Sejarah Singkat Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Umat Islam Harus Tahu! - Masjid Ismuhu Yahya

Sejarah Singkat Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Umat Islam Harus Tahu!

Masjid Ismuhu Yahya – Ibadah qurban merupakan ibadah yang begitu melekat dengan Sejarah singkat qurban nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail AS. Ibadah yang ada sejak dahulu kala dan masih eksis hingga saat ini. Kisah ini bermula saat nabi Ibrahim AS menikah dengan Siti hajar serta dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan Bernama ismail yang pada kemudian hari juga diangkat menjadi nabi.

Nabi Ibrahim AS dalam perjalanan hijrahnya sempat meninggalkan siti hajar di dataran tandus yang luas, dengan hanya meninggalkan persedian makanan secukupnya. Saat kejadian itu, nabi Ibrahim juga tidak sanggup untuk menerimanya, namun ada Amanah yang diembannya yang harus dikerjakan.

Saat nabi Ibrahim berkunjung untuk melihat istrinya siti hajar Kembali, Nabi Ismail kecil sudah lahir. Nabi Ibrahim pun bangga, anak yang selama ini didamba-dambakan yang kelak akan enjadi penerus dakwahnya.

Namun kebahagiaan mereka tak berselang lama, ada perintah Allah SWT yang sangat besar bagi nabi Ibrahim AS, yaitu mengorbankan anaknya Ismail. Mengutip dari NU Online, Dalam sebagian pendapa para ulama mengatakan bahwa saat perintah ini turun umur nabi Ismail AS saat itu mulai menginjak tujuh tahun. Sebagian lainnya berpendapat umur nya tiga belas tahun, hal ini telah dijelaskan oleh syekh Wahbah Zuhaili dalam kitabnya tafsir Al Munir.

Nabi Ibrahim pun galau mendapatkan mimpi dengan perintah untuk mengorbankan anaknya. Beliau tidak serta merta mempercayai mimpi yang dialaminya, namun tidak pula mengingkarinya. Dalam kebingungannya nabi Ibrahim AS meminta petunjuk kepada Allah SWT tentang mimpinya. Mimpi perintah ini bukan hanya terjadi sekali namun berulang kali hingga sampai 3 kali.

Untuk Waktu ada yang mengatakan 3 hari berturut-turut namun Sebagian lain berpendapat bahwa mimpi pertama, kedua dan ketiga memiliki jeda beberapa hari.

Setelah yakin akan perintah yang disampaikan lewat mimpinya, nabi Ibrahim pun menyampaikan kepada anaknya nabi Ismail AS tentang mimpinya. Kisah ini Allah SWT abadikan dalam Al Qur’an Surah As Saffat ayat 102 :

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى

Artinya, “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sungguh aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’”

Mendengarkan perintah yang disampaikan ayahnya, nabi Ismail AS dengan yakin dan tenang menjawab :

قَالَ ياأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَآءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Artinya, “Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’”

Sebagai bentuk ketaatan atas perintah yang telah Allah SWT perintahkan, nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail AS pun bersiap melaksanakannya. Wajah mereka pun dipenuhi dengan kesedihan serta linangan air mata.

Setelah sepakat dan siap melakukan prosesi penyembelihan, nabi Ibrahim AS membawa putranya ke mina. Dalam Tafsir Al Wasith karya syekh Muhammad Sayyid Ath Thanthawi dituliskan :

“Wahai ayahku!, Kuatkanlah ikatanku agar aku tidak lagi bergerak, angkatlah bajumu agar darahku tidak mengotori, dan (jika nanti) ibu melihat bercak darah itu niscaya ia akan bersedih, percepatlah gerakan pisau itu dari leherku, agar terasa lebih ringan bagiku karena sungguh kematian itu sangat dahsyat. Apabila engkau telah kembali maka sampaikanlah salam (kasih)ku kepadanya.”

Mendengar ucapan anaknya, nabi Ibrahim AS tak sanggup menahan tangisan dan air mata yang sudah lama ditahannya. Sebelum melakukan penyembelihan nabi Ibrahim AS mencium nabi Ismail dengan penuh kasih sayang, dan sejurus kemudian mengambil pisau yang akan digunakan untuk menyembelin nabi Ismail AS.

Prosesi penyembelihan beberapa saat lagi akan terjadi, nabi Ibrahim kembali dan meletakkan pisau tepat di leher putranya, dengan linangan air mata nabi Ibrahim pun melakukan penyembelihan terhadap Ismail kecil. Namun berkat ketaatan dan keikhlasan mereka berdua muncullah keajaiban yang diluar akal manusia. Pisau yang digunakan sebagai alat untuk menyembelih nabi Ismail AS tidak bisa melukainya. Berulang kali nabi Ibrahim melakukan penyembelihan, hasilnya tetap sama.

Ditengah kebingungan Ibrahim atas apa yang terjadi, Allah Berfirman sebagaimana dalam Al Qur’an Surat As-Saffat ayat 104 sampai 108 :

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآخِرِينَ

Artinya, “Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian,”

Pada akhirnya, Nabi Ismail AS digantikan dengan sembelihan yang mulia, yang siap menggantikan pengorbanannya atas pembenaran perintah Allah melalui mimpi yang dialami ayahnya.

Demikianlah Sejarah Singkat Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menjadi titik awalnya terjadinya qurban yang syariatnya masih abadi hingga saat ini. Qurban sebagai sarana bentuk syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada hambanya yang bertaqwa.

You might also like