Haji Mabrur dan Mabruroh: Makna, Ciri, dan Cara Meraihnya

Haji Mabrur dan Mabruroh: Makna, Ciri, dan Cara Meraihnya

Masjid Ismuhu Yahya – Setiap jamaah yang berangkat ke Tanah Suci pasti mendambakan satu predikat tertinggi: haji mabrur dan mabruroh. Doa “semoga menjadi haji mabrur dan mabruroh” begitu akrab di telinga kita saat musim haji tiba. Namun, tahukah Anda apa makna sebenarnya dari haji mabrur dan mabruroh? Istilah ini bukan sekadar doa seremonial. Ia menyimpan makna yang dalam dan menjadi ukuran diterimanya ibadah haji seseorang di sisi Allah SWT. Dalam artikel ini, kita akan membahas pengertian haji mabrur dan mabruroh secara lengkap, ciri-cirinya menurut para ulama, hingga amalan-amalan yang bisa kita lakukan untuk meraihnya.

Apa Itu Haji Mabrur dan Mabruroh?

Secara bahasa, kata al-mabrur berasal dari akar kata al-birr, yang artinya kebaikan atau kebajikan. Dengan demikian, al-hajjul mabruru secara harfiah berarti haji yang diberikan kebaikan dan kebajikan. Kata “mabrur” juga dijelaskan dalam kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia yang bermakna ibadah haji yang diterima pahalanya oleh Allah SWT.

Lalu apa bedanya “mabrur” dan “mabruroh”? Makna dari kata mabrur dan mabruroh ini dijelaskan oleh Kholid A. Harras dalam buku Catatan Ramadhan bahwa sebutan haji mabrur diperuntukkan bagi seorang laki-laki yang telah melaksanakan haji, sedangkan haji mabruroh diperuntukkan bagi perempuan. Jadi keduanya memiliki makna yang sama, hanya berbeda dari segi gramatikal bahasa Arab.

Para ulama memiliki beberapa pandangan tentang makna mabrur. Imam An-Nawawi dalam Syarah Muslim menjelaskan bahwa haji mabrur adalah haji yang tidak tercampuri oleh kemaksiatan atau dosa, karena imbalannya adalah surga Allah. Pendapat ini dipandang oleh Muhyiddin Syarf An-Nawawi sebagai pendapat yang paling sahih.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menyimpulkan bahwa haji yang mabrur artinya haji yang diterima oleh Allah SWT. Sementara itu, dalam buku Tanya Jawab Fikih Sehari-Hari karya Mahbub Maafi, disebutkan bahwa haji mabrur juga disebut sebagai haji maqbul, yaitu haji yang diterima Allah dan dibalas dengan al-birr (kebaikan) berupa pahala.

Adapun bukti bahwa haji seseorang itu maqbul atau mabrur adalah ia kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak mengulangi perbuatan maksiat. Ini menjadi tolok ukur utama yang disepakati oleh banyak ulama.

Perlu diketahui bahwa tidak semua haji memiliki kualitas yang sama. Dari berbagai literatur, ada tiga tingkatan kualitas haji:

  • Haji Mardud — haji yang tertolak karena tidak memenuhi syarat dan rukun
  • Haji Maqbul — haji yang memenuhi syarat dan rukun, tetapi efek positif tidak tampak setelah pelaksanaannya
  • Haji Mabrur — haji yang memenuhi syarat dan rukun, serta memiliki dampak positif bagi orang tersebut dalam kehidupan sehari-hari

Tingkatan ini menunjukkan bahwa haji mabrur bukan hanya soal selesai menjalani ritual, melainkan soal transformasi nyata pada diri sang jamaah.

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadits tentang balasan bagi mereka yang mendapatkan predikat haji mabrur, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim:

“Umrah hingga umrah berikutnya adalah kafarat (penghapus) dosa yang dilakukan antara keduanya, dan ganjaran bagi haji yang mabrur tidak lain adalah surga.”

Hadits ini menegaskan bahwa balasan tertinggi bagi haji mabrur adalah surga. Tidak ada balasan selain itu, karena haji yang diterima menghapus dosa dan mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah SWT.

