Kisah Ashim bin Tsabit – Sahabat Nabi, Teladan Keberanian dan Karamah

Kisah Ashim bin Tsabit – Sahabat Nabi, Teladan Keberanian dan Karamah

Masjid Ismuhu Yahya – Ashim bin Tsabit adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Anshar, tepatnya berasal dari suku Aus di Madinah. Ia termasuk generasi Muslim pertama di Madinah yang dengan tulus membantu perjuangan Rasulullah setelah peristiwa hijrah. Nama Ashim bin Tsabit kerap muncul dalam sejarah Islam sebagai teladan keberanian dan pengorbanan. Ia dikenal karena kegigihannya membela agama Allah serta kisah karamah (keistimewaan) di akhir hidupnya yang menggetarkan iman kaum Muslimin. Dalam 100 kata pertama ini, Ashim bin Tsabit telah disebutkan beberapa kali untuk menegaskan betapa penting dan inspiratifnya figur sahabat Nabi yang satu ini.

Latar Belakang dan Keislaman Ashim bin Tsabit

Ashim bin Tsabit Al-Anshari tumbuh sebagai pemuda Madinah yang berada dalam kabilah Aus. Sejak memeluk Islam, ia meninggalkan kehidupan jahiliah sepenuhnya dan berjanji setia mendukung dakwah Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam riwayat bahwa Ashim termasuk orang Madinah yang menerima Islam bahkan sebelum Baiat Aqabah terjadi. Semangat keislamannya tampak dari nazarnya: ia berjanji tidak akan menyentuh apapun yang berhubungan dengan kemusyrikan, bahkan menghindari bersentuhan dengan orang-orang musyrik. Ia senantiasa berdoa memohon kekuatan untuk mempertahankan nazar tersebut. Tekad ini menunjukkan kesungguhannya dalam memegang aqidah; hal-hal yang mengingatkannya pada masa jahiliah sangat dihindarinya. Berkat hidayah Islam, Ashim bin Tsabit menjelma menjadi pribadi baru yang taat dan berani membela kebenaran.

Sebagai bagian dari kaum Ansar (penduduk Madinah yang menolong kaum Muhajirin Makkah), Ashim bin Tsabit ikut menyambut kedatangan Rasulullah SAW di Madinah. Kaum Ansar dikenal sangat setia dan rela berkorban demi melindungi Nabi dan umat Islam. Ashim adalah salah satu contohnya – pemuda dari Aus ini mempersembahkan dirinya untuk perjuangan Islam sejak awal. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, Ashim termasuk sahabat yang bertekad membela Nabi di segala keadaan, sebagaimana para Ansar lainnya yang telah berbaiat untuk melindungi Rasulullah seperti melindungi keluarga mereka sendiri. Keimanan yang kokoh menjadikannya sosok yang disegani, dan latar belakangnya sebagai Anshar Madinah menempatkannya di barisan depan pembela Islam di masa-masa sulit.

Kontribusi dan Peran Ashim bin Tsabit dalam Peperangan

Keberanian Ashim bin Tsabit teruji dalam berbagai pertempuran penting di masa awal Islam. Ia turut serta dalam Perang Badar (2 H/624 M), perang besar pertama antara kaum Muslimin dan kaum musyrikin Quraisy. Dalam Perang Badar, Ashim berjuang gagah berani di bawah panji Rasulullah SAW. Diriwayatkan bahwa ia berhasil menewaskan beberapa tokoh penting dari pihak musyrikin. Salah satu musuh yang dilumpuhkannya adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, seorang pembesar Quraisy yang dikenal sangat memusuhi Nabi.

Menurut riwayat Al-Waqidi, usai Perang Badar Rasulullah SAW sempat memerintahkan agar ‘Uqbah bin Abi Mu’ith dieksekusi atas kejahatannya, dan Ashim bin Tsabit dipercaya sebagai pelaksana hukuman tersebut – ia maju melaksanakan perintah Nabi dan menebas kepala musuh Islam itu. Hal ini menunjukkan betapa Rasulullah menaruh kepercayaan pada keberanian dan ketegasan Ashim dalam menegakkan keadilan.

