Bagian Ka’bah yang Mustajab untuk Berdoa dalam Ajaran Islam - Masjid Ismuhu Yahya

Bagian Ka’bah yang Mustajab untuk Berdoa dalam Ajaran Islam

Masjid Ismuhu Yahya – Banyak umat Islam meyakini bahwa ada bagian Ka’bah yang mustajab untuk berdoa, yaitu titik-titik tertentu di sekitar Ka’bah yang doa yang dipanjatkan di sana lebih mudah dikabulkan. Keyakinan ini berasal dari ajaran Islam yang didukung oleh hadis-hadis Nabi Muhammad ﷺ serta penjelasan para ulama. Ka’bah sendiri adalah Baitullah (Rumah Allah) yang dimuliakan dalam Al-Qur’an sebagai tempat ibadah pertama di bumi. Karena kesuciannya, beberapa bagian Ka’bah memiliki keistimewaan khusus, di antaranya dipercaya sebagai tempat mustajab (mudah terkabulnya doa). Berikut ini penjelasan bagian-bagian Ka’bah yang dianggap mustajab untuk berdoa menurut Al-Qur’an, hadis shahih, dan pendapat ulama terpercaya.

Hajar Aswad: Batu Hitam dari Surga yang Penuh Keberkahan

Hajar Aswad adalah batu hitam yang terletak di sudut timur Ka’bah dan menjadi titik awal serta akhir putaran thawaf. Menurut hadis, Hajar Aswad berasal dari surga dan awalnya berwarna lebih putih sebelum akhirnya menghitam karena dosa-dosa manusia. Rasulullah ﷺ sangat menghormati batu ini; beliau selalu menyentuh dan menciumnya ketika thawaf, dan para sahabat pun mengikuti sunnah tersebut. Khalifah Umar bin Khattab RA bahkan pernah berkata saat mencium Hajar Aswad:

“Aku tahu engkau hanya batu yang tak bisa memberi manfaat atau mudarat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari)

Hal ini menunjukkan bahwa menghormati Hajar Aswad dilakukan semata karena mengikuti teladan Nabi, bukan karena batu tersebut dianggap memiliki kekuatan gaib.

Meski Hajar Aswad tidak disembah, Islam mengajarkan bahwa menyentuhnya memiliki nilai spiritual yang istimewa. Beberapa riwayat menyebutkan keutamaan Hajar Aswad, misalnya: “Menyentuh Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapus dosa.” Demikian sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA. Artinya, orang yang berhasil mengusap Hajar Aswad dengan tulus berharap ampunan, dosa-dosanya akan dihapuskan oleh Allah SWT. Selain itu, Hajar Aswad akan menjadi saksi di Hari Kiamat bagi orang-orang beriman yang menciumnya atau menyentuhnya dengan. Keistimewaan inilah yang membuat Hajar Aswad sangat dimuliakan; ia menjadi bagian Ka’bah yang mustajab untuk memohon ampunan dan keberkahan. Para ulama menjelaskan bahwa mengusap Hajar Aswad seolah-olah memperbarui ikrar keimanan kepada Allah, sehingga jamaah disunahkan berdoa memohon rahmat dan pengampunan saat menyentuhnya.

Multazam: Tempat Terkabulnya Doa di Pintu Ka’bah

Multazam adalah bagian dinding Ka’bah di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Panjangnya sekitar dua meter, dan tempat ini sering dipadati jamaah yang ingin berdoa sambil merapatkan tubuh ke Ka’bah. Secara bahasa, “Multazam” berasal dari kata iltazama yang berarti “merapatkan diri”, karena sunnahnya ketika berdoa di Multazam adalah menempelkan dada, pipi, lengan, dan telapak tangan pada dinding Ka’bah di area tersebut. Nabi Muhammad ﷺ sendiri dicontohkan pernah berdoa dengan menempel di Multazam setelah selesai thawaf. Sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ berdiri di antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad (di Multazam), lalu merapatkan dada dan pipinya ke dinding seraya berdoa kepada Allah. Para sahabat mengikuti tindakan beliau ini, menunjukkan bahwa Multazam memang tempat khusus untuk berdoa.

