Kumpulan Doa Para Nabi dan Rasul Arab, Latin dan Terjemahan

Kumpulan Doa Para Nabi dan Rasul Arab, Latin dan Terjemahan

Masjid Ismuhu Yahya – Kumpulan doa para nabi dan rasul merupakan warisan spiritual yang berharga bagi umat Islam. Doa-doa ini diabadikan dalam Al-Qur’an dan Hadis, memperlihatkan bagaimana para Nabi dan Rasul memohon kepada Allah SWT dalam berbagai situasi hidup mereka. Mulai dari doa tobat Nabi Adam AS hingga doa sapu jagat Nabi Muhammad SAW, setiap doa mengandung makna mendalam dan hikmah yang dapat kita teladani.

Dalam artikel ini akan mengulas beberapa doa pilihan para nabi – seperti Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nabi Muhammad – lengkap dengan lafaz Arab, terjemahan Bahasa Indonesia, serta konteks latar belakang mengapa doa tersebut dipanjatkan. Semoga dengan memahami kumpulan doa para Nabi dan Rasul ini, iman kita semakin kokoh dan kita terdorong untuk meneladani ketulusan mereka dalam berdoa.

Doa Nabi Adam AS – Doa Tobat Memohon Ampunan

Nabi Adam AS adalah manusia pertama sekaligus nabi yang juga pernah melakukan kesalahan. Setelah tergoda oleh bujukan Iblis dan melanggar larangan Allah SWT dengan memakan buah terlarang, Nabi Adam dan istrinya Siti Hawa menyadari kesalahan besar mereka. Mereka tidak mencari kambing hitam atau menyalahkan pihak lain, melainkan langsung memohon ampunan kepada Allah dengan penuh penyesalan. Doa taubat Nabi Adam ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 23 sebagai contoh bagi seluruh manusia agar mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah. Berikut lafal doa Nabi Adam AS beserta artinya:

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan (tidak) merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A‘raf: 23).

Doa Nabi Adam AS di atas menunjukkan sikap rendah hati dan penyesalan yang tulus. Menurut penjelasan para ulama, kalimat “ظَلَمْنَآ أَنْفُسَنَا” (kami telah menzalimi diri kami sendiri) adalah pengakuan jujur Nabi Adam dan Hawa atas dosa mereka. Allah SWT mengajarkan doa tersebut kepada Nabi Adam sebagai jalan bertaubat (QS. Al-Baqarah: 37) dan akhirnya menerima taubat mereka. Meski demikian, Nabi Adam dan Siti Hawa tetap harus turun ke bumi untuk menjalani kehidupan baru. Hikmah dari doa ini adalah bahwa Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau mengakui kesalahan dan memohon ampunan dengan sungguh-sungguh.

Doa Nabi Nuh AS – Doa Mohon Perlindungan dan Ampunan

Nabi Nuh AS dikenal sebagai rasul ulul azmi yang menghadapi kaumnya selama ratusan tahun. Beliau tetap sabar berdakwah meski mendapat penolakan dan ejekan, hingga akhirnya Allah memerintahkan pembuatan bahtera dan mendatangkan banjir besar. Dalam peristiwa banjir tersebut, putra Nabi Nuh yang bernama Kan‘an termasuk yang enggan beriman dan ikut tenggelam. Nabi Nuh sempat sedih dan “protes” bertanya kepada Allah mengapa anaknya yang merupakan keluarganya tidak diselamatkan, padahal Allah telah menjanjikan akan menyelamatkan keluarga beliau.

Allah SWT menegur Nabi Nuh bahwa janji keselamatan hanya berlaku bagi orang-orang beriman, dan Kan‘an bukanlah termasuk keluarganya dalam hal akidah karena dia tidak beramal saleh. Menyadari kekeliruan telah meminta sesuatu yang di luar pengetahuannya, Nabi Nuh segera memohon ampun dan perlindungan Allah. Doa Nabi Nuh tersebut tercantum dalam Al-Qur’an surah Hud ayat 47:

رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu (dari meminta) sesuatu yang aku tidak mengetahui hakikatnya. Dan sekiranya Engkau tidak mengampuniku serta tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Hud: 47).

Doa di atas dipanjatkan Nabi Nuh AS setelah ia diselamatkan dari banjir besar dan mendapat peringatan dari Allah. Beliau memohon perlindungan agar tidak meminta hal yang melampaui batas ilmunya dan memohon ampunan atas kekhilafannya. Allah Maha Pengasih lagi Penyayang mengabulkan doa Nabi Nuh tersebut dan menyelamatkan beliau beserta orang-orang beriman yang menaiki bahtera. Dari kisah ini kita belajar bahwa seorang hamba harus tawakal dan menerima keputusan Allah dengan lapang dada. Nabi Nuh mengajarkan kita untuk berlindung kepada Allah dari kejahilan diri sendiri, serta selalu memohon ampunan agar tidak termasuk golongan yang merugi.