Pada tahun berikutnya, Ashim bin Tsabit turut berjuang dalam Perang Uhud (3 H/625 M). Perang Uhud terkenal berat; kaum Muslim sempat terdesak oleh serangan Quraisy. Di tengah kekacauan itu, Ashim tetap teguh bertempur melindungi Rasulullah. Bahkan, Nabi Muhammad SAW sendiri mengakui kegigihan para sahabat tertentu dalam Perang Uhud, dan menyebut nama Ashim bin Tsabit sebagai salah satu yang berjasa pada hari itu.

Dalam sebuah riwayat disebutkan Nabi memuji para pendekar Muslim seraya bersabda: “Jika engkau (Ali) telah berbuat unggul dengan pedangmu hari ini, maka Sahl bin Hunaif, Abu Dujanah, Asim bin Thabit, dan Harits bin As-Simmah juga telah bertempur dengan sangat berani.”. Pengakuan dari Rasulullah SAW ini tentu menegaskan bahwa Ashim adalah salah satu pahlawan Uhud yang mempertaruhkan nyawanya demi membela agama.

Pada masa setelah Perang Uhud, Ashim bin Tsabit kembali menunjukkan perannya. Salah satu insiden penting adalah ketika Abu Azza al-Jumahi, seorang penyair Quraisy yang ditawan dalam Perang Uhud, memohon belas kasihan kepada Nabi. Abu Azza sebelumnya pernah dilepaskan usai Perang Badar dengan janji tidak lagi memusuhi kaum Muslim, namun ia ingkar dan turut memerangi kaum Muslim di Uhud. Rasulullah SAW tidak mau tertipu untuk kedua kalinya – “Seorang mukmin tak boleh digigit ular dari lubang yang sama dua kali,” sabda beliau. Nabi kemudian memerintahkan hukuman mati bagi Abu Azza.

Diriwayatkan dalam Kitab al-Maghazi bahwa Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit untuk mengeksekusi hukuman tersebut, dan Ashim tanpa ragu melaksanakan perintah dengan tangannya sendiri. Tindakan tegas ini menggambarkan loyalitas Ashim kepada Rasulullah dan keberaniannya menegakkan keputusan sulit demi kemaslahatan umat.

Keberanian dan Keteladanan Ashim bin Tsabit

Sepanjang karier jihadnya, Ashim bin Tsabit dikenal sebagai prajurit andal dan pemberani. Ia mahir memanah dan bertarung dengan berbagai senjata. Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa di medan perang Ashim kerap melantunkan syair penyemangat. Salah satu syair yang dinisbatkan padanya berbunyi: “Al-mawtu haqq (kematian itu pasti datang), wal-hayatu batil (sedang kehidupan duniawi itu fana). Segala yang telah Allah tetapkan pasti akan terjadi, dan setiap insan pasti akan kembali kepada-Nya.”. Bagi Ashim, perjuangan di jalan Allah adalah kebenaran yang harus ditunaikan, sedangkan rasa takut mati tidak boleh menghalangi tugas suci tersebut. Keteguhan hati dan keberaniannya inilah yang menjadi teladan bagi generasi berikutnya.

Sikap pantang menyerah dan percaya penuh kepada Allah adalah ciri menonjol dari keteladanan Ashim bin Tsabit. Dalam setiap pertempuran, ia selalu mengandalkan do’a dan usaha maksimal. Keberanian fisiknya ditopang oleh kekuatan iman. Sebagai contoh, ketika pasukan Muslim menghadapi musuh yang jauh lebih besar, Ashim tidak gentar. Ia pernah berujar bahwa dirinya tidak akan pernah menyerah kepada perlindungan orang-orang kafir ataupun mempercayai janji-janji mereka. Prinsip ini dipegang teguh hingga akhir hayatnya. Ashim bin Tsabit lebih memilih gugur dengan kehormatan sebagai syahid daripada hidup dalam lindungan musuh yang mengingkari Allah. Sikap inilah yang menjadikannya sosok yang dihormati kawan maupun disegani lawan.

