Khutbah Jum’at: Mari Belajar Al Qur’an

Khutbah Jum’at: Mari Belajar Al Qur’an

Foto oleh Tayeb MEZAHDIA di Pexels

Masjid Ismuhu Yahya – Khutbah jumat menjadi salah satu rukun sahya shalat jumat, maka sangat penting kedudukan rukun ini dalam pelaksanaan mingguan ini. Dalam artikel ini akan kami tampilkan khutbah jumat: mari belajar al Qur’an. semoga khutbah ini bisa menjadi panduan dan pelajaran bagi kita semua

Khutbah Pertama

اﻟ ْﺤَﻤْﺪ ُ ﻟِﻠﻪ ِ اﻟﺬِي أ َ ﻧْﺰَل َ اﻟ ْﻘُﺮْ آنَ ﻫُﺪًى ﻟِﻠﻨﺎس ِ وَ ﺑ َﻴﻨَﺎت ٍ ﻣِﻦ َ اﻟ ْ ﻬُﺪَى ٰ وَ اﻟ ْﻔُﺮْﻗَﺎنِ ، أ َ ﺣْﻤَﺪُهُ ﺳُ ﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ وَ أ َ ﺷْﻜُﺮُه ُ ﻋَﻠ َﻰ ﻧِﻌَﻤِﻪ ِ اﻟﺘِﻲ ْﻻَ ﺗُﺤْﺼَﻰٰ . أ َ ﺷْﻬَﺪُ أ َ نْ ﻻَ إ ِ ﻟ َٰﻪَ إ ِ ﻻ اﻟﻠﻪُ وَﺣْﺪَهُ ﻻَ ﺷَﺮِ ﻳﻚَ ﻟ َﻪُ ، وَ أ َ ﺷْﻬَﺪُ أ َ ن ﺳَ ﻴﺪَﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤﺪًا ﻋَﺒْﺪُهُ وَرَﺳُﻮﻟ ُﻪُ . اﻟﻠﻬُﻢ ﺻَﻞ وَﺳَﻠﻢ َ.وَ ﺑ َﺎر ِكْ ﻋَﻠ َﻰٰ ﺳَ ﻴﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤﺪٍ، وَﻋَﻠ َﻰ ٰ آﻟِﻪِ وَﺻَﺤْﺒ ِﻪ ِ أ َ ﺟْﻤَﻌِﻴﻦ َ.أ َ ﻣﺎ ﺑ َﻌْﺪُ، ﻓَﻴَﺎ ﻋِﺒَﺎد َ اﻟﻠﻪِ، أ ُ وﺻِﻴﻜُﻢ ْ وَ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑ ِ ﺘَﻘْﻮَى اﻟﻠﻪِ، ﻓَﻘَﺪ ْ ﻓَﺎز َ اﻟ ْﻤُ ﺘﻘُﻮن

Jamaah Jum’at rahimakumullah, Puji syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang masih memberi kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan sehingga kita dapat berkumpul di masjid ini menunaikan shalat Jum’at. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian: marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Potret Persoalan di Negeri Kita Jamaah sekalian, mari sejenak kita menengok keadaan di sekitar kita.

Setiap hari kita disuguhi kabar yang membuat hati prihatin.

Pertama, bencana alam dan gejala alam yang silih berganti. Negeri kita terletak di jalur Cincin Api Pasifik, sehingga gempa bumi, letusan gunung berapi, dan tsunami berulang kali menimpa saudara-saudara kita. Di musim hujan, banjir dan tanah longsor merendam permukiman dan menelan korban jiwa. Di musim kemarau, kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan menyebabkan kabut asap yang mengganggu pernapasan, merusak kesehatan anak-anak, dan menghentikan aktivitas warga. Cuaca pun makin sulit ditebak.

Kedua, kemaksiatan yang kian terang-terangan. Judi online merambah hingga ke kampung-kampung dan menghancurkan rumah tangga. Jerat pinjaman online, narkoba, pornografi, pergaulan bebas, dan korupsi merusak harta, kehormatan, dan masa depan generasi kita.

Ketiga, kekerasan yang menodai kemanusiaan. Tawuran pelajar, perundungan di sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap anak, serta tindak kriminal yang kian meresahkan menjadi berita yang hampir tak pernah berhenti.

