Khutbah Shalat Istisqa Singkat: Musibah, Bencana dan Muhasabah - Masjid Ismuhu Yahya

Khutbah Shalat Istisqa Singkat: Musibah, Bencana dan Muhasabah

Masjid Ismuhu Yahya – Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya menjaga lingkungan dan memohon pertolongan Allah. Di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap serta kekeringan yang melanda, umat Islam dapat melaksanakan shalat istisqa sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Allah menurunkan hujan yang membawa manfaat.

Shalat istisqa merupakan ibadah yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika umat mengalami kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan. Dalam pelaksanaannya, khutbah menjadi bagian penting untuk mengingatkan jamaah agar memperbanyak istighfar, bertaubat, memperbaiki diri, dan memohon rahmat Allah.

Berikut contoh khutbah shalat istisqa yang dapat disampaikan dalam kondisi seperti ini.

أستغفر الله العظيم(3X)
أستغفر الله العظيم (3X)
أستغفر الله العظيم(3X)
الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه.
الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون.
أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، لا نبي بعده.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
قال الله تعالى في القرآن الكريم:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
بسم الله الرحمن الرحيم.
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
أما بعد
فيا عباد الله، اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون.
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا . يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا

Jamaah shalat istisqa yang dirahmati Allah
Hadirin, para undangan Allah yang berbahagia.
Puja, puji dan syukur, tahlil, tahmid, disertai dengan istighfar, hanya wajar kita sanjungkan keharibaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Shalawat beriring salam, kita mohonkan kepada Allah agar tetap dicurahkan kepada Rasulullah, Habibullah, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Sama-sama kita berikrar agar tetap menjadi umat dan pengikutnya yang senantiasa menghidup-hidupkan sunnahnya dalam hidup dan kehidupan kita. Insya Allah.

Istaghfirū rabbakum innahu kāna ghaffārā.
Dari mimbar yang berbahagia ini, khatib berwasiat kepada diri khatib dan untuk kita semua, agar bertakwa kepada Allah dan terus memperbarui ketakwaan kita.
Janganlah sampai kita mati sebelum menjadi orang yang bertakwa dengan sebenar-benarnya.

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Hadirin, para undangan Allah yang berbahagia.
Musibah yang menimpa negeri ini, mulai dari Banjir Bandang Sumatra yang belum pulih, Gempa NTT bahkan bencana asap yang melanda Bumi Khatulistiwa ini, menghentakkan kita dan membuat kita sadar bahwa kita bukan siapa-siapa dan kita tidak mempunyai apa-apa.
Musibah dan cobaan yang Allah turunkan kepada kita hari ini membuat kita sadar sesadar-sadarnya bahwa tanpa bantuan Allah, kita hanyalah manusia yang hina, dina, miskin, papa, kedana; tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan asap ini, perekonomian kita lumpuh. Pendidikan kita tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Anak-anak bangsa yang seharusnya belajar di sekolah terpaksa kita liburkan. Para mahasiswa juga demikian.
Penerbangan-penerbangan yang biasanya lancar naik dan turun di lapangan terbang kita sekarang banyak yang tertunda, bahkan banyak yang dialihkan. Sebab, mereka tidak mungkin turun ke sini jika kondisi seperti ini terus berlangsung.
Kalau keadaan ini terjadi berkepanjangan, apalah yang akan berlaku di kota Khatulistiwa ini?
Banyak impian, banyak rencana yang kami rancang, terhambat karena keadaan kabut asap ini.

