Adab Terhadap Guru dalam Islam – Dalil & Panduan Lengkap

Adab Terhadap Guru dalam Islam – Dalil & Panduan Lengkap

Masjid Ismuhu Yahya – Islam menempatkan guru dan orang berilmu pada posisi terhormat karena mereka menjadi pintu ilmu dan kebaikan bagi umat. Oleh karena itu, adab terhadap guru dalam Islam wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap murid. Rasulullah SAW sendiri bersabda bahwa tidak termasuk golongan umatnya orang yang tidak memuliakan yang lebih tua. Konsep memuliakan guru ini mendapat dukungan dari Al-Qur’an. Misalnya Allah SWT berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, … Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat ini (QS. Al-Mujadalah [58]:11) menjelaskan bahwa Allah meningkatkan derajat orang-orang berilmu, termasuk guru-guru dan para pembimbing ilmu. Dengan demikian, menghormati guru adalah wujud penghargaan atas anugerah ilmu. Dalam konteks dakwah, hal ini juga menegaskan bahwa guru yang mengajarkan Al-Qur’an dan Syariah harus dihormati.

1. Dasar Al-Qur’an dan Hadits tentang Guru

Kita menelusuri dalil-dalil agama yang menekankan penghormatan kepada guru. Selain QS. Al-Mujadalah 11 di atas, Al-Qur’an juga menyebutkan kebesaran orang berilmu:

Allah bersaksi, “Allah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia, dan para malaikat serta orang-orang yang berilmu menyatakan yang sama…” (QS. Ali ‘Imran [3]:18)

Dalam ayat ini orang berilmu (ulama/guru) disandingkan dengan malaikat, menunjukkan kedudukan mulianya. Dalam surat Fathir ayat 28 disebutkan bahwa yang paling takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah orang berilmu. Ulama klasik menafsirkan ini sebagai keunggulan orang yang memiliki ilmu karena dari ilmu itu timbul ketakwaan dan kemuliaan.

Dalil dari Al-Qur’an di atas diperkuat oleh beragam hadits Nabi SAW tentang guru dan orang berilmu. Salah satu hadits menyatakan:

“Barang siapa memuliakan seorang ‘ālim (orang berilmu/guru), maka ia memuliakan aku. Barang siapa memuliakan aku, berarti ia memuliakan Allah. Dan barang siapa memuliakan Allah, maka tempat kembali (pulangnya) adalah surga.”.

Hadits ini menegaskan bahwa menghormati orang alim setara dengan menghormati Rasulullah dan Allah, menjadikan murid beruntung dunia-akhirat. Selain itu, Nabi SAW bersabda:

“Barang siapa memandang wajah orang alim (guru) dengan satu tatapan lalu ia senang dengannya, maka Allah Ta’ala menciptakan malaikat dari tatapan itu dan memohonkan ampun untuknya hingga Hari Kiamat.”.

Artinya, sekilas melihat guru sambil merasa kagum sudah mendapat berkah yang besar. Sementara hadits lain menegaskan: “Hendaklah kalian memuliakan para ulama karena mereka pewaris para nabi…”. Semua ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan guru/ulama. Bahkan Nabi SAW mengumpamakan murid yang menuntut ilmu sebagai orang yang berjalan menuju surga:

“Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan ke surga…” (HR. Muslim).

Dengan demikian, menjaga akhlak dan sopan santun kepada guru adalah bagian dari ibadah menuntut ilmu.

2. Definisi dan Pentingnya Adab Guru

Secara bahasa, adab berarti tata krama, sopan santun, atau tata perilaku yang baik. Dalam konteks guru-murid, adab mencakup segala sikap dan tindakan murid yang menghormati guru sebagai pendidik. Hal ini meliputi rasa hormat, patuh, sabar, dan rendah hati di hadapan guru. Rasulullah SAW juga bersabda:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.”.

Hadits ini mengingatkan agar murid menghormati guru yang lebih tua dan berpengalaman. Islam mengajarkan bahwa guru tidak saja mengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga meneladani akhlak mulia. Oleh karena itu, murid yang menghargai gurunya akan memperoleh berkah ilmu dan akhlak baik. Banyak ulama klasik maupun kontemporer menekankan bahwa baik murid maupun guru harus saling beradab. Sebagai contoh, Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan guru agar bersikap lembut dan sabar terhadap murid, dan sebaliknya murid harus menunjukkan kelembutan hati dan menghargai gurunya.

Dalam dunia pendidikan Islam (pesantren, madrasah, kampus), adab guru-murid dijadikan aturan baku. Guru (ustadz/kiai) dihormati sebagai “orang tua kedua” dalam menuntut ilmu. Dengan adab yang baik, suasana majelis ilmu menjadi nyaman dan pelajaran bisa terserap penuh oleh murid. Sebaliknya, sikap rendah diri dan patuh murid kepada guru adalah bukti keimanan dan penghargaan terhadap amanah ilmu yang disampaikan.