Doa Nabi Ibrahim AS – Doa Agar Keturunan Rajin Beribadah

Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu nabi terbesar (ulul azmi) yang doanya banyak diabadikan dalam Al-Qur’an. Beliau dikenal sangat taat beribadah dan diuji dengan berbagai cobaan berat, namun selalu lulus berkat keimanan dan doa-doanya. Salah satu doa Nabi Ibrahim yang masyhur adalah permohonan agar dirinya dan anak-cucunya dijadikan orang yang tekun mendirikan salat. Doa ini diucapkan Nabi Ibrahim dalam rangka memohon kebaikan spiritual bagi keluarganya. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Ibrahim senantiasa berdoa agar keturunannya menjadi ahli ibadah yang taat kepada Allah SWT. Doa beliau tersebut terabadikan dalam surah Ibrahim ayat 40:

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim: 40).

Doa Nabi Ibrahim AS tersebut menunjukkan kepedulian beliau terhadap keberlangsungan iman dalam keluarganya. Setelah berhasil membangun fondasi Ka’bah di Makkah dan meninggalkan keluarganya di dekat Baitullah, Nabi Ibrahim memohon agar keturunannya kelak senantiasa mendirikan salat dan taat beribadah. Menariknya, dalam ayat selanjutnya (QS. Ibrahim: 41) Nabi Ibrahim juga berdoa memohon ampunan untuk diri sendiri, kedua orang tuanya, dan seluruh orang beriman. Hal ini mencerminkan sifat pengasih beliau yang tak hanya memikirkan diri dan keluarga, tetapi juga kesejahteraan rohani orang-orang mukmin secara umum. Doa Nabi Ibrahim mengajarkan kita pentingnya mendoakan keluarga agar menjadi generasi saleh yang menegakkan salat, karena salat adalah tiang agama dan penentu akhlak seseorang.

Doa Nabi Musa AS – Doa Memohon Kemudahan dan Kelancaran Dakwah

Nabi Musa AS diberikan tugas berat oleh Allah SWT untuk menghadapi Fir’aun, penguasa zalim yang mengaku dirinya tuhan. Sebelum menjalankan misinya mengajak Fir’aun dan kaumnya kepada keimanan, Nabi Musa merasa khawatir karena ia memiliki kekurangan dalam kefasihan berbicara. Dikisahkan dalam Al-Qur’an, Nabi Musa pernah mengalami cedera di lidah saat kecil, sehingga berbicaranya kurang lancar. Menyadari hal ini, Nabi Musa memohon kepada Allah agar diberikan kelapangan dada, kemudahan dalam urusan, serta kelancaran lisan saat menyampaikan risalah, sehingga kaumnya dapat memahami apa yang ia sampaikan. Doa penuh harap ini terabadikan dalam surah Thaahaa ayat 25–28:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِيۙ وَيَسِّرْ لِيٓ أَمْرِيۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.” (QS. Thaahaa: 25–28).

Inilah doa Nabi Musa AS ketika menghadapi tugas berdakwah yang menegangkan. Allah SWT mengabulkan doa ini dengan menguatkan Nabi Musa dalam menyampaikan dakwah kepada Fir’aun. Bahkan, Allah mengangkat Harun (saudara Nabi Musa) sebagai pendamping untuk membantu beliau berbicara di hadapan Fir’aun, sebagaimana permohonan Nabi Musa dalam ayat selanjutnya (Thaahaa: 29–32). Berkat doa ini, Nabi Musa mendapat ketenangan batin dan kemudahan dalam menjalankan perintah Allah. Pelajaran bagi kita adalah senantiasa berdoa memohon kemudahan setiap kali menghadapi urusan yang sulit. Doa Nabi Musa mengajarkan bahwa tiada pertolongan yang lebih besar selain dari Allah dalam melapangkan hati dan melancarkan lisan, terutama ketika kita menyampaikan kebenaran.

