Kisah Uwais Al Qarni dalam Al Quran: Teladan Berbakti kepada Ibu - Masjid Ismuhu Yahya

Kisah Uwais Al Qarni dalam Al Quran: Teladan Berbakti kepada Ibu

Kisah Uwais al Qarni dalam Al Quran menjadi pelajaran inspiratif tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya. Meskipun nama Uwais al-Qarni tidak disebutkan langsung dalam Al-Qur’an, kisah hidupnya sering dikaitkan dengan pesan Al-Qur’an tentang berbakti kepada ibu dan ayah. Allah SWT berfirman:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” – (QS. Al-Isra’ 17:23)

Ayat di atas menegaskan betapa pentingnya berbuat baik kepada orang tua. Uwais al-Qarni adalah contoh nyata dari pengamalan ayat tersebut. Dalam sejarah Islam, Uwais dikenal sebagai pemuda saleh yang sangat berbakti kepada ibunya. Kisah hidupnya penuh keteladanan, pengorbanan, dan cinta kasih kepada orang tua. Bahkan Rasulullah SAW sendiri mengakui keistimewaan Uwais dan menyebutnya sebagai “penghuni langit”, meskipun Uwais tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Berikut ini kisah lengkap Uwais al-Qarni dan pelajaran berharga di baliknya.

 

Kisah Uwais Al Qarni dalam Al Quran: Pemuda Saleh dari Yaman

Uwais al-Qarni hidup di masa Nabi Muhammad SAW, sekitar abad ke-7 M, di sebuah desa terpencil di wilayah Qaran, Yaman. Ia berasal dari keluarga miskin; ayahnya sudah tiada, sehingga Uwais hidup berdua dengan ibunya yang sudah tua, lumpuh, dan penglihatannya mulai kabur. Uwais sendiri menderita penyakit sopak (sejenis penyakit kulit yang membuat tubuhnya belang-belang) sejak kecil. Meski fisiknya tidak sempurna dan hidup dalam kemiskinan, Uwais tumbuh menjadi pemuda yang sholeh. Sehari-hari ia bekerja menggembalakan kambing dan unta milik orang lain untuk menyambung hidup. Dalam kesehariannya, Uwais dikenal suka membantu tetangga dan memiliki keimanan serta ketakwaan yang kuat kepada Allah SWT.

Sejak masuk Islam, Uwais sangat mencintai Rasulullah SAW. Dikisahkan bahwa ketika Uwais mendengar gigi Rasulullah patah dalam Perang Uhud, ia pun mematahkan giginya sendiri sebagai bentuk empati dan cinta kepada Sang Nabi. Meskipun begitu besar keinginannya bertemu Rasulullah, Uwais lebih mengutamakan tanggung jawab merawat ibunya yang sedang uzur. Ia paham betul bahwa berbakti kepada ibu adalah kewajiban utama. Nama Uwais al-Qarni pun menjadi termasyhur di kalangan malaikat dan penghuni langit karena kesalehan dan baktinya, walaupun di bumi ia hanyalah pemuda fakir yang tak dikenal orang banyak.

Kisah Uwais Al Qarni dalam Al Quran : Pengorbanan dan Bakti Uwais Menggendong Ibu ke Tanah Suci

Suatu hari, ibunda Uwais yang renta menyampaikan keinginan terakhirnya kepada sang anak. Sambil memandang Uwais dengan haru, ibunya berucap, “Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi bersamamu. Ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji,” pintanya penuh harap. Permintaan ini tentu bukan hal mudah. Jarak Yaman ke Makkah terbentang ribuan kilometer, melewati padang pasir tandus yang panas. Uwais yang miskin tidak punya unta atau bekal cukup untuk melakukan perjalanan sejauh itu. Namun, kecintaan Uwais pada ibunya membuatnya bertekad kuat memenuhi permintaan tersebut.

