Berapa Hari Puasa Muharram: Panduan Lengkap dan Keutamaannya

Berapa Hari Puasa Muharram: Panduan Lengkap dan Keutamaannya

Masjid Ismuhu Yahya – Berapa hari puasa Muharram yang dianjurkan dalam Islam?, menjadi pertanyaan yang muncul dalam benak umat islam menjelang hadirnya tahun baru islam ini. Bulan yang menjadi salah satu bulan mulia dalam islam ini memiliki tempat yang spesial dalam islam. Bulan ini bukan hanya terletak pada statusnya sebagai bulan pertama dalam islam, namun juga banyak peristiwa bersejarah dalam islam terjadi pada bulan yang mulia ini. Pada artikel kali ini akan dibahas dengan ringkas berapa jumlah hari puasa yang dilaksanakan pada bulan ini?.

Definisi dan Hukum Puasa Muharram

Puasa muharram termasuk dalam salah satu puasa sunnah yang dilakukan pada bulan muharram ini. Bulan pertama dalam kalender islam ini menjadi tonggak untuk melakukan amal kebaikan yang lebih baik. Mengutip dari Fatwa MUI dan berbagai referensi kitab fikih islam, status hukum puasa pada bulan ini adalah sunnah. Sebagaimana yang telah Rasulullah SAW sampaikan dalam sabdanya:

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram”.

Dengan memaknai hadits ini dapat disimpulkan bahwa kemuliaan puasa di bulan ini sangat besar sekali. Bahkan ulama-ulama syafi’i yang mayoritas diikuti islam di Indonesia menegaskan bahwa puasa ini merupakan puasa sunnah muakkad. Bahkan sampai-sampai Imam Nawawi menyampaikan bahwa semakin banyak hari yang berpuasa di Muharram, semakin baik (sepanjang tidak memberatkan).

Jumlah Hari Yang Umum Diamalkan

Merujuk pada kitab-kitab para ulama bahwa jumah hari puasa yang paling utama itu terdiri dari pada tiga hari saja, yaitu 9, 10 dan 11 muharram. Jika tidak mampu berpuasa ketiganya, maka puasa Tasu’a (9) dan Asyura (10) saja sudah sangat dianjurkan. Jika lagi tidak mampu, minimal puasa Asyura (10 Muharram) saja sudah utama.

Namun, sebenarnya umat Islam boleh saja menambah hari lain di Muharram (selama bukan saat haram berpuasa), sesuai hadits bahwa

“semakin banyak puasa di bulan Muharram semakin baik”

Ada riwayat Ibnu Abbas bahwa puasa tanggal 1 dan 11 Muharram juga dianjurkan agar umat berbeda dengan Yahudi. Berpuasa seluruh bulan bukan kewajiban, namun sebagian orang melakukan puasa sunah muthlaq (manfaat umum) setiap bulan hijriyah termasuk Muharram jika mampu. Yang jelas, fokus utamanya adalah memperbanyak puasa di hari-hari favorit tersebut (9–11) berdasarkan tuntunan Nabi SAW.

Sejarah Singkat Puasa Asyura dan Tasu’a

Puasa 10 Muharram, dikenal sebagai puasa Asyura, memiliki latar belakang historis penting. Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura) untuk mengenang penyelamatan Nabi Musa as. dari Fir’aun. Maka Nabi SAW menyatakan diri lebih berhak terhadap Musa dan berpuasa Asyura bersama sahabat. Hadis shahih Bukhari menyebutkan: “Nabi SAW tiba di Madinah dan melihat orang-orang Yahudi berpuasa hari Asyura. Beliau bersabda: ‘Aku lebih berhak kepada Musa daripada kalian’, lalu beliau berpuasa dan menyuruh para sahabatnya berpuasa.”. Ini menunjukkan puasa Asyura berasal dari tradisi para nabi terdahulu, kemudian disyariatkan kembali oleh Nabi SAW sebagai syukur kepada Allah.

Pada masa Jahiliyah, sebagian orang Quraisy juga berpuasa Asyura. Rasulullah pun memerintahkan melanjutkan puasa ini hingga puasa Ramadan diwajibkan, dan menyatakan “barang siapa hendak berpuasa Asyura silakan, yang tidak mau tidak apa”. Setelah wukuf di Arafah wajib pada Dzulhijjah ditetapkan, puasa Asyura tetap dianjurkan bagi yang mampu.

Puasa Tasua (9 Muharram) muncul kemudian. Dalam sebuah riwayat shahih, setelah Nabi SAW berpuasa pada Asyura dan para sahabat khawatir itu adalah tradisi Yahudi, beliau bersabda bahwa tahun depan, insya Allah, umat Islam akan berpuasa pada tanggal 9 Muharram juga. Namun, tahun berikutnya Rasulullah wafat sebelum sempat melaksanakannya. Sebagai penyempurna Asyura dan tanda berbeda dari umat Yahudi, sebagian ulama menganjurkan puasa 9 dan 11 Muharram (sehari sebelum dan sesudah Asyura). Pernyataan Imam Nawawi menguatkan anjuran ini untuk membedakan dengan Yahudi.

Keutamaan dan Hikmah Puasa Muharram

Terdapat banyak hikmah dan keutamaan puasa Muharram:

  • Menghapus dosa setahun. Hadits shahih menyatakan puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu. Dengan puasa di Asyura, seorang mukmin diberi pahala pengampunan sebanyak peluang satu tahun.
  • Berpahala besar. Rasulullah saw. bersabda puasa Muharram adalah yang paling utama setelah Ramadhan, artinya pahalanya sangat besar. Hadits lain menyebut Allah akan membebaskan 70 orang dari siksa neraka bagi yang berpuasa Asyura.
  • Meningkatkan ketakwaan. Puasa adalah bentuk ketaatan kepada Allah, sehingga menjalankannya di bulan suci ini meningkatkan rasa syukur dan disiplin spiritual. Hadits Sahih Al-Bukhari menyebut puasa Asyura sebagai hari yang dicintai Rasulullah SAW.
  • Menyelisihi kebiasaan. Nabi SAW mengajarkan umatnya untuk “menyelisihi” (membedakan diri) dari tradisi kaum lain, yakni Yahudi yang juga puasa Asyura. Oleh sebab itu dianjurkan puasa 9 Muharram sebagai penyempurna. Ini menunjukkan pentingnya mengikuti sunah Nabi, bukan tradisi nenek moyang semata.
  • Doa dan riyadah. Secara budaya, puasa di Awal Muharram menjadi sarana introspeksi diri menjelang tahun baru Islam. Selain puasanya, umat dianjurkan memperbanyak doa dan sedekah. Kombinasi ibadah ini mendatangkan keberkahan bagi pelaku.
  • Keutamaan-keutamaan ini diperkuat oleh hadis-hadis shahih (Bukhari, Muslim, Baihaqi, dll.). Menjalankan puasa Muharram berarti meneladani Nabi dan meningkatkan amal ibadah di bulan yang dimuliakan Allah.

Demikian artikel singkat ini, semoga menjadi pelajaran bagi kita yang membacanya.

You might also like