Kultum 7 menit Tentang Tiga Karakter Orang Taqwa: Infak, Menahan Amarah, dan Memaafkan - Masjid Ismuhu Yahya

Kultum 7 menit Tentang Tiga Karakter Orang Taqwa: Infak, Menahan Amarah, dan Memaafkan

Masjid Ismuhu Yahya – Setiap tahun kita berpuasa. Kita menahan lapar dan dahaga. Kita menahan diri dari hal-hal yang membatalkan. Namun pertanyaannya, apakah puasa itu benar-benar membentuk kita menjadi orang yang bertakwa?

Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Tujuan puasa jelas: لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — agar kamu menjadi orang yang bertakwa. Maka taqwa bukan sekadar gelar. Taqwa harus terlihat dalam karakter dan perilaku kita sehari-hari. Hari ini kita akan membahas tiga karakter orang bertakwa, sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an.

Puasa melatih kesabaran, Puasa melatih kejujuran, Puasa melatih pengendalian diri. Ketika tidak ada manusia yang melihat, kita tetap tidak makan dan minum. Itu artinya kita sadar Allah melihat. Di situlah benih taqwa tumbuh. Taqwa adalah kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi. Namun jamaah sekalian, taqwa tidak berhenti di bulan Ramadhan. Taqwa harus hidup dalam akhlak.

Allah menggambarkan karakter orang bertakwa dalam QS Ali Imran ayat 133-134:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit, yang menahan amarah, dan yang memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”

Ayat ini menyebutkan karakter orang bertakwa. Mari kita bedah satu per satu.

  1. Karakter Pertama: Infak Dalam Keadaan Miskin Maupun Kaya
    Allah berfirman:

    الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

    Orang bertakwa tidak menunggu kaya untuk berbagi. Mereka berinfak saat lapang. Mereka juga berinfak saat sempit. Mengapa? Karena mereka yakin rezeki dari Allah. Mereka yakin sedekah tidak mengurangi harta. Sering kali kita berkata, “Nanti kalau sudah mapan, baru bersedekah.” Itu bukan karakter taqwa.

    Orang bertakwa berpikir berbeda. Sedikit tetap memberi. Banyak semakin memberi. Infak bukan soal jumlah. Infak soal keikhlasan.

  2. Karakter Kedua: Menahan Amarah

    Allah menyebut:

    وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

    Menahan marah bukan berarti tidak pernah marah. Marah itu manusiawi. Namun orang bertakwa mampu mengendalikan emosinya. Di rumah, suami bisa marah pada istri. Istri bisa marah pada suami. Orang tua bisa marah pada anak. Namun orang bertakwa tidak melampiaskan emosinya dengan zalim.

    Puasa melatih ini. Saat lapar dan lelah, emosi mudah naik. Tetapi kita menahannya demi Allah. Jika setelah Ramadhan kita masih mudah meledak, berarti latihan itu belum berhasil. Menahan amarah adalah tanda kedewasaan iman.

  3. Karakter Ketiga: Memaafkan Kesalahan Orang Lain

    Allah melanjutkan:

    وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

    Ini tingkat lebih tinggi. Menahan marah itu hebat. Namun memaafkan itu luar biasa. Orang bertakwa tidak menyimpan dendam. Mereka tidak memelihara kebencian. Mereka tidak menikmati melihat orang lain jatuh.

    Memaafkan bukan tanda lemah. Memaafkan adalah kekuatan jiwa. Mengapa orang bertakwa mudah memaafkan? Karena mereka ingin Allah memaafkan mereka. Jika kita ingin dosa kita diampuni, maafkanlah kesalahan orang lain.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hari ini mari kita amalkan satu hal sederhana namun berat:

Maafkan satu orang yang selama ini sulit kita maafkan.

Mungkin tetangga, Mungkin saudara, Mungkin rekan kerja, Lepaskan beban di hati, Bersihkan jiwa, Karena hati yang bersih lebih dekat kepada taqwa.

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَّقِينَ، وَارْزُقْنَا قَلْبًا سَلِيمًا، وَنَفْسًا مُطْمَئِنَّةً، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang bertakwa. Karuniakan kepada kami hati yang bersih dan jiwa yang tenang. Ampuni dosa-dosa kami, wahai Rabb semesta alam.

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

You might also like