Doa Nabi Isa AS – Doa Memohon Rezeki dan Tanda Kebesaran Allah

Nabi Isa AS diutus kepada Bani Israil dan dikaruniai banyak mukjizat oleh Allah, salah satunya adalah mukjizat turunnya hidangan (mā’idah) dari langit. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur’an surah Al-Ma’idah ayat 112–115. Para pengikut setia Nabi Isa yang disebut Hawariyyun pernah memohon kepada beliau agar berdoa meminta hidangan dari langit. Permintaan ini bukan karena mereka ragu akan kekuasaan Allah, melainkan agar hati mereka lebih mantap dan iman mereka semakin kuat setelah menyaksikan tanda kebesaran Allah. Menanggapi permintaan yang bertujuan baik tersebut, Nabi Isa Alaihissalam pun berdoa memohon rezeki istimewa itu kepada Allah SWT. Doa Nabi Isa ini terekam dalam surah Al-Ma’idah ayat 114:

اللّٰهُمَّ رَبَّنَآ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَاءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: “Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami – bagi orang-orang yang bersama kami maupun yang datang sesudah kami – sebagai tanda dari-Mu. Berilah kami rezeki, Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Al-Ma’idah: 114)

Allah SWT mengabulkan doa Nabi Isa tersebut dan menurunkan suatu hidangan berkah dari langit sebagai mukjizat. Hari turunnya makanan itu menjadi ‘Īd (hari raya) bagi kaumnya yang menyaksikan mukjizat tersebut, sehingga iman mereka semakin kokoh. Namun, Allah juga memberi peringatan keras dalam ayat 115 bahwa siapa yang kufur setelah mukjizat itu, ia akan ditimpakan azab yang berat. Doa Nabi Isa AS ini mengajarkan kita bahwa rezeki sepenuhnya berada di tangan Allah dan Dia dapat memberikannya dari arah yang tak disangka-sangka sebagai bukti kekuasaan-Nya. Selain itu, tujuan mukjizat dan rezeki tersebut adalah untuk menambah syukur dan keimanan, bukan sekadar kepuasan duniawi semata.

Doa Nabi Muhammad SAW – Doa Sapu Jagat untuk Kebaikan Dunia Akhirat

Nabi terakhir, Muhammad SAW, mengajarkan banyak doa kepada umatnya. Salah satu doa yang paling terkenal dan sering dibaca beliau adalah doa memohon kebaikan dunia dan akhirat, yang dikenal sebagai Doa Sapu Jagat. Doa ini disebut “sapu jagat” karena cakupannya luas, mencakup kebaikan di kehidupan dunia serta keselamatan di kehidupan akhirat. Menurut riwayat Anas bin Malik RA, doa inilah yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW dalam berbagai kesempatan. Lafaz doa sapu jagat juga termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 201 sebagai doa yang diajarkan kepada kaum muslimin. Berikut bunyi doanya:

رَبَّنَآ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)

Doa sapu jagat di atas mencerminkan keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrawi. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa umat Islam hendaknya tidak hanya fokus mengejar kebaikan dunia saja atau akhirat saja, melainkan memohon kepada Allah kebaikan untuk keduanya secara bersamaan. Dengan membaca doa ini, seorang muslim memohon hal-hal baik di dunia – seperti kesehatan, rezeki halal, keluarga sakinah, ilmu bermanfaat, dan amal saleh – serta memohon kebaikan di akhirat berupa keselamatan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa seluruh kebaikan dunia dan akhirat tercakup dalam kalimat singkat doa tersebut. Itulah sebabnya Rasulullah SAW sangat menyukai doa ini dan menganjurkannya kepada kita. Sebagai pengikutnya, kita dianjurkan rutin membaca doa sapu jagat, misalnya seusai salat atau di waktu-waktu mustajab, agar mendapat kebahagiaan di dunia sekaligus akhirat.

Demikianlah kumpulan doa para nabi dan rasul mulai dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW beserta makna dan kisah singkat di baliknya. Doa-doa para nabi yang diabadikan dalam Al-Qur’an dan Hadis bukan sekadar cerita sejarah, tetapi menjadi teladan bagi kita dalam berdoa dan menghadapi ujian hidup. Allah SWT mengabadikan doa para nabi tersebut agar kita dapat belajar cara berdoa yang benar, penuh ketundukan dan harapan kepada-Nya. Dari doa-doa di atas, kita melihat bahwa para Nabi selalu memulai dengan pengagungan dan pengakuan kelemahan diri, lalu memohon kebaikan dan ampunan dari Allah. Mereka berdoa dalam situasi beragam: saat bertaubat (Nabi Adam), saat menghadapi cobaan berat (Nabi Nuh dan Nabi Musa), saat mensyukuri nikmat dan memikirkan generasi mendatang (Nabi Ibrahim), saat memohon tanda kebesaran Allah untuk menguatkan iman umatnya (Nabi Isa), hingga doa yang mencakup segala kebaikan (Nabi Muhammad). Inti hikmahnya, doa adalah senjata dan pelindung bagi orang beriman. Dengan meneladani doa-doa para nabi, kita diajarkan untuk selalu bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan, memohon ampunan ketika bersalah, berserah diri ketika berusaha, dan tidak ragu meminta segala kebaikan kepada Allah SWT. Semoga kumpulan doa ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk memperbanyak doa dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana para Nabi dan Rasul teladan kita. Aamiin.

 

You might also like