Khutbah Jumat : Al Qur’an sebagai kurikulum kehidupan

Khutbah Jumat : Al Qur’an sebagai kurikulum kehidupan

Masjid Ismuhu Yahya – Khutbah jumat sebagai salah satu rukun dalam pelaksanaan shalat jumat. Tanpa adanya khutbah dalam shalat jumat maka bisa dipastikan jumatnya batal. Maka kedudukan khutbah ini sangat penting. Dalam artikel ini akan kami sajikan khutbah sederhana yang bisa dijadikan referensi bagi anda.

إِنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ/نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ / وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا /وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا/ مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ / وَمَنْ يُـضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ / وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ / وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ/ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ./
• اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ/ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ/ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ/.
• فَياَ عِبَادَ الله / أُوْصِيْكُمْ / وَنَفْسِي بِتَقْوَى الله /فَقَدْ فَازَ الْـمُتَّقُوْنَ/.
• وَ قَالَ الله تَعَالَى فِى القُرْآنِ الكَرِيْمِ:/ اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ/ بِسْمِ للهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ/.
• يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا/اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ / وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ /
• يَا أَيُّهَا النَّاسُ / اِتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَة ٍ/ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا / وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً / وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ / إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا/
• يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا /اتَّقُوا اللَّهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا /يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ/ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ/ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ/ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا /أَمَّا بَعْدُ.

