Kisah Utsman bin Mazh’un – Sahabat Nabi yang Zuhud dan Teguh Iman

Kisah Utsman bin Mazh’un – Sahabat Nabi yang Zuhud dan Teguh Iman

Masjid Ismuhu Yahya – Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan Muhajirin yang dikenal karena kesalehan dan kezuhudannya. Ia termasuk dalam 40 orang pertama yang memeluk Islam; bahkan tercatat sebagai orang ke-14 yang menerima dakwah Nabi di Makkah. Utsman bin Mazh’un berasal dari keluarga terpandang Bani Jumah, salah satu klan suku Quraisy. Sejak awal masuk Islam, ia menunjukkan iman yang kokoh dan kesediaan berkorban demi agama.

Pada periode dakwah di Makkah, Utsman turut dalam hijrah pertama ke Abisinia (Habasyah) demi menyelamatkan iman dari penindasan Quraisy, lalu kembali lagi ke Makkah ketika situasi dianggap membaik. Kelak, saat Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, Utsman bin Mazh’un juga berhijrah bersama kaum muslimin. Di Madinah ia ikut berjuang dalam Perang Badar, perang besar pertama melawan kaum musyrik. Tak lama setelah pertempuran bersejarah itu, Utsman bin Mazh’un wafat (tahun 2 atau 3 Hijriah, ±624 M) dan dimakamkan di Jannatul Baqi.

Ia dikenal sebagai muslim Muhajirin pertama yang dimakamkan di pemakaman Baqi Madinah, dan wafatnya disertai kenangan yang sangat mendalam dari Rasulullah SAW. Kisah hidup Utsman bin Mazh’un menyimpan banyak pelajaran berharga tentang keteguhan iman, kesederhanaan hidup, dan cinta sepenuh hati kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karakter Mulia Sejak Masa Jahiliyah

Sejak masa jahiliyah (sebelum Islam), Utsman bin Mazh’un sudah menonjol dengan akhlak yang mulia. Di tengah masyarakat Quraisy yang terbiasa dengan minuman keras, Utsman mengambil sikap berbeda. Ia menjauhi khamr (minuman memabukkan) jauh sebelum Islam mengharamkannya, karena tidak ingin akal sehatnya hilang dan menjadi bahan olokan orang lain. Sikap teguh ini menunjukkan nurani Utsman yang bersih sejak muda. Konon Utsman berkata tentang minuman keras: “Aku tak akan meminum sesuatu yang bisa menghilangkan kesadaranku, membuat orang rendah mentertawaiku, dan menjerumuskan diriku pada kehinaan.” Prinsip hidup yang luhur ini membuatnya disegani bahkan sebelum menjadi muslim. Karakter Utsman bin Mazh’un yang jujur, bijak, dan berintegritas sejak muda menjadi pertanda bahwa kelak ia akan menjadi salah satu pembela kebenaran yang teguh.

Ketika cahaya Islam datang, hati Utsman bin Mazh’un yang tulus itu pun segera menerimanya. Dalam sejarah disebutkan bahwa Utsman termasuk golongan as-sabiqun al-awwalun, yakni orang-orang pertama yang masuk Islam. Ia memeluk Islam berkat ajakan sahabat karib Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Utsman menerima dakwah Nabi Muhammad SAW pada fase awal, sebelum Rasulullah berdakwah terbuka di Darul Arqam. Bersama beberapa tokoh lain seperti Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan lainnya, Utsman bin Mazh’un datang menemui Nabi secara diam-diam untuk menyatakan syahadat. Pilihannya memeluk Islam di saat dakwah masih sembunyi-sembunyi menunjukkan keberanian dan ketulusan imannya. Ia siap menempuh risiko dimusuhi kaumnya demi keyakinan baru yang diyakininya sebagai kebenaran.