Dalam ajaran Islam, Multazam diyakini sebagai salah satu lokasi paling mustajab untuk memanjatkan doa. Para ulama menyebut bahwa doa yang dipanjatkan di Multazam akan dikabulkan atau diijabah Allah SWT. NU Online mengutip riwayat yang menjelaskan keistimewaan Multazam: tempat ini dijadikan Allah sebagai lokasi spesial di mana doa-doa yang disampaikan akan diijabah oleh-Nya. Karena itu, jamaah haji maupun umrah sangat dianjurkan tidak melewatkan kesempatan berdoa di Multazam dengan penuh khusyuk. Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di Multazam, sehingga kita boleh memanjatkan permohonan apa pun kepada Allah. Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar hanya menyarankan doa baik yang berisi pujian dan permohonan perlindungan ketika berada di Multazam. Intinya, kita dianjurkan memohon ampun, rahmat, dan kebaikan dunia-akhirat di tempat ini dengan merendahkan diri sepenuhnya di hadapan Allah SWT.

Hijr Ismail (Al-Hatim): Bagian Ka’bah yang Paling Disucikan

Di sebelah utara Ka’bah terdapat area setengah lingkaran yang dibatasi tembok rendah berwarna putih. Inilah Hijr Ismail, yang juga dikenal sebagai Al-Hatim. Hijr Ismail dulunya termasuk bagian dalam bangunan Ka’bah, namun saat Quraisy merenovasi Ka’bah sebelum kenabian Muhammad ﷺ, mereka kekurangan dana halal sehingga area ini tidak ikut dimasukkan ke bangunan Ka’bah
detik.com
. Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini dalam sebuah hadis shahih. Aisyah RA pernah menyampaikan keinginannya untuk masuk ke dalam Ka’bah dan shalat di dalamnya; maka Nabi ﷺ menggandeng tangan Aisyah ke area Hijr Ismail seraya bersabda:

“Salatlah di sini jika engkau ingin salat di dalam Ka’bah, karena Hijr (Hijir Ismail) ini adalah bagian dari Ka’bah. Kaummu (Quraisy) dulu kekurangan biaya ketika membangunnya, sehingga mereka terpaksa mengeluarkan bagian ini dari Ka’bah.” (HR Abu Dawud)

Berdasarkan hadis ini, Hijr Ismail resmi dianggap sebagai bagian Ka’bah secara hukum. Oleh sebab itu, shalat di Hijr Ismail nilainya sama dengan.

Hijr Ismail juga diyakini sebagai salah satu tempat yang paling mustajab untuk berdoa di Masjidil Haram. Sebagai bagian dari Ka’bah, area ini memiliki kemuliaan tersendiri dan kerap dijaga malaikat. Dalam beberapa keterangan ulama, disebutkan bahwa malaikat selalu menjaga pintu masuk Hijr Ismail dan memohonkan ampun bagi siapa pun yang shalat di situ. Karena keistimewaannya, jamaah haji atau umrah sangat dianjurkan mencari kesempatan untuk shalat sunah dan berdoa di dalam Hijr Ismail. Banyak orang berlomba-lomba masuk ke Hijr Ismail karena doa yang dipanjatkan di sana sangat diharapkan dikabulkan oleh Allah SWT. Bahkan, Hijr Ismail sering disebut sebagai “tempat diampuninya dosa” bila kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan bertaubat di sana. Secara spiritual-historis, Hijr Ismail juga dipercaya sebagai tempat Nabi Ismail AS dan ibunya, Siti Hajar, dimakamkan, sehingga area ini penuh berkah para nabi. Berdoa di Hijr Ismail berarti berdoa di dalam rumah Allah yang asli, sehingga besar harapan doa tersebut mustajab (dikabulkan).