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Dari fakta-fakta yang ada, kami sudah mengupayakan semua yang bisa dilakukan di bumi hari ini.
Kini kami mengangkat tangan ke langit, ya Allah, berharap rahmat, kasih sayang, dan pertolongan-Mu.
Istaghfirū rabbakum innahu kāna ghaffārā.
Hadirin, para undangan Allah yang berbahagia
Bencana dan musibah yang terjadi di alam ini, sesungguhnya berlaku akibat dua penyebab utama.
Pertama, disebabkan oleh tangan manusia itu sendiri sebagaimana Allah katakan dalam surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Kabut asap yang terjadi hari ini, sesungguhnya, kedatangannya kita yang mengundangnya.
Ada sebagian, segelintir orang yang menjadi penduduk kita, bagian dari kita, yang ingin mendapatkan keuntungan lebih.
Mereka tidak ingin mengeluarkan modal besar untuk membuka lahan pertanian atau lahan perkebunan. Mereka cukup bermodalkan satu kotak korek api.
Dibakarnya, lahannya, dibakarnya hutannya, maka kita semualah yang akan mendapatkan penderitaannya.
Orang yang berlaku seperti ini, orang yang melakukan hal ini, sesungguhnya adalah manusia yang tidak mempunyai hati nurani.
Demi kepentingan dirinya, dihancurkannya masa depan anak-anak bangsa dan dirusaknya kesehatan penduduk serta alam semesta.
Dalam Al-Qur’an, orang yang tidak mempunyai hati nurani seperti ini kadang-kadang disamakan Allah dengan binatang, bahkan lebih berbahaya daripada binatang.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Sungguh, Kami telah mencampakkan ke dalam neraka Jahanam mayoritas dari jin dan manusia.
Penyebabnya, mereka mempunyai hati, tetapi tidak mau merenung dengan hatinya.
Mereka mempunyai mata, tetapi tidak mau melihat kebenaran.
Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mau mendengar kebenaran.
Orang seperti ini persis seperti binatang, bahkan lebih sesat daripada binatang.
Hadirin yang berbahagia.
Setelah musim kemarau ini, tidak lama lagi kita memasuki musim hujan.
Ada kalanya musim hujan yang kita harapkan menjadi rahmat, bisa pula menjadi ujian dan laknat.
Terjadi banjir di mana-mana.
Banjir yang terjadi pun bisa merupakan akibat kerakusan tangan manusia.
Illegal logging merajalela. Hutan-hutan lindung yang betul-betul dilindungi oleh pemerintah dan hukum, demi keuntungan pribadi, mereka babat dan mereka rusak.
Keuntungan untuk mereka, bencana untuk kita semua.

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Namun, di samping faktor dzahiriah yang kita sebutkan tadi, ada faktor lain yang menyebabkan musibah, cobaan, dan bencana itu turun ke bumi.
Penyebabnya adalah faktor batiniah, yaitu dosa-dosa yang kita lakukan.
Ketika terjadi banjir di zaman Nabi Nuh, apakah pada waktu itu hutan sudah ditebang?
Apakah pada waktu itu hutan sudah diganti dengan lahan-lahan?
Jawabannya tidak.
Belum ada hutan yang ditebang. Alam masih harmoni. Hutan masih perawan.
Mengapa terjadi banjir?
Penyebabnya, umat Nabi Nuh pada waktu itu sudah mendurhakai rasulnya dan menafikan perintah Tuhannya.
Istaghfirū rabbakum innahu kāna ghaffārā.
Akibat dosa-dosa yang mereka lakukan, Allah turunkan hujan yang menjadikan bumi umat Nabi Nuh dipenuhi air dan pada akhirnya mereka hancur binasa.
Demikian juga gempa bumi dan longsor yang terjadi pada zaman Nabi Luth.
Apakah penyebabnya karena alam sudah tidak harmoni? Karena pembangunan tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku?
Jawabannya tidak.
Alam masih harmoni. Aturan-aturan alam masih betul-betul tertata dengan tertib.
Tetapi mengapa terjadi longsor dan gempa yang dahsyat?
Penyebabnya, umat Nabi Luth pada waktu itu LGBT dan menghalalkan lesbian. Allah murka, maka diturunkanlah bencana kepada umat Nabi Luth beserta tempat tinggal mereka.
Demikian juga yang terjadi pada zaman Nabi Saleh.
Ketika terjadi asap tebal, kabut luar biasa, diakhiri dengan datangnya halilintar dan petir yang membunuh semua penduduk negeri itu.
Apakah pada waktu itu sudah ada orang yang membakar lahan?
Apakah sudah ada orang yang membakar hutan sesuka hatinya?
Jawabannya belum.
Lalu apa penyebabnya?
Akibat dosa-dosa yang mereka lakukan.
Istaghfirū rabbakum innahu kāna ghaffārā.
Hadirin dan hadirat, para undangan Allah yang berbahagia.
Hari ini, sudah berpuluh ton garam disemai di angkasa, tetapi hujan belum turun seperti yang kita inginkan.
Sudah terlalu penat saudara-saudara kita dari TNI, saudara-saudara kita dari Polri, saudara-saudara kita dari Basarnas, dan banyak lagi elemen masyarakat yang tidak mungkin kita sebutkan satu per satu. Bahkan pak presiden, mentri kehutanan sudah turun ke daerah kita.
Mereka sudah bertungkus lumus. Mereka betul-betul menjadi pahlawan-pahlawan yang berusaha menyelamatkan kita dari bencana asap.
Namun sayangnya, upaya yang mereka lakukan sudah maksimal, tetapi hasilnya belum maksimal.
Upaya di bumi sudah kita lakukan.
Hari ini kita tinggal punya satu senjata: **mengharapkan kasih sayang dan pertolongan dari Allah Azza wa Jalla.**
Kini hanya kepada Allah kita kembali.
Kita singkirkan semua keangkuhan dan kesombongan.
Kita ganti dengan kerendahan hati dan kehinaan.
Kita adakan muhasabah.
Kita introspeksi diri.
Mungkin memang bencana ini akibat tangan kita.
Tetapi tidak mustahil bencana ini juga akibat dosa-dosa yang kita lakukan.
Oleh sebab itu, kita perlu bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sesungguhnya.

تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Tūbū ilallāhi taubatan naṣūḥā.

أستغفر الله العظيم الذي لا إله إلا هو الحي القيوم وأتوب إليه

Allah memberikan kabar gembira buat orang-orang yang minta ampun

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Artinya:
“Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka selama engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama mereka memohon ampun (beristighfar).”(QS. Al-Anfal: 33)

Istighfar itu ibarat “payung” paling ampuh yang Allah kasih ke suatu kaum. Selama lisan dan hati kita masih basah dengan istighfar, Allah menahan bala dan musibah dari kita.
Coba perhatikan kisah Nabi Nuh a.s. dalam Surah Nuh ayat 10–14. Beliau berkata ke kaumnya:
“Mohonlah ampun kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan lebat dari langit untuk kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian, serta memberi kalian kebun-kebun dan sungai-sungai.”
Jadi apa maksudnya buat kita?
Nabi Nuh nggak nyuruh kaumnya bikin sumur atau ritual tertentu buat mengatasi kekeringan. Beliau nyuruh mereka beristighfar. Artinya, istighfar itu kunci pembuka pintu langit.
Ada hubungan langsung antara taubat/istighfar dengan solusi atas kekeringan: hujan lebat yang menyuburkan tanah, rezeki nambah (harta dan anak keturunan), dan lingkungan jadi makmur (kebun dan sungai mengalir).
Dari riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah, Rasulullah ﷺ bersabda kurang lebih begini: siapa yang rajin beristighfar, Allah akan kasih jalan keluar dari setiap kesulitannya, kasih kelapangan dari setiap kesempitan hidupnya, dan kasih rezeki dari arah yang nggak disangka-sangka.
Nah, kemarau panjang itu salah satu bentuk “kesempitan hidup”. Dan solusi yang diajarkan Nabi jelas: perbanyak istighfar, biar Allah bukakan jalan keluar dan rezeki — termasuk turunnya hujan.
Pada hari ini, di masjid yang berbahagia ini, kita juga berkumpul dengan anak-anak yatim.
Kita berharap kepada Allah, anak-anak yatim yang belum mempunyai dosa, anak-anak yatim yang kata-katanya dapat mengetuk pintu langit dan menggetarkan Arasy, dapat mengundang rahmat dan keberkahan Allah turun ke bumi berupa hujan yang deras.
Sama-sama kita berdoa kepada Allah.
Mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini diijabah oleh-Nya.

آمين يا رب العالمين
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

 

 

Khutbah II

اَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الذي لاَ اله اِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَـيُّومُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ (٧x)
الحمد للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

— Khatib menghadap kiblat, membalik selendang surban, dan memindahkannya dari bahu kanan ke bahu kiri —
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami,
Hujan ampunan, hujan perlindungan, hujan ketenangan, hujan kebahagiaan, hujan keberkahan, hujan kebaikan, hujan perlindungan, hujan kasih sayang dariMu ya rabb…
Jadikanlah hujan ini sebagai rahmat, karena Engkau zat yang maha Kasih Maha Sayang.
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai siraman rahmat, dan jangan Engkau jadikan sebagai hujan azab, kehancuran, bencana, kerusakan, maupun banjir yang menenggelamkan.
Ya Allah, turunkanlah hujan di perbukitan, dataran tinggi, tempat-tempat tumbuhnya pepohonan, dan lembah-lembah. Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan janganlah menjadi bencana atas kami.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, yang baik, menyenangkan, menyuburkan, deras, merata, melimpah, menyeluruh, dan terus memberikan manfaat hingga hari pembalasan.
Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, sesungguhnya hamba-hamba-Mu dan negeri-negeri ini sedang ditimpa kesulitan, kelaparan, dan kesempitan yang tidak kami adukan kecuali hanya kepada-Mu.
Ya Allah, tumbuhkanlah tanaman-tanaman untuk kami, limpahkanlah susu dari hewan-hewan ternak kami, turunkanlah kepada kami keberkahan dari langit, dan tumbuhkanlah bagi kami keberkahan dari bumi. Angkatlah dari kami segala bencana yang tidak ada seorang pun mampu mengangkatnya selain Engkau.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampun kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun. Maka turunkanlah kepada kami hujan dari langit dengan lebat dan berlimpah.”
Ya rabbal alamiin

عِبَادَالله، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

You might also like