN ANAK MUDANYA, SIAPA YANG SALAH?

Masjid Ismuhu Yahya – Salah satu konten di Instagram di Masjid Ismuhu Yahya yang mengangkat sepinya anak muda di masjid dapat atensi yang luar biasa. Sudah ditonton lebih dari 126 ribu. Bahkan beberapa penggerak dakwah mengkonfirmasi benarkah kondisi tersebut. Bermula dari fenomena shalat tarawih yang di dominasi oleh orang tua, orang dewasa yang sudah berkeluarga, dan anak-anak kecil. Kemudian di agenda buka puasa yang juga cenderung sepi walaupun panitia sudah menyiapkan takjil dan makan gratis.

Beberapa yang komentar membenarkan keadaan itu. Masjid-masjid dan musholla di daerah mereka juga mengalami hal yang sama. Anak muda usia SMA dan mahasiswa tidak kelihatan di waktu tarawih. Terjadilah diskusi dan analisa, mengapa generasi muda menjauh dari masjid? Pertanyaan ini kian relevan di tengah ramainya kafe, warung kopi, dan ruang-ruang nongkrong yang dipadati anak muda. Ketika saya berkunjung ke salah satu cafe di Kota Pontianak, pukul 22.00 wib penuh isinya anak muda.

Pertanyaannya bukan lagi apakah ini benar terjadi, tetapi mengapa?

Ini Bukan Sekadar Soal Iman, terlalu mudah menyimpulkan: “Anak muda sekarang imannya lemah.”

Padahal fenomena ini lebih dalam dari itu. Ini adalah krisis ruang sosial. Generasi muda hari ini tumbuh dalam kultur digital—egaliter, terbuka, dialogis. Mereka terbiasa berdiskusi, bertanya, bahkan mengkritik. Mereka mencari tempat yang memberi rasa diterima.

Kafe menyediakan:

  • Wifi
  • Ruang kerja
  • Suasana cair
  • Tidak dihakimi
  • Bebas berekspresi

Sebaliknya, sebagian masjid—tidak semua—masih terjebak pada fungsi tunggal: ruang ritual. Anak kecil dianggap mengganggu saf. Pertanyaan kritis dianggap membantah. Ide baru dipandang ancaman.

Padahal, jika kita menengok sejarah, masjid di era Rasulullah ﷺ bukan hanya tempat sujud. Ia adalah pusat peradaban, ruang ilmu, tempat musyawarah, Basis ekonomi, Bahkan markas sosial-politik umat. Masjid dulu bukan hanya sakral, Ia juga sosial. Jangan Saling Menyalahkan,

Ini bukan salah anak muda semata,
Ini bukan juga salah pengurus semata, dan
Ini adalah tanggung jawab kolektif.

1️⃣ Untuk Orang Tua

Jika anak muda jauh dari masjid, tanyakan:

  • Apakah rumah sudah menjadikan masjid sebagai bagian dari kehidupan?
  • Atau masjid hanya hadir ketika Ramadhan?

Anak tidak akan mencintai tempat yang tidak pernah dikenalkan dengan cinta.

2️⃣ Untuk Anak Muda

Masjid bukan milik generasi tua, Masjid adalah milik umat.
Kalau merasa tidak nyaman, jangan menjauh—masuklah, ikutlah mengelola, bawa gagasan, buat perubahan. Jangan hanya mengkritik dari luar.
Generasi muda bukan tamu di masjid, Mereka pewarisnya.

3️⃣ Untuk Pengurus Masjid

Kita harus jujur, banyak masjid dikelola tanpa visi, tanpa segmentasi, tanpa strategi. Padahal dunia berubah cepat, Jika UMKM saja belajar pemasaran, mengapa masjid tidak belajar manajemen?

Tanpa kehilangan ruhnya, masjid perlu:

  • Pemetaan kebutuhan jamaah,
  • Program berbasis segmen usia,
  • Ruang diskusi, bukan hanya ceramah satu arah,
  • Fasilitas pendukung (wifi, ruang belajar, sudut kopi sederhana), dan
  • Kajian kontekstual: literasi digital, kesehatan mental, keuangan, kewirausahaan, politik kebangsaan.

Ini bukan menjadikan masjid seperti kafe, Ini mengembalikan masjid sebagai pusat kehidupan.

4️⃣ Untuk Penggerak Dakwah

Dakwah hari ini tidak cukup retorika, Ia harus relevan. Bahasa dakwah harus membumi, isu yang diangkat harus aktual. Masjid harus berani menjadi ruang dialog, bukan sekadar ruang monolog. Anak muda tidak anti agama, Mereka anti dihakimi.

5️⃣ Untuk Pemerintah

Masjid adalah aset sosial terbesar bangsa. Jika 800 ribu lebih masjid di Indonesia hidup sebagai pusat pemberdayaan:

  • Pengangguran bisa ditekan
  • Literasi meningkat
  • Ekonomi umat bergerak
  • Konflik sosial bisa dicegah

Masjid bukan hanya urusan Kementerian Agama, Ia adalah bagian dari pembangunan sosial nasional. Masjid vs Kafe?, Ini bukan kompetisi. Masjid tidak perlu meniru kafe. Masjid hanya perlu menjadi hangat.

Anak muda mencari tempat untuk merasa diterima. Jika masjid gagal menyediakan rasa itu, maka yang kalah bukan kesakralannya—melainkan kehangatannya. Saatnya Berhenti Meratapi Saf Kosong. Sepinya saf adalah sinyal, dan sinyal adalah peringatan. Masjid masih punya modal terbesar: makna.

Tinggal bagaimana ia dikelola dengan visi, dirawat dengan empati dan dibuka dengan tangan ramah. Jika kita ingin Indonesia kuat, mulai dari masjid yang hidup. Jika kita ingin generasi emas, hadirkan masjid yang ramah generasi. Karena peradaban besar selalu lahir dari ruang yang hidup dan masjid seharusnya adalah jantungnya. Bukan kehilangan anak muda. Tapi mungkin kita belum cukup membuka pintu.

Salam
Kiki Supardi
Pimpinan Masjid Ismuhu Yahya

You might also like