Siapa Seburuk buruknya Manusia? Dalil & Ciri dalam Islam

Siapa Seburuk buruknya Manusia? Dalil & Ciri dalam Islam

Masjid Ismuhu Yahya – Dalam perjalanan hidup, setiap insan tentu ingin menjadi pribadi yang baik, bermanfaat, dan dicintai Allah SWT serta sesama. Namun, bagaimana kita bisa tahu sifat dan perilaku apa saja yang harus dihindari agar tidak tergolong sebagai “seburuk-buruknya manusia”? Pertanyaan ini bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan sebagai cermin diri untuk senantiasa berintrospeksi dan memperbaiki akhlak.

Seorang sahabat Nabi, Hudzaifah bin Yaman, pernah berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan, karena khawatir keburukan itu akan menimpaku.” Perkataan ini menggarisbawahi pentingnya memahami sifat-sifat tercela agar kita dapat menjauhinya. Artikel ini akan mengupas tuntas siapa saja yang digolongkan sebagai seburuk-buruknya manusia menurut ajaran Islam, lengkap dengan dalil Al-Qur’an dan Hadis, serta panduan untuk menghindarinya.

Mengapa Penting Memahami “Seburuk-buruknya Manusia”?

Memahami kategori “seburuk-buruknya manusia” merupakan langkah krusial dalam upaya perbaikan diri. Ini bukan ajakan untuk menghakimi atau melabeli orang lain, melainkan sebuah panggilan untuk muhasabah (introspeksi diri) yang mendalam. Dengan mengetahui ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, kita bisa menelisik apakah ada sedikit saja dari sifat-sifat tersebut yang bersemayam dalam diri kita.

Tujuan utama memahami materi ini agar kita terhindar dari perilaku yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, serta dampak buruknya di dunia maupun akhirat. Seperti nasihat Hudzaifah bin Yaman, mengetahui keburukan menjadi benteng pertama untuk tidak terjerumus ke dalamnya. Ini bagian dari ilmu yang bermanfaat untuk menjaga kebersihan hati dan kemuliaan akhlak.

Dalam Islam, terdapat dua perspektif yang perlu dibedakan terkait predikat “yang terburuk”:

1. Seburuk-buruknya Makhluk (Syarru ad-Dawabb):

Predikat ini secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an dan merujuk pada orang-orang kafir yang tidak beriman kepada Allah SWT dan terus-menerus memusuhi kebenaran.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَاۤبِّ عِنْدَ اللّٰهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَۖ

“Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk bergerak yang bernyawa dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tidak beriman.” (QS. Al-Anfal: 55).

Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang kafir yang mengingkari perjanjian dan memusuhi Nabi Muhammad SAW. Mereka disebut seburuk-buruk makhluk karena meskipun memiliki akal, mereka tidak menggunakannya untuk menerima kebenaran dan terus dalam kekufuran.

2. Seburuk-buruknya Manusia (Syarru an-Naas)

Predikat ini banyak disebutkan dalam Hadis Nabi Muhammad SAW dan merujuk pada individu-individu dari kalangan umat manusia (bisa Muslim atau non-Muslim) yang memiliki sifat-sifat tercela dan akhlak buruk. Fokus kita dalam artikel ini adalah pada kategori kedua, yaitu sifat-sifat yang membuat seseorang digolongkan sebagai seburuk-buruknya manusia menurut Rasulullah SAW, terutama yang berkaitan dengan akhlak dan interaksi sosial. Ini adalah pengingat bagi setiap Muslim untuk menjaga diri dari perilaku-perilaku tersebut.

Golongan Manusia Terburuk Menurut Rasulullah SAW

Rasulullah SAW telah menjelaskan berbagai ciri dan golongan yang termasuk dalam kategori seburuk-buruknya manusia. Mari kita telaah satu per satu, lengkap dengan dalil dan implikasinya.

1. Orang yang Bermuka Dua (Munafik)

Salah satu ciri paling mencolok dari seburuk-buruknya manusia adalah sifat bermuka dua, atau yang lebih dikenal dengan kemunafikan. Orang ini menunjukkan satu wajah di hadapan satu kelompok, dan wajah lain di hadapan kelompok lainnya, dengan tujuan mencari keuntungan pribadi atau memecah belah.

Rasulullah SAW bersabda:

تَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ، الَّذِي يَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ، وَيَأْتِي هَؤُلاَءِ بِوَجْهٍ

“Kalian akan mendapati seburuk-buruk manusia adalah orang-orang yang bermuka dua. Dia mendatangi kelompok yang ini dengan satu wajah, dan mendatangi kelompok lainnya dengan wajah lain pula.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah. Status: Sahih).

