Nun Mati Ketemu Idgham Bilaghunnah Artinya Melebur Tanpa Dengung

Nun Mati Ketemu Idgham Bilaghunnah Artinya Melebur Tanpa Dengung

Masjid Ismuhu Yahya – Membaca al qur’an dengan tajwid menjadi suatu keharusan, Salah satu hukum tajwid yang sering ditemui dan penting untuk dipahami adalah Idgham Bilaghunnah. Hukum ini terjadi saat nun mati ketemu idgham bilaghunnah artinya meleburkan tanpa dengungan. Yang Artinya memasukkan huruf nun sukun ke dalam huruf idgham bilaghunnah. Artikel ini akan mengupas tuntas Idgham Bilaghunnah, mulai dari pengertian, huruf-hurufnya, cara membaca, hingga contoh-contohnya dalam Al-Qur’an agar Anda bisa membaca kitab suci dengan lebih tartil dan sempurna.

Pengertian Idgham Bilaghunnah

Dalam memahami suatu bahasan selalu diawali dengan mempelajari dulu pengertian atau definisi dari yang akan dipelajari. Maka sebelum membahas lebih jauh, diawal ini kita akan mempelajari definisi idgham bilaghunnah. Secara bahasa “Idgham” berarti memasukkan atau meleburkan. Maknanya menggabungkan atau menyatukan dua bunyi huruf menjadi satu.

Sedangkan kata “Bilaghunnah” juga memiliki arti khusus, kata “Bi” yang bermakna “Dengan” atau “Tanpa”, sementara “Ghunnah” berarti “dengung” atau “sengau” yang keluar dari hidung. Jadi, “Bilaghunnah” bermakna lengkap “tanpa dengungan”.

Mengggabungkan kedua kata diatas akan memunculkan istilah tajwid, Idgham Bilaghunnah yang dalam ilmu tajwid yang terjadi ketika ada nun sukun/mati atau tanwin (fathatain ـًـ , kasratain ـٍـ , atau dhammatain ـٌـ) bertemu dengan salah satu dari dua huruf hijaiyah, yaitu lam (ل) atau ra ( ﺭ ). Dalam kondisi ini, bunyi nun mati atau tanwin tersebut dileburkan sepenuhnya ke dalam huruf setelahnya tanpa disertai dengungan (ghunnah).

Hukum ini juga memiliki nama lain “Idgham Bighairi Ghunnah”. Penamaan ini juga menjadi penguat dari karakteristik hukum ini. Dalam buku Dasar-dasar Ilmu Tajwid (2020) karya Marzuki dan Umamah, mendefiniskan bahwa hukum ini secara lugas sebagai kondisi di mana nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf sesudahnya dan dibaca tanpa mendengung. Pemahaman ini esensial untuk menjaga kemurnian dan keindahan bacaan Al-Qur’an.

Huruf-Huruf Idgham Bilaghunnah

Dalam kaidah ilmu tajwid, Idgham Bilaghunnah hanya memiliki dua huruf yang menjadi pemicunya. Kedua huruf tersebut adalah lam (ل) dan ra ( ﺭ ). Ketika nun mati (نْ) atau tanwin (ـًـــٍـــٌ) bertemu dengan salah satu dari dua huruf ini, maka hukum Idgham Bilaghunnah berlaku.

Keberadaan hanya dua huruf ini yang membedakannya secara signifikan dengan Idgham Bighunnah. Idgham Bighunnah memiliki empat huruf (ya, nun, mim, wawu) dan dibaca dengan dengungan, sementara Idgham Bilaghunnah, seperti namanya, mutlak dibaca tanpa dengungan sama sekali. Ketiadaan ghunnah inilah yang menjadi ciri khas dan pembeda utama antara kedua jenis idgham tersebut. Oleh karena itu, mengenali kedua huruf ini dengan baik adalah kunci utama untuk mengaplikasikan hukum Idgham Bilaghunnah secara tepat.

Cara Membaca Idgham Bilaghunnah

Memahami cara membaca Idgham Bilaghunnah merupakan inti pembahasan dalam artikel ini. Ketika nun mati (نْ) atau tanwin (fathatain, kasratain, atau dhammatain) bertemu dengan huruf lam (ل) atau ra ( ﺭ ), ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan:

  1. Peleburan Sempurna: Bunyi nun mati atau tanwin tersebut harus dileburkan atau dimasukkan secara sempurna ke dalam huruf setelahnya, baik itu lam maupun ra. Artinya, bunyi “n” pada nun mati atau tanwin tidak terdengar sama sekali.
  2. Tanpa Dengung (Ghunnah): Ini adalah aspek paling krusial. Tidak ada suara dengung atau sengau yang keluar dari rongga hidung. Aliran udara dan suara harus langsung mengalir ke huruf lam atau ra tanpa jeda dengungan. Ini berbeda dengan Idgham Bighunnah yang justru mengharuskan adanya dengungan.
  3. Tasydid pada Huruf Berikutnya: Huruf lam (ل) atau ra ( ﺭ ) yang mengikuti nun mati atau tanwin tersebut harus dibaca dengan tasydid (ّ ). Tasydid ini menandakan bahwa huruf tersebut dibaca seolah-olah ganda, hasil dari peleburan nun mati atau tanwin sebelumnya.

Sebagai perbandingan singkat, jika pada Idgham Bighunnah (ketika nun mati atau tanwin bertemu huruf ya, nun, mim, wawu) kita membaca dengan meleburkan sekaligus mendengungkan selama sekitar dua harakat, pada Idgham Bilaghunnah, proses peleburan terjadi tanpa jeda dengungan. Suara langsung menyatu dan mengalir bersih ke huruf lam atau ra yang bertasydid. Ketepatan dalam menerapkan kaidah ini sangat penting untuk menjaga keindahan dan kebenaran bacaan Al-Qur’an.

Contoh dalam al qur’an

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ
Nun mati (نْ) pada يَكُنْ bertemu Lam (ل) pada لَّهٗ.
Dibaca: yakullahu (tanpa dengung).

Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, mempelajari dan mempraktikkan ilmu tajwid adalah langkah yang tidak bisa ditawar. Pemahaman tentang Idgham Bilaghunnah menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian, kita tidak hanya membaca teks, tetapi juga menyelami setiap makna yang terkandung di dalamnya dengan penuh penghayatan.

You might also like