Tak hanya berani, Ashim juga dikenal teguh memegang prinsip keimanan. Nazar yang ia buat untuk tidak bersentuhan dengan kaum musyrik mencerminkan komitmennya terhadap kemurnian tauhid. Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab RA kagum mendengar keteguhan Ashim tersebut. Umar bahkan pernah mengungkapkan, “Lihatlah bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang beriman; Ashim pernah bernazar untuk tidak disentuh oleh orang musyrik seumur hidupnya, maka Allah memenuhi nazarnya – melindungi dirinya (bahkan) setelah ia wafat.”.

Perkataan Umar ini merujuk pada akhir kisah hidup Ashim bin Tsabit yang menakjubkan, di mana Allah benar-benar menjaga jasad Ashim dari disentuh kaum musyrikin, sebagaimana akan kita bahas pada bagian berikut. Keteguhan memegang prinsip inilah inti keteladanan Ashim – bahwa iman dan kehormatan seorang Muslim tidak boleh tergadaikan oleh rayuan atau ancaman apa pun.

Misi Dakwah dan Tragedi Ar-Raji’

Tidak lama setelah Perang Uhud, tepatnya pada tahun 4 Hijriyah, terjadi sebuah peristiwa tragis yang melibatkan Ashim bin Tsabit. Peristiwa ini dikenal sebagai Tragedi Ar-Raji’. Berawal dari datangnya sekelompok utusan dari kabilah Adhal dan Al-Qarah kepada Rasulullah SAW, mereka mengaku ingin mempelajari Islam dan meminta agar Nabi mengirimkan beberapa sahabat untuk mengajarkan agama kepada kaumnya. Rasulullah SAW, dengan niat dakwah, menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan kecil pengajar dan mengutus bersama beliau sekitar 6 hingga 10 orang sahabat pilihan lainnya. Dengan penuh semangat dan tanpa curiga, rombongan da’i ini berangkat menuju wilayah suku tersebut.

Namun, apa yang menanti mereka ternyata sebuah pengkhianatan licik. Menurut Sirah Nabawiyah, utusan dari Adhal dan Al-Qarah itu ternyata berbohong – diam-diam mereka telah bersekongkol dengan kabilah Bani Lihyan dari suku Hudhayl untuk menjebak kaum Muslim. Bani Lihyan ingin membalas dendam atas tewasnya pemimpin mereka, Khalid bin Sufyan, yang sebelumnya terbunuh dalam misi lain oleh seorang sahabat atas perintah Rasulullah. Rombongan Ashim dibawa ke sebuah tempat bernama Raji’ (dekat Usfan, antara Makkah dan Madinah) yang ternyata sudah dikepung oleh sekitar 100 orang pasukan pemanah dari Bani Lihyan/Hudhayl. Para sahabat segera menyadari bahwa mereka masuk perangkap.

Melihat jumlah musuh yang begitu banyak, Ashim bin Tsabit dan kawan-kawannya segera mencari perlindungan di sebuah bukit kecil. Pasukan musuh mengepung dari segala arah tapi belum berhasil menjangkau posisi Muslim. Dalam situasi genting itu, pihak musuh mencoba cara halus: mereka berteriak menawarkan jaminan keselamatan bila para sahabat mau turun dan menyerah. “Turunlah dan menyerahlah! Kalian kami jamin tidak akan dibunuh,” begitu kata orang-orang Hudhayl mencoba membujuk. Mendengar tawaran itu, para sahabat saling berpandangan mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Ashim bin Tsabit lantas tampil berseru tegas menolak menyerah. Ia berkata kepada rekan-rekannya, “Aku tidak percaya pada janji orang-orang musyrik itu!”. Tegasnya, Ashim memilih bertempur sampai titik darah penghabisan daripada mempercayai musuh.

