Mengenal Malaikat Pencabut Nyawa: Malak al Mawt dalam Islam - Masjid Ismuhu Yahya

Mengenal Malaikat Pencabut Nyawa: Malak al Mawt dalam Islam

Masjid Ismuhu Yahya – Kematian adalah misteri terbesar dalam kehidupan, sebuah kepastian yang tak terhindarkan bagi setiap makhluk bernyawa. Di balik tabir akhir perjalanan manusia di dunia ini, ada sosok agung yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk melaksanakan perintah pencabutan nyawa: malaikat pencabut nyawa. Sosok ini kerap disebut Izrail dalam masyarakat, namun bagaimanakah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis menjelaskan identitas dan perannya?

Artikel ini akan mengupas tuntas tentang malaikat pencabut nyawa, yang dalam Al-Qur’an dikenal sebagai “Malak al-Mawt”, tugas-tugasnya, serta hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil dari keberadaannya. Pemahaman yang benar akan sosok ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mempertebal keimanan dan mempersiapkan diri menghadapi perjumpaan yang pasti terjadi.

Mengenal Malaikat Pencabut Nyawa: Malak al-Mawt dalam Islam

Dalam ajaran Islam, beriman kepada malaikat merupakan salah satu dari enam rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Dari sekian banyak malaikat yang ada, terdapat satu malaikat yang memiliki tugas maha penting yaitu malaikat pencabut nyawa. Namun, ada perbedaan penyebutan antara nama yang populer di masyarakat dengan yang disebutkan dalam dalil-dalil primer Islam.

Secara eksplisit, Al-Qur’an menyebut malaikat ini dengan sebutan “Malak al-Mawt” (مَلَكُ الْمَوْتِ) yang berarti Malaikat Maut. Allah SWT berfirman dalam Surah As-Sajdah ayat 11:

“قُلْ يَتَوَفّٰىكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ”

Artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat maut yang diserahi tanggung jawab untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.'” (QS As-Sajdah [32]: 11)

Ayat ini secara jelas menegaskan keberadaan dan tugas dari “Malak al-Mawt” sebagai malaikat yang diserahi tugas mencabut nyawa. Sementara itu, nama “Izrail” yang begitu populer di telinga masyarakat Indonesia dan umat Islam secara umum, ternyata tidak ditemukan dalam Al-Qur’an maupun Hadis Nabi Muhammad SAW yang shahih. Para ulama seperti Prof. Quraish Shihab dan Syaikh Al-Albani menjelaskan bahwa nama “Izrail” lebih banyak bersumber dari riwayat-riwayat Israiliyat, yaitu kisah-kisah yang berasal dari Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) yang masuk ke dalam tradisi Islam melalui jalur penafsiran atau penceritaan. Meskipun demikian, keberadaan malaikat pencabut nyawa itu sendiri adalah keyakinan yang wajib diimani dalam Islam.

Tugas Utama Malaikat Maut: Mencabut Nyawa Seluruh Makhluk

Tugas yang diemban oleh Malak al-Mawt sangatlah besar dan mencakup seluruh alam semesta. Ia adalah pelaksana perintah Allah SWT untuk mencabut nyawa semua makhluk hidup, baik manusia, jin, hewan, bahkan tumbuhan. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat menghindari takdir kematian, dan Malak al-Mawt adalah utusan yang memastikan takdir itu terlaksana.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 61:

“وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهٖ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُمْ حَفَظَةً ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لَا يُفَرِّطُوْنَ”

Artinya: “Dan Dialah Penguasa mutlak terhadap semua hamba dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga jika kematian datang kepada salah seorang di antaramu, malaikat-malaikat Kami mencabut nyawanya, kemudian mereka tidak melalaikan tugasnya.” (QS Al-An’am [6]: 61)

Ayat ini mengindikasikan bahwa meskipun Malak al-Mawt adalah pemimpin utama, ia tidak bekerja sendirian. Ada “rusul” (para utusan atau malaikat-malaikat pembantu) yang turut serta dalam proses pencabutan nyawa di bawah komandonya. Ini menjelaskan bagaimana miliaran nyawa dapat dicabut secara bersamaan di berbagai belahan dunia tanpa Malak al-Mawt kewalahan.

