Kultum Ramadhan Hari ke 8: Menguji Kebenaran Informasi di Era Digital - Masjid Ismuhu Yahya

Kultum Ramadhan Hari ke 8: Menguji Kebenaran Informasi di Era Digital

Masjid Ismuhu Yahya – Kultum Ramadhan hari ke 8 mengajak kita merenungkan cara menyikapi arus informasi yang begitu deras. Setiap hari kita menerima berbagai berita melalui percakapan, media sosial, dan grup pesan singkat. Sebagian membawa manfaat, tetapi tidak sedikit yang memicu kesalahpahaman. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi waktu tepat untuk melatih kehati-hatian sebelum mempercayai dan menyebarkan kabar. Islam telah memberikan pedoman jelas melalui perintah tabayyun sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an. Dengan memahami prinsip ini, kita dapat menjaga kehormatan sesama, memperkuat ukhuwah, serta menghindari penyesalan akibat keputusan yang tergesa-gesa.


Jamaah yang dimuliakan Allah,

Hari ini kita hidup di zaman yang berbeda. Informasi hadir setiap detik. Berita datang dari layar kecil di tangan kita. Pesan masuk tanpa kita minta. Kita membutuhkan informasi, sebagaimana kita membutuhkan air. Tanpa informasi, kita tidak tahu arah. Tanpa informasi, kita tidak bisa mengambil keputusan.

Namun, jamaah sekalian…

Jika air yang kita minum kotor, ia membawa penyakit. Jika air datang seperti banjir bandang, ia menghancurkan rumah dan kehidupan. Demikian pula informasi hari ini. Ia bukan lagi sekadar aliran jernih. Ia seperti banjir bandang. Tidak semua benar. Tidak semua membawa manfaat. Sebagian justru menghancurkan kehormatan, memecah persaudaraan, dan menimbulkan fitnah.

Berapa banyak keluarga retak karena berita yang belum tentu benar?
Berapa banyak persahabatan rusak karena pesan yang langsung diteruskan?
Berapa banyak umat terpecah karena informasi yang tidak diuji?

Islam tidak membiarkan kita hanyut dalam arus tersebut.

A. Perintah Tabayyun dalam Al-Qur’an

Allah ﷻ berfirman dalam QS Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita penting (naba’), maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, sehingga kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”

Perhatikan kata yang digunakan Allah: نَبَإٍ (naba’).

Ulama tafsir menjelaskan bahwa:

Naba’ adalah berita besar, penting, berdampak luas.

Sedangkan khabar adalah berita umum, biasa.

Tidak semua berita harus diteliti secara mendalam. Namun naba’, berita penting yang bisa merusak kehormatan, memicu konflik, atau memengaruhi keputusan besar — itulah yang wajib kita tabayyun.

📖 Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Ayat ini turun ketika Rasulullah ﷺ mengutus Al-Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil zakat dari suatu kaum. Namun ia kembali dan melaporkan bahwa kaum tersebut menolak dan hendak membunuhnya.

Hampir saja Rasulullah ﷺ mengirim pasukan. Tetapi kemudian diketahui bahwa laporan itu tidak benar. Seandainya keputusan diambil tanpa tabayyun, akan terjadi peperangan terhadap kaum Muslimin yang tidak bersalah. Lihatlah, satu informasi yang keliru hampir menumpahkan darah!

Hari ini, mungkin bukan darah yang tumpah. Tetapi kehormatan, reputasi, dan persaudaraan yang hancur.

Jamaah sekalian,

Informasi memang kebutuhan. Ia seperti air minum. Namun zaman ini menghadirkan fenomena berbeda:

  • Setiap orang bisa menjadi “wartawan”.
  • Setiap orang bisa menjadi “ahli”.
  • Setiap orang bisa menyebarkan opini seolah fakta.

Kita hidup dalam overload informasi. Bukan kekurangan berita, tetapi kelebihan berita. Masalahnya bukan pada banyaknya informasi. Masalahnya adalah minimnya tabayyun. Islam mengajarkan kehati-hatian. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Ini peringatan keras. Tidak semua yang kita dengar layak disebarkan.

Mulai malam ini, amalkan satu kaidah sederhana:

Tahan 1 menit sebelum meneruskan informasi.

Baca ulang. Pikirkan dampaknya. Tanyakan:
Apakah ini naba’?
Apakah ini benar?
Apakah ini membawa maslahat?

Jika ragu, maka diam adalah keselamatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”

Sederhana. Tapi berat jika iman lemah.

You might also like