Hijrah ke Habasyah dan Ujian Iman di Makkah

Memasuki tahun-tahun berat di Makkah, tekanan dan intimidasi Quraisy terhadap kaum muslim makin menjadi. Demi melindungi iman para pengikutnya, Nabi Muhammad SAW mengizinkan sebagian sahabat hijrah ke negeri Habasyah (Abisinia, kini Ethiopia). Pada hijrah pertama inilah Utsman bin Mazh’un tampil sebagai pemimpin rombongan kecil kaum muslimin. Sekitar bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, Utsman bersama sekitar belasan orang berlayar menyeberangi Laut Merah menuju Habasyah. Rombongan ini disambut baik oleh Raja Najasyi yang berkuasa di Habasyah; di sana para Muhajirin memperoleh perlindungan dan kebebasan beribadah tanpa gangguan. Bagi Utsman, hijrah ini adalah bentuk pengorbanan meninggalkan tanah air demi keselamatan aqidah. Namun, kecintaannya kepada kampung halaman membuatnya terus mengikuti kabar dari Makkah.

Beberapa bulan kemudian, tersebar desas-desus bahwa Quraisy di Makkah telah menerima Islam. Mendengar kabar itu, Utsman bin Mazh’un dan para sahabat pun gembira dan memutuskan kembali ke Makkah pada bulan Syawal di tahun yang sama. Akan tetapi, setibanya di Makkah mereka mendapati kenyataan pahit: berita itu ternyata tidak benar. Quraisy masih tetap dalam kekafiran, bahkan siksaan terhadap kaum muslimin makin meningkat. Sebagian sahabat yang pulang tadi akhirnya memilih hijrah kembali ke Habasyah untuk kedua kalinya. Adapun Utsman bin Mazh’un memutuskan tetap tinggal di Makkah, meski konsekuensinya harus menghadapi tekanan Quraisy yang kejam.

Di Makkah, Utsman bin Mazh’un sempat berada dalam situasi yang relatif aman berkat hubungan keluarganya. Ia adalah keponakan dari al-Walid bin al-Mughirah, seorang pembesar Quraisy yang terpandang. Walid (ayah Khalid bin Walid) menawari dan memberikan jaminan perlindungan suku kepada Utsman. Dengan perlindungan Walid, tidak ada orang Makkah yang berani mengganggu Utsman; ia bisa beraktivitas tanpa takut disiksa. Namun, melihat dirinya aman sementara sahabat-sahabat seiman lain terus dianiaya, hati Utsman justru gelisah. Setiap hari ia menyaksikan saudara-saudaranya seaqidah diseret, dipukul, dan ditindas, sementara ia sendiri berjalan bebas di bawah perlindungan seorang musyrik. Timbul perasaan tidak enak dalam jiwanya – seolah kenyamanan itu adalah sebuah kekeliruan ketika yang lain menderita di jalan Allah.

Akhirnya, Utsman bin Mazh’un mengambil keputusan besar demi solidaritas dan iman. Ia mendatangi pamannya, Walid bin Mughirah, dan dengan hormat berkata, “Wahai Abu Abdus Syams (kunyah Walid), engkau telah memenuhi janjimu melindungiku. Kini, ku kembalikan perlindungan itu kepadamu.”. Walid terkejut dan bertanya apakah ada orang Quraisy yang menyakiti Utsman hingga ia melakukan hal itu. Utsman menjawab bahwa tidak ada yang mengganggunya, namun ia merasa cukup dengan perlindungan Allah saja dan tidak ingin berlindung kepada selain-Nya. Mendengar tekad keponakannya, Walid akhirnya mengerti. Ia meminta Utsman mengumumkan pembatalan jaminan itu secara terbuka di depan para tokoh Quraisy, agar semua pihak tahu bahwa mulai saat itu Utsman bin Mazh’un tidak lagi berada dalam perlindungan Walid.

Walid bin Mughirah lalu membawa Utsman ke tengah kerumunan Quraisy di dekat Ka’bah. Di hadapan majelis itu Walid berseru, “Ketahuilah, keponakanku Utsman telah datang mengembalikan jaminan perlindungan dariku.” Utsman membenarkan pernyataan pamannya seraya berkata lantang, “Benar, aku telah dapati pamanku menunaikan tanggung jawabnya dengan baik. Hanya saja, sekarang aku lebih suka berada dalam penjagaan Allah semata dan tak mau lagi meminta perlindungan kepada selain-Nya.” Pernyataan berani ini mengejutkan orang-orang Quraisy. Utsman kemudian duduk di antara mereka, bergabung sebagai rakyat biasa tanpa status istimewa.

