Khutbah Jumat: Cara Menyiapkan Generasi Emas Qur’ani

Khutbah Jumat: Cara Menyiapkan Generasi Emas Qur’ani

Masjid Ismuhu Yahya – Khutbah jumat merupakan momen krusial untuk memperdalam iman dan mempererat ukhuwah setiap minggunya. Mempersiapkan materi yang relevan dengan tantangan zaman sangatlah penting bagi para khatib demi menyampaikan pesan yang membekas di hati jamaah. Artikel ini menyajikan panduan lengkap serta naskah pilihan yang ringkas namun tetap sarat akan makna spiritual. Kami memastikan setiap poin pembahasan mudah dipahami agar penyampaian dakwah menjadi lebih efektif dan tepat sasaran bagi seluruh umat.


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita orang-orang beriman, lalu mewajibkan kita salat Jumat agar kita termasuk orang-orang yang berzikir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah. (Surah Al-Jumu’ah: 62:9)

Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, tiada nabi setelahnya. Ya Allah, limpahkanlah selawat, salam, berkah, dan kemuliaan kepada Nabi yang terpercaya ini, Rasul yang menjelaskan, Nabi dan junjungan kita Muhammad, serta kepada keluarga beliau yang suci, para sahabatnya seluruhnya, keturunannya, dan umatnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du: Wahai hamba-hamba Allah, kekasih-kekasih Allah dan kekasih Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, saya berwasiat kepada diri saya dan kalian untuk bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa telah beruntung. Maka janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (Surah Ali ‘Imran: 3:102)

Hadirin jemaah Jumat, *rahimani warahimakumullah*. Mengawali Jumat ini, mari kita senantiasa meningkatkan pujian, syukur, dan takwa kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alhamdulillah, kita masih diberikan kesempatan untuk berkehidupan hingga menunaikan ibadah Jumat ini, saat sebagian kolega, kerabat, bahkan mungkin saudara dan keluarga kita telah ada yang berpulang mendahului kita. Bagi yang telah mendahului kita, kita mendoakan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima iman, Islam, dan amal salehnya. Dan bagi kita yang berkehidupan, semoga masih dibimbing oleh Allah sehingga istiqamah sampai dengan *Husnul Khatimah*.

Setiap keluarga, baik orang tua atau bahkan dalam konteks kehidupan yang luas, berbangsa, dan bernegara, tentu menginginkan lahirnya generasi yang terbaik. Sering diistilahkan dengan **generasi emas**, yang dapat melanjutkan estafet kemakmuran hidup berkeluarga. Dalam konteks bernegara, berbangsa, diharapkan mampu membangun, menyejahterakan kehidupan berbangsa, bernegaranya, dan menampilkan kemakmuran dalam berkehidupan yang berkemajuan.

Di dalam Al-Qur’an, prinsip menyiapkan generasi emas, generasi terbaik ini, digolongkan pada bagian amal takwa yang seharusnya dikerjakan oleh setiap bagian keluarga sebagai komunitas terkecil dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dan ditampilkan beberapa syarat utama guna menghadirkan generasi-generasi terbaik yang siap menghadirkan kemakmuran, kebaikan, dan kemajuan.

Al-Qur’an, surah ke-4, An-Nisa, di ayat yang ke-9, ialah di antara ayat yang memberikan petunjuk secara langsung yang bersifat strategis, sekaligus memberikan pesan yang kuat, khususnya pada setiap orang tua, dalam konteks sekolah kepada para guru, dalam konteks kehidupan berbangsa, bernegara kepada para penyelenggara negara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka keturunan yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Surah An-Nisa: 4:9)

Ayat ini menekankan pentingnya rasa khawatir yang mendalam (*khasyah*) jika meninggalkan generasi yang lemah. Kata *alladzina* disebutkan setidaknya 1080 kali dalam Al-Qur’an, menunjuk pada objek dalam bentuk kata konjungsi, kata sambung, menunjuk pada objek tanpa batas dengan makna komunal, makna yang mengelompok.

