Khutbah Jumat Muharram: Kekuatan Berjamaah: Membangun Fondasi Kebaikan Bersama

Khutbah Jumat Muharram: Kekuatan Berjamaah: Membangun Fondasi Kebaikan Bersama

Masjid Ismuhu Yahya – Khutbah jumat sebagai salah satu syarat sah shalat jumat selalu ada dalam momen mingguan umat islam ini. Memasuki minggu kedua di bulan muharram ini, berikut ini kami tuliskan khutbah jumat muharram yang bisa dijadikan referensi dalam mencari materi khutbah. Khutbah ini tidak mutlak bisa dipakai seluruhnya, ada perbaikan atau tambahan dalil yang bisa ditambahkan untuk lebih menguatkannya.

Berikut ini khutbah pertamanya:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون (آل عمران: ١٠٢)

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada hadirin sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sesungguhnya, yakni menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hanya dengan bekal takwa, kita akan selamat di dunia dan di akhirat.

Hadirin yang Dimuliakan Allah,

Agama Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi kebersamaan dan persaudaraan. Ajaran Islam tidak hanya menuntut kita untuk menjadi hamba yang saleh secara individual (hablum minallah), tetapi juga saleh secara sosial (hablum minannas).

Hal ini tercermin dari banyaknya ibadah dalam Islam yang dianjurkan bahkan diwajibkan untuk dilakukan secara berjamaah. Kita dianjurkan shalat fardu berjamaah di masjid yang pahalanya dilipatgandakan hingga 27 derajat. Kita diwajibkan berpuasa bersama-sama di bulan Ramadhan. Kita juga disyariatkan menunaikan ibadah haji pada waktu dan tempat yang sama bersama jutaan umat Islam lainnya dari seluruh dunia.

Apa hikmah di balik semua syariat berjamaah ini? Allah SWT ingin mendidik kita bahwa kekuatan umat Islam terletak pada persatuan, kolaborasi, dan kebersamaan.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. As-Shaff: 4)

Ayat ini memberikan perumpamaan yang luar biasa. Sebuah bangunan yang kokoh tidak hanya terbuat dari satu batu bata. Ia adalah gabungan dari semen, pasir, batu, besi, dan kayu yang saling menguatkan. Begitu pula umat Islam. Kebaikan yang dilakukan sendiri-sendiri memang baik, tetapi kebaikan yang diorganisir, disatukan, dan dilakukan secara berjamaah akan menghasilkan dampak yang jauh lebih dahsyat.

Sidang Jumat yang Berbahagia,

Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang sangat mendalam:

“Al-Haqqu bilaa nizhaamin yaghlibuhul baathilu bi nizhaamin.”
(Kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik, akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir dengan baik).

Ungkapan ini adalah pengingat keras bagi kita. Seringkali orang-orang baik kalah bukan karena mereka lemah atau sedikit, tetapi karena mereka tercerai-berai, berjalan sendiri-sendiri, dan mengedepankan ego masing-masing. Di sisi lain, hal-hal buruk dan maksiat bisa merajalela karena pelakunya bersatu, berkolaborasi, dan saling mendukung.

Oleh karena itu, membangun fondasi kebaikan bersama harus dimulai dari langkah-langkah nyata dalam kehidupan kita sehari-hari:

Menurunkan Ego Pribadi: Dalam berjamaah, tidak ada satu orang pun yang lebih penting dari yang lain. Semua memiliki perannya masing-masing. Pemimpin membutuhkan anggota, dan anggota membutuhkan pemimpin.

Menghidupkan Budaya Saling Membantu (Ta’awun): Mari kita perhatikan lingkungan sekitar. Bantulah tetangga yang kesulitan, dukunglah usaha kecil milik saudara kita, dan jadilah solusi atas permasalahan di lingkungan RT/RW tempat kita tinggal.

Bergabung dalam Wadah Kebaikan: Jadikan diri kita bagian dari organisasi sosial, kepemudaan masjid, atau lembaga amil zakat. Infaq yang Rp10.000 mungkin kecil jika kita sendiri, namun jika 1000 orang menyatukannya, ia bisa membangun sekolah, memperbaiki jalan, atau membiayai pengobatan saudara kita yang sakit parah.

Hadirin Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,

Mari kita buang jauh-jauh sifat individualis, ego sektoral, dan merasa benar sendiri. Mari kita rapatkan barisan—bukan hanya barisan shalat di masjid, tetapi juga barisan dalam bidang ekonomi, sosial, dan pendidikan. Hanya dengan kekuatan berjamaah, kita bisa membangun fondasi masyarakat yang kuat, sejahtera, dan diridhai oleh Allah SWT.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk senantiasa mencintai persaudaraan dan memudahkan langkah kita dalam menebar kebaikan secara bersama-sama.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

You might also like