Ashim bin Tsabit juga teringat akan sumpah seorang wanita Quraisy bernama Sulafah binti Sa’ad. Wanita ini memiliki dendam pribadi terhadap dirinya. Dalam riwayat disebutkan bahwa pada Perang Uhud, Ashim bin Tsabit lah yang telah membunuh suami dan beberapa putra Sulafah binti Sa’ad di medan laga. Saat mendapati jenazah keluarganya di Uhud, Sulafah bersumpah atas nama berhala Latta dan Uzza bahwa ia tidak akan tenang sebelum berhasil meminum anggur dari tengkorak kepala Ashim bin Tsabit sebagai balas dendam.

Ia bahkan menyiapkan hadiah 100 ekor unta bagi siapa saja yang bisa membawakan kepalanya. Kabar tentang sumpah dan sayembara ini tentu telah sampai ke telinga Ashim. Karena itulah di bukit Ar-Raji’ tersebut, Ashim sadar bahwa jika ia menyerah hidup-hidup, musuh pasti akan membunuhnya secara keji dan menyerahkan kepalanya kepada Sulafah. Keadaan ini kian menguatkan tekadnya untuk melawan hingga gugur.

Sebelum pertempuran terakhir pecah, Ashim bin Tsabit sempat menengadahkan tangan berdoa memohon pertolongan Allah SWT. Ia berbisik, “Ya Allah, aku memelihara agama-Mu dan berjuang karenanya di siang hari, maka lindungilah jasadku di malam hari; sampaikanlah keadaan kami kepada Nabi-Mu.”. Doa yang menyentuh ini menunjukkan betapa tulusnya niat Ashim – ia memohon agar perjuangannya diketahui Rasulullah dan jasadnya kelak tidak dinodai musuh.

Usai berdoa, Ashim bin Tsabit bersama sahabat-sahabatnya yang memilih bertahan segera meluncurkan serangan balik. Dengan panah di tangan, mereka memanahi musuh yang mendekat. Dikisahkan bahwa Ashim membawa tujuh anak panah dalam tabungnya, dan setiap panahnya berhasil menewaskan seorang musyrik. Setelah anak panah habis, ia dan rekannya turun bertempur dengan tombak dan pedang, menunjukkan keberanian luar biasa meski jumlah lawan tak seimbang.

Pertempuran singkat namun sengit tak terelakkan di bukit Ar-Raji’. Ashim bin Tsabit berjuang mati-matian; ia bahkan mematahkan sarung pedangnya sendiri sebagai tanda tekad pantang mundur. Satu per satu sahabat dalam kelompok itu gugur sebagai syuhada, termasuk Ashim yang akhirnya tumbang setelah tubuhnya dipenuhi luka. Dalam tragedi Ar-Raji’ tersebut, tujuh sahabat termasuk Ashim bin Tsabit gugur syahid dikeroyok panah dari segala penjuru.

Adapun sisa tiga orang sahabat yang sebelumnya memilih turun dan menyerah, malangnya kemudian tetap dikhianati – mereka diikat dan dibawa oleh kaum Hudhayl untuk dijual kepada Quraisy. (Di antara tawanan itu terdapat Khubayb bin Adi dan Zaid bin Dathinah yang kelak menjadi syuhada di Mekkah, tetapi kisah mereka adalah pelajaran lain di luar fokus kita kali ini). Yang jelas, Ashim bin Tsabit wafat sebagai pahlawan Islam, mempertahankan prinsip hingga nafas terakhir. Ia gugur dalam usia muda, sekitar tahun 4 Hijriyah (625 M), dan pengorbanannya meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin.

