Doa Safar Sesuai Sunnah – Bacaan Arab, Latin, Terjemah & Keutamaannya

Doa Safar Sesuai Sunnah – Bacaan Arab, Latin, Terjemah & Keutamaannya

Masjid Ismuhu Yahya – Doa safar sesuai sunnah adalah doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW untuk dibaca ketika hendak bepergian. Bagi setiap Muslim yang akan melakukan perjalanan jauh (safar), mengamalkan doa safar sesuai sunnah sangatlah penting. Dengan membaca doa safar sesuai sunnah, seorang Muslim memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT selama perjalanan, serta mengharap keberkahan di setiap langkah safarnya. Doa ini bukan sekadar ritual, melainkan wujud kepasrahan diri sepenuhnya kepada Allah agar perjalanan berlangsung lancar, aman, dan diberkahi.

Dalam 100 kata pembuka ini, kita menegaskan betapa utama doa safar sesuai sunnah sebagai bekal spiritual sebelum dan saat perjalanan. Artikel ini akan membahas pengertian doa safar, keutamaannya, dalil hadits shahih yang mendasarinya, waktu dan tata cara membaca doa safar sesuai sunnah, teks doa safar dalam bahasa Arab lengkap dengan latin dan terjemahannya, penjelasan makna tiap kalimat doa safar, serta tips agar perjalanan menjadi berkah dan senantiasa dilindungi Allah SWT.

Pengertian Doa Safar

Secara bahasa, safar berarti perjalanan jauh. Dalam syariat Islam, safar merujuk pada perjalanan dengan jarak tertentu yang memberi keringanan untuk mengqashar atau menjamak shalat. Doa safar adalah doa yang dibaca ketika melakukan perjalanan jauh sebagai permohonan perlindungan dan pertolongan Allah selama safar. Doa ini diajarkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga disebut doa safar sesuai sunnah.

Inti dari doa safar adalah menyerahkan urusan perjalanan sepenuhnya kepada Allah dan memohon agar perjalanan diberi keselamatan serta kelancaran. Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa perjalanan (safar) memiliki tantangan dan risiko, sehingga umat Islam dianjurkan memperbanyak doa ketika safar. Bahkan, doa orang yang sedang dalam perjalanan termasuk salah satu doa yang mustajab atau dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam sebuah hadits sahih, beliau bersabda:

“Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi: doa orang yang teraniaya, doa orang yang bepergian (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya.” (HR. Abu Dawud)

Jadi, doa safar merupakan amalan penting yang tidak boleh dilupakan saat memulai perjalanan, karena mengandung harapan perlindungan dan keberkahan dari Allah sepanjang perjalanan.

Keutamaan Membaca Doa Safar

Membaca doa safar memiliki banyak keutamaan. Berikut beberapa keutamaan utama yang dapat diperoleh dengan mengamalkan doa ini:

  • Memohon Perlindungan dari Marabahaya: Dengan doa safar, kita meminta perlindungan Allah dari segala bahaya dan malapetaka yang mungkin terjadi di perjalanan. Ini mencakup keselamatan fisik, terhindar dari kecelakaan, gangguan cuaca buruk, maupun bahaya kejahatan di jalan.
  • Mendapat Ketenangan Hati Selama Perjalanan: Doa safar menghadirkan ketenangan batin. Mengingat Allah di awal dan selama perjalanan membuat hati merasa tenang dan tidak gelisah menghadapi perjalanan yang jauh. Kita merasa ditemani dan dijaga oleh Allah SWT.
  • Mengingatkan Akan Ketergantungan kepada Allah: Membaca doa ini menyadarkan kita bahwa segala sesuatu dalam perjalanan terjadi atas izin Allah. Kita diingatkan bahwa kemampuan kita melakukan perjalanan dan kembali dengan selamat sepenuhnya bergantung pada pertolongan-Nya.
  • Menjadikan Perjalanan Bernilai Ibadah: Dengan berdoa, perjalanan yang bersifat duniawi berubah menjadi bernilai ibadah. Doa safar mengandung unsur zikir dan tawakal, sehingga setiap langkah perjalanan dihitung sebagai amal saleh dan mendapatkan pahala. Perjalanan pun menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Selain poin-poin di atas, perlu diketahui pula bahwa kondisi safar merupakan salah satu waktu terkabulnya doa. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa doa saat safar termasuk doa yang lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Oleh karena itu, membaca doa safar bukan hanya untuk meminta keselamatan, tetapi juga peluang untuk berdoa dan memohon berbagai kebaikan lainnya kepada Allah selama perjalanan.