Demi mewujudkan impian sang ibu berhaji, Uwais mencari cara yang tak lazim. Ia membeli seekor anak lembu. Setiap hari, Uwais memanggul anak lembu itu naik-turun bukit di dekat rumahnya. Orang-orang yang melihat bahkan menertawakan dan menyebutnya gila, karena pemandangan pemuda menggendong lembu memang aneh. Namun Uwais tak peduli diejek; ia terus melakukan hal tersebut tanpa terlewat satu hari pun. Seiring waktu, anak lembu itu kian tumbuh besar dan berat. Latihan rutin telah membuat otot Uwais semakin kuat. Setelah delapan bulan, lembu kecil tadi telah berbobot sekitar 100 kg, dan Uwais pun kini terbiasa mengangkat beban berat. Rupanya, semua itu adalah cara Uwais berlatih agar kelak sanggup menggendong ibunya ke Makkah.

ibalah musim haji. Dengan izin Allah, Uwais merealisasikan tekadnya. Dia menggendong ibunya di punggung, berjalan kaki menempuh perjalanan panjang dari Yaman ke Makkah. Bayangkan, betapa besar cinta Uwais kepada ibunya hingga ia rela berjalan berhari-hari melintasi gurun panas demi menemani sang ibu beribadah haji. Setibanya di Tanah Suci, Uwais terus menggendong ibunya ketika menjalankan manasik haji: mulai dari wukuf di Arafah, thawaf mengelilingi Ka’bah, hingga sa’i dari Shafa ke Marwah. Sang ibu sangat terharu dan meneteskan air mata bahagia dapat melihat Ka’bah sebelum akhir hayatnya. Di hadapan Baitullah, ibu dan anak itu berdoa bersama dengan penuh khusyuk.

Pada momen mengharukan tersebut, Uwais berdoa hanya untuk sang Ibu. Ia berkata, “Ya Allah, ampunilah semua dosa ibuku,” memohonkan ampun untuk ibunda tercinta. Mendengar doa itu, ibunya tersentak dan bertanya, “Bagaimana dengan dosamu sendiri, Wahai Uwais?” Uwais tersenyum penuh takzim seraya menjawab, “Jika dosa Ibu diampuni, Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha Ibu yang akan membawaku ke surga,” ujarnya tulus. Benar saja, Uwais tak memikirkan dirinya sedikit pun. Baginya, kebahagiaan dan keridhaan ibu adalah segalanya.

Allah SWT pun mengabulkan doa Uwais. Seketika itu, penyakit sopak yang diderita Uwais sejak lama mendadak sembuh total oleh mukjizat Allah. Hanya tertinggal sebercak kecil berwarna putih sebesar koin dirham di tengkuk (leher belakang) Uwais. Tanda putih ini kelak menjadi ciri pengenal Uwais yang sangat penting dalam lanjutan kisah hidupnya. Di balik kesembuhan itu terselip hikmah: Allah meninggalkan sedikit bekas putih agar hamba-Nya yang satu ini dapat dikenali oleh dua sahabat utama Nabi di kemudian hari. Begitu selesai menunaikan haji dan kembali ke Yaman, tak lama kemudian ibunda Uwais wafat dengan tenang, diiringi bakti luar biasa putranya hingga akhir hayat.

Sebagai penutup, kisah Uwais al-Qarni adalah contoh nyata bahwa berbakti kepada orang tua bisa mengantarkan seseorang pada derajat tinggi di sisi Allah. Uwais yang “tak terkenal di bumi” justru masyhur di langit, namanya disebut-sebut oleh Rasulullah dan para malaikat. Sosok Uwais al-Qarni menginspirasi kita bahwa cinta kepada ibu dan ayah harus diwujudkan dengan tindakan nyata, pengorbanan, dan doa tulus. Kisahnya akan terus dikenang sepanjang masa sebagai teladan mulia tentang bagaimana seorang anak meraih kemuliaan dunia akhirat melalui bakti tanpa batas kepada orang tua. Semoga kita bisa meneladani Uwais al-Qarni dan memperoleh ridha Allah lewat ridha ibu bapak kita. Amin.

 

You might also like