Warna yang Disukai Rasulullah SAW: Sejarah dan Maknanya

Warna yang Disukai Rasulullah SAW: Sejarah dan Maknanya

Masjid Ismuhu Yahya – Apakah benar hijau adalah warna yang disukai Rasulullah SAW? Pertanyaan tentang warna kesukaan Nabi Muhammad sering muncul dalam benak umat. Selama ini banyak yang beranggapan bahwa hanya warna hijau yang menjadi warna favorit Rasulullah SAW dan identik dengan Islam. Namun, sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW menunjukkan kisah yang lebih kaya warna.

Dalam berbagai riwayat hadits sahih dan penjelasan ulama, ternyata Rasulullah SAW menyukai beragam warna pakaian, terutama putih dan hijau, di samping warna lain seperti hitam, merah, abu-abu, bahkan corak campuran. Artikel naratif ini akan mengajak Anda menelusuri warna-warna kegemaran Nabi, konteks sejarahnya, makna di baliknya dalam kehidupan beliau, serta relevansinya bagi kehidupan modern kita.

Warna Putih: Simbol Kesucian yang Dicintai Nabi

Warna putih menempati posisi istimewa dalam Islam dan kehidupan Nabi Muhammad SAW. Putih melambangkan kesucian, kesederhanaan, dan kebersihan – nilai-nilai yang sangat dijunjung dalam ajaran Islam. Tak heran, Rasulullah SAW sangat menyukai pakaian berwarna putih. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin menyebutkan bahwa warna yang paling disukai Nabi Muhammad SAW adalah putih. Anas bin Malik RA (seorang sahabat dekat Nabi) juga mengungkapkan hal serupa, bahwa Rasulullah menyukai warna putih dalam berbusana.

Banyak riwayat hadits yang menegaskan keutamaan warna putih. Salah satu hadits sahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA berbunyi: “Rasulullah SAW bersabda:

Pakailah pakaian yang berwarna putih, karena itu adalah sebaik-baik pakaian kalian. Dan kafanilah jenazah kalian dengannya (kain putih).” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut, Nabi secara langsung menganjurkan umatnya memakai pakaian putih. Alasan utamanya, pakaian putih mudah terlihat bersih sehingga mendorong pemakainya untuk menjaga kebersihan. Warna putih juga dipakai sebagai kain kafan untuk jenazah, melambangkan harapan akan kesucian menghadap Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari Nabi, warna putih tampak dominan terutama saat beribadah. Aisyah RA pernah menunjukkan dua helai pakaian usang berwarna putih kusam yang dimiliki Nabi, seraya berkata bahwa Rasulullah wafat dengan mengenakan kedua pakaian putih tersebut – menunjukkan kesederhanaan beliau hingga akhir hayat. Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW menyukai kesan indah namun sederhana yang terpancar dari pakaian putih. Putih mengingatkan manusia pada kemurnian hati dan niat yang tulus.

Warna Hijau: Identik dengan Keindahan Surga nan Menyejukkan

Warna hijau sering kali dianggap sebagai “warna Islam” dan dikaitkan erat dengan Nabi Muhammad SAW. Secara historis, hijau memang memiliki makna khusus dalam tradisi Islam. Anas bin Malik RA pernah mengatakan bahwa warna yang paling disukai Rasulullah SAW adalah hijau. Pendapat Anas ini juga diperkuat oleh penjelasan Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, seorang ulama besar, yang menegaskan hal serupa. Dalam sebuah sumber disebutkan pada hari raya, para sahabat dianjurkan memakai pakaian berwarna hijau karena warna ini lebih utama setelah putih. Artinya, hijau menempati peringkat kedua setelah putih sebagai warna yang afdhal (utama) dipakai kaum Muslimin.

Salah satu alasan mengapa hijau begitu disukai Nabi adalah kaitannya dengan Al-Qur’an dan gambaran surga. Dalam Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 31, Allah SWT menggambarkan penduduk surga memakai pakaian hijau yang terbuat dari sutra halus dan tebal, sebagai simbol kenikmatan dan ketenangan di surga. Warna hijau di dalam Al-Qur’an melambangkan kesejukan, kesuburan tumbuh-tumbuhan, dan suasana nyaman yang penuh kedamaian. Oleh karena itu, hijau menjadi warna yang identik dengan kebahagiaan dan rahmat Allah. Para peneliti juga berspekulasi bahwa hijau adalah warna khas suku Quraisy (suku Nabi Muhammad), meski hal ini belum dapat dipastikan secara ilmiah.

Dari sisi hadits, ada riwayat menarik dari Abu Dawud yang mendukung kecintaan Nabi pada warna hijau. Seorang sahabat bernama Abu Ramtsah RA bercerita:

“Aku pergi menemui Nabi SAW bersama ayahku. Setelah bertemu, aku melihat beliau memakai dua helai jubah berwarna hijau.” (HR Abu Dawud)

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah mengenakan pakaian hijau dalam kesehariannya, sehingga bisa disimpulkan beliau menyukai warna tersebut. Bahkan, beberapa sumber sirah menyebut Nabi memiliki semacam selimut atau burdah berwarna hijau yang digunakan pada kesempatan tertentu.

Warna Hitam: Pakaian Kesederhanaan dan Wibawa

Warna hitam juga termasuk dalam daftar warna yang disukai dan pernah dikenakan oleh Rasulullah SAW. Sekilas, mungkin warna hitam terkesan suram, namun dalam konteks Nabi, hitam justru melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, dan terkadang wibawa di momen tertentu. Terdapat beberapa riwayat yang menunjukkan Nabi Muhammad SAW mengenakan item berwarna hitam.

Dalam sebuah hadits, Ja’far bin Amr bin Huraits RA menuturkan:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan orang-orang dengan mengenakan sorban hitam.”

Hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah RA mengisahkan:

“Nabi Muhammad SAW memasuki kota Mekah dengan sorban berwarna hitam.”

Peristiwa memasuki Mekah ini terjadi pada Fathu Makkah (Penaklukan Mekah), di mana Rasulullah tampil sederhana tanpa kemegahan, mengenakan sorban hitam sebagai penutup kepala. Hal ini menunjukkan sikap tawadhu (rendah hati) beliau meski dalam posisi sebagai pemenang perang. Beberapa riwayat juga menyebut Nabi terlihat memakai pakaian atau kain berwarna hitam pada kesempatan lain.

Ulama besar Imam Al-Ghazali mencatat bahwa Rasulullah SAW sering memakai pakaian putih ketika beribadah, namun dalam urusan resmi atau kenegaraan beliau kadang mengenakan pakaian hitam sebagai tanda kerendahan diri. Warna hitam dipilih mungkin untuk menghindari kesan mencolok dan menunjukkan sikap serius namun tetap bersahaja. Selain itu, kain penutup Ka’bah (kiswah) di masa Nabi hingga sekarang umumnya berwarna hitam, yang bisa dilihat sebagai penghormatan dan kekhidmatan (meskipun pemilihan warna kiswah berkembang sesuai kebijakan para khalifah setelah Nabi).

Warna Merah: Keindahan pada Hari Raya

Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Nabi Muhammad SAW juga pernah memakai pakaian berwarna merah – tentu dalam corak atau konteks tertentu. Ada hadits yang meriwayatkan penampilan Rasulullah dengan busana bercorak merah pada kesempatan istimewa. Al-Baihaqi meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah RA yang berkata:

“Pernah Rasulullah SAW memakai pakaian yang bercorak merah pada dua hari raya dan pada hari Jumat.”

Hadits ini menggambarkan bahwa Nabi memiliki pakaian dengan corak merah (mungkin bergaris atau berpattern merah) yang dikenakan saat Shalat Idul Fitri, Idul Adha, dan Shalat Jumat. Dalam beberapa riwayat lain disebutkan bahwa pakaian yang dikenakan Nabi saat itu adalah hullah yamaniah – semacam kain bergaris merah buatan Yaman yang terkenal indah. Anas bin Malik RA pernah menyebut, “Aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih indah daripada Rasulullah SAW memakai hullah (kain) berwarna merah.” Ini menunjukkan bahwa corak merah pada pakaian Nabi tampak sangat anggun dan cocok bagi beliau.

Perlu dicatat, warna merah yang dipakai Nabi kemungkinan bukan merah polos menyala, melainkan merah dengan corak atau campuran warna lain. Beberapa ulama berpendapat merah solid kurang disukai Nabi bagi pria, kecuali jika bercorak. Dan memang hadits-hadits menunjukkan merah tersebut berpadu dengan corak (misal, garis hitam atau warna lain). Hal ini mengajarkan etika bahwa lelaki hendaknya tidak berbusana mencolok berlebihan. Nabi sendiri menyukai keindahan, terbukti dengan dipakainya kain indah bergaris merah pada hari-hari besar Islam. Beliau ingin merayakan hari raya dan hari Jumat dengan pakaian terbaik tanpa jatuh pada kesombongan.

Warna Abu-abu dan Corak Lain: Ragam Pilihan Pakaian Nabi

Selain putih, hijau, hitam, dan merah, terdapat pula riwayat tentang Nabi Muhammad SAW mengenakan warna abu-abu dan kain bercorak campuran. Hal ini menegaskan bahwa beliau tidak antipati terhadap warna apapun selama itu baik dan pantas. Sahih Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:

“Pernah Nabi Muhammad SAW keluar (rumah) dengan kepala yang dibalut sehelai kain berwarna abu-abu.”

Kain abu-abu ini kemungkinan adalah selendang atau serban yang dipakai Nabi pada suatu kesempatan, menunjukkan bahwa abu-abu (warna netral) termasuk koleksi pakaian beliau. Abu-abu mungkin berasal dari bahan wol domba atau kain sederhana tanpa pewarna mencolok, selaras dengan gaya hidup Nabi yang sederhana.

Selain itu, ada pula hadis sahih dari Anas bin Malik RA yang tercantum dalam riwayat Imam Bukhari, bahwa “Anas pernah melihat Nabi SAW menutup kepalanya dengan kain bercorak-corak warna.”. Kain dengan corak beraneka warna ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW tidak selalu berpakaian polos; sesekali beliau memakai corak atau motif. Corak warna di masa itu umumnya berupa tenunan garis-garis atau kombinasi benang berwarna alami. Informasi ini juga selaras dengan catatan sejarah bahwa pakaian Nabi tidak monoton, melainkan apa yang tersedia di sekitarnya dan sesuai kebutuhan. Bahkan ada keterangan lain bahwa Nabi pernah memiliki pakaian berwarna campuran (multi-warna) dan merah hati (merah gelap) selain warna-warna yang telah disebut. Semua ini menegaskan luasnya selera dan fleksibilitas Rasulullah SAW dalam hal warna busana.

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa warna-warna yang disukai Rasulullah SAW sangat beragam dan sarat makna. Putih dan hijau menonjol sebagai warna penuh simbol kesucian dan ketenangan yang diutamakan Nabi. Namun, beliau juga mengenakan hitam yang sederhana, merah yang indah di waktu tertentu, abu-abu yang netral, hingga corak campuran – menandakan keluwesan beliau dalam hal duniawi seperti pakaian. Yang terpenting bagi Rasulullah SAW bukanlah warna itu sendiri, melainkan nilai di baliknya: kebersihan, kerendahan hati, keindahan yang tidak berlebihan, dan keselarasan dengan fitrah.

 

You might also like