Sifat bermuka dua itu manifestasi dari ketidakjujuran dan pengkhianatan. Orang munafik tidak memiliki pendirian yang teguh, hatinya terbelah, dan lisannya tidak sejalan dengan isi hatinya. Mereka cenderung mencari amanah atau popularitas dengan berpura-pura baik di depan semua pihak. Akibatnya, mereka tidak pernah bisa dipercaya seutuhnya.

Al-Qur’an juga mengecam keras sifat munafik. Allah SWT berfirman:

إِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ فِى الدَّرْكِ الْاَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْرًاۙ

“Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 145).

Ayat ini menunjukkan betapa dahsyatnya balasan bagi orang munafik di akhirat kelak.

Contoh nyata saat ini, dalam lingkungan kerja, seseorang yang di depan atasan memuji-muji, namun di belakang menghasut rekan kerja lain atau mengkritik atasan tersebut, adalah contoh orang bermuka dua. Atau, di lingkungan sosial, seseorang yang mendekati dua kelompok yang berseteru, berpura-pura memihak keduanya demi menjaga citra atau informasi.

Maka cara terbaik untuk menghindari hal ini dengan menjaga kejujuran dalam setiap perkataan dan perbuatan. Miliki pendirian yang teguh berdasarkan kebenaran, bukan keuntungan sesaat. Berusaha untuk selalu konsisten antara hati, lisan, dan perbuatan.

2. Orang yang Ditakuti Sesama Karena Kejahatannya (Lisan dan Perbuatan)

Manusia diciptakan untuk hidup berdampingan, saling tolong-menolong, dan menebarkan kebaikan. Namun, ada golongan yang justru menjadi momok bagi lingkungannya karena kejahatan lisan dan perbuatannya.

Rasulullah SAW bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ

“Hai Aisyah, sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dihindari oleh manusia karena takut kejelekannya.” (HR. Muslim, dari Aisyah RA, no. 4693. Status: Sahih).

Hadis ini menekankan bahwa orang yang dijauhi atau ditinggalkan oleh orang lain karena keburukan akhlaknya, baik lisan (seperti ghibah, fitnah, sumpah serapah) maupun perbuatan (seperti berlaku zalim, menipu, menyakiti), adalah termasuk seburuk-buruknya manusia. Kejahatan lisan, khususnya, memiliki dampak yang luas dan merusak hubungan sosial. Orang yang gemar berucap kotor, menghina, atau menyebarkan permusuhan akan dijauhi karena menciptakan lingkungan yang tidak aman dan tidak nyaman.

Banyak kita temukan seorang tetangga yang sering bergosip, menyebarkan fitnah, atau memaki-maki orang lain, sehingga membuat warga lain enggan berinteraksi dengannya. Atau seorang pemimpin yang sering melakukan intimidasi, korupsi, dan menzalimi bawahannya, sehingga ditakuti dan dijauhi oleh rakyatnya.

Detok untuk sifat ini dengan menjaga lisan dari perkataan kotor, ghibah, fitnah, dan namimah (adu domba). Berhati-hatilah dalam setiap tindakan agar tidak menyakiti atau menzalimi orang lain. Berusahalah menjadi pribadi yang ramah, santun, dan menebarkan kebaikan agar disenangi dan dipercaya masyarakat.

3. Orang yang Menggadaikan Akhiratnya Demi Dunia Orang Lain

Sifat tamak terhadap dunia salah satu ujian besar bagi manusia. Namun, ada yang lebih parah, yaitu ketika seseorang bahkan rela menghancurkan akhiratnya demi merebut atau mendapatkan keuntungan duniawi milik orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَبْدًا أَذْهَبَ آخِرَتَهُ بِدُنْيَا غَيْرِهِ

“Di antara orang yang paling buruk kedudukannya pada Hari Kiamat adalah seseorang hamba yang menghancurkan akhiratnya demi merebut dunia milik orang lain.” (HR. Ibnu Majah, dari Abu Umamah. Status: Hasan menurut al-Bushiri).

Hadis ini menggarisbawahi betapa hinanya seseorang yang rela menukarkan kebahagiaan abadi di akhirat dengan kenikmatan dunia yang fana, apalagi jika kenikmatan itu adalah milik orang lain yang ia rebut secara zalim. Ini mencakup segala bentuk penipuan, korupsi, mengambil hak orang lain, atau bersaksi palsu demi keuntungan materi yang sebenarnya bukan miliknya. Kerugiannya berlipat ganda: kehilangan pahala di akhirat dan menanggung dosa kezaliman di dunia.