Keempat, jauhnya sebagian kita dari Al-Qur’an. Masih banyak di antara kaum muslimin, anak-anak maupun orang dewasa, yang belum mampu membaca Kitab sucinya sendiri. Padahal rumah dan gawai kita penuh dengan hiburan yang melalaikan. Sebagian bencana memang bagian dari sunnatullah dan ujian bagi hamba-hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 155 bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar. Karena itu, kita yang terdampak patut bersabar dan kita yang selamat patut menolong. Namun Allah juga mengingatkan bahwa banyak kerusakan terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri:

َﻇَ ﻬَﺮ َ اﻟ ْﻔَﺴَ ﺎد ُ ﻓِﻲ اﻟ ْ ﺒَﺮ وَ اﻟ ْ ﺒَﺤْﺮِ ﺑ ِﻤَ ﺎ ﻛَﺴَ ﺒَﺖ ْ أ َ ﻳ ْﺪِي اﻟﻨﺎس ِ ﻟِﻴُﺬِﻳﻘَﻬُﻢْ ﺑ َﻌْﺾ َ اﻟﺬِي ﻋَﻤِﻠ ُﻮا ﻟ َﻌَﻠﻬُﻢ ْ ﻳ َﺮْﺟِﻌُﻮن

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Ayat ini mengajak kita berhenti menyalahkan keadaan dan mulai bertanya pada diri sendiri: ke mana kita harus kembali? Jawabannya adalah kembali kepada petunjuk Allah, yaitu Al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai Solusi: Petunjuk yang Dimudahkan Jamaah sekalian, jawaban atas semua persoalan tadi ada pada Al-Qur’an. Ia adalah kalam Allah, pedoman hidup, dan cahaya yang menerangi jalan manusia.

Namun cahaya itu baru terasa manfaatnya bila kita mau mendekat, membuka, dan mempelajarinya. Allah Ta’ala berfirman:

ُإ ِن ﻫَٰﺬَا اﻟ ْﻘُﺮْ آنَ ﻳ َﻬْﺪِي ﻟِﻠﺘِﻲ ﻫِﻲ َ أ َ ﻗْﻮَم

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang paling lurus.” (QS. AlIsra: 9)

Berikut cara Al-Qur’an menjawab persoalan kita:

  • Menghadapi bencana: Al-Qur’an menanamkan iman, sabar, dan tawakal bagi yang tertimpa musibah, serta melarang kita membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya (QS. Al-A’raf: 56). Menjaga hutan, sungai, dan lingkungan adalah bagian dari ketaatan.
  • Menghadapi kemaksiatan: Al-Qur’an menegaskan keharaman judi dan khamr (QS. AlMa’idah: 90) serta melarang kita mendekati zina (QS. Al-Isra: 32), dan menumbuhkan rasa diawasi Allah dalam hati.
  • Menghadapi kekerasan: Al-Qur’an memuliakan nyawa manusia, bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak seakan membunuh seluruh manusia (QS. Al-Ma’idah: 32), dan mengajarkan kasih sayang, keadilan, serta akhlak mulia dalam keluarga.
  • Menghadapi kegelisahan hidup: Al-Qur’an adalah syifa’ (obat) dan rahmat bagi orang beriman (QS. Al-Isra: 82), dan dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS. ArRa’d: 28).

Masalahnya, Al-Qur’an hanya akan menjadi solusi bila kita mau mempelajari dan mengamalkannya. Allah Ta’ala berfirman:

ٍوَ ﻟ َﻘَﺪْ ﻳ َﺴﺮْ ﻧَﺎ اﻟ ْﻘُﺮْ آنَ ﻟِﻠﺬﻛْﺮِ ﻓَﻬَﻞْ ﻣِﻦ ْ ﻣُﺪﻛِﺮ

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Perhatikan ayat ini. Allah sendiri yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu dimudahkan. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk berkata, “Saya sudah tua, tidak mungkin belajar,” atau “Saya sibuk, tidak punya waktu.” Allah bertanya kepada kita: fahal min muddakir, adakah yang mau mengambil pelajaran?

Keutamaan Orang yang Belajar dan Mengajarkan Al-Qur’an Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ُﺧَﻴْﺮُ ﻛُﻢ ْ ﻣَﻦ ْ ﺗَﻌَﻠﻢ َ اﻟ ْﻘُﺮْ آن َ وَﻋَﻠﻤَﻪ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Jamaah sekalian, ukuran kebaikan seseorang di sisi Allah bukan pada harta, jabatan, atau gelar, melainkan pada kedekatannya dengan Al-Qur’an: ia belajar, lalu ia mengajarkan. Bahkan bagi mereka yang belum fasih, Allah tidak menutup pintu pahala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ُاﻟﺬِي ﻳ َﻘْﺮَ أ ُ اﻟ ْﻘُﺮْ آن َ وَﻫُﻮ َ ﻣَ ﺎﻫِﺮ ٌ ﺑ ِﻪ ِ ﻣَﻊ َ اﻟﺴﻔَﺮَة ِ اﻟ ْﻜِﺮَ ام ِ اﻟ ْ ﺒَﺮَرَةِ، وَ اﻟﺬِي ﻳ َﻘْﺮَ أ ُ اﻟ ْﻘُﺮْ آن َ وَ ﻳ َﺘَﺘَﻌْﺘَﻊُ ﻓِﻴﻪِ وَﻫُﻮَ ﻋَﻠ َ ﻴْﻪِ ﺷَ ﺎق ﻟ َﻪ ِأ َ ﺟْﺮَ ان

