Adab Bepergian dalam Islam: Panduan Lengkap & Doa Musafir

Adab Bepergian dalam Islam: Panduan Lengkap & Doa Musafir

Masjid Ismuhu Yahya – Bepergian atau safar merupakan aktivitas yang tak bisa lepas dari kehidupan manusia. Baik hal itu digunakan untuk pekerjaan, silaturahmi, mencari ilmu, hingga berwisata. Dalam islam, safar bukan hanya perpindahan fisik dari satu tempat ke daerah lain. Bepergian (safar) bisa menjadi ibadah jika dilakukan sesuai dengan adab bepergian dalam islam. Maka, perlu bagi seorang muslim untuk mengerti serta memahami topik satu ini.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menggambarkan safar sebagai “Sepotong Azab”. Hal ini menjadi pengingat bahwa setiap perjalanan kadang disertai kesulitan, baik berupa kelelahan, rasa rindu, hingga potensi bahaya. Sehingga dalam islam kita dibekali adab serta doa agar safar yang dilakukan dalam perlindungan Allah SWT. Artikel ini akan memandu Anda memahami adab bepergian dalam Islam secara komprehensif, mulai dari persiapan hingga kembali pulang, lengkap dengan doa-doa dan keringanan ibadah di dalamnya.

Memahami Jenis-Jenis Safar dalam Islam

Sebelum menyelami lebih jauh tentang adabnya, penting untuk mengetahui bahwa safar memiliki beragam jenis hukum dalam Islam, bergantung pada niat dan tujuannya. Pemahaman ini membantu kita meluruskan niat agar perjalanan bernilai ibadah.

  1. Safar Haram: Perjalanan yang bertujuan maksiat atau melanggar syariat, seperti mencari rezeki haram, berzina, atau menyebarkan fitnah.
  2. Safar Wajib: Perjalanan yang hukumnya wajib, seperti menunaikan ibadah haji dan umrah bagi yang mampu, atau perjalanan untuk memenuhi panggilan jihad (dalam kondisi tertentu).
  3. Safar Sunah: Perjalanan yang dianjurkan, seperti safar untuk menuntut ilmu agama, silaturahmi ke kerabat, berdakwah, atau mengunjungi masjid Nabawi dan Masjidil Aqsa.
  4. Safar Mubah: Perjalanan yang hukumnya boleh atau netral, seperti bepergian untuk rekreasi, bisnis halal, atau mengunjungi teman, selama tidak melanggar syariat.
  5. Safar Makruh: Perjalanan yang sebaiknya dihindari, contohnya bepergian sendirian tanpa keperluan mendesak, atau safar yang berpotensi menimbulkan kemudaratan tanpa alasan kuat.

Niat yang lurus dan tujuan yang baik akan mengubah safar mubah menjadi bernilai sunah, bahkan wajib. Sebaliknya, niat yang buruk dapat mengubah safar mubah menjadi makruh, atau bahkan haram.

Adab Bepergian dalam Islam Sebelum Memulai Perjalanan

Persiapan yang matang adalah kunci untuk perjalanan yang berkah. Adab-adab berikut wajib diperhatikan sebelum Anda melangkah:

  • Meluruskan Niat karena Allah SWT
    Setiap perbuatan tergantung niatnya. Niatkan perjalanan Anda karena Allah SWT. Apakah untuk ibadah (haji/umrah), menuntut ilmu, mencari rezeki halal, silaturahmi, atau sekadar tadabbur alam dan mensyukuri ciptaan-Nya. Contoh niat:
    • “Ya Allah, aku niat bepergian untuk mencari rezeki halal-Mu agar bisa menafkahi keluarga.”
    • “Ya Allah, aku niat bepergian untuk silaturahmi ke orang tua dan sanak famili demi menjaga hubungan baik.”
    • “Ya Allah, aku niat bepergian untuk menunaikan ibadah umrah, mengharap ridha-Mu.”
  • Menyelesaikan Tanggung Jawab
    Pastikan tidak ada hutang, amanah, atau tanggungan nafkah keluarga yang terbengkalai. Selesaikan sebelum berangkat agar hati tenang dan tidak ada hak orang lain yang terabaikan. Ini juga termasuk menyiapkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan.
  • Memohon Petunjuk dan Perlindungan (Salat Istikharah)
    Jika Anda ragu atau bimbang dalam memutuskan perjalanan, laksanakan salat Istikharah. Mohonlah petunjuk kepada Allah agar diberikan pilihan terbaik dan dimudahkan segala urusan.
  • Menyiapkan Bekal yang Halal dan Cukup
    Bekal bukan hanya materi, tetapi juga bekal spiritual. Siapkan pakaian, makanan, dan minuman yang halal dan mencukupi selama perjalanan. Jangan berlebihan, tetapi jangan pula menyusahkan diri atau orang lain. Bekal spiritual berupa kesiapan mental, kesabaran, dan tawakal juga penting.
  • Berpamitan dan Saling Mendoakan
    Sunnah berpamitan kepada keluarga, tetangga, atau teman yang ditinggalkan. Mintalah doa dari mereka dan doakan pula mereka yang ditinggalkan. Ini mempererat silaturahmi dan memohon keberkahan.

• Doa musafir untuk yang ditinggalkan:
أَسْتَوْدِعُكُمُ اللَّهَ الَّذِي لَا تَضِيعُ وَدَائِعُهُ
(Astaudi’ukumullahal ladzi la tadhi’u wada’i’uhu)
Artinya: “Aku menitipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.”
• Doa orang yang ditinggalkan untuk musafir:
أَسْتَوْدِعُ اللَّهَ دِينَكَ، وَأَمَانَتَكَ، وَخَوَاتِيمَ عَمَلِكَ
(Astaudi’ullaha diinaka, wa amanataka, wa khawatima ‘amalik)
Artinya: “Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan akhir amalanmu.”

