Bacaan Sholat Tahajud Rakaat Pertama dan Kedua, Tata Cara & Doa - Masjid Ismuhu Yahya

Bacaan Sholat Tahajud Rakaat Pertama dan Kedua, Tata Cara & Doa

Masjid Ismuhu Yahya – Doa meminta rezeki dan kemudahan adalah salah satu permohonan yang sering dipanjatkan umat Islam saat beribadah. Waktu terbaik untuk memohon hal ini, termasuk melalui sholat Tahajud, adalah di sepertiga malam terakhir ketika doa mudah dikabulkan. Sholat Tahajud merupakan sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah tidur. Ibadah ini tidak wajib, namun memiliki keutamaan besar: selain menghapus dosa, shalat Tahajud juga diyakini dapat mendatangkan rezeki dan memudahkan urusan hamba yang memintanya. Banyak orang mengerjakan Tahajud khusus untuk berdoa, misalnya membaca doa meminta rezeki dan kemudahan agar diberi kelancaran dalam hidup dan dimurahkan rezekinya.

Sholat Tahajud dikerjakan di waktu malam, tepatnya setelah sholat Isya hingga sebelum waktu subuh (terbit fajar). Sesuai makna katanya, Tahajud berarti bangun di malam hari – artinya sholat ini hanya sah jika dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu. Jika seseorang begadang semalam suntuk tanpa tidur, maka sholat sunnah yang ia lakukan sebelum subuh tidak tergolong Tahajud menurut sebagian ulama. Waktu paling utama untuk Tahajud adalah sepertiga malam terakhir (sekitar pukul 3-4 dinihari), saat suasana tenang dan doa diyakini lebih mustajab. Allah SWT berfirman mengenai keutamaan sholat malam:

“Pada sebagian malam, bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji” (QS Al-Isra: 79)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam (Tahajud)” (HR An-Nasa’i)

Jadi, Tahajud memiliki kedudukan istimewa sebagai ibadah sunnah yang mendekatkan hamba pada Allah dan membuka peluang dikabulkannya doa – termasuk doa memohon rezeki dan kemudahan.

Tata Cara dan Bacaan Sholat Tahajud Rakaat Pertama dan Kedua

Secara umum, tata cara sholat Tahajud sama seperti sholat sunnah dua rakaat pada umumnya. Niatnya diucapkan di dalam hati bersamaan dengan takbiratul ihram, dan pelaksanaannya terdiri dari dua rakaat diakhiri salam. Berikut langkah-langkah tata cara sholat Tahajud 2 rakaat beserta bacaan di rakaat pertama dan kedua:

  1. Niat dan Takbiratul Ihram
    Berdiri menghadap kiblat dan berniat di dalam hati untuk sholat Tahajud 2 rakaat karena Allah Ta’ala, lalu mengucapkan takbiratul ihram dengan mengangkat kedua tangan sambil mengucap “Allahu Akbar”. Contoh lafaz niat dalam hati: “Saya niat sholat sunnah Tahajud dua rakaat karena Allah Ta’ala.” (Boleh pula melafalkan niat secara lisan:

    Ushallī sunnata-t-tahajjud rak‘ataini lillāhi ta‘ālā,
    artinya: “Aku niat sholat sunnah Tahajud 2 rakaat karena Allah Ta’ala.”)