Jika dikategorikan pada kehidupan keluarga, hendaklah para orang tua dan setiap anggota keluarga itu. Kalaulah di kehidupan sekolah, hendaklah para guru itu, termasuk di dalamnya penyelenggara pendidikan, kepala sekolahnya, wakil kepala sekolahnya, bagian administrasinya yang menyelenggarakan kehidupan di sekolah, aktivitas di sekolah. Dalam konteks kehidupan berbangsa, bernegara, hendaklah para penyelenggara negara itu merasa khawatir yang dalam.

Ada *khasyah*. *Khasyah* itu kekhawatiran yang sangat dalam, rasa takut mendalam. Bila tidak sampai pada derajat *khasyah*, kekhawatiran standar itu *khauf* namanya. Kita khawatir kalau hari ini turun hujan, *khauf*. Kita khawatir kalau hari ini ada yang telat pulang, *khauf*. Kegelisahan standar. Seseorang diuji dengan kegelisahan. Itu *khauf* namanya.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan. (Surah Al-Baqarah: 2:155)

Setiap yang hidup itu akan diuji. Yang dengan ujian itu bisa memperkuat kemampuan-kemampuan daya tahan hidupnya. Di antara ujian itu adalah hadirnya kegelisahan. Di atas itu ada *khasyah*. Dalam konteks menyiapkan generasi yang kuat, generasi yang tangguh, diminta para orang tua, para guru, penyelenggara pendidikan, penyelenggara negara dalam konteks yang lebih luas, itu diminta oleh Allah merasa khawatir yang sangat, khawatir yang dalam, jika tak mampu menyiapkan generasi yang kuat. Jika terlahir esok-esok generasi yang lemah, generasi yang tak mampu meneruskan pembangunan, generasi yang tak mampu menjaga martabat keluarga, generasi yang tak mampu menjaga nilai-nilai luhur dalam kehidupan bersosial, lemah.

Lemah ini kemudian dijelaskan setidaknya oleh para ulama dalam tiga kategori. Jadi kalau kita ingin ambil makna kebalikannya, *mafhum muhalafah*, agar terwujudnya generasi yang kuat, generasi terbaik, atau diistilahkan generasi emas, mestilah terwujud tiga syarat utama ini.

 

1. Kuat Iman dan Spiritualitas

Yang pertama adalah hendaknya dipastikan generasi itu tidak lemah iman. Pengertian terbaliknya, kuat imannya, kuat spiritualitasnya, kuat beragamanya. Mengapa ini penting? Karena di antara tiga bagian tubuh manusia, fisik, akal, dan jiwanya, nilai-nilai spiritual, kekuatan beragama, adalah bagian pokok yang mengisi kekuatan spiritual setiap manusia. Di dalam kekuatan spiritual itu terdapat satu potensi yang melahirkan karakter moral. Dalam bahasa kita sekarang disebut dengan **integritas**. Itulah yang dimaksud dengan jiwa takwa.

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8)

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, (7) maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. (8) (Surah Asy-Syams: 91:7-8)

Di dalam jiwa takwa itu terisi semua kumpulan sifat-sifat kebaikan: jujur, disiplin, rendah hati, sabar. Semua kumpulan sifat kebaikan jika dikumpulkan diberi nama dengan **takwa**. Lawannya disebut dengan **nafsu**. Jadi sekalipun didapatkan oleh kita orang yang pintar, orang yang kuat fisiknya, tapi tidak ada sifat kebaikan pada dirinya, lemah imannya, lemah agamanya, maka akan cenderung kepintaran itu disetir oleh nafsunya, dikendalikan oleh jiwa buruknya. Ini yang menjadikan orang pintar seringkali merusak. Orang pintar berbuat kriminal. Orang pintar mencelakai.