Ciri-Ciri yang Mendapatkannya

  1. Tidak Melakukan Rafats, Fusuq, dan Riya’
    Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 197 bahwa siapa yang mengerjakan haji tidak boleh melakukan rafats (berkata jorok yang mengandung makna hubungan suami istri), fusuq (segala bentuk kemaksiatan), dan bertengkar. Selain itu, tidak ada unsur riya’ (pamer) dalam ibadah hajinya.
  2. Menjadi Pribadi yang Lebih Baik
    Imam An-Nawawi berpendapat bahwa di antara tanda diterimanya haji seseorang adalah adanya perubahan menuju yang lebih baik setelah pulang dari Baitullah. Orang yang hajinya mabrur akan lebih banyak mengingat Allah, amal perbuatannya lebih baik, serta tabah dan sabar dalam menghadapi musibah.
  3. Semangat Ibadah yang Meningkat
    Orang yang meraih haji mabrur akan merasakan semangat baru dalam beribadah. Shalatnya lebih khusyuk, bacaan Al-Qur’annya lebih banyak, dan dzikirnya lebih istiqamah dibanding sebelum berhaji.
  4. Zuhud dan Mengutamakan Akhirat
    Menurut hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, ciri haji mabrur adalah apabila orang yang selesai melaksanakan ibadah haji menjadi semakin zuhud, tidak tergoda dengan gelimang dunia, dan lebih mengedepankan kehidupan akhirat.
  5. Santun dalam Bertutur dan Gemar Memberi
    Dalam salah satu hadits dari Jabir secara marfu’ dengan sanad hasan, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya wujud dari haji mabrur adalah (tertanamnya sifat asih) dengan memberi makanan (kepada yang berhak) dan ucapannya lembut.” (HR Ahmad dalam Musnad Ahmad).
  6. Peduli Sosial dan Gemar Bersedekah
    Tanda lain dari haji mabrur adalah munculnya kepedulian sosial yang tinggi. Orang tersebut akan lebih dermawan, suka menolong, dan berusaha memberikan manfaat sebanyak mungkin bagi masyarakat sekitar.

Cara Meraih Haji ini

Sebelum Berangkat Haji

  • Niat Ikhlas karena Allah
    Cara mencapai haji mabrur yang pertama dan terpenting adalah memiliki niat yang tulus semata-mata karena Allah SWT dan mengharapkan ridha-Nya. Keberangkatan ke Tanah Suci bukan untuk mendapatkan gelar atau status sosial yang tinggi di masyarakat.
  • Bertobat dan Menyelesaikan Hak Sesama
    Amalan yang sangat dianjurkan sebelum berangkat adalah bertobat kepada Allah SWT dan memohon ampun atas segala dosa, baik yang berkaitan dengan Allah maupun sesama manusia. Haji mabrur juga mensyaratkan bahwa seseorang membersihkan diri dari dosa melalui tindakan taubat, istighfar, dan saling memaafkan dengan sesama.
  • Pastikan Harta Halal
    Seseorang yang menginginkan haji mabrur harus memastikan bahwa seluruh hartanya halal, karena “Sungguh Allah baik, tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim 1015). Para ulama menegaskan bahwa haji dengan harta haram tidak akan menghasilkan kemabruran.
  • Memantapkan Ilmu Manasik
    Niat yang tulus hanya karena Allah SWT adalah pondasi utama ibadah haji. Ikuti manasik haji dengan sungguh-sungguh, karena setidaknya rukun dan wajib haji harus dikerjakan, serta menjauhi larangan yang ada.

Selama Pelaksanaan Haji

  • Jaga Lisan dan Perbuatan
    Haji mabrur adalah haji yang sesuai dengan tuntunan syar’i, menyempurnakan hukum-hukumnya, mengerjakan dengan penuh kesempurnaan, dan lepas dari dosa serta terhiasi dengan amalan shalih dan kebaikan.
  • Perbanyak Amalan Kebaikan
    Ibnu Rajab berkata: “Maka haji mabrur adalah yang terkumpul di dalamnya amalan-amalan baik, plus menghindari perbuatan-perbuatan dosa.” (Lathaiful Ma’arif 1/67). Perbanyaklah dzikir, shalat di Masjidil Haram, dan shalat pada waktunya, serta membantu sesama jamaah.

Setelah Pulang dari Haji

Rasulullah SAW mengajarkan sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan setelah pulang haji agar kemabruran tetap terjaga. Haji mabrur tercermin dari amalan setelah pulang, seperti memperkuat iman, berinfak, menjaga shalat, membayar zakat, menepati janji, dan bersabar. Perbanyaklah pula tilawatul Qur’an, dzikir pagi dan petang, serta berupaya menambah ilmu.

Berikut adalah doa yang dianjurkan saat pelaksanaan haji maupun setelahnya:

اللهم اجْعَلْ حَجَّنَا حَجًّا مَبْرُوْرًا، وَعُمْرَتَنَا عُمْرَةً مَبْرُوْرَةً، وَسَعْيَنَا سَعْيًا مَشْكُوْرًا

“Allāhumma j’al hajjanā hajjan mabrūrā, wa ‘umratanā ‘umratan mabrūratan, wa sa’yanā sa’yan masykūrā”

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang mabrur, umrah kami umrah yang mabrur, sa’i kami sa’i yang disyukuri.”

Doa ini dianjurkan oleh Imam Ibnu Rajab untuk banyak dibaca oleh jamaah haji, terutama setelah selesai dari kewajiban haji dan memulai tahalul dari ihramnya saat melempar jumrah aqabah.

Meraih haji mabrur dan mabruroh adalah cita-cita tertinggi setiap jamaah haji. Ia bukan sekadar soal kelengkapan ritual, melainkan tentang ketulusan niat, kebersihan harta, dan perubahan nyata dalam kehidupan setelah pulang dari Tanah Suci. Semoga Allah SWT memberikan kita kemampuan untuk menunaikan ibadah haji dan meraih kemabruran-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

 

 

You might also like