Karamah: Jasad Ashim bin Tsabit Dilindungi Allah SWT

Kisah Ashim bin Tsabit tidak berakhir dengan gugurnya beliau di Ar-Raji’. Justru, di sinilah salah satu karamah (kemuliaan) yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya yang shalih ini terlihat. Setelah pertempuran usai, kaum Hudhayl awalnya tidak menyadari bahwa salah satu dari syuhada yang mereka bunuh adalah Ashim bin Tsabit – sosok yang “diburu” karena harga kepalanya mahal. Namun, segera setelah mereka tahu identitasnya, orang-orang musyrik itu bersorak gembira membayangkan hadiah besar dari Sulafah binti Sa’ad yang menanti mereka.

Kabar wafatnya Ashim juga cepat menyebar hingga ke Mekkah. Para pemuka Quraisy mengutus sekelompok orang dengan imbalan uang untuk membantu mengambil kepala Ashim bin Tsabit sebagai pemenuhan nazar keji Sulafah. Maka, pasukan Hudhayl pun bergegas mendekati jasad Ashim yang tergeletak di bukit, bermaksud memenggal kepalanya dan membawa “trofi” tersebut.

Pada saat kritis itulah, pertolongan Allah datang dengan cara yang tak terduga. Tiba-tiba, segerombolan lebah (atau dalam beberapa riwayat disebut tawon atau sejenis penyengat) muncul mengamuk di sekitar jasad Ashim bin Tsabit. Gerombolan lebah ini menyerang dan menyengat siapa saja dari pihak musuh yang mendekat, sehingga tak seorang pun mampu mendekati tubuh Ashim. Orang-orang Hudhayl mencoba berulang kali mengusir lebah-lebah itu, namun gagal – setiap kali didekati, lebah-lebah ganas itu menyerang wajah dan tubuh mereka. Keajaiban ini memaksa mereka mundur sejenak. Karena tak kehabisan akal jahat, para musuh berkata, “Tunggu saja sampai malam, lebah-lebah itu pasti pergi saat gelap.”. Maka mereka memutuskan menanti sampai matahari terbenam, berharap bisa mengambil kepala Ashim setelah para lebah tenang.

Menjelang malam, Allah SWT menunjukkan kuasa-Nya sekali lagi. Tiba-tiba langit Ar-Raji’ menurunkan hujan deras disertai petir yang menggelegar. Hujan turun begitu lebatnya hingga menyebabkan banjir besar di lembah sekitar bukit tersebut. Arus air bah yang kuat menghanyutkan segala sesuatu, termasuk jasad suci Ashim bin Tsabit, menjauhkannya dari jangkauan orang-orang kafir. Keesokan paginya, kaum Hudhayl mati-matian mencari jenazah Ashim, tetapi tubuh beliau telah hilang tanpa jejak terbawa arus banjir. Allah SWT mengabulkan doa Ashim: musuh tidak berhasil. Karamah ini menjadi bukti bagaimana Allah menjaga kehormatan hamba-Nya yang beriman.

Peristiwa ajaib tersebut segera sampai kepada kaum Muslimin di Madinah. Mendengar kisah bagaimana lebah-lebah melindungi jasad Ashim dan banjir yang menghilangkannya dari musuh, kaum Muslimin takjub sekaligus bersyukur. Inilah yang tadi disinggung dalam ucapan Umar bin Khattab RA – Allah telah benar-benar memenuhi nazar dan doa Ashim bin Tsabit untuk tidak disentuh kaum musyrik, bahkan setelah syahid. Para ulama menyebut kejadian ini sebagai karamah, yakni kejadian luar biasa yang Allah karuniakan kepada wali atau hamba-Nya yang shalih. Sejak itu, Ashim bin Tsabit pun dikenang dengan sebuah gelar kehormatan, “Hami ad-Dabar,” yang berarti “yang dilindungi/penjaga dari serangan lebah (tawon)”. Julukan ini merujuk langsung pada kisah bagaimana kawanan lebah diutus Allah menjadi perisai bagi jasadnya.