Jadi jika dalam keluarga hanya disiapkan oleh orang tua anak yang pintar saja, sekolahnya tinggi, matematikanya bagus, fisika juara, pintar, tapi tidak pernah diisi jiwanya, tidak pernah diajarkan nilai keimanan yang mengisi jiwanya, maka setidaknya paling rendah, kalau jiwa itu tidak merusak akalnya, setidaknya akan melahirkan potensi-potensi penyimpangan pada dirinya. Paling rendah kekhawatiran mendalam.

Sebagai contoh, di Jepang, sepintar-pintarnya orang Jepang, sangat pintar, mungkin ditemukan jenius, disiplin, tapi kalau dihadapkan pada masalah yang mengguncang, karena jiwanya rapuh, seringkali kosong, maka seringkali memutuskan untuk mengakhiri kehidupannya. Gelisah mendalam, stres berat. Walaupun terlihat pembangunannya maju, tapi rapuh spiritualnya, kosong jiwanya.

Demikian, kalau kita mengharapkan pembangunan yang bagus, negara yang makmur, negara makmur itu tidak cukup diisi untuk orang pintar saja, orang yang kuat fisiknya saja, tapi harus pertama kali dibangun jiwanya. Bangunlah jiwanya, baru membangun raganya. Maka hadirin, karakter moral dibangun dari kekuatan spiritual. Integritas dibangun dari kekuatan beragama. Al-Qur’an mengatakan, “Hendaklah orang tua merasa khawatir yang dalam kalau di dalam rumah itu anak-anak lemah agamanya, anggota keluarga lemah imannya.” Sekalipun mungkin pintar, sekalipun mungkin fisiknya kuat, tapi dipastikan ketika lemah imannya, lemah agamanya, akan ada sesuatu yang tidak seimbang di masa depannya. Rapuh pondasi keluarganya, kurang baik hubungan di dalamnya, tak tertata dengan maksimal. Semua ditimbang dengan kepentingan akal, semua ditimbang dengan kepentingan materi. Itu yang menyebabkan bila di satu tempat ada komunitas atau penyelenggara pemerintahan, penyelenggara di sekolah, bila orientasinya hanya ilmu saja, lemah imannya, lemah jiwanya, itu cenderung merusak pada akhirnya. Setidaknya melemahkan kemampuan spiritualnya, melemahkan kemampuan jiwanya, menghadirkan kegelisahan, menghadirkan keresahan, dan pada akhirnya bermuara pada kerusakan-kerusakan.

2. Kuat Ilmu dan Pengetahuan

Kedua, hadirin, para ulama juga memberikan penguatan setelah iman itu mesti kuat dengan keseimbangan ilmunya. Kuat imannya, bagus. Tapi tak kuat ilmunya, bermasalah. Hanya akan melahirkan orang-orang yang kuat keyakinannya, tapi lemah pengetahuannya, sehingga mudah kemudian diarahkan pada tindakan-tindakan yang mungkin merusak. Perhatikanlah orang-orang yang berbuat tindakan merusak, menghadirkan teror atas nama agama, misalnya, melukai orang lain, menghancurkan orang lain. Doktrin agamanya kuat, tapi didoktrin dengan ilmu yang salah, dengan pengetahuan yang keliru. Baru-baru ini muncul kasus pula, didoktrin dengan doktrin yang salah. Masuk pesantren, diiming-imingi, ternyata kemudian di dalam pesantren dirusak bahkan kehormatan dan harga dirinya. Lemah.

Maka demikian pula, jika kita menginginkan satu kehidupan keluarga yang kuat, bangsa yang kuat, negara yang kuat, berikan kekuatan pada spiritualnya sehingga punya kekuatan moral, punya integritas, saat yang sama belajar yang rajin, belajar yang sungguh-sungguh. Anak-anakku di sekolah, jika ingin menjadi sosok yang sukses di masa depan, selain rajin menghafal Qur’an, kuat salatnya, belajar yang sungguh-sungguh, pelajari setiap ilmu dengan serius, jadi sosok yang pintar. Tidak ada anak yang bodoh. Tidak ada murid yang bodoh. Tidak ada siswa yang tertinggal. Yang ada adalah orang-orang yang tidak ingin serius dalam belajar. Allah sudah berikan pada kita kemampuan untuk mempelajari apapun.

