Kumpulan Hadits Kemuliaan Ibu Dalam Islam

Kumpulan Hadits Kemuliaan Ibu Dalam Islam

Majid Ismuhu Yahya – Hadits kemuliaan ibu menjadi salah satu topik yang paling dicari masyarakat islam belakangan ini. Topik ini menjadi salah satu pembahasan penting dalam Islam, karena menunjukkan betapa agung kedudukan seorang ibu di hadapan Allah SWT dan Rasul-Nya. Dalam banyak riwayat, Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa ibu adalah sosok yang paling berhak mendapatkan bakti, kasih sayang, penghormatan, dan perlakuan terbaik dari seorang anak.

Bahkan, dalam salah satu hadits shahih, Rasulullah SAW menyebut “ibumu” sebanyak tiga kali sebelum menyebut ayah. Ini menunjukkan bahwa pengorbanan seorang ibu memiliki kedudukan sangat besar dalam Islam. Ibu mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, dan mendoakan anak-anaknya dengan penuh kesabaran.

Tidak heran jika Islam menempatkan berbakti kepada ibu sebagai salah satu jalan besar menuju ridha Allah dan surga.

Hadits Ibumu, Ibumu, Ibumu, Kemudian Ayahmu

Salah satu hadits paling populer tentang kemuliaan ibu adalah hadits dari Abu Hurairah RA. Dalam hadits ini, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya siapa orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik darinya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ: أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ. قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوكَ

Artinya:

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Rasulullah menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR Muslim, Nomor 2548a)

Hadits ini menunjukkan bahwa ibu memiliki hak yang sangat besar atas anaknya. Penyebutan ibu sebanyak tiga kali dipahami oleh para ulama sebagai isyarat bahwa bakti kepada ibu harus lebih ditekankan, terutama dalam hal perhatian, kelembutan, pelayanan, dan kasih sayang.

Para ulama juga menjelaskan bahwa hal itu berkaitan dengan besarnya pengorbanan ibu. Ibu mengalami tiga fase besar yang tidak dialami ayah secara langsung, yaitu mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Saat mengandung, ibu membawa anaknya dalam tubuhnya selama berbulan-bulan. Ia mengalami rasa lelah, perubahan fisik, rasa sakit, bahkan risiko kesehatan. Saat melahirkan, ibu mempertaruhkan nyawa. Setelah itu, ia menyusui, merawat, begadang, dan memastikan anaknya tumbuh dengan baik.

Karena itu, penyebutan ibu tiga kali bukan tanpa makna. Rasulullah SAW ingin mengajarkan bahwa seorang anak tidak boleh meremehkan jasa ibu. Sehebat apa pun anak, setinggi apa pun pendidikannya, dan sebesar apa pun hartanya, ia tetap tidak boleh melupakan ibu.

Hadits Allah Mewasiatkan Berbuat Baik kepada Ibu

Selain hadits di atas, ada juga riwayat lain yang menegaskan bahwa Allah mewasiatkan manusia agar berbuat baik kepada ibu.

Dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan:

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ – ثَلَاثًا – إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ، إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ

Artinya:

Dari Miqdam bin Ma’dikarib RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada kalian agar berbuat baik kepada ibu-ibu kalian,” beliau mengulanginya tiga kali. “Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada kalian agar berbuat baik kepada ayah-ayah kalian. Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada kalian agar berbuat baik kepada kerabat yang paling dekat, kemudian yang dekat.”

Hadits ini semakin memperjelas bahwa berbuat baik kepada ibu bukan hanya anjuran biasa. Ia adalah wasiat agama. Seorang anak diperintahkan untuk menjaga hubungan baik dengan ibunya, melayani kebutuhannya, menjaga perasaannya, dan tidak menyakiti hatinya.

Hadits Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu

Di tengah masyarakat, kita sering mendengar kalimat “surga berada di bawah telapak kaki ibu.” Kalimat ini sangat populer dan memiliki makna yang benar, yaitu bahwa berbakti kepada ibu adalah salah satu jalan menuju surga.

Dalam Sunan an-Nasa’i disebutkan hadits dari Mu’awiyah bin Jahimah as-Sulami. Ia meriwayatkan bahwa Jahimah datang kepada Nabi SAW dan berkata ingin ikut berjihad serta meminta nasihat.

Rasulullah SAW kemudian bertanya apakah ia masih memiliki ibu. Ketika ia menjawab “ya”, Nabi SAW bersabda:

فَالْزَمْهَا فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا

Artinya:

“Tetaplah bersamanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kedua kakinya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh an-Nasa’i nomor 3104 dan diberi keterangan shahih. Makna hadits ini sangat dalam. Rasulullah SAW tidak sedang merendahkan jihad, tetapi sedang menunjukkan bahwa merawat ibu juga bisa menjadi jalan besar menuju surga. Ketika seorang ibu membutuhkan kehadiran anaknya, melayani ibu bisa menjadi amal yang sangat utama.

Ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu” tidak harus dipahami secara fisik. Maksudnya adalah berbakti, merawat, menghormati, dan membuat ibu ridha merupakan sebab besar seseorang mendapatkan surga.

Dengan kata lain, jalan menuju surga bisa terbuka melalui keridhaan ibu. Anak yang menjaga lisan kepada ibunya, tidak membentak, membantu kebutuhannya, dan mendoakannya termasuk orang yang sedang menempuh jalan kebaikan.

Namun, penting juga dipahami bahwa berbakti kepada ibu bukan berarti mengikuti semua perintah ibu tanpa batas. Jika ibu memerintahkan hal yang bertentangan dengan syariat, seorang anak tidak boleh menaati perintah tersebut. Meski begitu, ia tetap wajib berbicara dengan lembut dan menjaga adab.

Hadits kemuliaan ibu mengajarkan bahwa ibu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW menyebut ibu sebanyak tiga kali sebelum ayah, Allah mewasiatkan manusia agar berbuat baik kepada ibu, dan Nabi SAW juga menunjukkan bahwa berbakti kepada ibu dapat menjadi jalan menuju surga.

Ibu bukan hanya orang yang melahirkan, tetapi juga sosok yang merawat, mendoakan, mendidik, dan mencintai anaknya dengan kasih sayang yang sulit dibalas. Karena itu, setiap Muslim hendaknya menjadikan bakti kepada ibu sebagai amal utama dalam kehidupan sehari-hari.

Mulailah dari hal sederhana: berbicara lembut, sering menghubungi, membantu kebutuhannya, mendoakannya, dan tidak menyakiti hatinya. Selama ibu masih ada, muliakanlah beliau. Sebab, salah satu pintu surga bisa terbuka melalui keridhaan seorang ibu.

You might also like