  • Memilih Teman Safar yang Saleh dan Mengangkat Pemimpin Rombongan
    Rasulullah SAW tidak menganjurkan safar sendirian.

    “Seandainya manusia mengetahui perkara yang ada pada safar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, tentu seorang musafir tidak akan melakukan safar pada malam hari sendirian.” (HR. Bukhari)

    Jika memungkinkan, bepergianlah bersama teman yang saleh agar bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan membantu saat kesulitan. Jika rombongan lebih dari tiga orang, dianjurkan mengangkat seorang pemimpin agar perjalanan lebih teratur dan terkoordinasi, sebagaimana sabda Nabi,

    “Apabila terdapat tiga orang dalam sebuah perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin.” (HR. Abu Daud No. 2242)

  • Memilih Waktu Terbaik untuk Berangkat
    Sebagian ulama menganjurkan berangkat di pagi hari atau hari Kamis karena itu adalah waktu yang diberkahi. Namun, yang terpenting adalah memilih waktu yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan perjalanan, serta mempertimbangkan keselamatan.

Doa-doa Penting Saat Bepergian

Membaca doa adalah tameng dan penguat spiritual seorang musafir. Ini adalah cara kita berserah diri dan memohon pertolongan Allah SWT. Muslim.or.id dan Liputan6.com juga menekankan pentingnya doa-doa ini.

1. Doa Keluar Rumah

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

(Bismillâhi tawakkaltu ‘alallâh, lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh)
Artinya: “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”

2. Doa Naik Kendaraan

• Doa Umum (darat, laut, udara):

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

(Subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa maa kunnaa lahu muqrinin, wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibun)
Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (QS. Az-Zukhruf: 13-14)

• Doa Khusus Kendaraan Darat (Mobil/Motor):

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ، وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ، وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ، وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

(Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin. Wa inna ila Rabbina lamunqalibun. Allahumma inna nas’aluka fi safarina hadzal birra wat taqwa, wa minal ‘amali ma tarda. Allahumma hawwin ‘alaina safarana hadza, wathwi ‘anna bu’dahu. Allahumma Antas sahibu fis safari wal khalifatu fil ahli. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsa-is safari, wa kaabati manzhari, wa su-il munqalabi fil mali wal ahli)

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya. Ya Allah, Engkau adalah teman dalam perjalanan dan pelindung bagi keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan tempat kembali yang buruk dalam harta dan keluarga.”

3. Doa Saat Melalui Tanjakan dan Turunan

  • Saat Tanjakan: Bertakbir (Allahu Akbar)
  • Saat Turunan: Bertasbih (Subhanallah)

4. Doa Saat Singgah di Suatu Tempat

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

(A’udzu bikalimatillahit tammaati min syarri ma khalaq)
Artinya: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang Dia ciptakan.”

5. Memperbanyak Zikir dan Doa

Musafir termasuk golongan yang doanya mustajab. Hadits menyebutkan,

“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’.” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud no. 1536)

Manfaatkan waktu perjalanan untuk berzikir, membaca Al-Qur’an, dan memohon kebaikan dunia akhirat.

Adab Setelah Menyelesaikan Perjalanan

Mengakhiri perjalanan juga memiliki adabnya agar keberkahannya tetap terjaga hingga kita kembali ke rumah.

  1. Segera Kembali ke Keluarga Jika Urusan Sudah Selesai
    Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian telah menyelesaikan hajatnya di perjalanan, maka hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan pentingnya kembali kepada keluarga setelah urusan selesai, agar tidak berlama-lama dalam kondisi safar yang terkadang sulit.
  2. Mengabarkan Kedatangan kepada Keluarga
    Beritahukan waktu kedatangan Anda agar keluarga tidak khawatir dan bisa menyambut dengan sukacita. Ini juga termasuk adab menjaga perasaan keluarga.
  3. Membaca Doa Ketika Melihat Kampung Halaman
    Ketika sudah mendekati atau melihat kampung halaman, bacalah doa:

    آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
    (Aayibuuna taa’ibuuna ‘aabiduuna li Rabbina haamiduun)
    Artinya: “Kami kembali dalam keadaan bertaubat, beribadah, dan memuji Tuhan kami.”

  4. Salat Dua Rakaat Setelah Kembali dari Safar
    Dianjurkan untuk salat dua rakaat di masjid terdekat setelah kembali dari safar, sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas keselamatan dan kemudahan yang diberikan. Rasulullah SAW biasanya melakukan hal ini.
  5. Membawa Oleh-oleh (Jika Memungkinkan)
    Membawa oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat adalah tradisi yang baik dan dapat mempererat tali silaturahmi, meskipun bukan sebuah kewajiban. Ini menunjukkan perhatian dan cinta kepada mereka.

Bepergian bisa menjadi karunia sekaligus ujian. Dengan memahami dan mengamalkan adab bepergian dalam Islam, setiap langkah kita dapat menjadi penambah amal kebaikan, penjaga hati dari kelalaian, dan pembuka pintu keberkahan. Niatkanlah setiap perjalanan karena Allah, persiapkan diri dengan baik, jaga ibadah dan akhlak di sepanjang jalan, serta bersyukurlah saat kembali. Semoga setiap safar kita membawa manfaat, keselamatan, dan keberkahan dari-Nya.

You might also like