Hadirin, jamaah Jumat rahimani warahimakumullah,
Kita mengawali pertemuan Jumat kita di awal Muharram 1448 Hijriah ini dengan bersyukur pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita masih diberikan kesempatan, kekuatan, dan keimanan untuk menunaikan dan sekaligus menyambut seruan ibadah Jumat di hari ini. Semoga Jumat kali ini dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Jumat terbaik di antara sekian Jumat yang pernah kita tunaikan.
Pada kesempatan yang mulia ini pula, marilah kita jadikan momentum ini untuk memperbarui tekad menjadi hamba yang lebih bertakwa. Ketakwaan bukan sekadar diucapkan, tetapi diwujudkan dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pernahkah kita bertanya, mengapa dalam setiap khutbah Jumat selalu dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an?
Mengapa seorang khatib tidak cukup hanya menyampaikan nasihat atau motivasi, tetapi wajib menghadirkan firman Allah sebagai bagian dari khutbah?
Ternyata, di balik ketentuan itu terdapat hikmah yang sangat besar. Ayat Al-Qur’an bukan sekadar pelengkap khutbah. Bukan pula sekadar memenuhi salah satu rukunnya. Allah menghendaki agar setiap kali kaum muslimin berkumpul pada hari Jumat, mereka kembali diingatkan kepada petunjuk hidup yang datang langsung dari Rabb semesta alam.
Sebab nasihat manusia bisa benar, tetapi juga bisa keliru. Pendapat seseorang dapat berubah mengikuti zaman. Namun firman Allah tidak pernah berubah dan tidak pernah salah.
Karena itulah, khutbah Jumat selalu mengembalikan kita kepada sumber petunjuk yang paling benar, yaitu Al-Qur’an.
Jamaah rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan hakikat Al-Qur’an dalam firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Perhatikanlah ayat ini.
Allah tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an hanya diturunkan untuk dibaca. Allah juga tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an hanya diturunkan agar dikhatamkan setiap Ramadan. Akan tetapi, Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah “hudan linnas”, yaitu petunjuk bagi seluruh manusia. Inilah tujuan utama diturunkannya Al-Qur’an.
Membacanya memang ibadah. Menghafalnya adalah kemuliaan. Mempelajarinya merupakan amal yang sangat agung. Namun, semua itu seharusnya mengantarkan kita kepada tujuan yang lebih besar, yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tidak mengherankan jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dekat dengan Al-Qur’an. Para sahabat juga menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup mereka. Begitu pula kaum muslimin sepanjang sejarah. Mereka bukan hanya membaca Al-Qur’an, tetapi berusaha memahami, mengamalkan, dan menjadikannya sebagai solusi atas setiap persoalan yang mereka hadapi.
Karena itu, ketika bulan Ramadan tiba, semangat kita untuk membaca Al-Qur’an meningkat. Masjid-masjid dipenuhi lantunan ayat suci. Banyak yang berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an.
Semua itu adalah amal yang sangat baik. Namun, setelah Ramadan berlalu, jangan sampai hubungan kita dengan Al-Qur’an ikut berlalu.
Sebab Al-Qur’an bukan kitab yang hanya menemani kita satu bulan dalam setahun. Al-Qur’an adalah petunjuk yang harus menemani setiap langkah kehidupan kita, dari bangun tidur hingga kembali beristirahat, dari urusan dunia hingga persiapan menuju akhirat.
Maka, pertanyaan yang perlu kita renungkan pada hari ini bukanlah, “Sudah berapa kali saya mengkhatamkan Al-Qur’an?”
Tetapi yang lebih penting adalah,
“Sudah sejauh mana saya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup saya?”
Inilah renungan yang hendaknya kita bawa setiap kali menghadiri salat Jumat. Kita datang bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga untuk mencari petunjuk Allah yang dapat memperbaiki kehidupan kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Apabila Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia, lalu muncul pertanyaan berikutnya. Petunjuk untuk apa?
Apakah hanya untuk mengajarkan cara salat?, Apakah hanya untuk mengatur ibadah di masjid?
Ternyata tidak.
Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh perjalanan hidup manusia. Ia membimbing kita sejak membuka mata di pagi hari hingga kembali menutup mata di malam hari. Bahkan, petunjuknya tidak berhenti ketika kehidupan di dunia berakhir. Al-Qur’an juga mengajarkan bekal untuk menghadapi alam kubur dan kehidupan akhirat.
Karena itu, para ulama sering menyebut Al-Qur’an sebagai kurikulum kehidupan. Di dalamnya terdapat bimbingan bagi setiap manusia, apa pun profesinya, berapa pun usianya, dan di mana pun ia berada.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Perhatikanlah kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita hendak mencari rezeki, Al-Qur’an mengajarkan agar rezeki itu diperoleh dengan cara yang halal dan baik.
Allah berfirman,
كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
“Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.”
(QS. Al-Baqarah: 168)
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang makanan yang kita makan. Para ulama menjelaskan bahwa ia juga mengingatkan agar rezeki yang kita bawa pulang berasal dari jalan yang halal. Karena itu, Islam melarang segala bentuk kecurangan.
Korupsi dilarang. Penipuan dilarang. Suap dilarang. Mencuri dilarang. Sebab tangan yang Allah anugerahkan kepada kita adalah amanah. Tangan itu seharusnya digunakan untuk bekerja, membantu sesama, mencari nafkah yang halal, dan melakukan amal saleh.
Jamaah rahimakumullah,