Tak lama berselang, seorang penyair Quraisy terkenal, Labid bin Rabi’ah, yang hadir di majelis itu mulai melantunkan syair. Labid berucap, “Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah bathil (fana).” Mendengar syair tauhid terselubung ini, Utsman bin Mazh’un spontan menyahut, “Benar sekali,” menyetujui kalimat Labid. Labid melanjutkan, “Dan setiap kenikmatan pasti sirna.” Kali ini Utsman menyanggah, “Tidak, itu keliru. Kenikmatan surga tidak akan sirna selama-lamanya.”.

Suasana majelis pun tegang; bagi Quraisy, Utsman telah lancang memotong syair favorit mereka. Sebagian hadirin geram melihat keberanian Utsman menentang tradisi syair mereka dengan memasukkan unsur akidah Islam. Seorang pria Quraisy bangkit dan menghardik Utsman, menyebutnya “orang dungu yang meninggalkan agama nenek moyang”. Utsman membalas ucapan itu dengan hujjah, sehingga terjadi debat sengit di tempat itu. Merasa tersudut, pria Quraisy tadi maju dan tiba-tiba memukul wajah Utsman bin Mazh’un. Pukulan keras itu membuat salah satu mata Utsman lebam dan membiru.

Melihat keponakannya terluka, al-Walid bin Mughirah yang masih berada di sana segera mendekati Utsman. Walid dengan menyesal berkata, “Wahai keponakanku, demi Allah, matamu yang satu ini sebenarnya tak perlu mengalami penderitaan seperti itu. Engkau dulu berada dalam lindungan yang kuat dan terhormat.” Walid tampak iba – andai Utsman tetap mau dalam jaminannya, tentu tak akan ada yang berani menyentuhnya. Namun, Utsman bin Mazh’un memandang pamannya dengan teguh sambil tersenyum.

Ia menjawab, “Demi Allah, mata satuku yang sehat sangat merindukan penderitaan yang sama seperti yang dialami saudaranya ini, di jalan Allah. Ketahuilah, kini aku dalam penjagaan Dzat yang jauh lebih mulia dan lebih kuasa daripada engkau, wahai paman (Abu Abdus Syams).”. Mendengar jawaban penuh iman itu, Walid bin Mughirah hanya bisa terdiam. Dengan mata berkaca-kaca, Walid mengajak Utsman kembali di bawah perlindungannya karena kasih sayangnya pada sang keponakan. Namun Utsman bin Mazh’un menolak tawaran itu dengan halus. Baginya, pukulan di jalan Allah justru terasa manis karena menjadi tanda solidaritas dengan penderitaan saudara-saudaranya seiman.

Sikap Utsman bin Mazh’un tersebut menjadi bukti nyata keteguhan iman dan keberpihakannya kepada kebenaran. Ia rela mengorbankan kenyamanan dan keamanan duniawi demi merasakan nikmatnya berjuang di jalan Allah, sejajar dengan sahabat-sahabat lain yang tertindas. Peristiwa ini dikenang sepanjang masa: Utsman dengan bangga menyatakan bahwa perlindungan Allah-lah yang paling kuat, dan ia tidak takut dengan konsekuensi memilih jalan itu. Keteladanan Utsman bin Mazh’un dalam hal keberanian dan solidaritas benar-benar menginspirasi kaum muslimin hingga kini.

Kesungguhan Ibadah dan Nasihat Rasulullah SAW

Setelah melewati masa-masa penuh ujian di Makkah, Utsman bin Mazh’un ikut berhijrah ke Madinah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya. Di kota Madinah yang baru, Utsman dikenal sebagai seorang ahli ibadah yang sangat tekun. Kesederhanaan hidupnya kian tampak; ia memilih kehidupan zuhud, menjauhi gemerlap dunia. Bahkan, karena semangatnya yang membara untuk beribadah, Utsman sempat berpikir untuk meninggalkan sama sekali kesenangan duniawi demi fokus pada akhirat.