Dalil Hadits Shahih tentang Doa Safar

Dalil atau sumber utama doa safar sesuai sunnah berasal dari hadits sahih yang menjelaskan kebiasaan Nabi Muhammad SAW ketika memulai perjalanan. Salah satu hadits sahih yang masyhur mengenai doa safar diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar RA dan tercantum dalam Sahih Muslim. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Rasulullah SAW, ketika telah berada di atas kendaraannya dan bersiap berangkat safar, beliau mengucapkan takbir “Allahu Akbar” sebanyak tiga kali, kemudian membaca doa safar. Berikut penggalan bunyi haditsnya:

“Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan: Bahwa Rasulullah SAW apabila telah duduk di atas untanya untuk keluar melakukan safar, beliau bertakbir tiga kali, lalu berdoa: ‘Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin, wa inna ila Rabbina lamunqalibun. Allahumma inna nas’aluka fi safarina hadza al-birra wat-taqwa…dst (doa safar lengkap).’ Dan apabila beliau kembali dari safar, beliau mengucapkan doa tersebut dan menambahkan: ‘Aa-ibuna taa-ibuna ‘abiduna liRabbina hamidun’.” (HR. Muslim no. 1342).

Hadits di atas dengan jelas menjadi dasar lafaz doa safar yang kita amalkan. Ulama sepakat bahwa sanad hadits ini sahih dan doa safar termasuk sunnah yang dianjurkan. Selain riwayat Muslim, doa safar ini juga tercantum dalam Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lainnya dengan redaksi serupa. Para ulama hadits seperti Imam Nawawi dan Syaikh Al-Albani turut menegaskan keautentikan doa safar ini. Jadi, dalil shahih doa safar sangat kuat, berasal dari teladan langsung Rasulullah SAW.

Selain dalil tentang lafaz doanya, ada juga hadits lain yang terkait safar, misalnya anjuran doa sebelum naik kendaraan yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA. Ali RA mencontohkan bahwa saat hendak naik kendaraan, ia mengucapkan “Bismillah” ketika meletakkan kaki di pijakan, lalu setelah duduk di atas kendaraan mengucapkan “Alhamdulillah”.

Kemudian Ali RA membaca ayat Al-Qur’an: “Subhaanalladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin, wa inna ila Rabbina lamunqalibun” (QS. Az-Zukhruf: 13-14). Setelah itu ia mengucapkan “Alhamdulillaah” tiga kali, “Allahu Akbar” tiga kali, dan membaca doa: “Subhaanaka inni zalamtu nafsi faghfir li, fa-innahu laa yaghfirudh-dhunuba illa anta” (Mahasuci Engkau Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku, maka ampunilah aku, karena tiada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau). Terakhir, Ali bin Abi Thalib RA berkata: “Aku melihat Rasulullah SAW melakukan seperti yang aku lakukan ini.” (HR. Abu Dawud no. 2602 dan at-Tirmidzi no. 3446).

Riwayat di atas menunjukkan tata cara Nabi saat memulai perjalanan: dimulai dengan menyebut nama Allah, memuji Allah, membaca ayat Al-Qur’an, bertakbir, lalu berdoa memohon ampun. Semua ini memperkaya dalil tentang adab dan doa safar sesuai sunnah, yang intinya mengingatkan kita untuk selalu mengawali perjalanan dengan dzikir dan doa sesuai tuntunan Rasulullah SAW.

Teks Doa Safar (Arab, Latin, dan Terjemahan)

Berikut adalah teks doa safar sesuai sunnah yang diriwayatkan dalam hadits shahih, disajikan dalam tulisan Arab, ejaan latin (transliterasi), dan terjemahan bahasa Indonesianya:

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى

اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ

اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ

Subhanalladzi sakhara lana haadzaa wa maa kunna lahu muqrinin. Wa innaa ila Rabbinaa lamunqalibun. Allahumma innaa nas’aluka fii safarinaa haadza al-birra wat-taqwaa, wa minal-’amali maa tardhaa. Allahumma hawwin ‘alainaa safaranaa haadza, wa thwi ‘annaa bu’dahu. Allahumma Anta ash-shahibu fis-safar, wal-khalifatu fil-ahl. Allahumma inni a’udzubika min wa’tsaa’is-safar, wa kaabatil-manzhar, wa su’-il munqalabi fil-maali wal-ahl.

Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan ketakwaan, serta amal yang Engkau ridai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkau-lah teman (pendamping) dalam perjalanan dan pelindung bagi keluarga (yang ditinggalkan). Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, dan buruknya keadaan saat kembali (nanti) pada harta dan keluarga).”

Catatan: Teks doa di atas bersumber dari hadits shahih riwayat Imam Muslim. Bagian “Subhanalladzi sakhkhara lana hadza…” hingga “wa inna ila Rabbina lamunqalibun” sebenarnya adalah kutipan ayat Al-Qur’an (Surah Az-Zukhruf ayat 13-14) yang kemudian dilanjutkan dengan doa dari Nabi. Sedangkan kalimat “Ayibuna taibuna ‘abidun…” dibaca ketika perjalanan berakhir (pulang) sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Tips Agar Perjalanan Berkah dan Dilindungi Allah

Selain membaca doa safar, ada beberapa tips dan adab yang diajarkan dalam Islam supaya perjalanan kita semakin berkah, aman, dan berada dalam lindungan Allah SWT:

  • Awali dengan Doa dan Tawakal: Pastikan sebelum berangkat, kita sudah berdoa memohon keselamatan. Selain doa safar, ada baiknya membaca doa ketika keluar rumah: “Bismillah, tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Berdasarkan hadits, siapa yang membaca doa ini saat keluar rumah, akan dijaga oleh malaikat dan dijauhkan dari gangguan setan. Jadi, mantapkan niat dan pasrahkan perlindungan diri kepada Allah sepenuhnya.
  • Tidak Safar Sendirian (Terutama di Malam Hari): Islam menganjurkan perjalanan dilakukan bersama teman dan melarang safar sendirian tanpa keperluan mendesak. Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya manusia tahu bahaya bepergian sendirian di malam hari seperti yang aku ketahui, niscaya tak seorang pun akan nekat berangkat sendirian di malam hari.” (HR. Bukhari). Dalam hadits lain beliau juga mengingatkan: “Satu pengendara (bepergian sendirian) itu syaitan, dua orang pengendara (berdua) itu dua syaitan, sedangkan tiga orang yang bepergian (bersama) itu baru disebut rombongan (kafilah).” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi). Maksudnya, berpergian sendirian rentan godaan dan bahaya, sedangkan jika minimal bertiga, perjalanan lebih aman dan terpimpin. Jadi, usahakan mencari teman safar yang baik agar perjalanan lebih terjaga keselamatannya dan tetap dalam suasana islami.
  • Angkat Seorang Pemimpin Rombongan: Bila bepergian dalam kelompok (tiga orang atau lebih), dianjurkan menunjuk salah satu sebagai pemimpin perjalanan. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila tiga orang keluar bepergian, hendaklah mereka mengangkat salah satu sebagai amir (pemimpin).” (HR. Abu Dawud). Adanya penanggung jawab akan memudahkan pengambilan keputusan saat safar, mengatur jadwal (misal kapan istirahat, shalat, dsb), dan menyelesaikan jika ada perselisihan. Pemimpin yang dipilih sebaiknya yang paling paham agama dan paling bijak di antara rombongan.
  • Perhatikan Adab Selama Perjalanan: Jaga akhlak dan etika di jalan. Misalnya, membaca dzikir ketika melewati medan tertentu: Nabi mengajarkan membaca takbir (“Allahu akbar”) saat melalui jalan menanjak atau naik, dan membaca tasbih (“Subhanallah”) saat melalui jalan menurun. Hal ini dicontohkan oleh para sahabat: “Apabila kami melewati jalan naik (tanjakan), kami bertakbir, dan apabila melewati jalan turun, kami bertasbih.” (HR. Bukhari). Selain itu, selalu ingat untuk menunaikan shalat fardu tepat waktu meskipun dalam perjalanan (manfaatkan rukhshah menjamak/qashar jika memenuhi syarat). Jangan sampai karena safar, kita lalai dari mengingat Allah.