Kisah karamah ini juga memiliki lanjutan dalam sejarah: Rasulullah SAW sangat berduka atas gugurnya Ashim dan para sahabat di Ar-Raji’. Beliau kemudian mengadakan qunut nazilah (doa khusus) selama sebulan penuh dalam shalat Subuh, mendoakan kecelakaan bagi suku-suku yang terlibat pengkhianatan ini, yaitu kabilah Ri’l, Dzakwan, dan Bani Lihyan. Doa Nabi tersebut menunjukkan betapa peristiwa Ar-Raji’ sangat memilukan hati kaum Muslim. Namun di balik itu, kisah Ashim bin Tsabit justru semakin menguatkan iman mereka: Allah tidak meninggalkan hamba-Nya yang setia. Jasad Ashim dimuliakan Allah, diselamatkan dari niat jahat musuh-musuh-Nya. Bagi kaum Muslimin, peristiwa ini menegaskan bahwa kematian syahid di jalan Allah adalah kemuliaan, dan Allah Maha Kuasa menjaga marwah para syuhada-Nya.

Pelajaran dari Kisah Ashim bin Tsabit

Kisah hidup Ashim bin Tsabit menyimpan banyak ibrah (pelajaran) berharga bagi kita. Berikut beberapa pelajaran yang dapat dipetik:

  • Keimanan Teguh dan Prinsip yang Kokoh: Ashim bin Tsabit menunjukkan bahwa seorang Muslim harus memegang teguh prinsip tauhid dan kehormatan imannya. Ia menolak menyerah kepada musuh demi menjaga nazar dan kehormatannya sebagai Muslim, mengajarkan kita untuk tidak menggadaikan prinsip agama walau di bawah tekanan sebesar apapun.
  • Keberanian dan Pengorbanan di Jalan Allah: Keberanian Ashim dalam pertempuran, dari Badar hingga akhir hayat di Ar-Raji’, menjadi teladan bahwa membela kebenaran membutuhkan keberanian dan kesediaan berkorban. Ia tidak gentar meski berhadapan dengan musuh yang jauh lebih besar, mencerminkan semangat jihad fi sabilillah yang tulus.
  • Kekuatan Doa dan Tawakal: Di saat genting, Ashim berdoa memohon pertolongan Allah dan menyerahkan urusannya kepada-Nya. Kisah terkabulnya doa Ashim – dengan datangnya lebah dan banjir – mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Doa orang yang teraniaya dan ikhlas berjuang di jalan-Nya sangatlah mustajab.
  • Kemuliaan bagi Para Syuhada: Allah SWT menunjukkan tanda kekuasaan-Nya dengan melindungi jasad Ashim bin Tsabit. Ini menjadi pengingat bahwa para syuhada memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Bahkan jasad mereka pun dijaga oleh Allah dari penistaan musuh. Sebagaimana firman Allah, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki” (QS. Ali Imran: 169).
  • Teladan Bagi Generasi Selanjutnya: Kisah Ashim bin Tsabit terus menginspirasi umat Islam hingga kini. Keberaniannya, keteguhannya, dan karamah yang menyertainya menjadi penguat iman bahwa pertolongan Allah itu nyata bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Setiap Muslim dapat mengambil teladan dari Ashim: berpegang teguh pada iman, berani menegakkan kebenaran, dan yakin bahwa Allah selalu bersama orang-orang beriman.

Demikianlah, kisah Ashim bin Tsabit – sahabat Nabi yang pemberani dan mendapat karamah perlindungan setelah syahid – memberikan kita pelajaran tentang iman, keberanian, dan pertolongan Allah. Semoga Allah meridhai Ashim bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dan semoga semangat perjuangannya menyalakan cahaya keberanian dalam hati kaum Muslimin sepanjang zaman.

Wallahu a’lam.

You might also like