Ia merasa bahwa hal-hal seperti hubungan suami istri, harta, dan kenikmatan jasmani bisa mengganggu konsentrasi ibadah. Niatnya ini begitu ekstrem hingga diriwayatkan ia pernah meminta izin kepada Nabi Muhammad SAW untuk menceraikan istrinya, Khaulah binti Hakim, agar ia dapat hidup membujang seperti rahib. Tidak hanya itu, Utsman berniat menempuh pola hidup sangat asketik: menjauh dari perempuan, bahkan mau mengebiri dirinya (supaya tak tergoda nafsu), mengharamkan diri makan daging, begadang semalaman suntuk untuk tahajud, dan berpuasa terus-menerus di siang hari tanpa pernah berbuka. Singkat kata, Utsman bin Mazh’un bertekad meninggalkan seluruh kenikmatan dunia demi ibadah total.

Keinginan Utsman yang tidak biasa ini ia sampaikan langsung kepada Rasulullah SAW dengan penuh harap. Namun, di luar dugaannya, Nabi Muhammad SAW tidak menyetujui niat tersebut. Alih-alih memuji, Rasulullah menegur Utsman bin Mazh’un dengan tegas. Beliau menjelaskan bahwa jalan asketisme ekstrem yang hendak ditempuh Utsman bukanlah ajaran Islam.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya aku, sebagai Rasul, juga menikah. Tidak ada konsep rahbaniyah (kependetaan/monastisisme) dalam Islam. Rahbaniyah umatku adalah berjihad di jalan Allah. ‘Castration’ bagi umatku adalah dengan berpuasa (menahan diri secara wajar). Janganlah kalian haramkan yang baik yang telah Allah halalkan bagi kalian. Aku tidur (di malam hari) dan juga sholat, aku berpuasa (di siang hari) dan juga berbuka. Barangsiapa tidak suka dengan sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.”. Demikianlah Nabi menasihati Utsman agar beribadah secara proporsional dan mengikuti teladan beliau yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat.

Melalui nasihat itu, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa Islam tidak mengajarkan penyiksaan diri atau meninggalkan dunia sepenuhnya. Keseimbangan dan moderasi adalah kunci dalam beribadah. Keluarga dan istri memiliki hak atas suami, tubuh pun punya hak untuk istirahat, dan Allah tidak melarang hamba-Nya menikmati rezeki halal di dunia selama tidak berlebihan.

Utsman bin Mazh’un tentu menerima teguran Nabi dengan lapang dada dan ketaatan. Sejak itu, ia dan para sahabat lain yang sempat berpikiran serupa (seperti Ali bin Abi Thalib dan Abu Dzar al-Ghifari) meninggalkan niat membujang seumur hidup. Mereka pun menjalani ibadah dengan giat namun tetap sejalan sunnah Nabi, yaitu seimbang antara ibadah, keluarga, dan hak-hak jasmani. Kisah teguran Nabi kepada Utsman bin Mazh’un ini menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam agar tidak berlebihan dalam beragama. Semangat beribadah yang tinggi harus diarahkan sesuai tuntunan Rasulullah, sehingga menghasilkan amal yang dicintai Allah – yakni yang tengah-tengah dan berkelanjutan, bukan yang ekstrim sesaat.

Wafatnya Utsman bin Mazh’un yang Menggugah Hati

Jannatul Baqi di Madinah, pemakaman Islam tertua yang menjadi tempat peristirahatan terakhir banyak sahabat Nabi. Utsman bin Mazh’un tercatat sebagai Muhajirin pertama yang dimakamkan di sana.

Memasuki tahun ke-2 Hijriah di Madinah, setelah kemenangannya bersama kaum muslimin di Perang Badar, Utsman bin Mazh’un jatuh sakit. Kesehatannya kian menurun, hingga akhirnya pada bulan Sya’ban 3 H (sekitar akhir 624 M) Utsman menghembuskan napas terakhir. Kabar wafatnya Utsman bin Mazh’un disambut duka mendalam di kalangan kaum muslimin, apalagi ia adalah sahabat Muhajirin pertama yang meninggal sejak kedatangan Nabi di Madinah. Rasulullah SAW sendiri hadir mendampingi detik-detik terakhir kehidupan Utsman.

