Waraqah bin Naufal – Sepupu Khadijah yang Mengakui Kenabian Muhammad SAW

Waraqah bin Naufal – Sepupu Khadijah yang Mengakui Kenabian Muhammad SAW

Masjid Ismuhu Yahya – Waraqah bin Naufal adalah sepupu Nabi Muhammad SAW melalui istrinya, Khadijah binti Khuwailid. Dalam sejarah awal Islam, Waraqah bin Naufal dikenal sebagai pengikut ajaran tauhid (Hanif) yang memeluk agama Nasrani. Ia diyakini menguasai kitab-kitab suci terdahulu (Taurat dan Injil) dan bahkan mampu membaca Injil dalam bahasa Arab. Karena keahliannya inilah, saat Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, Khadijah membawanya menemui Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal kemudian mengenali Malaikat Jibril dan mengonfirmasi bahwa Muhammad adalah nabi yang dijanjikan, sama seperti yang pernah diterima Nabi Musa AS. Pertemuan ini menegaskan peran penting Waraqah dalam sejarah awal kenabian Nabi Muhammad SAW.

Latar Belakang Waraqah bin Naufal

Waraqah bin Naufal lahir sekitar abad ke-6 M di Makkah dari keturunan suku Quraisy Bani Asad. Ia adalah anak Naufal bin Asad, sehingga disebut sepupu (anak paman) dari Khadijah binti Khuwailid, istri pertama Nabi Muhammad SAW. Menurut Ibnu Ishaq, Waraqah sejak kecil menolak praktik politeisme Quraisy dan berusaha meniti jalan Ibrahim. Ia bahkan digambarkan sebagai seorang Nasrani yang “benar-benar mengikuti kitab-kitab suci”. Sejarawan modern juga mencatat bahwa Waraqah dianggap sebagai seorang Hanif (orang lurus/tauhid), karena konsistensinya beribadah hanya kepada Allah tanpa menyembah berhala. Sikap ini membuatnya disegani di kalangan penganut monoteis pra-Islam.

Waraqah bin Naufal dikenal luas memiliki pengetahuan mendalam tentang kitab-kitab suci. Sebagai seorang Nasrani yang tekun, ia menguasai isi Taurat dan Injil. Menurut riwayat, Waraqah pernah menulis beberapa bagian Injil dalam huruf Ibrani dan membacanya dalam bahasa Arab. Hadits shahih bahkan menyebut Waraqah “biasa membaca Injil dalam bahasa Arab”, menunjukkan kemahirannya dalam bahasa dan teologi kitab. Keahliannya ini menjadikannya otoritas keagamaan bagi Khadijah dan orang-orang saleh Mekah. Ia kerap dimintai pendapat tentang perkara keagamaan karena dianggap paham ajaran Nabi Isa AS dan Nabi Musa AS. Dengan kecerdasannya, Waraqah mampu menjelaskan ayat-ayat kitab suci ketika Nabi Muhammad SAW mengisahkan pengalamannya menerima wahyu pertama.

Khadijah sangat menghormati ilmu dan keimanan Waraqah bin Naufal. Karena itu, setelah menyaksikan ketakutan suaminya pasca-wahyu, ia segera berpikiran untuk menemui Waraqah demi mendapatkan penjelasan. Sebagai sepupu (kuwaran) dan tokoh agamis terkemuka di keluarganya, Waraqah dianggap tepat untuk dimintai pendapat. Silsilah keluarga ini juga penting; Khadijah mengenal baik latar belakang keagamaan Waraqah, yang ikut membentuk kepercayaannya akan keaslian wahyu tersebut. Kisah ini tercatat dalam banyak sumber Islam klasik dan menyatakan bahwa Waraqah ‘menulis dalam bahasa Ibrani dan membaca Injil dalam bahasa Arab’, sehingga ia mampu memahami dan menjelaskan tanda-tanda kenabian kepada Khadijah dan Nabi SAW.