  • Pamit dan Minta Doa Restu Keluarga: Sebelum berangkat, hendaknya berpamitan dengan keluarga dan kerabat. Saling mendoakan ketika berpisah juga dianjurkan. Orang yang ditinggal dianjurkan mendoakan musafir dengan doa seperti: “Astawdi’ullaha alladzi laa tadhi’u wadai’uhu” – “Aku titipkan (dirimu) kepada Allah yang tidak menyia-nyiakan titipan.” (HR. Ahmad & Ibnu Majah). Sebaliknya, musafir bisa mendoakan yang ditinggal dengan doa: “Astawdi’ullah diinaka, wa amanataka, wa khawatiima ‘amalik” – “Aku titipkan agamamu, amanahmu, dan akhir amalmu kepada Allah.” (HR. Abu Dawud & at-Tirmidzi). Saling menitipkan dalam doa seperti ini akan menenangkan kedua belah pihak dan mengharap perlindungan Allah untuk masing-masing.
  • Berangkat pada Waktu yang Baik: Pilihlah waktu keberangkatan yang optimal. Pagi hari atau awal waktu siang sering dianjurkan karena lebih terang dan tubuh masih bugar. Nabi mendoakan umatnya: “Ya Allah berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Dawud). Artinya, perjalanan yang dimulai pagi cenderung membawa keberkahan (lebih lancar dan produktif). Hindari berangkat terlalu larut malam tanpa kebutuhan, kecuali jika memang sudah terencana dan kondisi aman.
  • Bawa Perbekalan yang Cukup dan Halal: Pastikan bekal selama perjalanan cukup dan dari sumber halal. Ini termasuk bekal makanan, minuman, obat-obatan, dan finansial. Perjalanan yang dipersiapkan dengan baik akan menghindarkan kita dari panik di jalan dan insyaAllah lebih tenang (ingat, “kepayahan safar” salah satunya disebabkan kekurangan bekal). Dengan bekal halal, doa kita selama safar pun lebih mudah dikabulkan.
  • Perbanyak Dzikir dan Doa di Sepanjang Safar: Manfaatkan waktu perjalanan untuk berdzikir, membaca shalawat, doa-doa, atau tilawah (jika tidak menyetir). Karena safar waktu mustajab, perbanyaklah memohon kebaikan kepada Allah, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun mendoakan orang lain. Banyak hadits menunjukkan doa musafir dikabulkan, jadi jangan sia-siakan kesempatan ini. Misalnya, kita bisa mendoakan kebaikan bagi keluarga yang ditinggal setiap selesai shalat di perjalanan, memohon ampunan, atau doa khusus lainnya.
  • Patuhi Aturan dan Jaga Keselematan: Meskipun terdengar umum, mematuhi aturan lalu lintas dan menjaga keselamatan adalah bagian dari ikhtiar yang tidak terpisah dari tawakal. Islam mengajarkan kita berusaha semaksimal mungkin (“i’qil haa wa tawakkal” – ikat dulu untamu kemudian bertawakal). Jadi, tips duniawi seperti memakai sabuk pengaman, tidak ngebut berlebihan, istirahat saat lelah, dan memastikan kondisi kendaraan layak jalan, semuanya adalah bentuk ikhtiar agar perjalanan selamat. Setelah ikhtiar, barulah kita bertawakal sepenuhnya bahwa Allah-lah penjaga sejati.

Dengan mengikuti tips-tips di atas, insyaAllah perjalanan yang kita tempuh akan lebih berkah, aman, dan dalam perlindungan Allah SWT. Intinya, selalu libatkan Allah dalam setiap langkah safar: mulai dari niat yang lurus (untuk hal-hal baik), doa-doa sebelum berangkat, adab selama perjalanan, hingga doa ketika tiba di tujuan. Perjalanan yang dipenuhi zikir dan doa akan menjauhkan kita dari hal buruk serta menarik pertolongan Allah di saat-saat genting. Semoga setiap safar yang kita lakukan senantiasa diberi kelancaran, keselamatan, serta membawa pulang pahala dan pengalaman berharga. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

You might also like