Ketika Utsman wafat dan jenazahnya telah dimandikan serta dikafani, Nabi masuk menemui jenazah sahabat tercintanya itu. Ada seorang wanita Anshar bernama Ummu Ala’ yang berada di sana berkata, “Rahmat Allah atasmu, wahai Abu Saib (kunyah Utsman). Kesaksianku atasmu: sungguh Allah telah memuliakanmu.” Mendengar ucapan itu, Rasulullah menoleh dan bersabda, “Darimana engkau tahu bahwa Allah telah memuliakannya? Adapun dia, kematian telah datang menjemputnya. Demi Allah, aku berharap kebaikan baginya, namun aku tidak tahu apa yang Allah takdirkan untuknya – padahal aku ini Rasul Allah.”. Teguran halus Nabi ini membuat Ummu Ala’ tersadar untuk tidak gegabah memastikan status akhirat seseorang, meskipun orang itu sangat saleh.

Prosesi pemakaman Utsman bin Mazh’un diliputi suasana haru. Rasulullah SAW sendiri yang mengimami sholat jenazah Utsman. Ketika jenazah hendak dikebumikan, Nabi ikut mengantarkannya ke Pemakaman Baqi’ di Madinah. Beliau bahkan memerintahkan seorang sahabat untuk mencari sebuah batu besar sebagai penanda kubur Utsman. Para sahabat kesulitan mengangkat batu yang dimaksud, hingga Rasulullah sendiri turun tangan.

Diriwayatkan, Nabi Muhammad membuka lengan bajunya, memanggul batu besar itu, lalu meletakkannya di sisi kepala pusara Utsman bin Mazh’un. Sambil menandai makam tersebut, beliau bersabda, “Dengan ini aku tandai kubur saudara tercintaku, dan kelak aku akan menguburkan di sekitarnya orang-orang yang wafat dari keluargaku.”. Benar saja, di kemudian hari area sekitar makam Utsman bin Mazh’un menjadi kompleks pemakaman bagi banyak ahli bait dan sahabat Nabi. Batu nisan yang dipasang Rasulullah itu menjadi tanda cinta beliau kepada Utsman, yang dianggapnya bak saudara sendiri.

Saat perpisahan terakhir, Rasulullah SAW tak kuasa menahan sedih. Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan bahwa setelah jenazah disemayamkan, Nabi membuka kain penutup wajah Utsman, lalu mencium kening Utsman di antara kedua matanya. Air mata Rasulullah pun jatuh berlinang; beliau menangis cukup lama di samping jenazah sahabatnya ini. Sambil mengantar jenazah menuju liang lahat, Rasulullah sempat berucap dengan pilu, “Beruntunglah engkau wahai Utsman.

Dunia tidak sempat mengotorimu dan engkau pun tidak sempat terbuai oleh dunia.”. Kalimat itu menggambarkan betapa sucinya kehidupan Utsman bin Mazh’un – ia pergi menemui Allah dalam keadaan zuhud, nyaris tak tersentuh gemerlap dunia sedikit pun. Menurut sebagian riwayat, Utsman bin Mazh’un juga merupakan saudara sepersusuan (saudara sesusuan) Nabi Muhammad SAW, sehingga wajar jika Rasulullah merasakan kehilangan yang amat mendalam. Peristiwa wafatnya Utsman bin Mazh’un menjadi salah satu momen pertama kalinya Nabi merasakan duka cita kehilangan sahabat dekat di Madinah.

Pelajaran dan Teladan dari Kehidupan Utsman bin Mazh’un

Kisah hidup Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu menyajikan banyak ibrah (pelajaran) berharga bagi umat Islam, khususnya bagi kita para jamaah masjid yang mendambakan keteguhan iman dan akhlak mulia. Pertama, dari Utsman kita belajar tentang kokohnya tauhid dan keberanian moral. Ia tidak hanya menjadi salah satu yang pertama beriman, tapi juga berani menegakkan kebenaran di tengah kaumnya. Keputusannya untuk melepaskan jaminan perlindungan pamannya demi merasakan penderitaan di jalan Allah menunjukkan tingkat iman yang luar biasa – bahwa ridha Allah lebih ia cari daripada kenyamanan dunia. Solidaritas Utsman terhadap saudara-saudara seiman mengajarkan kita untuk peduli dan setia kawan; ia tak mau selamat sendirian sementara orang lain menderita.

