Surah At Taubah Ayat 105: Tafsir, dan Asbabun Nuzul Lengkap -

Surah At Taubah Ayat 105: Tafsir, dan Asbabun Nuzul Lengkap

Masjid Ismuhu Yahya – Surah At-Taubah ayat 105 adalah salah satu ayat Al-Qur’an yang memberikan perintah tegas kepada umat manusia untuk berbuat baik dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Dalam surah At-Taubah ayat 105, Allah SWT menegaskan bahwa setiap amal perbuatan kita akan dilihat oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Ayat ini menekankan pentingnya konsep amal (perbuatan), keikhlasan niat, dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi hamba-hamba-Nya. Artikel ini akan membahas tafsir surah at taubah ayat 105 menurut para ulama terkenal, konteks turunnya (asbabun nuzul), serta bagaimana menerapkan pesan ayat ini dalam kehidupan sehari-hari.

Teks Surah At-Taubah Ayat 105 dan Terjemahannya

وَقُلِ اعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Dan Katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'”

Tafsir Surah At-Taubah Ayat 105 Menurut Para Ulama

Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Azim menjelaskan bahwa ayat ini berisi perintah kepada manusia untuk beramal, karena semua amal perbuatan mereka pasti akan terlihat oleh Allah SWT, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Setelah itu, manusia akan dikembalikan kepada Allah, Yang Maha Mengetahui segala yang gaib maupun nyata, dan di sanalah setiap orang akan diberitahu tentang segala yang telah ia kerjakan. Ibnu Katsir juga mengutip pendapat Mujahid yang menyatakan bahwa ayat “wa qul i‘malū” ini merupakan ancaman Allah bagi orang-orang yang menyimpang dari perintah-Nya.

Segala amal mereka, baik atau buruk, kelak akan diperlihatkan di hadapan Allah, Rasulullah SAW, dan para mukmin. Hal ini pasti terjadi pada hari kiamat, di mana tidak ada satu pun yang bisa disembunyikan dari Allah. Pada hari itu, semua rahasia akan terbongkar dan setiap orang akan mendapat balasan setimpal atas perbuatannya.

Ibnu Katsir bahkan menyebut sebuah hadis (diriwayatkan Imam Ahmad) bahwa amal seseorang, meskipun dilakukan di tempat tersembunyi seperti di dalam batu besar, tetap akan Allah tampakkan kepada semua orang. Ini menunjukkan bahwa tidak ada perbuatan yang benar-benar bisa disembunyikan dari pengawasan Allah.

Tafsir Quraish Shihab

Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa Surah At-Taubah ayat 105 melanjutkan pesan dari ayat sebelumnya yang membicarakan penerimaan taubat oleh Allah. Setelah taubat diterima, ayat ini memerintahkan orang yang bertaubat (dan manusia pada umumnya) untuk segera beramal saleh. Pasalnya, waktu yang telah berlalu dalam perbuatan dosa adalah kerugian yang harus ditebus dengan giat beramal kebajikan, agar kerugian waktu tersebut tidak semakin besar.

Selain itu, Quraish Shihab menekankan bahwa ayat ini bertujuan mendorong manusia agar selalu mawas diri dan mengawasi amal perbuatannya. Setiap amal, baik maupun buruk, memiliki hakikat yang tak bisa disembunyikan. Allah, Rasul, dan kaum mukmin akan menjadi saksi yang mengetahui hakikat tersebut. Kelak di hari kiamat, Allah akan membuka tabir segala perbuatan, sehingga semua orang akan mengetahui dengan jelas apa saja yang telah mereka lakukan. Dengan demikian, ayat ini menegaskan pentingnya beramal dengan niat ikhlas karena Allah dan selalu ingat bahwa setiap perbuatan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Tafsir Buya Hamka

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menguraikan kata “amal” pada ayat ini sebagai segala bentuk pekerjaan, usaha, perbuatan, atau keaktifan dalam hidup. Beliau mengaitkan makna amal tersebut dengan firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 84, bahwa setiap orang hendaknya bekerja sesuai bakat dan kemampuannya masing-masing. Surah At-Taubah ayat 105 juga mengandung larangan untuk bermalas-malasan atau menyia-nyiakan waktu. Kita diperintahkan bekerja sebaik mungkin, disertai doa memohon petunjuk Allah Ta’ala, dan memanfaatkan waktu dengan produktif.