  2. Membaca Doa Iftitah
    Setelah takbir, sebelum membaca Al-Fatihah disunnahkan membaca doa iftitah (doa pembuka sholat). Contoh doa iftitah: “Subhanaka Allahumma wabihamdika, watabarakasmuka…” dan seterusnya, untuk mengagungkan Allah sebelum masuk bacaan Qur’an.
  3. Membaca Ta’awudz dan Al-Fatihah
    Selanjutnya membaca ta’awudz “A‘udzubillahi minasy-syaithanir rajim” untuk memohon perlindungan dari godaan setan, dilanjutkan membaca surat Al-Fatihah pada rakaat pertama hingga selesai. Membaca Al-Fatihah merupakan rukun sholat yang wajib dibaca pada setiap rakaat.
  4. Membaca Surat Pendek (Rakaat Pertama)
    Setelah Al-Fatihah, bacalah salah satu surat atau ayat-ayat Al-Qur’an. Pada rakaat pertama sholat Tahajud, banyak ulama menganjurkan membaca Surat Al-Kafirun. Surat Al-Kafirun (QS. 109) terdiri dari 6 ayat pendek yang maknanya menegaskan keteguhan tauhid. Membaca surat ini sesuai sunnah akan menambah kekhusyukan, namun bila tidak hafal, boleh membaca surat apapun yang mudah. (Contoh bacaan rakaat pertama: setelah Al-Fatihah membaca Surat Al-Kāfirūn).
  5. Rukuk
    Setelah selesai membaca surat, lanjutkan dengan gerakan rukuk. Membungkukkan badan hingga punggung rata, dengan kedua tangan memegang lutut. Baca tasbih saat rukuk: “Subhāna rabbiyal ‘azhīmi wabihamdih” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung, dan segala puji bagi-Nya) sebanyak tiga kali dengan tenang (tuma’ninah).
  6. I’tidal
    Bangun dari rukuk ke posisi berdiri tegak sambil mengucapkan “Sami‘allāhu liman hamidah” (Allah mendengar hamba yang memuji-Nya). Setelah tegak, baca doa i’tidal: “Rabbanā laka-l-hamd” atau lengkapnya “Rabbana lakal hamdu mil’us-samawati… walakal hamdu mil’ul ardi…” yang artinya memuji Allah “Wahai Tuhan kami, segala pujian bagi-Mu…”. Lakukan dengan tuma’ninah.
  7. Sujud Pertama
    Dari i’tidal, bertakbir lalu sujud dengan meletakkan tujuh anggota tubuh (kening, hidung, dua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki) ke lantai. Saat sujud, baca tasbih: “Subhāna rabbiyal a‘lā wabihamdih” (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi, dan segala puji bagi-Nya) tiga kali dengan khusyuk.
  8. Duduk di antara Dua Sujud
    Bangkit dari sujud pertama ke posisi duduk iftirasy (duduk di atas kaki kiri, kaki kanan tegak). Baca doa di antara dua sujud: “Rabbi ghfir lī, warhamnī, wajburnī, warfa‘nī, warzuqnī, wahdinī, wa ‘āfinī, wa’fu annī.” Artinya memohon ampunan, rahmat, kecukupan, keluhuran, rezeki, petunjuk, kesehatan, dan agar diampuni dosa. Pastikan tuma’ninah (tenang sejenak) dalam duduk ini.
  9. Sujud Kedua
    Sujud kembali seperti sujud pertama, sambil mengulang bacaan tasbih “Subhāna rabbiyal a‘lā…” tiga kali. Tuma’ninah sejenak sebelum bangkit mengakhiri rakaat.
  10. Bangkit ke Rakaat Kedua
    Setelah sujud kedua, bertakbir lalu bangkit berdiri memulai rakaat kedua. Gerakan pada rakaat kedua sama dengan rakaat pertama. Dimulai dengan membaca Al-Fatihah, lalu surat pendek. Pada rakaat kedua sholat Tahajud, ulama menganjurkan membaca Surat Al-Ikhlās setelah Al-Fatihah. Surat Al-Ikhlas (QS. 112) terdiri dari 4 ayat yang menegaskan keesaan Allah. (Contoh bacaan rakaat kedua: setelah Al-Fatihah membaca Surat Al-Ikhlāṣ.) Bila tidak hafal, boleh diganti surat lain yang mudah, karena tidak ada ketentuan surat wajib tertentu.
  11. Rukuk, I’tidal, Sujud
    Lakukan kembali gerakan rukuk, i’tidal, sujud pertama, duduk, dan sujud kedua di rakaat kedua dengan bacaan yang sama seperti rakaat pertama. Upayakan tetap tuma’ninah di setiap gerakan, tidak tergesa-gesa.
  12. Tasyahud Akhir dan Salam
    Setelah selesai sujud kedua pada rakaat kedua, duduklah tawarruk (duduk akhir) untuk membaca tasyahud akhir. Bacalah tahiyat lengkap, yaitu Attahiyyatu lillahi… sampai …‘ibadillahish-shalihin, kemudian syahadat dan shalawat Nabi hingga …innaKa Hamīdum Majīd. Setelah itu akhiri sholat dengan salam ke kanan dan kiri sambil menoleh: ucapkan “Assalamu’alaikum warahmatullah” dua kali. Dengan salam, selesailah sholat Tahajud dua rakaat.