Kedua, Utsman bin Mazh’un dikenal dengan sifat zuhud (hidup sederhana dan menjauhi kemewahan). Ia rela meninggalkan kesenangan duniawi sejauh yang ia mampu, demi meraih kenikmatan abadi di akhirat. Meskipun sempat hendak berlebih-lebihan dalam zuhud, ia dengan rendah hati menerima nasihat Nabi untuk tetap moderatif. Dari sini, Utsman mengajarkan keseimbangan: mencintai akhirat tidak berarti membenci dunia secara total. Yang dilarang adalah tenggelam dalam dunia, bukan hidup di dunia. Utsman menunjukkan bahwa seorang muslim bisa saja memiliki dunia di tangannya, tapi tidak di hatinya. Zuhudnya Utsman tercermin sampai akhir hayat – Nabi sendiri bersaksi bahwa Utsman “tidak sempat dilalaikan oleh dunia”. Ini pelajaran bagi kita agar tidak tertipu oleh gemerlap dunia: gunakankan dunia secukupnya sebagai bekal menuju Allah.

Ketiga, sosok Utsman bin Mazh’un memberikan contoh tentang kesungguhan ibadah yang disertai ketaatan pada sunnah. Semangat ibadah Utsman sangat tinggi, namun ketika diingatkan oleh Rasulullah untuk menyeimbangkan dengan kebutuhan manusiawi, ia patuh. Ini mengajarkan kita agar selalu menjadikan tuntunan Nabi sebagai rujukan dalam beramal. Niat baik saja tidak cukup, harus sesuai dengan cara yang Allah dan Rasul-Nya ridai. Ketaatan Utsman pada nasihat Nabi membuahkan kebaikan, ia tetap menjadi ahli ibadah tanpa harus mengorbankan fitrah kehidupan yang wajar.

Terakhir, kecintaan Rasulullah SAW kepada Utsman bin Mazh’un menunjukkan betapa istimewanya pribadi Utsman. Nabi menyebutnya “saudara”-nya, mencium jenazahnya, dan menangisinya – ini jarang sekali disebutkan dilakukan Nabi kepada sahabat lainnya. Dari sini kita tahu bahwa orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya bukanlah yang terpandang kaya atau berpangkat, melainkan yang tulus imannya, luhur akhlaknya, dan sederhana hidupnya. Utsman bin Mazh’un memenuhi semua kriteria itu. Ia mungkin tidak seterkenal Abu Bakar atau Umar, tetapi di hati Rasulullah, Utsman memiliki tempat yang istimewa.

Meneladani Utsman bin Mazh’un berarti meneladani kombinasi sifat tegar dalam iman, rendah hati, sederhana, dan taat. Sebagai jamaah masjid dan kaum muslimin awam, kita bisa mengambil inspirasi dari perjalanan hidup sahabat Nabi yang mulia ini. Utsman bin Mazh’un menunjukkan bahwa iman yang kuat akan melahirkan keberanian berkorban, zuhud terhadap dunia akan mendatangkan kemuliaan di sisi Allah, dan ketaatan pada nasihat Nabi akan menyelamatkan kita dari kesalahan dalam beragama.

Semoga Allah meridhai Utsman bin Mazh’un dan para sahabat Nabi lainnya, dan semoga kita dapat menapaktilasi jejak mereka sesuai kadar kemampuan kita. Kisah Utsman bin Mazh’un radhiyallahu ‘anhu yang mengalir bagai narasi ini kiranya dapat menyentuh hati kita – bahwa pada akhirnya, kemuliaan di sisi Allah-lah yang abadi, sebagaimana ditunjukkan oleh kehidupan dan kematian Utsman bin Mazh’un.

Dengan mengenang perjalanan hidup Utsman bin Mazh’un, kita diingatkan untuk selalu memperkuat tauhid, berakhlak mulia, mencintai ibadah dengan proporsional, serta tidak silau dengan gemerlap dunia. Semoga cerita sahabat Nabi yang zuhud dan teguh iman ini menginspirasi kita semua untuk menjadi hamba-hamba Allah yang istiqamah di jalan-Nya. Allahummaghfir li Utsman bin Mazh’un, warhamhu, wa’fu ‘anhu – semoga Allah mengampuni, merahmati, dan meridhai Utsman bin Mazh’un. Aamiin.

You might also like