3. Contoh Adab Murid kepada Guru

Adab murid kepada guru dapat diwujudkan dalam berbagai hal. Berikut contoh perilaku konkret yang sering diajarkan dalam Islam:

  • Mendahului Salam. Murid hendaknya memberi salam kepada guru terlebih dahulu saat bertemu. Sebagaimana anjuran Nabi SAW: yang muda memberikan salam kepada yang lebih tua. Ini menunjukkan penghormatan sejak awal perjumpaan.
  • Sopan dalam Berbicara. Saat guru sedang menjelaskan, murid harus diam mendengar dan menunggu giliran berbicara. Hindari bicara tanpa izin dan memotong pembicaraan. Rasulullah SAW pernah menegur muridnya bahwa jika amanah (ilmu) tidak disampaikan dengan benar, “tunggulah kiamat” (artinya kerusakan ilmu). Dari sini kita belajar pentingnya mengajukan pertanyaan dengan sopan, bukan mengganggu pembicaraan.
  • Berbusana dan Bersikap Rapi. Menjaga penampilan rapi di depan guru juga termasuk adab. Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga keindahan dan kerapian. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT itu indah dan menyukai keindahan.”. Oleh karena itu, murid hendaknya berpakaian bersih dan sopan saat belajar.
  • Taat dan Hormat. Murid wajib mematuhi perintah guru selama tidak bertentangan dengan agama. Termasuk menghormati guru saat masuk dan keluar kelas (misalnya berdiri ketika guru masuk/keluar). Selain itu, murid harus menyebut guru dengan kata-kata yang sopan dan tidak menggurui balik.
  • Merendah Hati dan Bersyukur. Sikap rendah hati kepada guru sangat dianjurkan. Misalnya dengan menundukkan pandangan saat guru berbicara, dan tidak membanggakan diri saat memahami suatu pelajaran. Hadits nabi mengingatkan, jangan ada kesombongan sedikit pun dalam majelis ilmu. Murid juga harus sering mengucap syukur dan doa kepada Allah karena telah dimudahkan belajar oleh sang guru.
  • Tidak Mengolok-olok. Jangan mengejek atau mencela guru, baik secara langsung maupun di belakang. Meniru kebiasaan guru yang baik dan menjauhi kebiasaan buruknya (dengan menunjukkan rasa hormat) adalah wujud penghargaan yang sangat dianjurkan.

Sebagai rangkuman, beberapa cara menghormati guru adalah menyapa dengan salam, mendahulukan guru dalam majelis, memenuhi tugas belajar yang diberikan, bersikap baik dalam tutur-kata, dan berdoa agar guru selalu diberi kebaikan. Menjalankan hal-hal tersebut membuat ilmu yang kita peroleh menjadi berkah.

4. Pandangan Ulama dan Manfaat Adab Guru

Para ulama klasik dan kontemporer banyak menekankan adab kepada guru. Ulama pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari, misalnya menulis dalam kitab Adab al-‘Alim wa al-Mu’allim bahwa guru dan murid sama-sama harus memperhatikan etika belajar dan mengajar (mengutamakan akhlak Islami). Imam Al-Ghazali bahkan menyebut murid yang baik harus memposisikan guru lebih tinggi dari teman sebaya, sehingga dalam majelis ilmu ia patuh dan rendah hati.

Keutamaan memuliakan guru juga berdampak pada kualitas ilmu. Dengan adab yang baik, ilmu guru akan mudah diserap dan diamalkan oleh murid. Sebaliknya, jika murid mengabaikan adab, pelajaran bisa hilang atau tidak membawa manfaat. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi SAW, “Barang siapa berbuat baik kepadamu, balaslah dengan setimpal. Jika kau tidak mampu, maka doakanlah dia hingga kau merasakan sudah cukup.”. Oleh karena itu, mendoakan kebaikan bagi guru adalah salah satu cara membalas jasa mereka tanpa mengurangi pahala.

Manfaat lain dari beradab kepada guru adalah terciptanya lingkungan belajar yang harmonis. Murid yang beretika membantu guru lebih semangat mengajar, sedangkan guru yang dihormati cenderung lebih sabar dan tekun mendidik. Akhirnya, ilmu yang diturunkan menjadi lebih bernilai karena dijalani dalam suasana penuh keikhlasan dan penghormatan.

Adab terhadap guru dalam Islam bukan sekadar adat istiadat, melainkan perintah agama yang berpahala besar. Al-Qur’an dan hadits menegaskan bahwa guru dan orang berilmu harus dimuliakan. Oleh karena itu, setiap murid wajib menjaga sopan santun, patuh, dan rendah hati kepada gurunya. Praktik sederhana seperti memberi salam, mendengarkan dengan khusyuk, menata penampilan, dan mendoakan guru sudah termasuk adab mulia. Dengan mengikuti ajaran Islam dan teladan Rasulullah SAW, kita memuliakan guru sekaligus meraih keberkahan ilmu. Semoga Allah memberikan taufik bagi kita semua untuk menghargai para pendidik sesuai petunjuk-Nya.

You might also like