Begitu pula ketika kita menuntut ilmu. Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan kita untuk belajar, tetapi juga mengajarkan adab ketika berada di majelis ilmu. Sebagaimana yang tertuang dalam QS AL Mujadalah Ayat 11.
Lihatlah indahnya ajaran Islam. Bahkan cara duduk dalam majelis ilmu pun diajarkan oleh Al-Qur’an. Sikap saling menghormati. Memberikan tempat kepada saudara kita. Tidak merasa paling penting. Semuanya adalah bagian dari akhlak seorang mukmin.
Kemudian Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ini menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya membuat seseorang menjadi cerdas, tetapi juga menjadi mulia di sisi Allah.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Al-Qur’an juga mengajarkan bagaimana membangun keluarga. Bagaimana memilih pasangan hidup. Bagaimana menjadi suami yang bertanggung jawab. Bagaimana menjadi istri yang salehah. Bagaimana mendidik anak-anak. Bagaimana berbakti kepada orang tua.
Bahkan ketika terjadi perselisihan dalam rumah tangga, Al-Qur’an tidak membiarkan kita mencari solusi sendiri. Allah memberikan petunjuk agar setiap persoalan diselesaikan dengan keadilan, kesabaran, dan musyawarah.
Tidak ada satu pun fase kehidupan manusia yang luput dari bimbingan Al-Qur’an. Mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, masa muda, bekerja, berkeluarga, bermasyarakat, hingga saat seseorang menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Subhanallah. Betapa sempurnanya petunjuk Al-Qur’an. Ia tidak hanya mengajarkan cara hidup yang benar, tetapi juga mengajarkan bagaimana menutup kehidupan dengan akhir yang terbaik, yaitu husnul khatimah.
Maka sungguh beruntung orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam hidupnya.
• Ia membaca ayat-ayatnya.
• Ia memahami maknanya.
• Ia berusaha mengamalkannya.
Dan ketika menghadapi persoalan hidup, ia tidak terburu-buru mencari jawaban ke sana kemari, tetapi terlebih dahulu kembali kepada petunjuk Allah dalam Al-Qur’an.
Sebab kita meyakini bahwa tidak ada persoalan yang dihadapi manusia, kecuali Allah telah memberikan petunjuk jalan keluarnya melalui kitab-Nya atau melalui sunnah Rasul-Nya.
Inilah sebabnya Al-Qur’an disebut sebagai petunjuk hidup. Ia bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dijadikan pedoman dalam setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap perjalanan kehidupan kita.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setelah kita memahami bahwa Al-Qur’an adalah pedoman bagi seluruh aspek kehidupan, muncul satu pertanyaan yang patut kita renungkan.
Apakah benar Al-Qur’an mampu mengubah kehidupan manusia?, Jawabannya adalah **ya**, dan sejarah telah membuktikannya.
Marilah kita melihat kembali perjalanan dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebelum Al-Qur’an diturunkan, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai zaman jahiliah. Bukan karena mereka tidak memiliki kecerdasan, tetapi karena mereka jauh dari petunjuk Allah.
Perzinaan dianggap biasa. Minuman keras menjadi bagian dari kehidupan. Perjudian merajalela. Permusuhan antarsuku berlangsung bertahun-tahun. Orang yang kuat menindas yang lemah. Bahkan, bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap membawa aib bagi keluarga.
Inilah keadaan masyarakat ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Lalu, apa yang Allah turunkan untuk mengubah semua itu?
Apakah Allah menurunkan pasukan yang besar?, Apakah Allah mengirimkan kekuatan militer yang hebat?, Apakah Allah menurunkan kekayaan yang melimpah?
Tidak, Allah menurunkan Al-Qur’an.
Ayat demi ayat turun membimbing hati manusia. Sedikit demi sedikit akhlak mereka berubah. Cara berpikir mereka berubah. Cara memandang kehidupan berubah. Hubungan mereka dengan Allah menjadi lebih baik. Hubungan mereka dengan sesama manusia pun ikut membaik.
Inilah mukjizat terbesar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mukjizat beliau bukan hanya sesuatu yang disaksikan sesaat, tetapi petunjuk yang terus hidup hingga hari kiamat.
Jamaah rahimakumullah,
Perubahan besar itu tidak terjadi dalam semalam. Ia lahir karena para sahabat tidak hanya membaca Al-Qur’an, tetapi benar-benar menjadikannya sebagai pedoman hidup. Ketika Allah memerintahkan kejujuran, mereka menjadi orang-orang yang jujur. Ketika Allah melarang riba, mereka meninggalkannya. Ketika Allah memerintahkan sedekah, mereka berlomba-lomba memberi.Ketika Allah memerintahkan persaudaraan, mereka saling mencintai dan menguatkan.
Akibatnya, lahirlah generasi terbaik yang pernah dikenal dalam sejarah umat manusia. Generasi yang sederhana, tetapi berakhlak mulia. Generasi yang kuat, tetapi rendah hati. Generasi yang berilmu, tetapi tidak sombong. Generasi yang kaya, tetapi dermawan.
Mereka menjadi umat terbaik bukan karena jumlahnya banyak, bukan pula karena kekayaan atau kekuatan militernya. Mereka menjadi mulia karena hidup di bawah bimbingan Al-Qur’an.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pelajaran besar ini juga berlaku bagi kita pada hari ini. Sering kali kita mengeluhkan keadaan umat. Kita sedih melihat maraknya korupsi. Kita prihatin melihat penyalahgunaan amanah. Kita gelisah melihat perpecahan, fitnah, dan rusaknya akhlak. Semua itu memang menjadi persoalan besar.
Namun, sebagai seorang muslim, kita tidak cukup hanya mengeluh. Kita harus bertanya kepada diri sendiri, **sudahkah kita kembali kepada petunjuk Al-Qur’an?**
Jangan-jangan Al-Qur’an hanya kita baca ketika ada perlombaan. Hanya kita buka ketika Ramadan. Atau hanya kita dengarkan ketika salat Jumat.