Rukun Yamani: Sudut Ka’bah yang Diusap Nabi dan Dipanjatkan Doa

Rukun Yamani adalah sudut Ka’bah yang mengarah ke selatan (negeri Yaman), tepat sebelum sudut Hajar Aswad jika kita mengelilingi Ka’bah searah putaran thawaf. Letaknya di pojok barat daya Ka’bah, dan dinamakan “Yamani” karena menghadap ke arah Yaman. Rukun Yamani termasuk istimewa karena Rasulullah ﷺ selalu menyentuhnya setiap kali thawaf, meski beliau tidak menciumnya seperti Hajar. Menyentuh (mengusap) Rukun Yamani adalah sunnah Nabi yang kemudian diikuti para sahabat. Ibnu Umar RA berkata:

“Aku tidak pernah meninggalkan menyentuh dua sudut (Ka’bah) ini – yaitu Rukun Yamani dan Hajar Aswad – sejak aku melihat Rasulullah ﷺ melakukannya, baik di waktu sempit maupun lapang.” (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa dua sudut Ka’bah tersebut (Yamani dan Hajar Aswad) memiliki keutamaan sehingga Nabi dan para sahabat berusaha selalu mengusapnya saat thawaf.

Salah satu keutamaan Rukun Yamani adalah sebagai tempat memohon ampunan. Sesuai sabda Nabi ﷺ yang telah disebutkan sebelumnya, “Mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani bisa menghapus dosa.”. Penegasan ini juga diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa menyentuh Rukun Yamani akan menghapuskan berbagai kesalahan manusia. Hikmah di balik sunnah ini adalah bentuk istighfar (memohon ampun) dan ketundukan pada Allah ketika menyentuh bangunan suci-Nya. Selain itu, menurut Ibnu Abbas RA, di sudut Yamani terdapat malaikat yang selalu mengamini doa hamba Allah. Karena itu, dianjurkan saat kita menyentuh Rukun Yamani untuk berdoa, khususnya membaca “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzabannar” (QS Al-Baqarah:201) yang artinya: “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jauhkan kami dari siksa neraka.” Doa ini disunahkan dibaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, dan para ulama menyebut area antara dua sudut itu termasuk tempat mustajab untuk berdoa. Bahkan Ibnu Mas’ud RA mengisahkan bahwa setiap kali Rasulullah ﷺ mencapai Rukun Yamani saat thawaf, Jibril AS selalu menemuinya di tempat itu, menandakan keutamaan khusus sudut Ka’bah tersebut. Meski begitu, menyentuh Rukun Yamani sebaiknya dilakukan tanpa berebut secara brutal. Sahabat Jabir bin Zaid mengingatkan, “Jika tempat itu lapang, sentuhlah. Jika tidak, maka berlalulah tanpa memaksa.”. Pesan ini menekankan adab agar jangan sampai niat meraih pahala sunnah malah merugikan orang lain.

Mizab (Talang Emas Ka’bah): Pancuran Rahmat di Bawah Langit Ka’bah

Mizab Ka’bah adalah talang air berlapis emas yang terletak di atap bagian utara Ka’bah, tepat di atas area Hijr Ismail. Fungsinya sebagai saluran air hujan agar air dapat mengalir keluar dari atap Ka’bah ke Hijr Ismail. Karena posisinya menjorok di atas Hijr Ismail, bagian ini juga dikenal dengan sebutan Mizab ar-Rahmah yang berarti “talang rahmat”. Nama itu diberikan karena talang ini berada di tempat yang dipenuhi limpahan rahmat Allah. Secara historis, Mizab belum ada di zaman Nabi Ibrahim AS dan baru ditambahkan kemudian, namun keberadaannya kini menjadi bagian tak terpisahkan dari struktur Ka’bah.