Sholat Tahajud minimal dikerjakan 2 rakaat (satu salam). Tidak ada batas maksimal jumlah rakaatnya, bisa dikerjakan sebanyak mungkin sesuai kemampuan. Rasulullah ﷺ sendiri biasanya melaksanakan Tahajud 11 rakaat atau 13 rakaat (termasuk sholat Witir) dan menganjurkan umatnya tidak berlebihan di luar jumlah itu. Jadi setelah melaksanakan dua rakaat pertama dan kedua seperti tata cara di atas, Anda bisa melanjutkan sholat Tahajud dengan sepasang rakaat berikutnya lagi (misalnya 4, 6, 8 rakaat dan seterusnya), ditutup dengan sholat Witir sebagai penutup sholat malam. Namun, dua rakaat pertama sudah cukup jika waktu dan kemampuan terbatas. Yang penting, lakukan dengan ikhlas dan khusyuk.

Surat yang Dibaca saat Sholat Tahajud

Banyak yang bertanya, surat apa yang harus dibaca dalam sholat Tahajud? Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus mengenai surat yang wajib dibaca setelah Al-Fatihah dalam sholat Tahajud. Seorang muslim boleh membaca surah apapun yang dihafal dari Al-Qur’an. Surat pendek menjadi pilihan banyak orang agar lebih mudah dan khusyuk. Seperti telah disebut, Surat Al-Kafirun dianjurkan dibaca pada rakaat pertama dan Surat Al-Ikhlas pada rakaat kedua. Kedua surat ini pendek namun penuh makna tauhid, sehingga sangat baik dijadikan bacaan sholat Tahajud. Hal ini sesuai salah satu riwayat yang menyebut Rasulullah ﷺ sering membaca Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam sholat sunnah beliau.

Meskipun begitu, Anda bebas memilih surat apa saja. Allah SWT berfirman: “…Fa-qra’ū mā tayassara mina-l-Qur’ān” yang artinya “…Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.” (QS Al-Muzammil: 20). Ayat ini menegaskan bahwa dalam sholat malam, kita diberi kelonggaran untuk membaca ayat Al-Qur’an sesuai kemampuan hafalan masing-masing. Jadi, apabila belum hafal surat-surat panjang, tidak perlu memaksakan – boleh mengulang surat yang sama atau membaca ayat apa pun yang diingat.

Bagi yang memiliki kapasitas hafalan lebih, disunnahkan memperpanjang bacaan dalam sholat Tahajud. Beberapa ulama menganjurkan membaca Al-Qur’an secara berurut dalam sholat Tahajud dari malam ke malam, sehingga dalam jangka waktu tertentu (misal sebulan atau 40 hari) bisa mengkhatamkan seluruh Al-Qur’an. Pada praktiknya, Nabi Muhammad ﷺ dikenal kadang membaca surat yang sangat panjang dalam sholat malamnya. Terdapat hadits yang menceritakan Rasulullah pernah membaca Surat Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa dalam satu rakaat Tahajud – ini menunjukkan betapa beliau memperpanjang berdiri dalam sholat dengan bacaan Qur’an yang banyak. Bahkan disebutkan pula dalam hadits lain,

“Shalat (Tahajud) yang paling afdhal adalah yang panjang berdirinya (bacaan panjang)” (HR Muslim)

Tentu, ini bagi yang mampu dan khusyuk. Bagi kebanyakan orang, cukup membaca surat-surat pendek atau sedang sudah memadai. Kunci utamanya adalah membaca dengan tartil dan memahami maknanya semampu mungkin, agar sholat Tahajud semakin khusyuk.

Sebagai kesimpulan bagian ini: pada rakaat pertama dan kedua, surat yang umum dibaca adalah Al-Kafirun dan Al-Ikhlas sesuai sunnah. Namun, tidak wajib – surat apapun dari Al-Qur’an boleh dibaca. Jika mengerjakan lebih dari dua rakaat, dianjurkan membaca surat yang lebih panjang di rakaat-rakaat selanjutnya untuk menambah keutamaan, selama mampu khusyuk. Anda dapat menyesuaikan pilihan bacaan dengan kemampuan hafalan dan waktu yang tersedia. Wallahu a‘lam bish-shawab.

You might also like