Sukses, kata Imam Asy-Syafi’i, di antara faktor pendukungnya adalah pengetahuan.

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Barangsiapa menginginkan dunia, maka hendaklah ia berilmu. (Perkataan Imam Asy-Syafi’i)

Pedagang yang sukses, pebisnis yang sukses adalah pebisnis yang mau belajar. Guru yang sukses adalah guru yang mau belajar. Kiai yang sukses, kiai yang senantiasa belajar. Pemimpin yang sukses, pemimpin yang mau belajar. Jadi kuat imannya saat yang bersamaan, kuat pengetahuannya.

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (Surah Al-Mujadilah: 58:11)

Allah akan berkenan mengangkat derajat, mengangkat keunggulan orang-orang yang mau meningkatkan imannya, meningkatkan kekuatan spiritualnya. Pada saat yang sama, dia juga meningkatkan kekuatan intelektualnya.

3. Kuat Harta dan Fisik

Yang ketiga, hadirin, para ulama menyampaikan juga, jangan sampai kita meninggalkan generasi yang lemah dari sisi hartanya. Bisa diartikan kekuatan fisiknya. Ada yang mengkategorikan kekuatan fisiknya, ada yang mengkategorikan lemah dalam harap hartanya. Demikianlah orang tua bekerja. Kadang kita berangkat, gelap, pulang, gelap, mencari bekal-bekal untuk kehidupan berkeluarga. Maka dilihat, investasikan apa yang dikumpulkan itu untuk menyiapkan generasi-generasi yang kuat di masa depan. Jangan hanya memenuhi kebutuhan nafsunya saja. Ayah punya selera nafsu, kumpul-kumpul uang, habis ke situ. Habis dibakar jadi asap. Habis disalurkan untuk hobi saja. Sementara meninggalkan anak tidak cukup untuk makan. Gizinya kurang. Bekalnya tak cukup. Fisiknya lemah. Ibu hanya menyalurkan hobi. Model baru pakaiannya, model baru handphone-nya, sehingga lupa memberikan makanan yang bergizi untuk anak-anaknya. Sementara martabat keluarga di masa depan dipertaruhkan untuk diteruskan dengan hadirnya generasi-generasi yang kuat di masa depan.

Demikian pula negara. Harus pandai memilah dan memilih sumber daya yang ada di negara itu. Mineralnya, emasnya, tambangnya, nikelnya, sawahnya, dirawat. Jangan sampai semua hilang. Dipertaruhkan hanya untuk mewujudkan kepentingan nafsu-nafsu sementara saja. Maka dipikirkan, ingin generasi emas 2045, sekarang tinggal 19 tahun lagi. Berapa sumber daya alam yang sekarang masih kita miliki dari Sabang sampai Merauke untuk 38 provinsi, untuk lebih daripada 270 juta penduduk? Berapa anak-anaknya? Berapa yang disiapkan untuk mereka ke depan?

Hadirin sekalian, ini tiga bagian ini: iman, ilmu, harta, atau fisik ditempatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai bagian dari program takwa yang ditampilkan dalam Al-Qur’an secara kolektif. Harus disiapkan oleh para penyelenggara kehidupan berumah tangga, penyelenggara pendidikan di sekolah, penyelenggara kehidupan berbangsa dan bernegara.

فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ

Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah. (Surah An-Nisa: 4:9)

Hendaklah kita menyiapkan tiga bagian ini dengan spirit takwa. Di para guru mendidik anak, anak-anak asuh dididik di sekolah. Itu ditempatkan oleh Al-Qur’an sebagai bagian dari program takwa kolektif. Tidak cukup dengan mengajar saja. Mesti menjadi guru yang bertakwa, OB yang bertakwa, security yang bertakwa, admin yang bertakwa. Kalau kita selenggarakan sekolah ini dengan algoritma takwa, maka muncullah kepedulian. Guru khawatir kalau anaknya belum bisa ngaji, Al-Qur’annya belum hafal dengan baik. Bukan sekedar memenuhi tuntutan kurikulum. Yang penting dikejar hafal sekian juz, tapi bacaannya tak baik. Hafalannya tidak membuat anaknya lebih baik.