Kemampuan Malak al-Mawt sangat luar biasa, sebagaimana diceritakan dalam beberapa riwayat, termasuk dari Asy’ats bin Aslam tentang percakapan antara Nabi Ibrahim AS dan Malaikat Maut. Nabi Ibrahim AS bertanya bagaimana Malaikat Maut dapat mencabut nyawa orang-orang yang berjauhan dalam satu waktu. Malaikat Maut menjawab bahwa bumi ini baginya seperti nampan makanan yang dapat ia raih dengan mudah. Ini menunjukkan kekuasaan Allah yang menganugerahkan kemampuan luar biasa kepada malaikat-Nya.

Kisah Awal Mula Malaikat Maut Ditugaskan

Penugasan Malak al-Mawt sebagai malaikat pencabut nyawa memiliki kisah tersendiri yang sering dinukil dari berbagai sumber, termasuk Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab At-Tadzkirah karya Imam Syamsuddin Al-Qurthubi, yang juga disampaikan oleh Az-Zuhri dan Wahab bin Munabbih. Kisah ini berawal ketika Allah SWT hendak menciptakan Nabi Adam AS dari tanah.

Allah memerintahkan para malaikat untuk mengambil segenggam tanah dari bumi sebagai bahan penciptaan Adam. Malaikat Jibril ditugaskan pertama, namun bumi enggan memberikan tanahnya karena khawatir akan ada makhluk yang berbuat maksiat di atasnya. Jibril kembali dengan tangan kosong. Lalu Mikail diutus, namun bumi juga menolak. Begitu pula Israfil.

Akhirnya, Allah mengutus Izrail (Malak al-Mawt). Ketika Izrail datang, bumi kembali menolak dan bersumpah dengan nama Allah. Namun, Izrail menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari berbuat durhaka kepada-Nya. Aku akan mengambilmu (tanah) meskipun kamu menolak.” Izrail pun berhasil mengambil tanah dari berbagai penjuru bumi, yang kemudian menjadi bahan penciptaan Nabi Adam AS. Karena ketegasan dan keberhasilannya dalam menjalankan perintah Allah tanpa gentar sedikit pun, Malak al-Mawt kemudian ditugaskan untuk mencabut nyawa seluruh makhluk, sebuah tugas yang tidak berani diemban oleh malaikat lainnya.

Malaikat Maut: Makhluk Terakhir yang Merasakan Kematian

Salah satu fakta yang paling menakjubkan tentang Malak al-Mawt adalah bahwa ia sendiri akan merasakan kematian. Konsep ini ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan ini berlaku untuk seluruh makhluk, termasuk para malaikat.

Allah SWT berfirman:

“وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَۘ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۗ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗلَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ”

Artinya: “Jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Zat-Nya. Segala putusan menjadi wewenang-Nya dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.” (QS Al-Qasas [28]: 88)

Pada hari Kiamat, setelah semua makhluk binasa, Allah SWT akan memerintahkan Malak al-Mawt untuk mencabut nyawa semua malaikat, termasuk dirinya sendiri. Sebuah riwayat menggambarkan percakapan antara Allah dengan Malak al-Mawt di hari kiamat. Setelah Malak al-Mawt mencabut nyawa semua makhluk atas perintah Allah, Allah bertanya kepadanya, “Wahai Malaikat Maut, siapa yang tersisa?” Malak al-Mawt menjawab, “Tinggallah Engkau Yang Maha Hidup dan Maha Kekal, dan aku (Malaikat Maut), serta malaikat pemikul Arasy.” Allah lalu memerintahkan Malak al-Mawt untuk mencabut nyawa malaikat pemikul Arasy, dan terakhir, Allah memerintahkan Malak al-Mawt untuk mencabut nyawanya sendiri.

Maka, Malak al-Mawt pun roboh dan mati. Setelah itu, hanya Allah SWT yang tersisa, Dzat Yang Maha Hidup dan Kekal, yang tidak pernah mati dan tidak akan pernah binasa. Kisah ini menegaskan keesaan dan keagungan Allah SWT sebagai satu-satunya Dzat yang abadi dan berkuasa atas segala sesuatu, termasuk kematian.

Keberadaan Malak al-Mawt adalah pengingat konstan bahwa waktu kita di dunia terbatas. Mari kita gunakan setiap detik yang tersisa untuk berbuat kebaikan, mendekatkan diri kepada Allah, dan meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi sesama. Karena pada akhirnya, semua akan kembali kepada-Nya, dan hanya Dia yang Maha Kekal.

You might also like