Seorang pegawai yang menerima suap atau melakukan korupsi demi memperkaya diri atau kelompoknya, padahal uang tersebut adalah hak rakyat atau perusahaan. Atau seorang pengacara yang memutarbalikkan fakta di pengadilan demi memenangkan kasus kliennya yang bersalah, dengan imbalan materi besar, sehingga merugikan pihak lain.

Maka, tanamkan keyakinan bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Jauhi sifat tamak dan serakah. Luruskan niat dalam setiap pekerjaan dan selalu ingat akan pertanggungjawaban di akhirat. Cukuplah dengan apa yang halal dan menjadi hak kita.

4. Orang yang Panjang Umurnya tetapi Buruk Amal Perbuatannya

Umur merupakan karunia Allah yang tak ternilai. Setiap detik adalah kesempatan untuk beramal saleh. Namun, ada orang-orang yang diberikan umur panjang, namun justru menggunakannya untuk terus berbuat maksiat dan keburukan.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ، وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

Terjemahan: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Dan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya tapi jelek amal perbuatannya.” (HR. Tirmidzi. Status: Hasan/Sahih).

Hadis ini menjadi pengingat bahwa kualitas hidup bukan hanya diukur dari panjangnya umur, melainkan dari keberkahan dan manfaat umur tersebut. Orang yang diberikan umur panjang namun terus-menerus dalam dosa, melalaikan ibadah, menyakiti orang lain, atau tidak pernah bertaubat, berarti telah menyia-nyiakan karunia terbesar dari Allah. Setiap tahun yang bertambah hanyalah menambah daftar dosanya, menjauhkan dirinya dari rahmat Allah.

Seseorang yang sudah tua, namun masih gemar bergosip, menyebarkan kebencian, atau melakukan tindakan zalim. Atau seseorang yang sepanjang hidupnya sibuk menumpuk harta dengan cara tidak halal, tanpa pernah beribadah atau beramal sosial.

Manfaatkan setiap detik umur untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perbanyak amal saleh, bertaubat dari dosa, dan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Jadikan sisa umur sebagai ladang pahala.

5. Suami yang Mengumbar Rahasia Ranjang Istrinya

Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam rumah tangga. Salah satu bentuk pengkhianatan terbesar terhadap kepercayaan ini adalah ketika seorang suami (atau istri) mengumbar rahasia-rahasia pribadi dalam rumah tangganya, terutama yang berkaitan dengan hubungan intim.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

“Sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang menggauli istrinya dan istrinya menggaulinya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya.” (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al-Khudri. Status: Sahih).

Hadis ini secara spesifik menyebutkan bahwa pengumbar rahasia ranjang adalah termasuk seburuk-buruknya manusia di hadapan Allah. Hubungan suami istri adalah ibadah yang bersifat sangat pribadi dan sakral. Mengumbar detailnya kepada orang lain, bahkan kepada teman terdekat sekalipun, adalah bentuk pelanggaran etika, pengkhianatan kepercayaan, dan perbuatan yang sangat tercela. Ini merusak martabat pasangan dan kehormatan rumah tangga.

Seorang suami yang menceritakan detail hubungan intimnya dengan istri kepada teman-teman nongkrongnya, atau seorang istri yang mengeluhkan kekurangan suaminya di ranjang kepada sahabatnya.

Jaga kerahasiaan rumah tangga sebagai amanah dari Allah. Hormati privasi pasangan dan ingatlah bahwa setiap rahasia rumah tangga adalah bagian dari kehormatan yang harus dijaga. Komunikasikan masalah internal rumah tangga hanya kepada pihak yang berwenang (seperti ulama atau penasihat perkawinan) jika memang diperlukan, bukan untuk konsumsi publik.

6. Orang yang Enggan Sadar Terhadap Ayat Suci Al-Qur’an

Al-Qur’an salah satu petunjuk hidup, penawar hati, dan pembeda antara yang hak dan batil. Namun, ada sebagian orang yang membacanya, bahkan mungkin menghafalnya, tetapi hatinya tidak tersentuh dan perilakunya tidak berubah.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِنْ شَرِّ النَّاسِ عَبْدًا مَرِدًا مُتَمَرِّدًا يَقْرَأُ كِتَابَ اللَّهِ فَلَا يَنْزَجِرُ بِشَيْءٍ مِنْهُ

Terjemahan: “Di antara manusia yang terburuk adalah seorang pendurhaka lagi kurang ajar, yang membaca kitab Allah namun tidak tersadarkan oleh satu pun darinya.” (HR. Ahmad. Status: Hasan).