Padahal Allah menurunkan Al-Qur’an agar menjadi petunjuk dalam kehidupan sehari-hari. Maka perubahan itu harus dimulai dari diri kita sendiri.
Jika kita seorang ayah, jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam mendidik keluarga. Jika kita seorang ibu, jadikan Al-Qur’an sebagai dasar membangun rumah tangga yang penuh kasih sayang. Jika kita seorang pedagang, jadikan Al-Qur’an sebagai pedoman untuk berlaku jujur. Jika kita seorang pegawai, jadikan Al-Qur’an sebagai pengingat agar bekerja dengan amanah. Jika kita seorang pelajar, jadikan Al-Qur’an sebagai penyemangat untuk menuntut ilmu dengan adab yang baik.
Perubahan masyarakat selalu dimulai dari perubahan pribadi. Dan perubahan pribadi dimulai ketika seseorang mau menerima petunjuk Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa perubahan bukan hanya harapan, tetapi sebuah ikhtiar. Jika kita ingin keluarga menjadi lebih baik, dekatkan keluarga kepada Al-Qur’an. Jika kita ingin masyarakat menjadi lebih baik, hidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Jika kita ingin bangsa ini diberkahi Allah, maka kembalikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan.
Sebab sejarah telah membuktikan bahwa ketika manusia berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Allah mengangkat derajat mereka. Sebaliknya, ketika manusia menjauh dari petunjuk-Nya, berbagai persoalan mulai bermunculan.
Karena itu, marilah kita menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi cahaya yang menerangi hati, membimbing akal, memperbaiki akhlak, dan mengarahkan setiap langkah kehidupan kita menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Setelah kita memahami bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi seluruh kehidupan, maka ada satu pelajaran penting yang hendaknya kita bawa pulang dari khutbah hari ini.
Janganlah kita menjadikan salat Jumat hanya sebagai rutinitas mingguan. Datang ke masjid. Mendengarkan khutbah sekadarnya. Melaksanakan salat. Lalu pulang tanpa membawa perubahan apa pun.
Jika demikian, kita telah kehilangan salah satu hikmah terbesar dari hari Jumat. Sesungguhnya, setiap Jumat adalah kesempatan yang Allah berikan kepada kita untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia, lalu mengevaluasi diri di hadapan-Nya.
Mungkin selama sepekan terakhir kita disibukkan oleh pekerjaan. Kita sibuk mencari nafkah. Sibuk berdagang. Sibuk belajar. Sibuk mengurus keluarga. Bahkan terkadang begitu sibuk hingga lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.
Maka Allah memanggil kita melalui azan Jumat agar kita berhenti sejenak, mendengarkan firman-Nya, lalu kembali meluruskan arah kehidupan kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mulai hari ini, biasakanlah bertanya kepada diri sendiri setiap kali datang menghadiri salat Jumat.
• Apa persoalan yang sedang saya hadapi?
• Apakah saya sedang diuji dengan masalah ekonomi?
• Apakah saya sedang mengalami kesulitan dalam rumah tangga?
• Apakah saya sedang berjuang mendidik anak-anak?
• Apakah saya sedang diuji dengan penyakit?
• Apakah saya sedang kehilangan semangat beribadah?
Apa pun persoalannya, yakinlah bahwa Allah tidak membiarkan hamba-Nya tanpa petunjuk. Carilah jawabannya dalam Al-Qur’an.
Apabila kita belum memahaminya, bertanyalah kepada para ulama dan guru-guru yang memiliki ilmu.
Sebagaimana Allah berfirman,
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)
Karena itulah, keberadaan para ulama dan para dai di tengah masyarakat merupakan nikmat yang sangat besar. Mereka bukan hanya menyampaikan ilmu. Mereka hadir untuk membantu umat memahami petunjuk Allah dan menemukan solusi atas persoalan kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jamaah rahimakumullah,
Ketika kita memiliki masalah tentang rezeki, Al-Qur’an memberikan bimbingan. Ketika kita menghadapi persoalan keluarga, Al-Qur’an memberikan jalan keluar. Ketika kita bingung mendidik anak, Al-Qur’an memberikan petunjuk.
Bahkan ketika kita berbicara tentang utang-piutang, Allah menurunkan ayat terpanjang dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 282. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap urusan kehidupan manusia, termasuk urusan yang sering dianggap sederhana.
Tidak ada persoalan hidup yang terlalu kecil untuk mendapatkan bimbingan dari Allah. Karena itu, jangan pernah merasa bahwa agama hanya mengatur urusan ibadah di masjid. Islam adalah agama yang membimbing seluruh kehidupan manusia. Mulai dari urusan pribadi, keluarga, masyarakat, hingga kehidupan setelah kematian. Semua telah Allah jelaskan melalui Al-Qur’an dan sunnah Nabi-Nya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Marilah kita jadikan hari Jumat sebagai hari muhasabah. Hari untuk memperbaiki diri. Hari untuk memperbarui keimanan. Hari untuk semakin dekat kepada Al-Qur’an. Jangan sampai kita keluar dari masjid dalam keadaan yang sama seperti ketika kita datang.
Semoga setiap khutbah yang kita dengarkan menambah ilmu, menguatkan iman, memperbaiki akhlak, dan mendorong kita menjadi hamba yang lebih taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

 

Akhir dari khutbah pertama :

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ / وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّـاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ / أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا / وَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ / وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ /فَاسْتَغْفِرُوْهُ / إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ /

 

You might also like