Para ulama salaf menyatakan bahwa berdoa tepat di bawah pancuran emas Ka’bah (Mizab) termasuk salah satu tempat yang sangat mustajab. Alasannya, area di bawah Mizab itu masih merupakan bagian dari bangunan Ka’bah sendiri. Jamaah yang bisa berdiri di Hijr Ismail tepat di bawah talang emas ini seringkali memanjatkan doa, berharap mendapat curahan rahmat sebagaimana air yang turun dari Ka’bah. Banyak yang meyakini, ketika hujan turun dan air mengalir melalui Mizab, itu adalah waktu yang istimewa untuk berdoa di bawahnya, seolah-olah menerima “hujan rahmat” langsung dari Baitullah. Ada sebuah riwayat menarik: Ja’far bin Muhammad RA bercerita dari ayahnya bahwa dahulu ketika Rasulullah ﷺ thawaf dan melewati posisi sejajar dengan Mizab Ka’bah, beliau mengucapkan doa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon keridhaan-Mu saat ajalku tiba dan ampunan-Mu kelak di hari perhitungan.”

Doa Nabi di dekat Mizab ini mengisyaratkan betapa beliau mencari momen mustajab di tempat tersebut untuk memohon keridaan dan ampunan Allah. Oleh karenanya, ulama menganjurkan kita memperbanyak doa di bawah talang Ka’bah ini, semoga mendapat limpahan rahmat. Bahkan beberapa travel haji/umrah sering mengingatkan jamaah bahwa “berdoa di bawah Mizab akan mustajab”, sehingga banyak yang berusaha masuk Hijr Ismail dan berdiri di bawah pancuran emas itu.

Berdoa di Dalam Ka’bah: Kehormatan di Tempat Paling Suci

Bagian dalam Ka’bah adalah tempat yang paling suci di bumi bagi umat Islam. Berdoa di dalam Ka’bah diyakini sangat mustajab, karena seseorang berada langsung di Baitullah menghadap ke segala arah dinding rumah Allah tersebut. Tidak semua orang diizinkan masuk ke dalam Ka’bah – bahkan banyak sahabat Nabi pun tidak mendapat kesempatan itu. Rasulullah ﷺ sendiri pernah memasuki Ka’bah dan shalat di dalamnya saat Penaklukan Mekkah, sebagai bentuk syukur dan penghormatan. Aisyah RA pernah meminta izin masuk Ka’bah, namun Nabi ﷺ tidak mengizinkannya dan mengarahkan Aisyah untuk shalat di Hijr Ismail saja karena itu bagian dari Ka’bah. Dari sini dipahami bahwa wanita, atau siapa pun yang tidak berkepentingan khusus, tidak dianjurkan memaksa masuk Ka’bah. Meski demikian, kita dapat merasakan nilai spiritual yang sama dengan cara shalat di Hijr Ismail seperti dijelaskan di atas.

Ulama sepakat bahwa berdoa di dalam Ka’bah merupakan amalan yang luar biasa karena kedekatan spiritualnya. Ketika seseorang diberi kesempatan masuk ke dalam Ka’bah, hendaknya dia memanfaatkannya untuk berdoa apa saja yang baik. Dalam sejarah, para nabi dan orang saleh selalu menjadikan Ka’bah sebagai pusat doa. Nabi Ibrahim AS berdoa di sekitar Ka’bah memohon keamanan dan rezeki bagi penduduk Mekkah (QS Al-Baqarah:126). Kini, pemerintah Arab Saudi hanya membuka Ka’bah pada waktu-waktu tertentu untuk orang-orang terpilih (misalnya pejabat atau petugas kebersihan khusus) untuk masuk ke dalamnya.

Bagi jamaah haji biasa, cukuplah mendekatkan diri secara spiritual. Shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim sudah dianggap seperti shalat di dalam Ka’bah menurut sebagian fuqaha, karena ada perintah Allah: “Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS Al-Baqarah:125). Yang terpenting, dimana pun kita berada di Masjidil Haram, menghadap Ka’bah dan berdoa dengan khusyuk akan mendatangkan kebaikan. Allah SWT Maha Mendengar doa hamba-Nya di segala tempat, namun Ka’bah dan sekitarnya dipilih Allah sebagai tanah haram yang penuh berkah sehingga doa di sana istimewa kedudukannya.

You might also like