Shalat Syuruq Jam Berapa, Tata Cara, dan Keutamaannya

Shalat Syuruq Jam Berapa, Tata Cara, dan Keutamaannya

Masjid Ismuhu Yahya – Pertanyaan “shalat syuruq jam berapa” sering muncul di kalangan umat Muslim awam yang ingin mengetahui waktu tepat melaksanakan ibadah sunnah ini. Shalat Syuruq (atau Isyraq) adalah shalat sunnah yang dikerjakan setelah matahari terbit. Secara bahasa, istilah syuruq berarti terbit (shams terbit), sehingga syaratnya matahari harus sudah benar-benar muncul dari ufuk. Shalat Syuruq biasa dilakukan sebanyak dua rakaat dan termasuk bagian awal dari waktu dhuha. Dengan memahami definisi dan dalil syariatnya, kita dapat menjalankan ibadah Syuruq sesuai tuntunan.

Apa itu Shalat Syuruq

Shalat Syuruq adalah shalat sunnah yang dilaksanakan setelah matahari terbit. Shalat ini bukan shalat fardu wajib, melainkan sunnah rawatib atau sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi umat Islam. Pelaksanaannya dilakukan saat matahari sudah meninggi di atas ufuk (sekitar tinggi satu tombak manusia). Selain Syuruq, ada pula istilah Shalat Isyraq yang merujuk pada hal sama. Pada umumnya, Shalat Syuruq dilakukan dua rakaat saja, sama seperti tata cara shalat sunnah lainnya. Meskipun statusnya sunnah, banyak ulama menganjurkan mengamalkannya karena pahala besar di waktu pagi.

Secara Al-Qur’an tidak ada ayat yang menyebutkan secara khusus tentang Shalat Syuruq. Para ahli menjelaskan bahwa tidak ada dalil langsung dalam Al-Qur’an yang menyebutkan shalat setelah matahari terbit secara spesifik. Meski begitu, terdapat beberapa ayat yang menganjurkan ibadah di waktu pagi, misalnya perintah mengingat Allah di pagi dan petang. Namun dalil yang lebih jelas berasal dari hadis Rasulullah ﷺ.

Beberapa riwayat hadits menyebutkan pelaksanaan Shalat Syuruq. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan Shalat Syuruq di masjid setelah terbit matahari. Dalam hadis riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasa’i disebutkan:

“Ketika matahari terbit dan mulai naik (satu atau dua tombak), maka Nabi ﷺ berdiri dan shalat dua rakaat…”.

Hadis ini menjelaskan bahwa begitu matahari mulai meninggi sekitar satu dua tombak, Nabi ﷺ melaksanakan dua rakaat shalat Isyraq. Hadis lain menjelaskan tahapan waktu Syuruq dan Dhuha secara bersambung: setelah shalat subuh berjamaah, beliau duduk berzikir hingga matahari bergeser satu atau dua tombak, kemudian shalat dua rakaat Syuruq. Semua hadis tersebut menegaskan bahwa Shalat Syuruq disunnahkan dilakukan setelah matahari benar-benar terbit.

Selain itu, ada juga hadis mengenai keutamaan ibadah di waktu pagi: Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa shalat subuh berjamaah kemudian duduk berdzikir mengingat Allah hingga matahari terbit, lalu mengerjakan dua rakaat shalat, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna”. Hadis ini menggambarkan bahwa shalat Syuruq (dua rakaat setelah matahari terbit) memberikan pahala besar seperti haji dan umrah jika dilaksanakan setelah shalat subuh berjamaah.

Waktu Pelaksanaan Shalat Syuruq

Waktu shalat Syuruq dimulai segera setelah matahari benar-benar terbit hingga batas awal waktu dhuha. Para ulama umumnya sepakat bahwa waktu Syuruq adalah sekitar 10–15 menit setelah matahari terbit. Dalam praktek sehari-hari, ini berarti kita menunggu setelah mendengar adzan subuh, lalu setelah matahari muncul sepenuhnya dan meninggi kira-kira setinggi tombak, barulah shalat Syuruq boleh dilaksanakan.

Secara detail, konsensus ulama menyatakan bahwa setelah matahari terbit sekitar satu tombak (sekitar 12–15 menit kemudian, tergantung musim dan lintang), itulah waktu yang tepat untuk mengerjakan Syuruq. Perlu diingat bahwa pada saat matahari sedang dalam proses terbit (tampak sebagian di horizon) shalat tidak dianjurkan karena Rasul ﷺ pernah melarang shalat tepat saat terbit hingga matahari meninggi. Oleh karena itu, Syuruq dilakukan sesudah periode larangan tersebut berakhir.

Keutamaan Shalat Syuruq

Shalat Syuruq memiliki sejumlah keutamaan yang menjadi motivasi bagi umat Muslim untuk melaksanakannya. Salah satu yang terkenal adalah pahalanya yang sangat besar. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa orang yang mengerjakan shalat Syuruq akan mendapatkan ganjaran seperti pahala haji dan umrah yang sempurna. Hal ini tergambar dari hadis Abu Darda’ di atas yang menyatakan pahala sempurna haji dan umrah bagi yang shalat Subuh berjamaah, zikir hingga terbit matahari, lalu shalat dua rakaat Syuruq.

Selain itu, amalan Syuruq juga membantu memupuk kebiasaan ibadah di pagi hari. Dengan bangun pagi lebih awal dan menyempatkan diri beribadah di waktu Syuruq, seorang Muslim menumbuhkan konsistensi shalat dan dzikir pagi. Lampung NU menuliskan beberapa hikmah lainnya, antara lain Syuruq membantu menjaga rutinitas shalat, memberikan pahala tambahan setiap waktu, bahkan membersihkan jiwa dan menjalin koneksi spiritual yang lebih kuat dengan Allah di awal hari. Singkatnya, shalat Syuruq bisa menjadi amalan ringan tetapi pahalanya berlipat di mata Allah SWT.

Pada intinya, waktu Shalat Syuruq adalah sesudah matahari benar-benar terbit (bukan saat mulai muncul) dan sebelum matahari tinggi. Setelah mengetahui batas waktunya, seorang Muslim dapat memantau jadwal shalat setempat (yang biasanya mencantumkan waktu terbit) dan menjadwalkan Syuruq sekitar 15 menit berikutnya. Dengan ini, segala aspek – definisi, dalil, waktu, perbedaan dengan dhuha, keutamaan, dan tata cara – telah kita bahas secara lengkap, sehingga umat Islam memiliki pedoman jelas untuk menjalankan shalat Syuruq sesuai tuntunan.

You might also like