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Dan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan merasa berat, baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, jika hari ini bacaan kita masih terbata-bata, jangan malu dan jangan berhenti. Justru di situlah Allah menyiapkan dua pahala: pahala membaca, dan pahala atas kesungguhan menghadapi kesulitan. Tahapan Mempelajari Al-Qur’an

Pertama, belajar membaca dengan benar. Allah memerintahkan:

وَرَ ﺗﻞ ِ اﻟ ْﻘُﺮْ آن َ ﺗَﺮْ ﺗِﻴﻼ

“Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4)

Tartil berarti membaca dengan tajwid yang benar dan makhraj yang tepat. Untuk itu kita butuh guru, tempat belajar, dan kesabaran. Tidak ada kata terlambat untuk memulai dari huruf hijaiyah.

Kedua, belajar memahami dan merenungi maknanya. Allah berfirman:

أ َ ﻓَﻼ َ ﻳ َﺘَﺪَﺑﺮُون َ اﻟ ْﻘُﺮْ آن َ أ َ م ْ ﻋَﻠ َﻰ ٰ ﻗُﻠ ُﻮب ٍ أ َ ﻗْﻔَﺎﻟ ُ ﻬَ ﺎ

“Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Membaca saja belum cukup. Kita perlu mengetahui apa yang Allah perintahkan dan larang, membaca terjemah dan tafsir, serta mengikuti kajian yang dibimbing para ulama.

Ketiga, mengamalkannya. Al-Qur’an diturunkan bukan sekadar untuk dilagukan, tetapi untuk dijalani. Para sahabat tidak berpindah dari sepuluh ayat sebelum memahami dan mengamalkannya. Maka ilmu dan amal harus berjalan beriringan.

Keempat, mengajarkannya. Ajarkan kepada anak, istri, keluarga, tetangga, dan siapa pun yang kita mampu. Satu huruf yang kita ajarkan, insya Allah menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Ganjaran yang Menanti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻣَﻦ ْ ﻗَﺮَ أ َ ﺣَﺮْﻓًﺎ ﻣِﻦ ْ ﻛِﺘَﺎب ِ اﻟﻠﻪ ِ ﻓَﻠ َﻪ ُ ﺑ ِﻪ ِ ﺣَﺴَ ﻨَﺔٌ، وَ اﻟ ْﺤَﺴَ ﻨَﺔ ُ ﺑ ِﻌَﺸْﺮ ِ أ َ ﻣْ ﺜَﺎﻟِﻬَ ﺎ

“Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat.” (HR. Tirmidzi)

Bayangkan, jamaah sekalian: setiap huruf yang kita eja, setiap ayat yang kita lafalkan, bernilai pahala yang berlipat. Betapa ruginya waktu yang berlalu tanpa Al-Qur’an, sementara layar gawai kita tidak pernah sepi dari sentuhan jari.

ﺑ َﺎرَك َ اﻟﻠﻪ ُ ﻟِﻲ وَ ﻟ َﻜُﻢ ْ ﻓِﻲ اﻟ ْﻘُﺮْ آن ِ اﻟ ْﻌَﻈِﻴﻢِ ، وَ ﻧَﻔَﻌَﻨِﻲ وَ إ ِ ﻳﺎﻛُﻢ ْ ﺑ ِﻤَ ﺎ ﻓِﻴﻪ ِ ﻣِﻦ َ اﻟ ْ ﺂﻳ َﺎت ِ وَ اﻟﺬﻛْﺮ ِ اﻟ ْﺤَﻜِﻴﻢِ ، أ َ ﻗُﻮل ُ ﻗَﻮْ ﻟِﻲ ﻫَﺬَا ُ.وَ أ َ ﺳْ ﺘَﻐْﻔِﺮ ُ اﻟﻠﻪ َ ﻟِﻲ وَ ﻟ َﻜُﻢْ ، ﻓَﺎﺳْ ﺘَﻐْﻔِﺮُوه ُ إ ِ ﻧﻪ ُ ﻫُﻮ َ اﻟ ْﻐَﻔُﻮر ُ اﻟﺮﺣِﻴﻢ 

You might also like