Jika memperoleh rezeki dari pekerjaan tersebut, kita dianjurkan menunaikan zakat dan bersedekah. Bahkan hal-hal sederhana seperti tersenyum dan bersikap ramah pun dianggap sedekah dalam Islam. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa menyingkirkan rintangan (seperti duri atau benda berbahaya) dari jalan adalah juga bentuk sedekah.

Intinya, menurut Buya Hamka ayat ini mendorong setiap muslim untuk menjadi pribadi yang rajin, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak ada pekerjaan yang hina selama itu halal dan tidak menjauhkan diri dari Allah. Kita harus memilih pekerjaan yang sesuai potensi, menjalankannya dengan sungguh-sungguh, serta selalu berbagi kebaikan dan bersedekah kepada sesama.

Tafsir Syekh Nawawi Al-Bantani

Syekh Nawawi Banten dalam kitab Tafsir Marah Labib menekankan aspek pengawasan Allah terhadap setiap amal perbuatan manusia. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah dan perbuatan, baik atau buruk, selalu berada dalam penglihatan Allah SWT. Tak ada satu pun yang dapat disembunyikan dari pandangan-Nya.

Selain itu, menurut Syekh Nawawi, amal perbuatan kita juga akan diketahui oleh Rasulullah SAW melalui wahyu dari Allah. Bahkan, perilaku kita di dunia berdampak pada pandangan orang-orang beriman lainnya. Allah akan menanamkan rasa cinta dalam hati kaum mukmin terhadap orang yang beramal saleh, dan menanamkan rasa benci terhadap mereka yang gemar berbuat maksiat.

Dengan kata lain, orang yang taat dan berbuat baik akan mendapatkan pujian serta kemuliaan di dunia, sedangkan pelaku maksiat akan mendapat celaan. Syekh Nawawi mengutip bahwa di dunia, bila seseorang taat, ia akan memperoleh “pujian yang besar di dunia dan pahala besar di akhirat”, sedangkan jika bermaksiat, ia akan mendapat “celaan besar di dunia dan azab yang berat di akhirat”. Penjelasan ini menunjukkan bahwa ayat 105 berfungsi sebagai motivasi kuat bagi orang-orang yang taat, dan sebaliknya menjadi peringatan keras bagi pelaku dosa.

Penjelasan Mufasir Lain

Beberapa mufasir lain juga memberikan penekanan khusus dalam menafsirkan ayat ini. Syekh Muhammad Sulaiman Al-Asyqar dalam Zubdatut Tafsir menjelaskan bahwa perintah “Bekerjalah kamu” ditujukan kepada orang-orang yang telah bertaubat dan juga umum bagi seluruh muslim. Maksudnya, bersegeralah melakukan berbagai amal kebaikan dan ikhlaskan niat hanya karena Allah. Amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas nantinya akan diketahui dan diakui oleh orang-orang beriman, sehingga akan tersebar kebaikannya di tengah masyarakat. Adapun frasa “kamu akan dikembalikan” maksudnya adalah setelah kematian manusia akan kembali kepada Allah. Gelaran Allah sebagai “Yang Mengetahui yang gaib dan nyata” mengingatkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, baik perbuatan yang kita tampakkan di hadapan orang lain maupun yang kita sembunyikan.