Hadis ini menyoroti bahwa membaca Al-Qur’an tanpa mengambil pelajaran dan mengamalkannya adalah perilaku yang buruk. Al-Qur’an diturunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk direnungi, dipahami, dan dijadikan pedoman hidup. Orang yang membaca Al-Qur’an namun hatinya tetap keras, tidak tergerak untuk menjauhi larangan atau melaksanakan perintah, menunjukkan sifat membangkang dan kurang ajar terhadap Kalamullah. Mereka hanya mengambil Al-Qur’an sebagai bacaan bibir, bukan petunjuk hati.

Seseorang yang rutin membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi masih sering berbuat zalim, berbohong, atau meninggalkan salat. Atau seorang pejabat yang bersumpah di atas Al-Qur’an namun kemudian melakukan korupsi.

Bacalah Al-Qur’an dengan tadabbur (merenungi maknanya). Pelajari tafsirnya, dan usahakan untuk mengamalkan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan yang ada di dalamnya. Jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar hiasan atau bacaan tanpa makna.

7. Orang yang Menjumpai Hari Kiamat dalam Keadaan Hidup (dan Kufur)

Hadis ini berbicara tentang golongan manusia yang paling buruk di akhir zaman, yaitu mereka yang akan menjadi saksi datangnya hari kiamat dan berada dalam keadaan kufur.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ عَلَى شِرَارِ النَّاسِ

“Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada seburuk-buruknya manusia.” (HR. Muslim. Status: Sahih).

Kiamat adalah peristiwa besar yang akan didahului oleh berbagai tanda dan fitnah. Orang-orang beriman akan diwafatkan sebelum kiamat besar terjadi. Dengan demikian, mereka yang hidup dan menyaksikan kiamat besar adalah mereka yang telah mencapai puncak kekufuran, kejahatan, dan kebejatan moral. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki iman sedikit pun di hati mereka dan telah merusak bumi dengan segala bentuk kejahatan.

Ini merujuk pada gambaran umum tentang kondisi moral dan spiritual manusia di akhir zaman yang telah rusak parah, di mana keimanan telah sirna dan kejahatan merajalela. Mereka adalah simbol dari puncak kerusakan manusia.

Teruslah berpegang teguh pada tauhid dan ajaran Islam. Perkuat iman dan takwa, serta jauhi segala bentuk kemaksiatan dan kekufuran. Berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah sebelum fitnah akhir zaman yang besar terjadi.

Dampak dan Konsekuensi Menjadi “Manusia Terburuk”

Menjadi golongan seburuk-buruknya manusia tidak hanya membawa kerugian di akhirat, tetapi juga di dunia. Beberapa dampaknya antara lain:

  • Kehilangan Kepercayaan dan Dijauhi Masyarakat: Sifat-sifat buruk seperti munafik, kejam lisan, atau penipu akan membuat seseorang kehilangan kepercayaan dari orang lain. Mereka akan dijauhi, diasingkan, bahkan ditakuti. Lingkungan sosial menjadi tidak nyaman dan penuh kecurigaan.
  • Hidup Penuh Kegelisahan: Hati yang dipenuhi sifat-sifat buruk tidak akan pernah menemukan ketenangan. Mereka akan selalu dihantui rasa bersalah (jika masih punya iman) atau kecemasan karena perbuatannya.
  • Kesulitan dalam Rezeki dan Urusan: Kehilangan kepercayaan bisa berdampak pada kesulitan dalam pekerjaan, bisnis, dan berbagai urusan hidup lainnya. Pintu-pintu kebaikan akan tertutup.
  • Azab Pedih di Akhirat: Konsekuensi terbesar adalah azab Allah di akhirat. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa’: 145, orang munafik akan ditempatkan di dasar neraka. Sementara hadis-hadis lain juga menegaskan kedudukan yang sangat buruk di sisi Allah pada Hari Kiamat bagi mereka yang memiliki sifat-sifat tercela ini.

Dengan memahami siapa seburuk-buruknya manusia adalah sebuah undangan untuk berkaca, bukan untuk menghakimi. Semoga kita semua dapat menjaga diri dari sifat-sifat tercela yang disebutkan oleh Rasulullah SAW, sehingga dapat menjadi pribadi yang lebih baik, diridai Allah, dan bermanfaat bagi sesama.

You might also like