Orang tua bukan hanya sekedar mengejar target sebulan dapat berapa, tapi ada nilai takwa di dalamnya. Yang didapatkan itu membentuk anak-anak yang baik. Yang dengan anak baik ini investasi ke depan merawat orang tua jadi lebih baik. Jika orang tua menata diri dengan takwa, diasuh anak dengan algoritma takwa, anak itu kelak kemudian dengan sifat takwa itu kembali menata orang tuanya di masa depan. Hai, rugi. Kita korbankan tenaga, pikiran, harta, merawat anak. Ternyata setelah dewasa, kepedulian tidak ada pada orang tua. Untuk sekedar doa pun belum paham doa apa yang harus dibacakan. Maka sepanjang kita berkehidupan, tidak ada batasnya. Anak sudah dewasa, orang tua masih ada, masih ada harapan. Dengan doa orang tua, dengan kekuatan orang tua, maka setidaknya ada doa-doa supaya anak itu tidak dijauhkan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada doa supaya anak itu tetap mendapatkan pengetahuan dan biarkan takdir Allah mengantarkan bimbingan kepada anak-anak kita.

Maka demikian, jika menginginkan generasi emas untuk bangsa ini, pejabatnya mesti takwa dulu. Presiden mesti takwa, menteri mesti bertakwa, gubernur mesti bertakwa, bupati mesti bertakwa, walikota mesti bertakwa. Tidak mungkin akan lahir generasi emas kalau penyelenggara negaranya tidak bertakwa. Kalau takwa hilang, mineral hilang, tambang lama-lama hilang, emas hilang, nikel hilang, maka bagaimana mungkin mengharapkan generasi yang kuat di masa depan sementara apa yang akan dimakan oleh mereka sudah hilang? Pengetahuan hilang. Karena kampus-kampus menyelenggarakan pendidikan tidak dengan nilai takwa. Maka sebelum mengharapkan mahasiswanya sukses, pintar, gurunya dulu mengajar dengan takwa, rektornya bertakwa, dekannya bertakwa, dosennya bertakwa. Kalau algoritma ini kita hadirkan secara kolektif, barulah kita bisa berdoa, mengharap, merencanakan, dan bahkan mendambakan lahirnya generasi emas yang kita harapkan.

Demikian, tiga bagian ini setidaknya kalau bukan *khasyah*, kata Allah:

خَافُوا عَلَيْهِمْ

yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. (Surah An-Nisa: 4:9)

setidaknya mesti ada kekhawatiran standar. 19 tahun lagi untuk 2045, tidak tiba-tiba 2045 langsung emas. Tidak. Harus disiapkan dulu. Apa persiapannya selama 19 tahun ini? Apa rencana jangka pendeknya, rencana jangka menengahnya? Baru kemudian dapat dipanen hasilnya. Oleh karena itu, setidaknya dari mimbar Jumat di sekolah ini, kita berharap, bermohon pada Allah diberi kekuatan agar setidaknya sumbangsih menyiapkan generasi emas itu dapat dilahirkan dari sekolah ini dengan ketulusan penyelenggaranya, dengan ketulusan kita semua, dengan upaya kita meningkatkan takwa kepada Allah, dan lakukan itu dengan komitmen yang benar.

وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (Surah An-Nisa: 4:9)

Dan hendaklah kita berkomitmen yang benar, berkata yang benar. Kata-kata yang benar itu adalah kata-kata yang ditunjukkan dengan program yang benar. Program yang benar itu adalah program yang ditunjukkan dengan implementasi yang benar. Mengajarnya benar, mengelolanya benar, dan tentu di balik itu adalah dihadirkannya ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

You might also like