Waraqah dan Wahyu Pertama Nabi Muhammad

Setelah peristiwa malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, Nabi dalam keadaan takut dan kebingungan. Menurut hadits riwayat Bukhari, Khadijah membawa Rasulullah menemui Waraqah bin Nawfal untuk memperoleh penjelasan. Dalam dialog itu, Waraqah bertanya, “Apa yang engkau lihat?” Setelah Nabi menjelaskan penglihatan pertama wahyu, Waraqah menanggapi: “Itulah namus yang sama yang diturunkan Allah kepada Musa”. Dengan kata lain, ia mengenali Malaikat Jibril dan menyamakan wahyu Muhammad dengan wahyu yang pernah diterima Musa AS. Lebih lanjut, Waraqah berkata kepada Nabi: “Seandainya aku masih hidup ketika kau menerima risalah Ilahi ini, sungguh aku pasti akan mendukungmu dengan sepenuh tenaga”. Ini menandakan ia meyakini kenabian Muhammad SAW dan berkomitmen untuk membantu beliau jika sempat. Dari dialog ini, tersirat bahwa Waraqah menganggap Muhammad sebagai “orang yang telah dinantikan” (messiah yang dijanjikan oleh Putra Maryam).

Setelah mendengar cerita Nabi tentang pertemuan dengan malaikat, ia langsung mengakui keagungan momen itu. Dalam tradisi kitab sirah, Waraqah dipandang sebagai orang pertama (selain Khadijah) yang mempercayai pesan kenabian tersebut. Ia bahkan menyatakan, “Berbahagialah (Muhammad), karena engkau adalah orang yang telah dinantikan oleh umat ini. Engkau telah diserahi wahyu sebagaimana Musa menerima Taurat. Engkau adalah Nabi yang diutus, dan nanti kau akan diperintah berjihad. Kalaulah aku masih hidup sampai saat itu, sesungguhnya aku pasti akan berjihad bersamamu”. Pernyataan penuh makna ini (dalam terjemahan Indonesia) menunjukkan dukungannya yang kuat. Meskipun Waraqah segera meninggal tak lama setelah itu (sekitar tahun 610 M), pengakuan dan dukungannya membekas sebagai dukungan awal bagi Nabi Muhammad SAW.

Pandangan Ulama dan Legasi Waraqah

Para ulama menaruh hormat besar pada sosok Waraqah bin Naufal. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa beliau pernah melihat “pendeta itu (yaitu Waraqah) di surga mengenakan pakaian hijau”, yang menunjukkan kedudukannya sebagai orang beriman yang diberi tempat mulia. Riwayat lain – meski sanadnya dinilai lemah – menyatakan bahwa Waraqah adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan dikenakan pakaian sutera putih di surga. Berdasarkan riwayat-riwayat inilah sebagian ulama menyebut Waraqah termasuk “ahlul iman” atau orang beriman terdahulu yang dibanggakan. Selain itu, pujian terhadap Waraqah ditemukan dalam syairnya yang menolak menyembah selain Tuhan Pencipta, menegaskan konsistensinya pada tauhid. Keseluruhan tradisi ini menempatkan Waraqah sebagai figur mulia; ia sering dipandang sebagai “sahabat pertama” yang meyakini Nabi Muhammad sebelum masa dakwah publik, dan karenanya diberi gelar penghormatan dalam sejarah Islam klasik.

Dengan demikian, Waraqah bin Naufal memainkan peran penting dalam memupuk keyakinan awal kenabian Muhammad SAW. Latar belakangnya sebagai ahli kitab yang teguh, kepercayaannya pada Nabi Isa AS, serta pengakuan dan dukungannya terhadap wahyu Muhammad sejak dini, menjadikan namanya selalu diingat dalam sirah sebagai saksi dan penyambut wahyu pertama. Kisah Waraqah bin Naufal tersimpan dalam sumber-sumber Islam klasik dan tafsir para ulama sebagai bagian integral dari periode awal Islam.

You might also like