Sementara itu, ulama seperti Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menafsirkan ayat ini sebagai sebuah ancaman bagi orang-orang munafik atau siapa pun yang terus berada dalam kebatilan. Beliau menulis bahwa seolah-olah Allah berfirman: “Bekerjalah sesukamu” sebagai sindiran, namun jangan dikira amalmu itu akan tersembunyi dari Allah. Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin pasti akan melihat apa yang kamu kerjakan, sehingga cepat atau lambat keburukan itu akan terungkap. Kelak kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, lalu Dia akan memberitahukan kepadamu (dan menghukum atau memberi pahala) atas apa yang telah kamu kerjakan. Penafsiran ini mengandung peringatan keras bahwa tidak ada gunanya terus berbuat dosa atau kemunafikan, karena pada akhirnya setiap perbuatan akan diketahui dan dibalas oleh Allah.

Konteks Turunnya Ayat (Asbābun Nuzūl)

Surah At-Taubah ayat 105 diturunkan berdekatan dengan peristiwa setelah Perang Tabuk. Ayat ini tidak memiliki sebab turun yang berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan ayat-ayat sebelumnya (ayat 102-104). Dikisahkan bahwa seusai ekspedisi Perang Tabuk, terdapat beberapa sahabat Nabi yang tidak ikut berangkat berperang dan kemudian sangat menyesal atas kelalaian mereka. Di antara mereka adalah Abu Lubabah dan kawan-kawannya. Mereka mengikat diri mereka pada tiang-tiang di Masjid Nabawi sebagai bentuk penyesalan dan sumpah bahwa mereka tidak akan melepaskan ikatan itu hingga Rasulullah SAW sendiri yang melepaskannya.

Ketika Rasulullah kembali dan melihat mereka terikat, beliau bersabda bahwa beliau tidak akan melepaskan mereka kecuali jika mendapat perintah Allah Ta’ala. Kemudian Allah menurunkan ayat 102 Surah At-Taubah yang mengabarkan bahwa Allah telah menerima taubat mereka.

Setelah itu, orang-orang tersebut (Abu Lubabah cs.) datang menghadap Nabi dan memohon agar harta mereka diterima sebagai sedekah penebus dosa. Pada awalnya Nabi Muhammad SAW menangguhkan penerimaan sedekah itu hingga turun ayat selanjutnya. Lalu Allah menurunkan ayat 103 yang memerintahkan Nabi mengambil sedekah dari mereka sebagai pensucian. Barulah Rasulullah menerima sedekah taubat mereka.

Dalam konteks inilah Surah At-Taubah ayat 105 turun sebagai kelanjutan, berisi dorongan kepada orang-orang yang telah bertaubat tersebut (dan kaum muslimin secara umum) untuk membuktikan tobat mereka dengan beramal saleh dan bekerja keras ke depannya. Ayat ini juga sekaligus menjadi peringatan tersirat bagi orang-orang munafik yang masih enggan bertaubat, bahwa apa pun yang mereka perbuat akan diketahui dan dibalas oleh Allah SWT. Dengan demikian, asbabun nuzul ayat 105 ini tak terlepas dari rangkaian peristiwa tobatnya para sahabat pasca-Tabuk dan pelajaran bagi kaum Muslimin agar bertindak nyata setelah bertaubat.

Jangan lupakan aspek berbagi dan peduli sosial yang tersirat dari rangkaian ayat 102-105 ini. Begitu memperoleh rezeki dari kerja keras, kita dianjurkan berbagi dalam bentuk zakat dan sedekah. Kebaikan sekecil apapun, seperti senyum dan menyingkirkan bahaya dari jalan, hendaknya tidak diremehkan karena itu pun dicatat sebagai amal. Dengan menerapkan nilai-nilai Surah At-Taubah 105, kita akan menjadi pribadi yang aktif berbuat kebaikan, tulus hatinya, disiplin karena merasa diawasi Allah, serta selalu siap bertaubat dan berbenah diri. Inilah salah satu kunci sukses dunia akhirat: beramal sebaik-baiknya, berikhtiar dengan ikhlas, dan bertawakkal bahwa Allah Maha Mengetahui serta akan membalas setiap perbuatan kita.

You might also like